Embun hanyalah setetes pagi yang mencoba menyusun kata. Namun kata selalu mencari makna. Gerombolan pikiran yang berduyun mencari ruang. Tanpa aturan, tanpa batasan. Ada yang memicu, ada yang menginspirasi. Cetak peristiwa masa lalu, baru tadi atau cita-cita ke depan belum pasti. Dan... embun pun menetes jatuh lenyap terserap bumi tatkala fajar kian hangat. Bila kenan kan, nantilah hingga esok hari sebelum jadi pagi. Semoga masih kan ada susunan kata baru...
Friday, May 30, 2008
bukan hanya harga tapi juga permintaan
Selama belum ada alternatif energi yang bisa mengganti (substitusi) energi fosil seperti BBM, maka sudah pasti kita akan terus menghadapi kenaikan harga BBM. Oleh sebab itu, tidak bisa tidak untuk terus mencari cara mengkonsumsi BBM yang efisien dan mendukung siapa pun yang mampu memberikan energi alternatif yang ramah lingkungan dan terbaharukan (renewable).
Postingku yang lain di KafeDepok tentang trend harga minyak dan penduduk, silahkan kunjungi dan berkomentar.
Thursday, May 22, 2008
Tentang BBM
Tuesday, May 20, 2008
Sunset Behind Blue Ruby!
We would like to inform you that this is its final look so far (For comparison, please kindly look here). The final update of small renovation, as you can see are appears on the steps, carport design and canopy as well as the small garden at front part of the house. It took quite long time to continue the renovation of the house, and we feel glad that finally we can reach current results. Our small city-car now have place to sleep well, with appropriate roof top to cover it from direct sunlight. The steps also very nice, with natural stones and fulfilling feng shui recommendation. And the most important thing is all of it with the lowest budget possible. How about the garden?
It's been one year since we moved in and it was quite challenging to improve the look of our small garden. With simple planning and learning by doing activities, each week we plant and take care our garden with various flowers and other vegetation. As you can see, it looks greener and calm enough. Not yet beautiful, but it gives us quite enough pleasure every time we return back home after work or enjoying weekends/holidays. Thanks God that the soil in our house quite friendly, although the sun seems in the 'mad-mode' every morning that turn the grass into brown and dry. Well, that is the consequences of east facing building, right? We also have small garden beside the building, and we design this spot as precipitation area for our water sources. We hope that we will not face any serious challenge on water supply for the house.
Finally, you are all very welcome to visit our Ruby D25 No.1. If it is not me who open the door, obviously our "lady of the house" will do that before you tasted the warm and friendly atmosphere of our Ruby. Cheers!
Update: another picture of our Blue Ruby is here.
Enlightenment Day of Buddha
Monday, May 05, 2008
language of the kingdom of children
This is Sony Handycam commercial advertising. Very cute and honestly entertaining, I believe so. Well, what else in this world could show an innocent expression as shown by children?
Have fun! And sing together...
~ LANGUAGE OF THE KINGDOM OF CHILDREN ~
Aleh Abu Nabu Kabuni
Aleh Abu Nabu Kabuni
Ah Pongyoma Hey Bai Kondola
Lika Pay Puka Yoo Pow Mau
Abi Pocky Pocky Lau Wika Bubuha
Pika Pika Dika Day My Booni
Ah Pongyoma Hey Bai Kondola
Lika Pei Puka Yoo Pow Pow
Abi Pocky Pocky La Yika Buhuda
Pika Pika Dika Day My Booni
Ha Hoo Wadaleh Yana Nong Da La
Ha Nana Heh Hakapu Gi
Da Shoogie Doogie Hey Wada Poom Bala
Lika Wek Hakabo My Booni
Ah Pongyoma Hey Bai Kondola
Lika Pei Puka Yoo Pow Pow
Abi Pocky Pocky La Yika Buhuda
Pika Pika Dika Day My Booni
Ah Pongyoma Hey Bai Kondola
Lika Pei Puka Yoo Pow Pow
Friday, May 02, 2008
Tentang Ujian Nasional
Menurutku, UN merupakan upaya sistematis yang - entah sadar atau tidak - berupaya menciptakan ketidakmerataan kualitas pendidikan di Indonesia. UN sejatinya merupakan single standard yang bukan hanya membuat kesenjangan atau gap antar daerah dan siswa serta guru. Mengapa demikian?
