Showing posts with label economics. Show all posts
Showing posts with label economics. Show all posts

Saturday, July 19, 2025

Hukum dan Vonis On Demand

Di dalam demokrasi, sistem hukum seharusnya menjadi pilar keadilan yang melindungi hak warga dan menyeimbangkan kekuasaan. Namun kenyataan saat ini di Indonesia menunjukkan sebaliknya: hukum kerap menjadi instrumen kekuasaan dan transaksi elite. Fenomena “vonis on demand” muncul ketika keputusan pengadilan tidak lagi diambil atas dasar objektivitas hukum, melainkan berdasarkan pesanan politik, tekanan publik, atau bahkan imbalan ekonomi.

 

Dalam analogi pasar berbasis platform yang kekinian, hukum kini berfungsi seperti layanan digital “on demand”—bisa dipesan sesuai kebutuhan pelanggan yang membayar lebih, dengan menu “pasal”, “vonis”, dan “dalil” yang bisa disesuaikan dengan tujuan akhir sang pemesan. Seperti dalam layanan pesan-antar instan, aktor-aktor hukum menjadi kurir yang mengantarkan vonis dengan cepat, asal sesuai dengan “alamat” yang telah ditentukan oleh kekuasaan, modal, atau koneksi politik. Akibatnya, rasa keadilan dikorbankan demi kepentingan elite, kesejahteraan publik tergadaikan, keselamatan hukum bagi warga rentan terabaikan, kepastian hukum menjadi cair dan manipulatif, dan integritas aparat terperosok ke dalam absurditas moral.

 

Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa diskresi jaksa dan hakim kerap disalahgunakan dalam kasus-kasus ekonomi dan korupsi, dengan memanipulasi bukti atau menafsirkan kerugian negara secara spekulatif tanpa dasar ekonomi yang sahih (Green & Levine, 2016; Davis, 2008). Sering kali, argumen hukum yang diungkap di muka pengadilan tidak mengacu pada prinsip dasar ekonomi pasar, seperti supply-demand atau mekanisme kompetisi terbuka (Vagle, 2022).

 

Ironi besar terjadi ketika jaksa dan hakim menggunakan istilah “kerugian negara” dalam kasus perdagangan yang sah secara hukum. Mereka menilai margin keuntungan sebagai kejahatan, padahal dalam konteks bisnis, itu adalah prinsip operasional dasar dalam transaksi dan mekanisme pasar. Argumentasi hukum mereka justru bertentangan dengan teori ekonomi modern, sebagaimana dikritisi dalam literatur hukum ekonomi (Garoupa, 2012; Boyne, 2013).

 

Di banyak kasus, kerugian negara dihitung berdasarkan asumsi harga ideal versi kejaksaan, bukan pada nilai pasar aktual. Penalaran ini tidak hanya keliru, tetapi juga mencerminkan kegagalan lembaga hukum dalam memahami praktik ekonomi global (Henning, 1999). Dalam banyak kasus pidana ekonomi, perhitungan kerugian negara sering kali tidak didasarkan pada nilai pasar aktual, melainkan pada asumsi harga ideal yang dibentuk secara sepihak oleh pihak jaksa penuntut. Asumsi ini mengabaikan bahkan menghancurkan prinsip dasar ekonomi modern, bahwa harga pasar adalah hasil dari proses dinamis antara penawaran dan permintaan di pasar bebas. Ketika aparat hukum menciptakan harga ideal—yang sering kali tidak sesuai dengan harga pasar aktual—lalu menyimpulkan bahwa selisih tersebut merupakan kerugian negara, mereka sebenarnya sedang menyederhanakan proses ekonomi kompleks menjadi logika formalistik on demandyang menyesatkan (Henning, 1999).

 

Kegagalan memahami prinsip ini telah menyebabkan kriminalisasi terhadap banyak kegiatan perdagangan yang sah. Hal ini juga menciptakan preseden bahwa siapa pun dapat dituduh merugikan negara hanya karena menjual barang atau jasa “terlalu murah”—padahal harga tersebut bisa jadi adalah hasil kompromi bisnis internasional, kompetisi, bahkan ketersediaan stok global. Salah satu studi kasus yang relevan adalah vonis terhadap Tom Lembong, yang dinyatakan bersalah karena mengimpor komoditas strategis yang dianggap tidak sesuai dengan “harga wajar versi kejaksaan.” Dalam dakwaan, kejaksaan menyatakan bahwa nilai pasar komoditas saat transaksi “tidak mencerminkan potensi keuntungan maksimal yang bisa diraih negara,” dan dari situ dikalkulasi kerugian negara dalam jumlah besar. Namun, tidak ada acuan pasar global atau teori ekonomi yang dijadikan dasar dalam kalkulasi tersebut—kejaksaan hanya menggunakan pembanding fiktif dari laporan internal yang tidak diuji secara empiris.

 

Padahal, nilai pasar bukan entitas tetap yang bisa ditentukan dari atas, melainkan refleksi real-time dari dinamika persaingan, akses pasar, dan negosiasi antara pelaku usaha. Dalam konteks perdagangan internasional, penjualan pada harga tertentu (lebih rendah atau tinggi) sering kali dilakukan demi mempertahankan pangsa pasar atau menghindari kerugian lebih besar, dan strategi ini tidak serta-merta ilegal secara ekonomi maupun hukum (Garoupa, 2012; Boyne, 2013).

 

Vonis terhadap Tom Lembong menjadi simbol penyalahgunaan hukum ekonomi untuk kepentingan politik atau pencitraan kinerja penegakan hukum. Atau bahkan penyalahgunaan hukum untuk memenuhi ‘demand’ dari customer penguasa tertentu. Kasus ini menggarisbawahi pentingnya keterlibatan ahli ekonomi perdagangan internasional dalam setiap dakwaan yang menyangkut pasar, serta perlunya pengadilan untuk menguji argumen ekonomi dengan metodologi ilmiah, bukan dengan asumsi moralistik yang kaku. Sistem hukum pun akhirnya terjerat oleh ambisi jabatan. Ketika promosi jabatan ditentukan oleh popularitas, maka penegakan hukum bergeser menjadi pertunjukan drama publik. Jaksa dan hakim hanya akan mengejar kasus-kasus yang memberi sorotan media, bukan yang memberi manfaat hukum jangka panjang (Salau, 2024; Gordon & Huber, 2009).

 

Fenomena ini menciptakan kontradiksi akut: mereka yang menyatakan diri anti-kapitalis dalam vonisnya justru adalah pelaku kapitalisme tanpa etika. Mereka menjual vonis, membeli pengaruh, dan memperdagangkan jabatan atas nama hukum. Akibatnya, hukum kehilangan makna substansialnya. Ia bukan lagi tempat mencari keadilan, tetapi ladang bagi para pemain kekuasaan untuk mencetak keuntungan.

 

 

Daftar Pustaka

Boyne, S. M. (2013). A Closer Look at Discretion: The Prosecution of Serious Economic Crimes. The German Prosecution Service. Springer. PDF Link

Davis, A. J. (2008). The American Prosecutor—Power, Discretion, and Misconduct. Criminal Justice Journal. PDF Link

Garoupa, N. (2012). The Economics of Prosecutors. The Prosecutor in Transnational Perspective. Edward Elgar. PDF Link

Gordon, S. C., & Huber, G. A. (2009). The Political Economy of Prosecution. Annual Review of Law and Social Science, 5, 135–161. PDF Link

Green, B. A., & Levine, S. J. (2016). Disciplinary Regulation of Prosecutors as a Remedy for Abuses of Prosecutorial Discretion. Ohio State Journal of Criminal Law, 14. PDF Link

Henning, P. J. (1999). Prosecutorial Misconduct and Constitutional Remedies. Washington University Law Quarterly, 77. PDF Link

Salau, A. O. (2024). The Abuse and Misuse of Prosecutorial Discretion in High-Profile Corruption Cases in Nigeria: A Call for Paradigm Shift. Journal of Anti-Corruption Law. PDF Link

Vagle, K. (2022). The Law and Economics of Anti-Corruption: The Prosecutor’s Role in Negotiated Settlements and Efficient Law Enforcement. Norwegian School of Economics. PDF Link


Catatan: versi X (was Twitter) bisa dibaca di sini.

