Showing posts with label books. Show all posts
Showing posts with label books. Show all posts

Wednesday, July 25, 2012

Review buku: Perahu Kertas oleh Dee


Perahu KertasPerahu Kertas by Dee
My rating: 4 of 5 stars

Akhirnya buku ini bisa saya habiskan!

Saya merasa puas dan terharu dengan plot cerita Perahu Kertas ini. Bagi saya, kisah Kugy dan Keenan sangat 'kreatif' dan penuh dengan pasang-surut. Kisah mereka bisa jadi gambaran umum yang mungkin terjadi pada banyak pasangan, namun tampil dengan menarik sekaligus dinamis. Proses yang terjadi diantara keduanya tidaklah terlalu berat untuk diikuti tapi tetap memberikan kesan 'penasaran'. Biasanya ada kesan kisah-kisah asmara harus diuraikan dengan konflik-konflik yang rumit dan panjang. Saya tidak menemukan kesan tersebut di Perahu Kertas. Kisah ini mengalir dengan konflik-konflik dan penyelesaiannya (berlalu?) tanpa kerumitan tapi tetap menanggung harapan untuk sebuah akhir - entah 'sedih' atau 'suka'. Bagi yang senang dengan "happy ending", epilognya mungkin akan terasa terlalu pendek. Bagi saya, surat terakhir Kugy untuk Neptunus di epilog tersebut merupakan sebuah tanda "the end" besar yang membahagiakan dan sekaligus memberi imajinasi lanjutan tentang kisah Kugy & Keenan.

Penggunaan bahasa asing (Belanda dan Inggris) serta bahasa daerah (Sunda dan Bali) relatif sesuai untuk setting ceritanya. Alur cerita mudah diikuti, apalagi dengan penyebutan bulan dan tahun serta lokasi cerita terjadi. Menurut saya, inilah kelebihan novel ini yang tidak terbebani untuk membuat alur cerita yang 'wah' dan membumbui dengan kosakata-kosakata bombastis yang mencoba bersifat sastrawi.

Saya senang dengan kisah yang tidak terlalu menggurui, tapi mampu menyelipkan banyak 'kutipan' yang bijak dan bisa mengajak kita berpikir sekaligus merasa. Perahu Kertas ini cukup banyak melakukan itu dan berhasil untuk tidak menggurui.


View all my reviews

Thursday, January 12, 2012

my recent wish list book: Traffic

The title is Traffic: Why We Drive the Way We Do (and What It Says About Us) by Tom Vanderbilt (2009). I've already download the eBook sample from iBook Store. Will buy it soon after I pass the first chapter. The review said it is a nice book to read on driving behaviour from sociology and psychology perspective.

I posted one interesting quote from this book here.

Sunday, October 30, 2011

on marketing (a lesson learned from Apple)


The following excerpt from recent book of Steve Jobs by Walter Isaacson may offer us a good lesson on marketing.
[Mike] Markkula wrote his principles in a one-page paper titled "The Apple Marketing Philosophy" that stressed three points. The first was emphathy, an intimate connection with the feelings of the customer: "We will truly understand their needs better than any other company." The second was focus: "In order to do a good job of those things that we decide to do, we must eliminate all of the unimportant opportunities." The third and equally important principle, awkwardly named, was impute. It emphasized that people form an opinion about a company or product based on the signals that it conveys. "People DO judge a book by its cover," he wrote. "We may have the best product, the highest quality, the most useful software etc.; if we present them in a slipshod manner, they will be perceived as slipshod; if we present them in a creative, professional manner, we will impute the desired qualities." (page 78)
If you learn or follow how Apple sell their product, then the above marketing philosophy adequately explain everything. One thing for sure, Steve Jobs was not the one who 'invent' or 'create' that marketing approach. It's Mike Markkula. He is a first big Apple investor and chairman. And in Isaacson's book, he's describe as a father figure to Steve Jobs.

Perhaps the philosophy will be beneficial for marketing student or expert to learn further. For me, it is just a feeling of me being a victim of a good marketing strategy. But, I do not regret it!