Faktanya kita tahu bahwa ketersediaan fasilitas, sarana dan prasarana dan guru dengan kualifikasi yang memadai berbeda-beda menurut daerah dan individu siswa masing-masing. Jika kemudian perbedaan "starting point" yang ada dipaksa untuk setara, maka sedianya dibutuhkan investasi dan program yang luar biasa besar agar hasilnya bisa seimbang mewakili kondisi siswa dan daerah masing-masing. Artinya, UN hanya menjadi ajang "kebijakan kilat" para petinggi di Departemen Pendidikan Nasional untuk mencapai angka standar pendidikan yang mereka kehendaki. Mereka sama sekali tidak memahami proses belajar mengajar sekaligus tidak mengetahui betapa posisi awal setiap sekolah, siswa, guru dan masyarakat tidaklah sama.
Dan yang lebih mengerikan atas hasil akhir dari UN ini adalah terciptanya persepsi umum bahwa UN adalah segala-galanya. Dengan kata lain, untuk apa mencari dan menggali ilmu jika hidup hanya ditentukan oleh satu kali ujian yang menentukan hidup mati seseorang.
Jika dahulu kita bisa memperoleh NEM (Nilai Ebtanas Murni) dan STTB, setidaknya kita masih punya harapan jika salah satu hasil nilai tersebut tidak sempurna. Karena salah satunya bisa memberikan gambaran tentang apa saja yang dimiliki oleh si lulusan. Artinya, berikanlah kesempatan lulus dengan standar yang dibawa oleh masing-masing individu atau entitas yang kelak akan menerima si individu bekerja atau melanjutkan sekolah. Bukan dengan memasung kesempatan untuk melanjutkan hidup, hanya dengan satu indikator saja, yaitu UN. Tidakkah ini sama dengan otoriter dan fanatik?
Fakta-fakta diatas belum lagi ditambah fenomena kebocoran dan jual beli soal ujian, mencontek, bantuan dari guru atau kepala sekolah kepada siswa (agar siswa semua lulus 100%), dan masih banyak lagi dampak buruk yang jelas-jelas terjadi karena UN melahirkan semacam 'momok' dalam dunia pendidikan di Indonesia. UN tidaklah melahirkan standar yang bisa menunjukkan seperti kualitas pendidikan di Indonesia. UN hanyalah sekedar sistem penghitungan target yang ingin digunakan menteri dan pimpinan negara untuk mengukur kinerja pemerintahannya, bukan untuk meningkatkan kecerdasan bangsanya.
Tidakkah demikian adanya, Pak Menteri Diknas dan Pak Presiden??
Wednesday, April 30, 2008
Quote of the day: On Kartini
”Jangan lupa gembok”. Aku tak akan lupa, tak akan lupa. Gembok itu melindungi perempuan pemijat dari dosa, kata pegawai jawatan agama kabupaten; gembok adalah teknologi kealiman, peranti iman, pelindung harmoni keluarga, perisai kesehatan jasmani & rohani. ”Tentu, tentu, tentu. Amin, amin, amin,” kata Kartini, kata Kardinah, kata perempuan-perempuan pemijat, kata asisten pemilik usaha, dan tak seorang pun yang tak patuh.
Ini pagi, kata Kartini, dan tiap pagi di tempat ini selalu dimulai dengan ingatan tentang dosa, kekotoran manusia, atau najis, Tuhan yang mengirimkan sifilis, insan yang menyembunyikan kemungkinan-kemungkinan jorok, syahwat yang hanya sedetik dirasakannya, dan fatwa yang menyuntikkan ke jantungnya segumpal rasa bersalah seperti dokter menyuntikkan serum kuda.
Catatan Pinggir: Ini Pagi, Kata Kartini
Majalah Tempo, Edisi. 38/IX/28 April - 04 Mei 2008
Tuesday, April 29, 2008
violence is - always - on the way
Aku sungguh sedih dan miris ketika membaca berita ini. Seolah mengatakan bahwa "kekerasan" adalah satu-satunya bahasa yang digunakan oleh manusia-manusia beragama dan beriman di negeri ini. Violence is certainly become our effective language. Violence is - always - on the way of our life.
Aku percaya Tuhan tak pernah 'marah' kepada umatnya. Ia selalu memiliki cara yang unik untuk "mendidik" manusia agar menjadi baik dan sesuai dengan cita-cita kehidupan yang diciptakan-Nya sendiri. Aku membayangkan hal tersebut seperti Orang tua mendidik Anak-anaknya. Betapa pun kesalahan dan kelainan yang dialami atau dilakukan oleh si anak, orang tua pasti akan berusaha melindungi dan mengembalikannya sekuat tenaga ke cita-cita yang diinginkan oleh orang tua.
Alkisah, di sebuah keluarga yang terdiri dari Orang tua dan dua orang Anak. Kemudian, salah satu Anak melakukan tindakan "tercela" dan "menyimpang". Misalnya, dia jadi pemabuk dan pemadat serta kecanduan obat-obatan terlarang. Si Anak menjadi jauh dari keluarga bahkan dia kemudian mempercayai hal-hal yang tidak semestinya dan bahkan bertindak kriminal. Intinya, si Anak kemudian melanggar semua etika, moralitas, dan keyakinan keluarga yang ada. Pertanyaan yang penting di sini adalah apakah yang seharusnya si Orang tua lakukan terhadap si Anak tersebut?
Menurutku, Orang tua yang baik dan mulia tidak akan menyia-nyiakan atau mengabaikan si Anak. Si Orang tua akan berupaya sekuat tenaga dan berbagai cara untuk mengembalikan kebaikan yang pernah dimiliki si Anak. Mengembalikannya ke "jalan yang benar". Kemudian, pertanyaan berikutnya adalah cara apa yang bisa dilakukan? Apakah perlu si Orang tua "membakar" kamar tidur si Anak? Apakah perlu si Orang tua "membakar" tempat sekolah si Anak? (karena di sekolah itulah si Anak terlibat obat terlarang, misalnya). Apakah perlu si Orang tua "memukuli" dan "menyiksa" si Anak agar mau menurut dan tunduk kepada ajaran "baik" si Orang tua? Dan, apakah perlu si Orang tua "mengancam" bahkan kemudian "membunuh" si Anak?
Mungkin, Anda akan menjawab bila perlu, semua kekejaman itu perlu dilakukan demi tegaknya nilai keluarga (baca: ajaran "mulia"). Tapi menurutku, jika kita sadar sebagai manusia dan juga memiliki memiliki semangat baik dan mulia sebagai Orang tua, maka kita harus terus mengedepankan cara-cara yang "baik dan mulia" pula. Cara tersebut adalah cara-cara anti-kekerasan. Cara-cara yang mampu menggugah kesadaran secara utuh dan terus menerus, bukan karena ketakutan dan bukan karena paksaan yang menghasilkan kesetiaan dan sikap tunduk yang semu.
Jika kemudian kita "bakar" kamar, sekolah si Anak. Ditambah "memukul" dan "menyiksa" si Anak agar tunduk dan menurut, tidakkah kita malah menunjukkan bahwa jalan keluarga tersebut (cara si Orang tua) adalah cara yang "benar"? Dengan kata lain, itulah ajaran keluarga yang seharusnya dipraktekkannya, yaitu "membakar", "memukul", "menyiksa", dan "membunuh". Jika benar demikian, patutlah kita bertanya "itukah cara manusia mendidik dan belajar dengan sesamanya? Dengan kekerasan dan kekejaman?
Jika hewan saja, seperti Penguin memiliki "kebijaksanaan" dalam mendidik anak-anaknya, mengapa manusia tidak bisa memilikinya? Tiga kebijaksanaan yang dimiliki Penguin sebagai orang tua, yang patut kita jadikan pelajaran adalah fatherhood, patience, dan endurance.
Thursday, April 24, 2008
Crude oil price graph
Just like you got serious infection at your leg. It is necessary for you to get proper medicine and surgery to prevent that infection spread around other part of body. But, you keep saying that it was not necessary as you feel it will recovery by itself soon. The problem is many expert - doctors and health expert - have suggest you collectively that you should get surgery soon because it will create another problem instead. What do you think?
However, just like many Indonesian. We just let it happen, more pray and ask God to protection and mercy upon Him, and later if something bad happen then blamed it on foreign people or someone else. That's all...
very very Indonesia!
Such jargon get more conclusive evidence based on research from Frontier Consulting. From The Jakarta Post article titled Superstitious, religious overtones lure RI consumers.
10 Indonesian consumers characteristics:
1. Prefer immediate benefits
2. Do not have long-term plans
3. Like to spend time with friends and relatives
4. Slow in adapting to technology
5. Prefer context to content
6. Like foreign brands
7. Attracted to the religious and superstitious
8. Like to show off
9. Have strong subcultural influences
10. Less aware of the environment
I feel that none of those 10 characteristics have "positive" influence for better living in this country.
Wednesday, April 23, 2008
Tuesday, April 22, 2008
Opinion of the day
That this country is rich in religion and yet poor in ethics is one of the reasons our development as a nation is difficult to achieve and sustain. It is because of this, Indonesia is cursed with a dearth of inspiring leaders and an overdose of lawmakers motivated by greed and religious leaders motivated by fear.
When blame is still the way we strengthen our faith and greed or suspicion, and when blame is the source of our motivation, our values rest on a very fragile foundation indeed. For it is a foundation based on ignorance, and unless we lighten up as a nation, we will find ourselves dragged back into the Middle Ages where women wore chastity belts and heretics were burned at the stake.
I still hear people - who claimed themselves as defender of holy teaching and supreme religion - said that their religious teaching is the only solution and their voice is getting bigger and louder.
Somehow I really salute and respect an atheist rather than a bunch of religious people wearing holy clothes while yelling and screaming God's name but I could not see any peace every time I stand along among them. I am not afraid if eventually they kill me, instead I worry if they provide evidence that my opinion is true. My opinion about how latent and lethal their ambition supposed to be.
Nostalgia: Buku ospek mahasiswa
Minggu lalu, sepenggal nostalgia ini hampir terbuang tanpa sempat direkam ulang. Sebuah buku yang kugunakan ketika mengikuti Orientasi Perguruan Tinggi (OPT) Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (FEUI) tahun 1995. Buku warna abu-abu yang sudah lusuh karena di-'olah' sedemikian rupa selama 2 hari masa OPT plus 1 bulan Pasca OPT.
Buku ini bisa jadi semacam time capsule yang mengingatkan berbagai hal yang pada jamannya sungguh merupakan sesuatu yang tak patut untuk dilupakan dengan mudahnya. Sebuah kebanggaan sekaligus kekhawatiran akan sebuah perjalanan yang panjang, namun tak terasa telah lama berlalu. Kebanggaan karena diberi kesempatan untuk mengenyam pendidikan di salah satu kampus terbaik di negeri ini. Kekhawatiran karena harus menunjukkan bukti atas kesempatan yang telah diberikan.
Di dalam buku ini aku temukan beberapa hal yang mengingatkan kedua perasaan tersebut. Pertama, ketika membuka halaman sampul buku tersebut aku sudah dihadapkan pada dua halaman yang bersisian yang memberikan gambaran apa yang seharusnya dan tidak seharusnya aku lakukan selama menjadi mahasiswa. Seperti terlihat di gambar berikut, di sebelah kanan terdapat tulisan "Mahasiswa Mengabdi Almamater" sedangkan di sebelah kiri terdapat simbol yang jika dibaca menjadi "Anti DO". Dulu, kedua halaman ini menjadi semacam pemecut sekaligus pengendali agar mampu menyelesaikan tugas sebagai pelajar di negeri ini. Puji Tuhan, aku berhasil menyelesaikan semua tugas-tugasku sebagai pelajar pada waktu itu.
Selain kedua halaman tersebut, ada satu bagian yang juga cukup signifikan memberiku inspirasi tentang bagaimana seharusnya kehidupan kampus kujalani. Di bagian "Sekapur Sirih", Freddy Hendradjaja Sukardji - Ketua Pelaksana Harian OPT FEUI 1995 memberikan pengantar yang berjudul "Jantuk, Cepot dan Mahasiswa".
Salah satu paragraf favoritku yang memberikan inspirasi atas pilihan kegiatan dan aktivitas yang aku lakukan di kampus adalah sebagai berikut:
Mahasiswa bukanlah individu yang hanya memiliki suatu kehidupan yang monoton; pergi ke kampus, kuliah, kemudian pulang tanpa mengetahui siapa teman sebelahnya saat kuliah, atau dosen yang mengajarnya atau pedagang nasi rames pada saat ia makan siang di kantin kampus. Mahasiswa memiliki kehidupan yang dinamis, yang berbeda pada saat ia bersekolah di SD hingga SMA. Kehidupan seorang mahasiswa adalah kehidupan yang menggairahkan; dituntut menyelesaikan tugas kuliahnya sementara ia dikejar deadline untuk penerbitan majalah kampusnya; berusaha tetap hadir di kelas sementara ia harus mengejar calon pembicara seminar mahasiswa; berkutat dengan buku menghadapi ujian sementara terngiang di kepalanya bahwa besok ia akan bermain bola membela fakultasnya.