Copyright © Dewa Wisana. All rights reserved

Monday, April 02, 2012

Quotes of the day: Political Institutions

"Economic institutions shape economic incentives:... It is the political process that determines what economic institutions people live under; and it is the political institutions that determine how this process work"

fromWhy Nations Fail: The Origins of Power, Prosperity and Poverty  by Daron Acemoglu and James Robinson. The complete excerpt of this statement can be find here.

Sunday, March 11, 2012

Property Right's of a Toddler


If I like it,
         ... it's mine.
If it's in my hand,
         ... it's mine.
If I can take it from you
         ... it's mine.
If I had it a little while ago
         ... it's mine.
If it's mine, it must never appear to be yours in any way.
If I am playing with, or building something
         all the pieces are mine.
If it looks like mine
         ... it is mine.
If I saw it first
         ... it is mine
If you are playing with something and you put it down
         it automatically becomes mine
If it is broken
         it is yours
I get the above poem from Arvind's day care and it is not clearly mentioned who wrote it. But, if you google it, you'll find it easily and always said "Author - Unknown". Despite of that, I am quite intrigue with the above poem and start to think that toddler sort of having a 'nice' idea about property rights.


Many people think that economic teaching on property right could lead any individual into a greedy spirit. While human naturally greedy, the lesson learned from toddler and their property right is that greed is NOT the same thing as property right. I believe I need to read and learn again about property rights to be able to teach the toddler about how to say "it's mine" in a proper but meaningful way.

Thursday, July 14, 2011

revisi "kutukan sumber daya"

Catatan kecil ini diawali dari artikel yang berjudul "The Myth of the Resource Curse" oleh Gavin Wright dan Jesse Czelusta yang dimuat di Challenge Maret/April 2004 silam. Ada kutipan menarik yang sudah dikutip sebelumnya di blog Cafe Hayek sebagai berikut:
There is good reason to reject the notion that American industrialization should be somehow discounted because it emerged from a setting of unique resource abundance: On close examination, the abundance of American resources should not be seen as merely a fortunate natural endowment. It is more appropriately understood as a form of collective learning, a return on large-scale investments in exploration, transportation, geological knowledge, and the technologies of mineral extraction, refining, and utilization.
Wright dan Czelusta jelas mendukung klaim yang pernah diajukan oleh Julian Simon dalam makalahnya yang berjudul The Ultimate Resource (1981 & 1996). Keduanya mengamini argumen Simon yang didukung data dari berbagai catatan empiris. Keduanya berpendapat bahwa ukuran dan besarnya suatu modal sumber daya (endowments) selalu berubah-ubah dan lebih ditentukan oleh kemampuan manusianya dalam menemukan, mengelola, dan memanfaatkannya. Dalam bahasa ekonomi, besaran modal sumber daya alam dan mineral merupakan fungsi dari kualitas sumber daya manusia. Ini berarti bahwa manusia adalah sumber daya yang 'utama', bukan berbagai mineral dan kandungan alam yang terkubur di dalam tanah. Mineral dan kandungan tersebut baru menjadi sumber daya hanya setelah melalui proses kreativitas, pilihan-pilihan dan kegiatan-kegiatan yang dilakukan manusia. Lalu apa kaitannya dengan Indonesia?

Pendapat umum dan keyakinan sebagian besar masyarakat Indonesia (yang ditanamkan lewat doktrin, pendidikan, dan sebagainya sedari kecil hingga dewasa) menyatakan bahwa Indonesia adalah bangsa yang kaya raya karena kandungan alam dan tambang serta mineral di dalamnya. Hal tersebut benar namun tidak lengkap dan belum tuntas untuk menjawab persoalan bangsa. Menurut saya, Indonesia harus mulai mengubah pendapat dan keyakinan tersebut karena sebenarnya Indonesia memiliki sumber daya yang jauh lebih 'utama' yaitu manusia. Dengan jumlah penduduk terbesar keempat di dunia dan karakteristik yang sangat beragam, sudah saatnya kita menggali konsep yang diajukan oleh Julian Simon.