Saturday, January 16, 2010

Update 2010 Reading List: The Armchair Economist

Just want to update the 2010 Reading List after the last book arrived in my mailbox:


So, this is the final book in my 2009 wish list and in early 2010 all of them already complete.

Sunday, January 03, 2010

2010 Reading List

After a couple of months hunting for reliable (I mean cheap!) online book sellers, finally before year 2009 ended I was able to order some wish-list books and they arrived by the last week of 2009. Following are list my latest collection:

The last two books - Economics Gangsters and Parentonomics - are the first books I bought and already finished to read them.

I recommend Economic Gangsters for any of you who interested with corruptions and violence from economics perspectives. It is well written and worth to read during your spare times. My favorite chapter is the first one which discuss about Suharto Inc. While for Parentonomics, I feel a bit uneasy while reading it. Not necessary because it discuss a lot about parenting, but the writing style not so specific. It is quite understandable because it close to economist parenting diary rather than economist parenting theory/concepts compilation. However, it is still worth to read if you are interested with parenting and economics.

For the first five books, I am just in the middle of exciting reading the two hot books: Superfreakonomics and Dear Undercover Economist. Both of them really superb books, highly recommend! I hope I can blog them - and the rest of the book - very soon. Especially the Dear Undercover Economist, wifey really enjoyed reading it as well.

In case you have your own opinion or review regarding one or any of my reading list, please kindly share your thought.




Sunday, August 09, 2009

SuperFreakonomics for the suicide bombers

Courtesy of Freakonomics

I would like to buy this book for two main reason: 1) I want to know what will be the new topics discuss by Levitt and Dubner in this book as I already read their previous book - Freakonomics; 2) I have this crazy idea since the last part of the title really relevant with latest incident of bom attack in Jakarta. If I know the bombers and their follower personally, I would like to buy and give this book for them and I hope they really read the chapter about why suicide bombers should buy life insurance.

I guess the suicide bombers actually already have "life insurance" in heaven for doing the bombing, based on their faith and believe. Having said that, I had realized that by reading this book they will not easily being "brain washed" since economic science have no doctrinal teaching approach. But, I still wish to try to change their mind somehow. I am not hate them, just felt sorry for them.

Tuesday, December 09, 2008

tentang Maryamah Karpov



Setelah beberapa lama menunggu, akhirnya buku terakhir dari Tetralogi Laskar Pelangi yang berjudul “Maryamah Karpov: Mimpi-Mimpi Lintang” karya Andrea Hirata akhirnya terbit. Berikut ini adalah ulasan sederhana atas Maryamah Karpov. Patut dicatat bahwa tiga buku terdahulu dari Tetralogi Laskar Pelangi memberikan kesan tersendiri yang cukup kuat bagi para pembacanya, termasuk aku. Oleh karena itu, kesan pertamaku terhadap Maryamah Karpov pasti akan sangat bias oleh keberhasilan tiga buku sebelumnya.

Meskipun sempat terkejut dengan ketebalan bukunya, aku memilih untuk tidak pikir panjang dan mulai membaca Mozaik pertama yang berjudul Dibungkus Tilam, di Atas Nampan Pualam dengan harapan bahwa kualitas buku tersebut akan membuktikan dirinya sendiri terlepas dari tebalnya isi buku seperti halnya episode pertama Laskar Pelangi yang juga cukup tebal. Melewati mozaik-mozaik berikutnya aku cukup terpuaskan dan mulai kagum dengan masih konsistennya gaya penulisan Andrea Hirata dalam buku tersebut: mengandalkan latar belakang budaya dan bahasa Melayu Belitong dan sekitarnya serta humor yang sangat berkesan baik dari penggunaan kata dan kalimat atau penokohannya. Meskipun latah kosakata teknis akademis dengan bahasa-bahasa latin masih bertebaran di sana sini. Maryamah Karpov memuat lebih banyak lagi detil tokoh-tokoh yang menarik dan lucu. Sampai di tahap ini, Maryamah Karpov belum mengecewakanku.