Lagi-lagi, aku bersyukur bahwa aku sempat menjalani semua saran Bos Freddy tersebut. Aku cukup mengenal setiap orang mulai dari staf akademik hingga pedagang di kantin. Aku juga ikut dalam berbagai kegiatan mahasiswa dan pertandingan olahraga, meskipun tidak bermain bola di tengah lapangan untuk kompetisi karena aku yang menjadi manajer timnya. Aku bersyukur karena aku sempat mengenal warna lain dalam kehidupan kampusku. Terima kasih, Bos Freddy. ("Bos" adalah panggilan kami, mahasiswa baru untuk para senior kami selama periode OPT. Karena 'keterusan' hingga seterusnya, sulit bagi kami untuk tidak menggunakan panggilan tersebut).
Dan yang terakhir adalah lagu yang diajarkan oleh para senior kami. Judul lagu tersebut adalah "Lagu Sombong". Silahkan lihat dan baca lirik lagu tersebut (lihat di bawah), dan silahkan juga artikan serta mengungkapkan pendapat masing-masing. Dulu, lagu ini harus kami kuasai sebagai bentuk "kebanggaan" (Yah, dari judulnya mungkin nyaris bisa dibilang "kesombongan") terhadap fakultas dan almamater kami. Mohon maaf jika ada yang tersinggung yah...
Friday, April 18, 2008
Song of the Day
I love it, the lyric is quite simple but powerful. Touchy...
Below is my best part of the lyrics:
You close your eyesAnd leave me naked by your side
You close the door so I can't see
The love you keep inside
The love you keep for me
It fills me up
It feel like living in a dream
It fills me up so I can't see
The love you keep inside
The love you keep for me
The video clip also great. Enjoy!
Sad news... but obvious
Indonesia has officially stopped being the tolerant nation it has always proclaimed to be, especially when it comes to religion. The country with the world's largest Muslim population, one that has long prided itself for its diversity and peaceful coexistence between people of different faiths, is no longer a safe place, particularly for religious minorities.
The Jakarta Post, Editorial: Religious persecution (Friday, April 18, 2008)
This is a bad news, but quite obvious and unavoidable. And, ironically, it happens intensively that jargon of "tolerant" and "peaceful" Indonesia become lips service rather than reality. Why I said that? It because none of us now really fight for that for sure. In almost any field, people talk about "majority rule" and never talk about "how about the minority one?".
There are several example such as building praying house. There are no restriction at all for the majority to build new praying house. Of course, if we consider the requirements to build the house there will be no restriction at all for the majority. If any, it was not so significant. Particularly when local leader also in the same group. Quantity does matter! But what happen when the minority wants to build praying house, they have to pass on layers of permission and at the end they don't get it simply because the majority not allowed with thousands of reasons. Meanwhile, when they gathered in their humble house just to pray (since they cannot build one for their own), people will condemned them and burned their house. Why? Do the minority ever complaint about how noisy the speaker just to call for pray? Why should they? They have no right to complain. They are minority!
Another clear example. Why government forbid Ahmadiyah while allowing "vigilante groups" that burn shops and cafe, fight and beaten people on the street existed in this earth? You know who... They just campaign about "real religious life" but they give us no evidence but violence and more violence. Even there are a clear groups that support Bali Bombing still exist in this country, but no one do nothing about it. In fact, the leader still get full coverage from the media every time he preach and agitating his follower. How strange?
However, that all I can say. No matter what I am thinking of, I am just a minor voice. The best way I can do, as my parents and my believe always teach me, is do the best for your society. Give the world the best you've got anyway. In the final analysis, it is between you and God; it was never between you and them anyway.
Thursday, April 17, 2008
Catch a mouse without "entrap" it?
In a speech to participants of a national law convention here Tuesday, Yudhoyono said law enforcers should not "entrap" people.
"If a citizen breaks the law because of his or her ignorance, we are guilty as well. Worse, (we) let hem be trapped instead of just reminding them," he said.
The President specifically told the KPK, the Supreme Audit Agency and the Attorney General's Office to avoid entrapping citizens by taking advantage of their ignorance of laws and regulations on corruption.
What a "very kind" strategy to fight corruption proposed by SBY? Can corruption be categorized as "disguised" crime or "undisguised" crime? I believe corruption is "disguised" crime. If it is so, then you cannot prevent corruption just by reminding the suspects, right?