Indonesia perlu mengembangkan potensi manusianya yang begitu besar. Upaya mengembangkan potensi manusia tersebut bisa dilakukan dengan banyak cara yang tidak tergantung pada teknologi saja dan atau peran dan bantuan bangsa-bangsa lain. Wright dan Czelusta menjelaskan pengalaman berbagai negara di dunia saat menanggapi temuan atas sumber daya mineral khususnya minyak. Semua pengalaman tersebut bermuara pada berbagai upaya untuk membuat manusia-manusia di negara-negara tersebut mampu dan terus mengembangkan diri mereka ketika mereka menemukan sumber daya alam minyak. Hal ini berarti negara tersebut tidak hanya ingin mengambil (sekedar 'menerima') manfaat dan nilai tambah dari sumber daya alam tersebut namun juga (ikut 'berpartisipasi') menciptakan manfaat dan nilai tambah baru lewat kualitas sumber daya manusianya.

Contoh yang diuraikan dalam artikel tersebut misalnya bagaimana Norwegia ketika pertama kali menemukan minyak pada tahun 1969. Setelah mendirikan perusahaan minyak negara dengan nama Statoil pada tahun 1973, Norwegia juga berkonsentrasi dan berinvestasi dibidang ilmu pengetahuan untuk mengembangkan teknik perminyakan (petroleum engineering) lewat institusi pendidikan misalnya di Norwegian Technical University dan Rogalan Regional College. Hasilnya, mereka secara perlahan tapi pasti mengubah paradigma dari "berkompetensi menerima" menjadi "berkompetensi partisipasi". Seperti dikutip di halaman 22:
As a result of [focusing on advance exploration techniques] approach, forecasts of impending depletion have been repeatedly overturned and reserve estimates adjusted. In effect, these advances in technology and in the infrastructure of knowledge have extended the quantity of Norway's petroleum reserves, and they have allowed Norwegians to participate in the process as well-paid professionals, not just as passive recipients of windfall economic rents.
Beberapa negara serupa yang berhasil dan kini menjadi negara maju selalu menunjukkan respon yang senada yaitu meningkatkan peran manusia ketika "durian runtuh" dari sumber daya alam terjadi. Inilah sebabnya Indonesia harus mulai berhenti mengagungkan betapa kaya akan sumber daya alam, dan mulai beralih untuk membuktikan bahwa Indonesia jauh lebih kaya akan sumber daya manusia. Jangan sampai malahan Indonesia membuktikan bahwa sesungguhnya juga mengalami "kutukan sumber daya" selain pada sumber daya alam melainkan juga sumber daya manusia.

Saturday, January 16, 2010

Update 2010 Reading List: The Armchair Economist

Just want to update the 2010 Reading List after the last book arrived in my mailbox:


So, this is the final book in my 2009 wish list and in early 2010 all of them already complete.

Tuesday, January 12, 2010

the Oil Age is not over yet



The above picture quoted from the following article. I recall in one of my class I asked how many people believe that oil stock will be depleted and how fast. Due to global warming and environmental issue (only some given answer through staggering oil price), a lot of class member somehow believe that oil stock will be depleted very soon. In other words, many people believe that oil will be gone very soon. My answer was the stock of oil will be not depleted very soon, in fact there are more of them for sure but it requires new technology and/or new approach to reach their sources beneath the earth.

The article above indicates such possibilities. I am not sure how delicate your opinion will be influence by such ideas, regarding efficient energy consumption vis-a-vis global warming and/or environmental issue. But, I believe we need to firm our effort to reduce our indulgent for oil and looking for other alternatives.

Sunday, January 03, 2010

2010 Reading List

After a couple of months hunting for reliable (I mean cheap!) online book sellers, finally before year 2009 ended I was able to order some wish-list books and they arrived by the last week of 2009. Following are list my latest collection:

The last two books - Economics Gangsters and Parentonomics - are the first books I bought and already finished to read them.

I recommend Economic Gangsters for any of you who interested with corruptions and violence from economics perspectives. It is well written and worth to read during your spare times. My favorite chapter is the first one which discuss about Suharto Inc. While for Parentonomics, I feel a bit uneasy while reading it. Not necessary because it discuss a lot about parenting, but the writing style not so specific. It is quite understandable because it close to economist parenting diary rather than economist parenting theory/concepts compilation. However, it is still worth to read if you are interested with parenting and economics.

