Showing posts with label pray. Show all posts
Showing posts with label pray. Show all posts

Saturday, May 16, 2009

Untitled

Oh, Hyang Agung... berikanlah kami kedamaian...

Jangan biarkan aku menemukan kesalahan orang-orang selain aku, namun
biarkanlah aku terus menemukan hanya kesalahan yang menjadi milikku seorang.

Jangan biarkan aku mengkerdilkan kehidupan, namun
biarkanlah aku terus mengembangkan kehidupan bagi segenap makhluk berikut semestanya.

Jangan biarkan aku tak sedikit menyadari kehadiranmu dan seluruh umat tanpa kecuali, namun
biarkanlah aku menemukan dan menikmati setiap cuil hadirmu bersama mereka sekalian umat manusia.

Abadikanlah sebuah doa sederhana untuk semua selain diri sendiri...

bersama angin malam

Tadi malam, dalam perjalanan sepiku, angin malam menyapa sendu. Ia mencari di mana seharusnya boleh berada. Ia mengiringiku di sisi jendela, menerpa halus dengan desir bisikannya di telinga. Mengajakku berbincang... Dan lepas tengah malam dalam perjalanan sepiku, hanya angin malam lah ternyata ingin mengajakku berbincang.

Angin malam tak pernah boleh berhenti, ia harus terus berhembus. Itu yang dijeritkan dan dituntut oleh dia dan mereka. Ia tak pernah diberi pilihan, hanya hukum alam yang coba ia jalani. Mengisi ruang yang belum terisi atau keluar dari ruang yang sudah penuh terisi. Ia yang menjaga keseimbangan, tapi tak ada satu pun yang pernah menghiburnya. Aku tak bisa mengucapkan apapun padanya, tidak pujian pun kasihan. Aku pun secara tak sadar sering merasa demikian. Mungkin karena itulah, seiring malam kian dalam dan perjalanan sepi belum pula berhenti mendatang, kian dekatlah kami berdua.

Selebihnya, aku sedang tak ingin berbagi dengan kalian tentangku bersama angin malam. Kami berdua begitu saling mengerti. Jangan kalian tanya kenapa, aku tak yakin bilamana kalian bisa mengerti sedikit pun.

Saturday, March 28, 2009

sekali lagi alam bersabda...

Turut berduka dan sangat terpukul membaca berita bencana Situ Gintung. Doa sudah pasti teriring bagi para korban agar dilapangkan jalannya dan bagi yang selamat agar segera pulih dan tabah menghadapi bencana ini.

Namun demikian, doa dan kepedulian saja tidak cukup. Tidak cukup untuk mencegah bencana serupa tidak terjadi lagi. Pesan yang jelas hadir setiap hari di negeri Indonesia ini adalah alam telah bersabda dengan menunjukkan betapa tidak pedulinya kita - umat manusia Indonesia - akan potensi yang dimiliki negerinya sendiri. Kita terlalu sering tidak peduli (ignorance) bahwa kita terlalu asyik dengan penguasaan dan kenyamanan. Kita lupa bahwa alam kita manfaatkan hingga batas-batasnya terlampaui. Dan alam, bukan melawan balik, melainkan menunjukkan ketidakmampuannya untuk terus menyenangkan umat manusia Indonesia terus menerus.

Kita bisa sebut curah hujan yang tinggi sebagai penyebab jebolnya tanggul di Danau Situ Gintung. Tapi, apakah menyalahkan curah hujan yang tinggi akan mencegah kejadian serupa tidak terulang? Tidak. Karena bukan itu penyebab utamanya. Pendangkalan yang terjadi di danau tersebut tidak kurang sebabnya karena ketidakpedulian masyarakat dan pemerintah akan kinerja situ tersebut. Situ Gintung bukan tempat yang kekuatannya tak terbatas, dan kita sudah melampui batas tersebut.

Apakah kita masih diam dan tidak peduli? Bukan hanya pada kasus situ, danau, bendungan, atau sistem irigasi lainnya. Melainkan pada daya dukung lingkungan terhadap pesatnya "pemuasan" yang ingin didapat oleh manusia. Cobalah sedikit merenung dan melihat di sekitar kita, sudahkah kita memperhatikan kerusakan lingkungan yang timbul akibat perbuatan kita sehari-hari selama bertahun-tahun?

Tuesday, January 20, 2009

Hari ini...

Hari ini aku mencuri nafas kecil sang surya. Ketika ia belum lengkap terjaga, aku mencuri nafasnya agar tidak terlambat menjemput harapan. Harapan untuk mengais cita-cita di negeri seberang samudera. Juga harapan untuk mengecup cintaku yang telah menunggu di tepi pantai di pulau nun di kaki bumi.

Hari ini aku mencuri nafas sang surya dengan diiringi doa, agar segala apa yang baik berkenan datang dan memelukku erat hari ini dan seterusnya...

Monday, September 15, 2008

Sesuatu yang besar datang menghampiri

Belakangan ini, aku sering mengalami beberapa hal yang membuatku berpikir betapa "keberuntungan kerap datang dengan ketidaknyamanan dan kebingungan yang mutlak." Atau ada istilah lain yang lebih langsung - to the point - yaitu "blessing in disguised".

Saat ini, aku sedang berada dan mengalami situasi tersebut. Tawaran pekerjaan yang cukup 'penting', baik dari sisi peluang di masa depan maupun renumerasi, datang dan mulai kukerjakan. Karena demikian penting, tentulah ia menuntut perhatian dan curahan kontribusi yang tidak sedikit. Di saat bersamaan, aku juga mendapatkan kesempatan yang penting bagi karir dan kualitas karir tersebut di masa depan, dalam bentuk peluang untuk melanjutkan sekolah. Pihak "sponsor" telah berkenan memilih dan mendukung cita-cita untuk melanjutkan sekolah tersebut, dan selanjutnya masih harus berjuang untuk memperoleh berkenannya sekolah yang ingin kutempati belajar.

Hal menarik yang terjadi di sini adalah bagaimana semua hal tersebut datang secara bersamaan dan membuatku harus melakukan "ekstra" atau harus melakukan "trade-off". Sejauh ini, aku masih berusaha memilih untuk melakukan "ekstra" dibandingkan "trade-off". Mengapa? Karena jika aku langsung memilih "trade-off", artinya aku secara sadar menghilangkan 'blessing in disguised' yang masih mungkin kualami. Segala hal yang baik, pada akhirnya bisa kita rasakan. Hanya masalah kapan dan bagaimana datangnya. Mudah-mudahan, aku masih bisa terus melakukan "ekstra"-"ekstra" lainnya agar terus aku diberkati dengan 'blessing in disguised' berikutnya. Apapun bentuk dan pengejawantahannya...

Terima kasih, Hyang Agung...
Terima kasih atas segala pembelajaran yang coba Kau tunjukkan kepadaku, dan untuk tiada henti mengajariku melihat "yang terbaik" dari apapun yang ada di hadapanku - yang lalu, kini, dan akan datang...