Imagine you want to catch a mouse who is hiding inside your house. It often stolen your cheese or food on table. If you know that it exists but you cannot catch it easily, because it hide very nicely and move very efficiently - just like corruptors, they are exists but you cannot nailed them easily. One effective way to catch the mouse, to prevent it steeling your cheese or food, is to set up a trap. In other words, you should entrap them. What else can you do? Can you talk to the mouse and reminding them not to stole your food? I wish I could, but in reality it pretty-absolutely-undoubtedly impossible!
If SBY wants us to remind the corruptors, I believe our religious leaders already did that job most of the time. Even the leaders already used such a strong motivations related with God's punishment in hell (assumed that as religious people, the corruptors more afraid with God's law rather than human-made law). But, it was not effective at all, right? So, how come that KPK's strategy to "entrap" corruptors not being supported by SBY?
My best guess, SBY is too naïve. Maybe?
Tuesday, April 15, 2008
Kartu Kendaraan Permata Depok Regency
Hal tersebut didasari pemikiran bahwa kartu tersebut dapat mencegah kendaraan dikendarai bukan oleh pemilik (baca: pencuri) karena kartu tersebut sedianya bisa disimpan oleh penghuni, bukan melekat di mobil. Jika menggunakan stiker, misalnya, maka bisa saja mobil atau motor dikendarai oleh siapa saja dan sulit membuktikan bahwa kendaraan tersebut memang dipinjam atau dicuri. Salut untuk Pak Basya (atau lebih dikenal dengan panggilan Pak Abas), ketua paguyuban PDR yang mencetuskan ide ini.
Kapan yah realisasinya? Mudah-mudahan segera...
Monday, April 14, 2008
Sunday, April 13, 2008
Permata Depok Regency: Pertemuan Warga dan Developer
Pertemuan ini merupakan hasil dari keluhan warga PDR yang sempat diajukan seminggu sebelumnya yang rencananya berbentuk "aksi damai" di Taman Ruby. Sebelum pertemuan ini, untuk memberikan gambaran persoalan detil yang dialami oleh warga PDR, telah dilakukan jajak pendapat dengan menyebarkan kuesioner yang mencoba merangkum apa saja persoalan yang dialami oleh warga. Hasilnya bisa dilihat pada posting sebelumnya yang berjudul "Kepuasan Warga Permata Depok Regency"
Pertemuan berlangsung kondusif dengan membahas satu per satu daftar keluhan yang disampaikan warga melalui jajak pendapat kemarin. Dari pihak developer hadir jajaran pimpinan dan koordinator/manajer dan owner PT Citrakarsa Hansaprima (lihat foto).
Dari pihak perwakilan warga, hadir pimpinan Paguyuban Warga PDR dan anggota-anggota seksi komplain dan kesra serta perwakilan warga yang pernah mengalami sendiri permasalahan dengan PDR. Beberapa foto-fotonya bisa dilihat dibawah ini.
Secara umum, pertemuan ini menghasilkan beberapa komitmen dari PT Citrakarsa Hansaprima untuk menindaklanjuti berbagai kekurangan, terutama yang cukup lama disorot adalah tentang kelancaran saluran air dan antisipasi terjadinya genangan air di jalan dan banjir. Selain itu, soal keamanan juga sudah dimulai pemasangan kawat berduri di beberapa titik rawan yang berbatasan dengan wilayah di luar cluster. Sampai pada tahap ini, perwakilan warga cukup menghargai kesediaan berdialog dari developer dan sangat berharap untuk bisa melihat bukti dari komitmen yang telah disampaikan.
Aku pribadi menyampaikan pendapat dan kesan umum dari hasil pertemuan tersebut sebagai berikut: selama ini berkembang pendapat bahwa pihak developer sangat lambat (jika tidak bisa dibilang sama sekali tidak berbuat yah!) dalam menanggapi persoalan dan keluhan warga PDR. Dan pendapat ini semakin luas diamini oleh para warga. Untuk itu, sangat diharapkan aksi yang konkrit dari pihak developer untuk membuktikan bahwa pendapat tersebut salah. Artinya, developer harus bisa menunjukkan perubahan dalam melengkapi fasilitas dan sarana prasarana layaknya perumahan model cluster. Selain itu, sikap cepat tanggap dan tuntas dalam menanggapi berbagai keluhan akan dapat membuktikan kesalahan pendapat warga PDR tersebut. Alhasil, tentu warga PDR akan dengan bangga dan secara luas bersedia menjadi bidang marketing terselubung dan mempromosikan PDR kepada khalayak yang lebih luas. Tidakkah hal tersebut berarti "kita untung, developer untung" -- meminjam iklan salah satu produk minyak pelumas dalam negeri.