For the first five books, I am just in the middle of exciting reading the two hot books: Superfreakonomics and Dear Undercover Economist. Both of them really superb books, highly recommend! I hope I can blog them - and the rest of the book - very soon. Especially the Dear Undercover Economist, wifey really enjoyed reading it as well.

In case you have your own opinion or review regarding one or any of my reading list, please kindly share your thought.




Sunday, August 09, 2009

SuperFreakonomics for the suicide bombers

Courtesy of Freakonomics

I would like to buy this book for two main reason: 1) I want to know what will be the new topics discuss by Levitt and Dubner in this book as I already read their previous book - Freakonomics; 2) I have this crazy idea since the last part of the title really relevant with latest incident of bom attack in Jakarta. If I know the bombers and their follower personally, I would like to buy and give this book for them and I hope they really read the chapter about why suicide bombers should buy life insurance.

I guess the suicide bombers actually already have "life insurance" in heaven for doing the bombing, based on their faith and believe. Having said that, I had realized that by reading this book they will not easily being "brain washed" since economic science have no doctrinal teaching approach. But, I still wish to try to change their mind somehow. I am not hate them, just felt sorry for them.

Monday, July 13, 2009

Excel: Our cherrie from "the market for lemon"


Meet our new family member. Her name is Excel, originally from Hyundai Excel. This is the evidence of our participation in 'the market for lemon'. Although we got her from such market, she is not a lemon instead she is a cherrie. Yes, indeed. She is quite a good and well conditioned used car, and we felt in love at the first time we saw her. And lately, she's already become important part of our daily routines in Canberra.

We consider Excel as cherrie due to several aspects that to some extent able to cope the problems of lemons market. First, the previous owner provide us with all information regarding Excel's past history. We know that she is the first hand car and regularly serviced in local authorized service center from her complete records, including service billing expenses. She also looks good in condition, started from external (paint colour, for example) as well as interior conditions (cleanliness on dashboard, door trim, etc).

Second, the previous owner also fair enough by revealing some of Excel's "unfortunate" conditions. Such conditions including some scratch in front bumper, broken handle at the back chair, and several minors. All of those problems definitely will not affecting Excel's performance and other can be solved by purchasing the parts at the service center. It is not necessarily to do very soon.

In respect to first and second reasons, Excel's previous owner succeed to diminish the asymmetrical information with respect to Excel quality. In this case, we certainly sure that Excel is not "perfectly" lemon. And since she is already become our family member, we will consider her as "Excel the cherrie". You are all welcome to ask for her ride when you have a chance.


Monday, June 22, 2009

My support to my beloved Indonesia


You should see at the bottom of the my new shoes box to guess what I mean by "support" is.

I need a walking shoes and this shoes should have additional function for hiking as well. I do not want to have several shoes for different purposes. After few hours looking for different type of shoes and various price tags, I end up with this one.

I like its model and functionality. But, the most thing that makes me "proud" is that the best shoes that fit with my foot and my interest is made in Indonesia. Ok, you may say that I am a bit chauvinist or irrational. But, what can I say? This shoes really fit in and it rise me with another feeling - my patriotism (or anti-neoliberalism?? what the hell!).

There are other types of them (from the same brand), but they are made by Vietnam or China. My nationalism mixed up with my needs, and somehow both of them agreed on one point. I love good product, with affordable price and I hope Indonesian industries keep on trying to make their goods (export) to be as good as the one that I bought today.

Merdeka!


Wednesday, March 18, 2009

Status 7: Pekerja tak dibayar

Cerita menarik dari Harian Republik tentang Survey Statistik Tenaga Kerja:
Setelah diberlakukannya integrasi sistem peng-upah-an di Universitas terkemuka di negara Republik selama 3 bulan, secara kebetulan kantor statistik di negara Republik baru-baru ini juga melakukan survey angkatan kerja untuk mengetahui dampak krisis ekonomi global terhadap ketenagakerjaan di negara tersebut. Salah satu pertanyaan yang diajukan dan diidentifikasi adalah status/kedudukan pekerjaan utama selama seminggu sebelum survey dilaksanakan.

