Showing posts with label golput. Show all posts
Showing posts with label golput. Show all posts

Wednesday, April 08, 2009

'golput'

A nice post in a Young Economists' Talk@ Starbucks as it tried to relate free coffee promotion by starbucks with 'not using my vote' preference (in Indonesian language commonly called "Golput" - Golongan Putih or Non-Color Group).
The Starbucks free coffee promotion is one classic example on how incentives works. During non-working day due to general election, they try to attract customers attention by inviting them to Starbucks. The same situation also apply with the general election (April 9, 2009), where most of the candidates also tried to attract voters' attention and wish to get vote as much as possible. The main problem with the candidates is that they not clearly offered the incentives to the voters to vote them. In my opinion, I am not getting any idea on why I have to vote them. You may take a look the reasons why I am not preferred any of the candidates at all here and here.

Regarding the picture above, it should be very clear for many of you that not using my vote is my right. In fact, by not using my vote I am creating a constructive incentives for political actors to be better. Why? Because if I consciously using my preferences then I should expect the best candidates will appears and not only the "free-riders" type of candidates. Thus, this year I will let the "nonsense" candidates playing in the political arena but I will not vote for them. Rather, I might be going to the Starbucks to enjoy the free coffee as it is more beneficial for me definitely. I will enjoy my coffee while I am waiting for potential candidates and better election systems in Indonesia to be working well together. Finger cross!

Happy vote my fellow Indonesian!

Sunday, September 21, 2008

Stigma tentang DPR...


Membaca berita dan pernyataan anggota DPR seperti berikut:
"Lebih lanjut, Mahfudz [Ketua FPKS] menambahkan, disahkannya RUU [Pornografi] ini merupakan hadiah terindah bagi PKS di Bulan Ramadan ini. Ia pun meminta agar publik tidak lagi disibukkan dengan perdebatan norma, namun fakta sosial yang harus diperhatikan"
Semakin memperkuat stigma yang sudah melekat di diri setiap anggota DPR. Dalam bayangku dan kesanku saat ini, stigma yang paling kuat saat ini melekat tentang DPR adalah: "pemborong undang-undang", "makelar undang-undang", "tukang jual-beli kepentingan politik", "pembual ulung", "manusia-manusia yang paling tidak setia di jagad bumi Indonesia", dan masih banyak lagi.

Stigma-stigma tersebut terbukti dari hari ke hari dengan ditandai misalnya seperti kutipan berita di atas. Betapa DPR tidak mampu menetapkan prioritas dalam pekerjaannya, kecuali uang itu sendiri. Jika ada uang, pasti mereka menyelesaikan tugas-tugasnya dengan segera dan tanpa banyak cing-cong. Sementara, tugas menyusun undang-undang yang penting, seperti undang-undang pemilu yang sebentar lagi akan dilangsungkan malah tak kunjung selesai. Eh, malah ngurusin pornografi. Apakah sudah terlalu terangsangnya mereka hingga perlu mengatur semua 'rangsangan' tersebut?

Apalagi, di masa-masa seperti sekarang ini. Mereka semua sudah terlalu sibuk memperkenalkan diri untuk pemilu 2009. Mohon maaf, Bapak-Bapak dan Ibu-Ibu sekalian. Jika melihat gelagat dan pembelajaran yang kalian tunjukkan selama ini, rasanya aku ingin golput saja. Aku merasa DPR tidak berguna sama sekali. Lebih baik biarkan Presiden saja yang melakukan semua pekerjaan. Lebih mudah menyalahkan 1 orang presiden daripada segerombolan orang yang mengaku "wakil rakyat", tapi tidak pernah mengenali siapa yang mereka "wakili". Well, kalian jelas mewakili satu hal, bukan? UANG!