Untuk itu, mari kita tunggu pembuktian dari PT Citrakarsa Hansaprima...
Friday, April 11, 2008
"Kepuasan" Warga Permata Depok Regency
- Persoalan saluran air/got
- Persoalan keamanan
- Persoalan kebersihan
Kuesioner yang disebar adalah sejumlah lebih kurang 200 lembar dan yang kembali per tanggal 11 April 2008 ada sejumlah 61 kuesioner. Hasil dari rekapitulasi sementara atas kuesioner yang terkumpul memberikan gambaran sebagai berikut:
Berdasarkan peringkat, sepuluh persoalan yang dikeluhkan oleh warga PDR adalah:
- Saluran air/got tidak lancar
- Penerangan jalan umum
- Kebersihan jalan dan sekitarnya
- Sarana komunikasi untuk satpam
- Akses masuk yang ketat
- Sampah yang menyumbat saluran air/got
- Saluran air/got sering meluap/banjir
- Jumlah satpam/tenaga keamanan
- Ketidakjelasan status sertifikat/dokumen
- Frekuensi pengambilan sampah
Selain persoalan yang diperingkat, persoalan lain spesifik yang dikemukakan oleh pendapat warga PDR adalah:
- Pagar batas cluster khususnya untuk penerapan sistem cluster penuh
- Penerangan jalan, khususnya di depan pintu masuk dan sekitar taman
- Kualitas jalan yang rusak, becek, tergenang air dan sebagainya
- Taman yang kurang terawat dan rumah kosong yang perlu ditertibkan dan dibersihkan secara berkala
- Sarana kerja satpam
- PBB yang belum ada/diterima
Masalah saluran air
Inti dari masalah ini adalah manajemen pengelolaan air limbah dan saluran air lingkungan. Permasalahan utamanya meliputi: Saluran air/got tidak lancar, karena sampah yang menyumbat saluran air/got, sehingga saluran air/got sering meluap/banjir, ketinggian/kemiringan saluran air (leveling), dan genangan air di jalan.
Masalah keamanan
- Penerapan sistem cluster penuh terutama terkait dengan: akses keluar-masuk satu pintu, tinggi dinding batas cluster yang kurang, dan sistem akses keluar-masuk dengan kartu/stiker
- Kelengkapan tenaga keamanan: jumlah satpam/tenaga, jumlah pos satpam, sarana kerja satpam (handytalky, senter+baterai yang mencukupi, pentungan, jas-hujan, sepeda, borgol, dsb), dan jadwal patroli keliling.
- Penerangan jalan lingkungan terutama terkait dengan: pintu masuk sejak jalan raya Citayam hingga ke dalam cluster, taman, dan titik-titik gelap lainnya.
Masalah ini sangat tergantung pada alokasi dan pembagian kerja tentang manajemen pengelolaan sampah terutama pada jumlah: 1) Tenaga kebersihan untuk mengumpulkan sampah dan membersihkan jalan; dan 2) Tenaga mengangkat sampah dari saluran air dan menjamin saluran air tetap lancar.
Selain itu, sangat penting menjaga kebersihan pasca pembersihan mengingat sudah dimulainya kegiatan membersihkan sampah/galian di pinggir saluran yang baru diangkat dari saluran tersebut.
Hasil pooling ini akan disampaikan kepada developer PT Citrakarsa Hansaprima dalam pertemuan hari Sabtu, 12 April 2008 nanti. Semoga bisa menjadi bahan pertimbangan untuk meningkatkan kepuasan penghuni PDR.
Wednesday, April 09, 2008
Nina Bobo ala SBY
Entah memang mengantuk atau tidak tertarik dengan pembekalan yang disampaikan Presiden SBY, salah seorang pimpinan daerah (Bupati, red) tertidur di kursinya. Karuan saja, hal ini membuat SBY kesal dan marah. Spontan dia memukul podium
"Tolong bangunkan yang tidur itu. Kalau mau tidur, silahkan di luar saja!" tegas Presiden seraya menunjuk ke pejabat yang tertidur. Ratusan peserta Forum Konsultasi Pimpinan Daerah yang terdiri dari bupati, walikota dan pimpinan DPRD di Gedung Lemhanas, Jakarta, lalu menengok ke arah yang ditunjuk.
