Wednesday, September 09, 2026

Air Mata Hutan yang Menguap

Di perut sungai yang haus, air jadi darah pekat,
Rawa bisu menyimpan racun akar yang pilu—
Tak riak ceritakan luka batu yang retak,
Tak desau dedaun akui buah yang layu.
Kabut menyelimuti duka daun gugur sia-sia,
Menitip air mata ke angin yang lalai;
Batu karang diam, penuh gores rahasia,
Hati hutan merintih, tak seorang pun mendengar jeritnya.
Malam merangkul pohon dengan peluk dingin,
Busuk inti terpendam di balik kulit retak—
Madu liar jadi duri, manisnya fana lenyap,
Dalam sunyi abadi, nestapa tak terucap.
Hujan datang palsu, basahi permukaan semata,
Tak tembus kedalaman nestapa yang membusuk;
Hutan meratap lirih, lagu duka tak terdengar,
Busuk jiwa terlupakan, abadi dalam sepi.

Copyright © Dewa Wisana. All rights reserved

No comments: