Showing posts with label transportation. Show all posts
Showing posts with label transportation. Show all posts

Thursday, January 12, 2012

my recent wish list book: Traffic

The title is Traffic: Why We Drive the Way We Do (and What It Says About Us) by Tom Vanderbilt (2009). I've already download the eBook sample from iBook Store. Will buy it soon after I pass the first chapter. The review said it is a nice book to read on driving behaviour from sociology and psychology perspective.

I posted one interesting quote from this book here.

Thursday, November 27, 2008

how much is a life of Indonesian student worth?


Can anybody stop complaining about morality for a while and wondering about the safety of our children that is at the edge of ignorance?

Protect our children not by cover them with blanket of "normative" morality. Instead, protect our children by providing them better facilities to go to their school and better education system that can make them think about their - bright - future life. Protect our children by keep them out from indoctrination of violence teaching.

But first, let's protect our children by giving them proper transport to their school. I cannot believe that our leader violate our children rights, instead of protecting them. Our leader only thinking about their own belly.

Photo: private

Saturday, November 01, 2008

mahal salah, murah JUGA salah...

Dari berita Kompas, tentang penundaan Operasional Bus Lorena (untuk Busway) ditunda.

Yang menarik adalah alasan penundaan karena tarif yang ditetapkan oleh "pendatang baru" yaitu Bus Lorena lebih murah. Konsorsium Busway sebelumnya "merasa" tidak puas dan menggugat. Begini saja deh, jika Bus Lorena tersebut tidak segera dioperasikan artinya penduduk Jakarta yang dirugikan, bukan konsorsium. Jika memang Konsorsium merasa tarif Bus Lorena terlalu "rendah" sehingga Konsorsium dirugkan, mereka harus bisa membuktikan.

Seperti dikatakan oleh Presiden PT Eka Sari Lorena,
”Seharusnya pemerintah provinsi bisa bersikap tegas dalam melihat persoalan ini. Semuanya harus dilihat untuk kepentingan warga Jakarta. Kami menentukan tarif sedemikian rendah bukan tanpa perhitungan
Jadi, apa yang salah dengan kompetisi? Anda mau bayar mahal atau murah? Murah kan!!

Friday, October 17, 2008

Mulai dari Met Lebaran...

Pertama, aku ingin menyampaikan Selamat Hari Raya Idul Fitri bagi saudara-saudariku serta teman-teman sekalian yang merayakannya. Semoga segala pikiran dan perbuatan yang semakin baik lagi akan kian kuat hadirnya dalam kehidupan kita di masa depan.

Banyak hal yang terjadi yang menyebabkan posting ini baru bisa di publikasikan. Mulai dari kesibukan selama periode libur lebaran hingga kesibukan yang sudah menunggu pasca libur lebaran. Aku akan coba menyampaikan risalahnya sebagai berikut:

Libur Lebaran dan Mudik
Libur Lebaran tahun ini aku tidak berpartisipasi sebagai pemudik. Biasanya, seperti yang sudah biasa aku dan istrinda lakukan di tahun-tahun sebelumnya, kami mudik ke tanah kelahiran istrindaku di Madiun. Namun, tahun ini kami memutuskan tidak melakukannya karena berbagai alasan. Jadi, kami hanya bisa menikmati pengalaman mudik lewat televisi.

Meski demikian, kami cukup menikmati suasana lengang di Jakarta. Terutama istrindaku, tahun ini merupakan kali pertama ia merasakan suasana libur Lebaran di Jakarta dan tampaknya hal tersebut sangat membahagiakan bagi dia ketika kami berjalan-jalan atau berkunjung ke keluarga-keluarga kami di Jakarta dan sekitarnya; Jakarta terasa begitu nyaman dan indah karena kurangnya kemacetan, rendahnya polusi, dan terasa jauh lebih tertibnya para pengguna jalan raya. Andaikan Jakarta bisa seperti saat libur Lebaran setiap harinya... minimal tertibnya saja, tidak perlu macetnya berkurang drastis... Mimpi kali yeee...

