Setelah membaca berita ini dan ini, ingin kuhaturkan...
Selamat atas matinya intelektualitas dan kapasitas berpikir para kaum cendekia.
Ketika para cerdik pandai yang sedianya mampu menggunakan ilmu pengetahuan dan cara-cara yang lebih "beradab" pun efektif, dibandingkan masyarakat yang belum tersentuh pendidikan tinggi, malah membakar dan merusak segala apa yang ada di hadapannya tanpa sempat menimbang apakah tindakan tersebut akan membawa hasil yang penting bagi masyarakat luas. Tidak! Aksi mereka malah menakutkan dan menimbulkan kebingungan atas apa yang sesungguhnya yang ingin dicapai.
Selamat atas hilangnya kemampuan berdialog di kalangan cerdik pandai.
Ketika para kaum cendekia yang seharusnya memiliki kemampuan menyampaikan tuntutan dengan lebih damai dan menjadi panutan bagi masyarakat yang jelas-jelas tidak memiliki figur pemimpin yang mengayomi mereka, malah bertingkah jauh lebih barbar dibandingkan para penjahat kejam sekalian. Tingkah ini tidak bisa dikatakan kejam, melainkan sadis dan tak berperikecerdasan...
Kalian katakan gerakan ini gerakan murni rakyat? Rakyat yang mana? Gerakan ini jauh lebih parah dan hina daripada aksi Front-Front, Laskar-Laskar, dan Komando-Komando itu... Sangat menyedihkan... Ini menunjukkan Indonesia nan (lebih) hebat lagi!
Embun hanyalah setetes pagi yang mencoba menyusun kata. Namun kata selalu mencari makna. Gerombolan pikiran yang berduyun mencari ruang. Tanpa aturan, tanpa batasan. Ada yang memicu, ada yang menginspirasi. Cetak peristiwa masa lalu, baru tadi atau cita-cita ke depan belum pasti. Dan... embun pun menetes jatuh lenyap terserap bumi tatkala fajar kian hangat. Bila kenan kan, nantilah hingga esok hari sebelum jadi pagi. Semoga masih kan ada susunan kata baru...
Showing posts with label cendekia. Show all posts
Showing posts with label cendekia. Show all posts
Wednesday, June 25, 2008
Subscribe to:
Comments (Atom)