Ketika beberapa staf pengajar di Universitas terkemuka terpilih dalam sampel survey, analisis statistik menemukan banyaknya Status No.7 (lihat gambar) yang dilingkari atas dasar jawaban para staf pengajar tersebut. Hal tersebut mengejutkan para pemerhati statistik dan membingungkan. Mengapa hal tersebut terjadi?


Untung saja, salah seorang pemerhati data tersebut saat ini juga sedang melanjutkan studi di Universitas terkemuka dan mengetahui bagaimana nasib para pengajar di sana. Si pemerhati plus mahasiswa menjelaskan bahwa fenomena tersebut timbul karena waktu pelaksanaan survey yang bertepatan dengan telah diberlakukannya integrasi sistem peng-upah-an di Universitas terkemuka yang memunculkan fenomena banyak pengajar di sana yang belum menerima upah mereka hingga 2 bulan lamanya atau tidak menerima upah yang sesuai dengan pekerjaan mereka. Padahal, pertanyaan dalam survey hanya mencakup satu minggu sebelum survey. Itulah sebabnya banyak ditemukan status 7 di Universitas terkemuka negara Republik karena saat ini para pengajar tersebut menjadi "pekerja yang tak (belum) dibayar" hingga lewat dari seminggu sebelum survey.

Kesimpulan lain yang disajikan oleh si pemerhati plus mahasiswa tersebut adalah bahwa ternyata krisis ekonomi menyebabkan teralokasinya dana yang seharusnya untuk membayar upah para pengajar ke proyek-proyek mercusuar di Universitas terkemuka. Selain itu, pimpinan Universitas terkemuka menganggap profesi sebagai pengajar di perguruan tinggi tidaklah ada bedanya (indifference) dengan guru di tingkat sekolah menengah. Ditengarai, jika keadaan ini berlanjut dapat disimpulkan bahwa menjadi guru sekolah akan jauh lebih sejahtera dibandingkan menjadi pengajar universitas. Namun untuk menyimpulkan bahwa akan terjadi migrasi profesi dari pengajar universitas ke guru sekolah masih dianggap terlalu prematur dan sulit disahihkan mengingat data yang belum memadai dan terlalu terbatasnya cakupan data. Penelusuran dan perhitungan yang lebih teliti dibutuhkan untuk menarik kesimpulan yang mungkin berdampak pada struktur ketenagakerjaan di negara Republik. Selain itu survey ulang juga diduga bisa mempengaruhi hasil tersebut.
Jika dilihat secara keseluruhan, perubahan status pekerjaan dari para pengajar perguruan tinggi tidaklah terlalu memiliki dampak relatif terhadap kepemimpinan dan kekuasaan yang ada di tingkat Universitas, bukan? Seperti halnya di tingkat pusat atau negara, kekuasaan dan hegemoni di Universitas juga tidak berbeda jauh. Kecerdasan dan intelektualitas tidak terlalu berperan jika membahas kekuasaan dan hegemoni.



Tuesday, November 25, 2008

catatan yang wajib dibaca...

"Prediksi yang dibuat, juga oleh para pakar ekonomi, terbentur dengan kenyataan bahwa dasarnya sebenarnya guyah. ”Kenyataan yang sangat menonjol,” tulis Keynes, ”adalah sangat guyah-lemahnya basis pengetahuan yang mendasari perkiraan yang harus dibuat tentang hasil yang prospektif.” Kita menyamarkan ketidakpastian dari diri kita sendiri, dengan berasumsi bahwa masa depan akan seperti masa lalu. Ilmu ekonomi, kata pengarang The General Theory of Employment, Interest, and Money yang terbit pada 1936 itu, hanyalah ”teknik yang cantik dan sopan” yang mencoba berurusan dengan masa kini, dengan menarik kesimpulan dari fakta bahwa kita sebetulnya tahu sedikit sekali tentang kelak."
Catatan tersebut selain mengangkat pemikiran Keynes, juga mengetengahkan sejarah pemikiran ekonomi yang cukup penting untuk diketahui terkait dengan bagaimana sistem ekonomi bekerja sepanjang sejarah. Bagiku pribadi, catatan ini mengingatkanku betapa pentingnya mengetahui dan belajar mengenai Sejarah Pemikiran Ekonomi. Sayang, mata kuliah ini tidak populer di kalangan mahasiswa...

Lengkapnya, silahkan baca Di Zaman Yang Meleset oleh Goenawan Mohamad.

Saturday, November 01, 2008

mahal salah, murah JUGA salah...

Dari berita Kompas, tentang penundaan Operasional Bus Lorena (untuk Busway) ditunda.

Yang menarik adalah alasan penundaan karena tarif yang ditetapkan oleh "pendatang baru" yaitu Bus Lorena lebih murah. Konsorsium Busway sebelumnya "merasa" tidak puas dan menggugat. Begini saja deh, jika Bus Lorena tersebut tidak segera dioperasikan artinya penduduk Jakarta yang dirugikan, bukan konsorsium. Jika memang Konsorsium merasa tarif Bus Lorena terlalu "rendah" sehingga Konsorsium dirugkan, mereka harus bisa membuktikan.

Seperti dikatakan oleh Presiden PT Eka Sari Lorena,
”Seharusnya pemerintah provinsi bisa bersikap tegas dalam melihat persoalan ini. Semuanya harus dilihat untuk kepentingan warga Jakarta. Kami menentukan tarif sedemikian rendah bukan tanpa perhitungan”
Jadi, apa yang salah dengan kompetisi? Anda mau bayar mahal atau murah? Murah kan!!

Wednesday, October 29, 2008

kalau nanti turun, siapkah untuk naik lagi?

Kata Presiden SBY harga BBM akan turun. Berita baik kan?

Tapi, jika nanti harga BBM sudah turun, sudah siapkah kita jika harga BBM harus naik lagi karena fluktuasi harga?

Sekarang pilih mana, harga BBM mengikuti fluktuasi harga yang ada - dengan konsekuensi kita harus berstrategi dalam hal konsumsi BBM dalam mengantisipasi tingkat harga; atau, tetap menikmati subsidi BBM dan ketar-ketir jika harga BBM akan naik - dengan konsekuensi kita akan "menikmati" ketidakpastian dan kenaikan harga barang-barang lainnya jauh sebelum akhirnya harga BBM disesuaikan, seperti sudah selama ini kita alami?

Kalau aku disuruh memilih, biarlah harga berfluktuasi. Setidaknya, aku tidak musti ikut menanggung ketidakpastian situasi ekonomi akibat tarik ulur politik presiden-DPR soal harga minyak. Sudah cukup perekonomian Indonesia dibuat "linglung" oleh politik, dan biarlah ia bergerak secara alamiah tanpa praduga dan spekulasi...

Tuesday, August 26, 2008

pemilikan versus penggunaan

"Tarif empat jenis pajak kendaraan bermotor akan dinaikkan dan satu jenis retribusi baru akan diterapkan sebagai bagian dari kebijakan penurunan konsumsi bahan bakar minyak. Pemerintah menginginkan daerah berperan optimal dalam penghematan BBM."
Dari berita Kompas tersebut, sebenarnya ada yang patut kita perhatikan. Menurutku, kita harus membedakan antara konsep "pemilikan" versus "penggunaan". Jika pemerintah ingin berupaya menekan tingkat konsumsi BBM, seharusnya yang menjadi fokus adalah penggunaan bukan pemilikan. Maksudku begini:

Secara ekonomi, pajak dan retribusi kendaraan bermotor lebih menargetkan pada biaya "pemilikan". Artinya, sebagai instrumen ekonomi pajak dan retribusi yang dipungut sekali dalam setahun bahkan dengan tingkat yang paling mahal sekali pun hanya akan mengurangi kepemilikan kendaraan bermotor. Hal tersebut tidak dapat menjadi jaminan bahwa penggunaan kendaraan akan berkurang. Dengan kata lain, hal tersebut juga tidak akan menjamin bahwa tingkat konsumsi BBM akan berkurang. Oleh sebab itu, kebijakan ini memang rentan dampaknya pada industri otomotif dalam bentuk penurunan tingkat permintaan terhadap kendaraan.

Jika pemerintah memang ingin menurunkan tingkat konsumsi BBM - yang dituduh terbesar untuk kendaraan bermotor - maka seharusnya pemerintah fokus pada bagaimana caranya mengurangi "penggunaan" kendaraan bermotor. Artinya, silahkan saja individu atau penduduk memiliki mobil atau motor sebanyak yang mereka inginkan. Namun, jika ingin menggunakannya mereka harus "membayar" biaya penggunaan jalan raya yang semakin 'langka'.

Ingat, jumlah dan panjang jalan tidak meningkat dalam tingkat yang sama dengan tingkat penggunaannya (baca: jumlah mobil dan motor yang beredar di jalan). Jalan raya menjadi relatif lebih langka dari sisi ketersediaanya. Kelangkaan menunjukkan secara relatif semakin mahalnya 'jalan' untuk digunakan oleh kendaraan bermotor. Oleh karena itu, harus dipikirkan instrumen ekonomi apa saja yang bisa diterapkan untuk mengurangi "penggunaan" kendaraan bermotor?

Menurutku, ada beberapa solusi untuk mengurangi tingkat "penggunaan" kendaraan bermotor:
  1. Menyediakan sarana transportasi umum yang lebih baik, memadai, lengkap dan terintegrasi. Ini untuk menampung yang melakukan substitusi dari pengguna kendaraan pribadi.
  2. Menerapkan "biaya" yang lebih tinggi untuk aspek penggunaan kendaraan pribadi, antara lain: jalan tol, parkir di lokasi-lokasi tertentu, dan pembatasan penggunaan pada jam-jam tertentu.

Khusus untuk solusi kedua, salah satu contoh radikal dari kebijakan yang bisa adalah menaikkan tarif parkir di mal-mal mewah dan besar serta menurunkan tarif parkir di pusat-pusat transportasi umum seperti stasiun kereta atau terminal bus untuk kompensasi bagi penduduk yang menggunakan kendaraan pribadi hanya untuk penghubung dari rumah ke tempat-tempat transportasi umum. Pendapatan dari tarif parkir yang semakin tinggi bisa dialihkan untuk mendukung (baca: subsidi) transportasi massal yang - sedianya - terus ditingkat ketersediaan dan kualitasnya.

Bagaimana? Ada yang tidak setuju?

Friday, August 01, 2008

Merokok boleh, tapi cukai rokok harus naik...

Beritanya berjudul Cukai Rokok Perlu Naik. Kutipan terbaiknya antara lain:
”Orang yang kaya bolehlah merokok, tetapi penduduk miskin perlu diupayakan tidak merokok. Golongan masyarakat miskin lebih sensitif terhadap harga sehingga kenaikan cukai bisa mengurangi konsumsi rokok di kalangan ini,” ujar Abdillah.
Dampak kenaikan cukai terhadap petani tembakau dan industri, menurut peneliti Lembaga Demografi FE UI, Diahhadi Setyonaluri, relatif kecil karena perubahan permintaan rokok cenderung lamban.
Intinya, merokok boleh-boleh saja. Tapi, karena permintaannya tetap (akan) tinggi maka harusnya cukai yang dibayar juga harus (tetap) tinggi.

Berita lain yang terkait: Excise tax hike will not kill off industry

Friday, July 18, 2008

kompetisi


Ilustrasi sederhana di atas bisa menunjukkan pentingnya "kompetisi". Siapa yang berani menawarkan barang dan jasa yang relatif lebih murah, tentu akan menarik perhatian dan minat konsumen. Kompetisi juga bisa mendorong pengembangan kualitas ke arah yang lebih baik lagi.

Eh, seseorang yang berbisik "Ah, itu bisa mematikan usaha orang lain? Sungguh tidak manusiawi"

Aku pasti akan berbisik balik, "Tidak usah pura-pura dong, kita kan selalu mencari sesuatu yang lebih murah kan? Tidak usahlah merasa 'peduli' dengan usaha orang lain."


Posting sejenis di KaFE depok.