Airborne Disease
Memasuki Lebaran hari ke-2, datanglah saat-saat yang tidak membahagiakan. Selama dua hari berturut-turut, aku mengalami demam yang cukup tinggi diikuti oleh beberapa gejala nyeri dan pembengkakan di beberapa bagian tubuh. Di akhir pekan, akhirnya aku menuruti saran istrinda untuk memeriksakan diri ke dokter. Setelah tes darah dan urin ternyata didapati aku mengalami infeksi bakteri yang cukup serius sehingga harus menelan sejumlah obat.

Namun, persoalannya tidak berhenti hingga disitu. Ternyata gejala penyakit yang kualami seperti melakukan gerilya dalam perlawanannya. Setelah demamku teratasi dan nyeri di salah satu bagian tubuhku berkurang, timbul gejala lain yang semuanya berujung pada infeksi di mulut dan tenggorokan. Dokter ke sekian yang kukunjungi menyebut penyakit yang kualami sebagai "airborne disease", karena besar kemungkinan aku terinfeksi bakteri ini lewat udara saat aku sedang dalam kondisi fisik yang relatif lemah. Yah, apa pun penyebabnya, hingga posting ini terbit aku masih menyimpan gejala batuk-batuk dan gatal di tenggorokan setelah sebelumnya terjadi sariawan di hampir seluruh bagian mulut. Kesimpulan yang kudapat dari pengalaman ini adalah jangan sekali-sekali meremehkan kondisi tubuh kita sendiri. Jagalah sebisa mungkin.

TOEFL dan GRE
Pasca liburan dan setelah hari kerja telah tiba, ada dua peristiwa yang penting yang harus aku lewati dengan kondisi yang belum sempurna. Peristiwa tersebut yaitu TOEFL test dan GRE test. Kedua tes tersebut harus aku jalani sebagai prasyarat untuk memenuhi kesempatan emas di masa depan. Belumlah patut kuuraikan detilnya di sini, karena belum pasti. Tapi, yang pasti TOEFL dan GRE test yang baru saja kujalani hasilnya tidaklah memuaskan. Terutama GRE yang baru pertama kali kulakukan cukup membuatku panik dan panik. Yah, biar bagaimana pun, sudah aku hadapi dan aku sekarang sedang mempersiapkan diri untuk mengambil test ulang agar hasilnya bisa lebih baik lagi. So help me God!

Ok, sementara itu dulu risalah beberapa minggu lalu. Sebenarnya ada beberapa hal yang juga ingin kukomentari tapi sudah banyak yang membahas. Mulai dari Paul Krugman yang memperoleh Hadiah Nobel dibidang Ekonomi, krisis ekonomi global, hingga fenomena musim hujan yang mulai datang namun sudahkah Jakarta siap menghadapi ritual banjir? Mudah-mudahan, aku bisa segera menulis lagi.

Tuesday, September 09, 2008

Bagaimana caranya menurunkan angka kecelakaan motor?

Aku mencoba menjawabnya di KaFE Depok: How to make the motorist behave?

Faktanya: insiden kecelakaan yang melibatkan pengendara motor terus meningkat. Penyebabnya ditengarai kurangnya disiplin dari para pengendara motor dan kurangnya sarana prasarana khusus, misalnya jalur khusus untuk motor.

Namun, menurutku hal tersebut lebih disebabkan oleh perilaku para pengendara yang kurang memahami resiko mengendarai motor yang relatif lebih tinggi. Oleh karena itu, aku mengusulkan untuk mengkompensasi resiko mengendarai motor yang tinggi tersebut biaya untuk memperoleh surat ijin mengemudi (SIM) motor harus lebih mahal. Dengan harga SIM yang lebih mahal, bisa menjadi sebagai efek untuk menunjukkan bahwa mengendarai motor tidaklah semudah naik sepeda dan mengandung resiko yang tinggi. Sehingga hanya para pengendara dengan kemampuan yang cukup yang berhak mengendarai motor.