Peristiwa tersebut bisa jadi merupakan hal yang miris, sekaligus menggelikan. Miris, karena hal tersebut mengindikasikan wibawa presiden berada pada situasi yang paling rendah. Menggelikan karena sesungguhnya tidaklah aneh melihat para pejabat di Indonesia tidur di tengah forum pertemuan mereka sendiri. Bukankah kita sudah sering melihat langsung wakil rakyat kita tidur di tengah sidang soal rakyat - meminjam lirik lagu yang ditulis Iwan Fals.
Tentang hal yang miris, kewibawaan Presiden SBY bisa jadi telah memudar bisa jadi suatu keniscayaan - khususnya dalam hal pidato-pidato beliau - setidaknya karena beberapa hal:
- Materi yang beliau sampaikan kerap kali merupakan sesuatu yang belum membumi bagi para pejabat apalagi bagi rakyat. Lebih-lebih, seperti kebanyakan pemimpin di Indonesia, SBY tidak pernah menyampaikan pemikiran dan gagasannya secara 'langsung', singkat dan padat.
- Gaya berbicara dan bahasa yang beliau gunakan, terlebih belakangan ini, kian membosankan dan terlalu fokus pada pemilihan kata-kata dan penyusunan kalimat yang hati-hati. Terlepas bahwa beliau pernah terpilih sebagai "tokoh berbahasa Indonesia terbaik", tapi kian hari gelar tersebut malah menyeret beliau menjadi pemimpin yang bahasanya tidak mengena di hati dan pikiran rakyatnya. Tidak heran, si Bupati peserta Lemhanas tertidur.
Mungkin kita perlu mencoba memutar album lagu-lagu SBY, siapa tahu kita benar-benar akan tertidur juga saat mendengarkan senandung 'merdu' (?) beliau... Seperti si Bupati peserta Lemhanas tersebut.
Zzzzzzzzzz.......
Saturday, April 05, 2008
Permata Depok Regency Bersih-Bersih? Belum!!
- Tumpukan sampah dan lumpur hitam pekat tersebut akan menimbulkan bau yang tidak sedap.
- Bau yang tidak sedap akan mendatangkan lalat dan serangga lain yang dapat membawa sumber penyakit.
- Bau yang tidak sedap juga tidak sehat untuk anak-anak serta kenyamanan.
- Jika tumpukan sampah dan lumpur tersebut mengering, kemudian mengeras, maka bau yang timbulkan akan permanen.
- Jika hujan datang sampah dan lumpur yang berada di pinggir saluran air, akan luruh dan jatuh lagi ke dalam saluran air. Mereka ikut bergabung dengan sampah dan lumpur yang tidak terangkat atau pendatang baru.




Friday, April 04, 2008
See you Blogger widget, welcome ScribeFire
I found widget for Mac inconvenience in the way that the posting window too small. Also, if I have to type a bit longer text, it did not provide scroll so I can not check again the upper part or lower part of my text. Well, I guess it was obvious if you work with widget, right?
While with ScribeFire, I decided to use Firefox specially since it is quite simple and very productive browser. I am still using Safari for other sites I am regularly visit, but particularly for blogging so far I feel that Firefox together with ScribeFire very suitable blogging dynamic duo for me.
So, thank you Blogger widget and welcome back ScribeFire.
Gembok Gombal Dinas Pariwisata DKI Jakarta
Wednesday, April 02, 2008
Belajar Etika dan Integritas Skandinavia
Kanerva mengirim 200 SMS kepada Tukiainen, penari erotis berusia 29 tahun yang juga pemimpin rombongan erotis, Skandinavian Dolls. SMS genit Kanerva ini pertama kali dikirim setelah dia melihat penampila aduhai Tukiainen saat tampil dalam pesta ulang tahun Menlu ke-60 belum lama ini.Dalam salah satu SMS-nya, Kanerva meminta Tukiainen, yang pernah berpose telanjang di majalah ini, bisa tampil erotis di sebuah tempat yang juga erotis."Apakah Anda bersedia tampil (erotis) di sebuah tempat yang juga erotis? Di mana tempatnya? Apakah memungkinkan menyentuhmu di sebuah klab malam?" demikian antara lain isi SMS Kanerva yang dikirim ke telepon seluler Tukiainen pada pukul 01.00. Ulah genit Kanerva menggunakan telepon seluler ini bukan yang pertama kali. Saat menjadi Wakil Ketua Parlemen pada tahun 2005, Kanerva juga pernah ketahuan mengirim sejumlah besar SMS kepada dua model.