Beberapa bagian yang menarik menurutku antara lain kisah tentang Arai yang akhirnya diterima oleh Zakiah serta berhasil mempersuntingnya menjadi istri. Adegan yang menggambarkan bagaimana Arai akan bertemu pertama kali dengan Zakiah setelah sekian tahun tidak bertemu sangat menghibur. Adegan yang paling mengharukan bagiku adalah saat prosesi pernikahan Arai dan Zakiah yang diakhiri dengan Arai yang mengaji dengan sepenuh hatinya (Ingat ketika Arai pertama kali menjadi anggota keluarga Ikal!). Selain kisah Arai, kisah lain yang sangat mengharukan adalah kisah Ayah-nya Ikal yang hampir naik pangkat tapi batal karena surat yang salah kirim. Juga kisah kedatangan dokter gigi Budi Ardiaz Tanuwijaya yang lama tidak mendapatkan pasien serta upaya Ketua Karmun yang menghebohkan untuk bisa membawa pasien pertama untuk sang dokter. Belum lagi kisah tentang asal muasal pemberian nama panggilan warga yang sangat kocak.

Hingga separuh tebal buku yang kubaca, aku mulai merasakan kekurangan yang terakumulasi perlahan namun pasti, dan terbukti hingga akhir buku kemudian. Sejujurnya, aku berharap terlalu banyak dengan karakter Maryamah Karpov karena terkait dengan judul, dan terutama A Ling yang sangat terkait dengan kisah pada tiga buku sebelumnya. Karakter Maryamah Karpov tidak mendapat porsi yang “cukup”, sehingga tak banyak bisa kuutarakan di sini. Tapi, yang paling kurang berkesan adalah kisah tentang A Ling yang baru mulai dibahas menjelang akhir. Hampir separuh buku berkisah terlalu berat di bagian upaya Ikal membuat perahu selama 7 bulan dengan tangannya sendiri. Walaupun bagian tersebut berhasil dikurangi fokusnya dengan kisah pelayaran yang penuh marabahaya dan cuilan riset sejarah tentang perompak dalam Mozaik ke 61 Pirates of the Caribbean yang menarik. Sebenarnya, detil-detil kisah yang ditawarkan sangat menarik tapi aku merasa banyak sekali yang tidak terkait langsung dengan A Ling. Ini agak menyebalkan untukku.

Kesimpulan: harus tetap kuakui bahwa Maryamah Karpov masih bisa dikatakan berhasil menawarkan kisah yang menarik. Detil-detil kisah dan penggunaan bahasanya sangat baik dan menghibur. Satu hal yang tetap sama ketika membaca buku ini dari halaman pertama hingga akhir, unsur kelucuan tak pernah berhenti dan sangat menggelitik. Kelucuan favoritku adalah ketika Mahar menunjukkan televisi portable bekas merk Sanyo yang dijadikan mustika keramat dalam lomba benda-benda mistik dengan Tuk Bayan Tula. Terlepas dari keistimewaan tersebut, aku merasa Maryamah Karpov tidak berhasil menjaga momentum puncak yang sudah dihantarkan oleh ketiga buku sebelumnya. Kisah Ikal dan A Ling terasa mudah sekali selesai dan menjadi penutup kisah panjang empat buku tersebut. Agak melankoli tapi kering detil. Padahal, kisah ini merupakan kisah yang ditunggu-tunggu dan ending-nya sangat patut disayangkan jika hanya demikian.

Singkat kata, aku sempat berharap bahwa Maryamah Karpov akan menutup Tetralogi Laskar Pelangi dengan ‘wah!’ seperti membaca Tetralogi Pramoedya Ananta Toer atau kisah Harry Potter. Namun, sayangnya harapanku belum terpenuhi. Walaupun demikian, untuk Anda yang sudah membaca tiga buku sebelumnya, Maryamah Karpov tetap wajib Anda baca untuk mengetahui bagaimana nasib kisah cinta Ikal dan A Ling atau menikmati kisah-kisah jenaka tokoh-tokoh yang diperkenalkan oleh Andrea Hirata.

Ulasan Maryamah Karpov yang lebih baik dan lengkap bisa dibaca di sini.