Begitu...

Tuesday, August 26, 2008

pemilikan versus penggunaan

"Tarif empat jenis pajak kendaraan bermotor akan dinaikkan dan satu jenis retribusi baru akan diterapkan sebagai bagian dari kebijakan penurunan konsumsi bahan bakar minyak. Pemerintah menginginkan daerah berperan optimal dalam penghematan BBM."
Dari berita Kompas tersebut, sebenarnya ada yang patut kita perhatikan. Menurutku, kita harus membedakan antara konsep "pemilikan" versus "penggunaan". Jika pemerintah ingin berupaya menekan tingkat konsumsi BBM, seharusnya yang menjadi fokus adalah penggunaan bukan pemilikan. Maksudku begini:

Secara ekonomi, pajak dan retribusi kendaraan bermotor lebih menargetkan pada biaya "pemilikan". Artinya, sebagai instrumen ekonomi pajak dan retribusi yang dipungut sekali dalam setahun bahkan dengan tingkat yang paling mahal sekali pun hanya akan mengurangi kepemilikan kendaraan bermotor. Hal tersebut tidak dapat menjadi jaminan bahwa penggunaan kendaraan akan berkurang. Dengan kata lain, hal tersebut juga tidak akan menjamin bahwa tingkat konsumsi BBM akan berkurang. Oleh sebab itu, kebijakan ini memang rentan dampaknya pada industri otomotif dalam bentuk penurunan tingkat permintaan terhadap kendaraan.

Jika pemerintah memang ingin menurunkan tingkat konsumsi BBM - yang dituduh terbesar untuk kendaraan bermotor - maka seharusnya pemerintah fokus pada bagaimana caranya mengurangi "penggunaan" kendaraan bermotor. Artinya, silahkan saja individu atau penduduk memiliki mobil atau motor sebanyak yang mereka inginkan. Namun, jika ingin menggunakannya mereka harus "membayar" biaya penggunaan jalan raya yang semakin 'langka'.

Ingat, jumlah dan panjang jalan tidak meningkat dalam tingkat yang sama dengan tingkat penggunaannya (baca: jumlah mobil dan motor yang beredar di jalan). Jalan raya menjadi relatif lebih langka dari sisi ketersediaanya. Kelangkaan menunjukkan secara relatif semakin mahalnya 'jalan' untuk digunakan oleh kendaraan bermotor. Oleh karena itu, harus dipikirkan instrumen ekonomi apa saja yang bisa diterapkan untuk mengurangi "penggunaan" kendaraan bermotor?

Menurutku, ada beberapa solusi untuk mengurangi tingkat "penggunaan" kendaraan bermotor:
  1. Menyediakan sarana transportasi umum yang lebih baik, memadai, lengkap dan terintegrasi. Ini untuk menampung yang melakukan substitusi dari pengguna kendaraan pribadi.
  2. Menerapkan "biaya" yang lebih tinggi untuk aspek penggunaan kendaraan pribadi, antara lain: jalan tol, parkir di lokasi-lokasi tertentu, dan pembatasan penggunaan pada jam-jam tertentu.

Khusus untuk solusi kedua, salah satu contoh radikal dari kebijakan yang bisa adalah menaikkan tarif parkir di mal-mal mewah dan besar serta menurunkan tarif parkir di pusat-pusat transportasi umum seperti stasiun kereta atau terminal bus untuk kompensasi bagi penduduk yang menggunakan kendaraan pribadi hanya untuk penghubung dari rumah ke tempat-tempat transportasi umum. Pendapatan dari tarif parkir yang semakin tinggi bisa dialihkan untuk mendukung (baca: subsidi) transportasi massal yang - sedianya - terus ditingkat ketersediaan dan kualitasnya.

Bagaimana? Ada yang tidak setuju?

