Showing posts with label The Culture That is Indonesia. Show all posts
Showing posts with label The Culture That is Indonesia. Show all posts

Sunday, August 04, 2013

'Siapa cepat dia dapat'

Suatu ketika di sebuah Alfamart di daerah jalan raya Sragen-Ngawi. Saya baru saja memilih sebuah minuman segar dan sebuah permen penyegar tenggorokan untuk saya beli. Ketika saya sampai di kasir, saya lihat ada seorang bapak dan anak laki-laki kecil yang sibuk membayar belanjaannya. Saya pun berdiri dengan niat antri di belakang si bapak yang sibuk memeriksa isi belanjaannya. 

Jarak saya berdiri dengan si bapak relatif dekat, hanya sejauh satu lengan merentang. Pokoknya cukup agar beliau bisa bergerak mundur jika sudah selesai di meja kasir. Saya pikir, posisi antri saya tersebut sudah cukup etis.

Namun, hanya beberapa detik menjelang si bapak beranjak dari meja kasir, tiba-tiba datanglah seorang laki-laki muda atau Mas (kira-kira sebaya dengan saya sendiri) dan mengisi jarak sejauh satu lengan merentang antara saya dan meja kasir yang hampir kosong ditinggalkan si bapak pembeli sebelumnya. Si Mas tersebut punya ciri khas yang sangat kental, wajah yang religius dan kostum serta atribut keagamaan yang kental. Tak perlu lah saya gambarkan secara detil. Kurang etis dan mungkin tidak relevan. Si Mas tersebut membeli beberapa tablet hisap vitamin C dan langsung menyodorkannya ke mbak kasir. Mbak kasir menerimanya... 

Sungguh, saya tidak dongkol atau kesal. Jelas saya terkejut, tapi saya mulai paham dan 'mati rasa' melihat polah semacam ini. Saya sedikit tertawa geli sebelum akhirnya tak tahan untuk bertanya ke si Mbak Kasir

"Mbak, di daerah sini tidak perlu ada antrian ya?", tanya saya dengan tatapan mata dan senyum langsung ke arah si Mbak. 

Si Mbak Kasir tampaknya paham apa maksud pertanyaan saya dan sedikit gelagapan untuk menjawab. Sebelum si Mbak sempat menjawab, ternyata si Mas menjawab sambil tersenyum dengan nada bicara bangga,

"Siapa cepat dia dapat, Mas" 

"Oh ya?", kali ini saya terkejut tapi tetap tidak marah. Malahan saya kagum dengan jawaban si Mas tersebut. Ia menjawab dengan percaya diri dan menegaskan bahwa apa yang dia lakukan benar adanya dan sudah terjustifikasi. 

Sesaat setelah menjawab, Si Mas berlalu dan saya hanya bisa membalas, "Terima kasih, Mas!"

Sungguh, saya merasa berterima kasih atas jawaban si Mas tersebut. Beliau sudah mengajarkan saya filsafat penting yang ada di tengah masyarakat tentang antrian. Sekarang saya tahu apa alasan kenapa mengantri adalah hal yang sulit dilakukan oleh orang-orang Indonesia.


Copyright © Dewa Wisana. All rights reserved

Saturday, November 03, 2012

saya tidak bermaksud...

Kali ini adalah posting perdana saya yang akan saya beri label "The Culture That Is Indonesia". Edisi perdana ini akan membahas tentang kebiasaan orang Indonesia yang menyampaikan "saya tidak bermaksud...".

Kata-kata tersebut sudah lama saya perhatikan namun baru belakangan ini mengganggu pikiran. Baru saja saya temukan dari status seorang dosen di salah satu universitas di Indonesia di salah satu media sosial internet yang menyampaikan kalimat, "Saya tidak bermaksud menyebar fitnah, hanya sekedar bla bla bla..." lalu beliau menyajikan tautan berita online sekaligus menyampaikan pertanyaan dan komentar yang cenderung konspiratif – jika belum bisa dibilang fitnah – atas suatu isu yang belum jelas duduk persoalannya terkait tautan berita tersebut. Yang lebih menarik adalah tautan berita online yang beliau bagikan sendiri memuat pemikiran-pemikiran konspiratif dan penuh fitnah. Mengapa saya bilang fitnah, karena sebenarnya belum ada buktinya.

Tidak sekali ini saya menemukan kata-kata yang diawali kesan baik dan bijak, tapi kontennya sungguh penuh prasangka, tuduhan, konspirasi, dan fitnah yang cenderung tidak berdasar dan hanya didasarkan pada emosi atau stigma atas pihak-pihak yang disangka atau dituduh. Ciri-ciri utamanya biasa diawali dengan kata-kata "saya tidak bermaksud fitnah..." atau "saya tidak bermaksud menuduh..." atau "bukan maksud saya memojokkan...", tetapi pertanyaan atau pendapat atau argumen yang disajikan pada gilirannya akan mensahihkan segala maksud yang dinegasikan di kalimat awal tersebut. Dengan kata lain, apa yang disampaikan di awal sesungguhnya bertolakbelakang dengan pendapat yang sesungguhnya ada di benak si orang tersebut.

Coba saja Anda perhatikan jika sedang berdiskusi secara lisan atau berdiskusi di media online atau berdiskusi di forum-forum online. Dan silahkan simak muatan pendapat atau argumen yang disampaikan. Jika Anda memang tahu dan mungkin sangat dekat dengan orang tersebut, lupakan saja posting ini. Tapi, jika Anda memang ingin sedikit kritis, perhatikan sejauh mana orang tersebut menyampaikan detil-detil pendapat dan argumennya. Mungkin Anda akan menemukan apa yang saya maksud.



Copyright © Dewa Wisana. All rights reserved