Wednesday, June 18, 2008

Source of public transport inefficiency: Organda?

Organda is the Organization of Land Transportation Owners. Recently they issues a new decree on increasing taxi fares. However, the taxi company not directly follow the decree. The taxi company still postponed the new fares. In my opinion, Organda decision to increase taxi fares immediately is lack of arguments and seems useless. Aco said it ridiculous.

The interesting story behind taxi operators' delayed decision is their simple argument,
"I've lost several passengers already due to the fuel price increases. The new fares will just make it worse,"
That argument is simply acceptable. The taxi driver quite understand that they have been forcing to accept that their passengers unwilling to take taxi for a moment due to adjustment process after fuel price hike. How come Organda never think that consumer need some adjustment first before willing to pay new fares? Speaking to that kind of query, I have sort of stupid conclusion up until now that the source of public transport inefficiency in Indonesia, particularly Jakarta, is Organda. Why?

Organda is the source of inefficiency because they set up transport fare by creating an concensus among operators. That means the operators (producers) control the market. To some extent, they can set up fares above the market equilibrium that possibly lower then their concensus fares. Moreover, they also have power to decide how many buses or transport mode allowed to operate in particular route.

The last event that lead me to this findings is when Organda refused public tenders for Busway operation. They refused the tenders because Organda demand that PT Primajasa and PT Lorena - neither of which belong to Organda group - not to be included in busway operations. In fact, both company offer lower cost of operation.

"Primajasa offered a rate of Rp 9,536 (approximately US$1) for every kilometer its supplied buses traveled on Corridor 4 (Pulo Gadung, East Jakarta, to Dukuh Atas, Central Jakarta), and Rp 9,371 per kilometer on Corridor 6 (Ragunan to Kuningan, both in South Jakarta).


Lorena submitted a bid of Rp 16,661 per kilometer to operate busses on Corridor 5 (Kampung Melayu, East Jakarta, to Ancol, North Jakarta) and Rp 9,443 on Corridor 7 (Kampung Rambutan to Kampung Melayu, both in East Jakarta)."
If that fact correct, than it is obvious that efficient company undoubtedly could serve at least the same quality as Organda groups did but with lower fares. That means Organda possibly charge a bit higher fares because they intended so. From consumers point of view, we could pay lower fares as if efficient operators or organization operates as such an efficient way.

How come nobody realize that we support non-efficient organization to serve us in transportation sector - such as Organda? Why we should accept such unfair situation?

Tuesday, March 25, 2008

Mobil vs. Bus vs. Sepeda



Kalau Anda masih juga penasaran bagaimana kemacetan di Jakarta terjadi, foto di atas bisa memberikan gambaran sederhana tentang hal tersebut sekaligus solusinya. Silahkan klik di gambar untuk memperbesar.

Foto tersebut menggambarkan perbandingan luas jalan yang dibutuhkan untuk mengangkut jumlah orang yang sama (lihat sekumpulan orang yang diangkut) jika dihadapkan pada tiga pilihan moda transportasi: mobil, bus dan sepeda. Dari foto terlihat dengan jelas bahwa mobil memerlukan lebih banyak luas jalan untuk menampung jumlah orang yang sama. Diikuti sepeda dan yang paling efisien adalah bus. 

Jika para pemangku kepentingan dan pengambil kebijakan di DKI Jakarta melihat foto ini, dan ditambah kerelaan berpikir sedikit lebih panjang; maka tidak ada alasan lagi bagi mereka untuk tidak memprioritaskan sistem transportasi massal yang komprehensif untuk mengurangi kemacetan. Tapi entah kenapa mereka selalu mencari solusi pendek saja. 

Sayangnya, tidak ada foto perbandingan untuk moda transportasi angkot... Jadi penasaran, apakah jumlah angkot yang terus bertambah di kota Depok adalah solusi yang efektif untuk menekan kemacetan atau malah memperparah?? 

Ada yang berbisik, "Siapa peduli?!"