Showing posts with label Depok. Show all posts
Showing posts with label Depok. Show all posts

Monday, May 21, 2012

Balita Digital

Topik hari ini dipicu oleh pertanyaan seorang teman: "Apakah Anda akan membolehkan balita Anda untuk menggunakan iPad?" Anda bisa mengganti iPad dengan berbagai perangkat elektronik lain, mulai dari telpon genggam, telpon pintar (smartphone), komputer, tablet, dan perangkat permainan elektronik seperti XBox, Wii, dan sebagainya.

Pertanyaan tersebut merupakan pertanyaan yang menarik dan perlu dijawab oleh para orang tua dewasa ini. Perkembangan teknologi belakangan ini semakin pesat dan penggunaanya pun kian intensif di berbagai aspek kehidupan. Berbagai jenis perangkat elektronik digital atau biasa disebut gadget bermunculan dan bertebaran di tangan kita.

Isu kritis yang cukup pelik terkait pemanfaatan gadget bagi keseharian adalah bilamana anak-anak dan balita boleh menggunakan gadget? Atau, umur berapakah balita atau anak-anak boleh berinteraksi dengan telpon genggam atau iPad atau komputer? Ada banyak studi yang mencoba menjawab pertanyaan tersebut. Kesimpulan dan pandangan yang muncul relatif terbagi dua kubu: pro dan kontra. Kedua kubu tersebut pada dasarnya mengklaim bahwa penggunaan gadget di usia dini bisa mempengaruhi perkembangan anak - pengaruhnya bisa negatif atau positif. Namun, media massa umumnya hanya membahas laporan dan diseminasi studi tersebut terutama yang memaparkan pengaruh negatif tanpa perimbangan dari studi tandingannya. Dengan kata lain, belum ada bukti yang komprehensif dan sinergis untuk menjawab peran gadget bagi balita dan anak-anak.

Sebuah survey di suatu kelompok Parenting menunjukkan bahwa hampir 20 persen balita mulai menggunakan smartphones sejak umur 2 tahun. Dan, hampir sepertiga balita akan mulai menggunakan laptop atau kamera digital saat mereka mulai duduk di bangku Taman Kanak-Kanak. Pola pemanfaatan gadget tersebut dikenalkan oleh orang tua mereka, baik secara langsung maupun tidak langsung.

Meskipun survey tersebut dilakukan di negara maju dan konteks fenomenanya lebih relevan untuk negara tersebut, namun saya pikir temuan tersebut bisa memberi indikasi kecenderungan serupa di negara-negara berkembang, termasuk Indonesia. Generasi balita digital tersebut merupakan generasi pertama yang tumbuh dan berkembang secara digital, artinya interaksi mereka dengan teknologi digital akan sangat tinggi dan dimulai sejak usia dini. Mungkin tidak lama lagi, perkembangan di tahap awal dari anak-anak kita akan bisa diukur dengan apa yang disebut sebagai digital milestone, yang diukur misalnya dengan mengetahui umur berapa anak kita pertama kali mengirim SMS (Baca juga artikel menarik yang berjudul The Birth of Digital Toddler).


Satu hal yang niscaya adalah generasi digital akan dihadapkan pada masyarakat yang dikelilingi oleh screens (layar monitor) yang hampir sebagian besar memiliki fitur touch (sentuh). Keyboard sudah menjadi pena pertama mereka, jika menggunakan stylus masih terbatas hanya untuk kegiatan seni grafis dan gambar. Dan, kertas-kertas coretan belajar menulis pertama kali yang dulu biasa berserakan di meja, akan bertebaran di komputasi awan (cloud computing) dalam berbagai format penyimpanan, seperti PDF, JPEG, dan sebagainya. Baiklah, saya setuju bahwa yang terakhir agak berlebihan... Hehehe.


Tanpa bermaksud mengecilkan potensi masalah yang pasti ada, saya pikir lebih baik kita mulai melihat fenomena balita digital ini dalam perspektif yang lebih universal yaitu kegiatan pendidikan. Jika di sekitar kita layar monitor di mana-mana dan berfitur sentuh, saya pikir tidaklah tepat jika kita tidak mulai memperkenalkan anak-anak sejak dini dengan fungsi teknologi tersebut. Seperti halnya komputer yang sudah menjadi teknologi yang umum dimiliki oleh sebagian besar rumah tangga di mana pun berada dan digunakan tidak hanya sebagai sarana hiburan melainkan juga sebagai instrumen pendidikan; mengapa tidak menggunakan teknologi tersebut untuk sarana pendidikan bagi balita dan anak-anak? Di sinilah dimulai sebuah pemikiran bahwa sistem pendidikan juga perlu berubah, berevolusi dan tumbuh sambil menyesuaikan diri dengan refleksi keseharian perkembangan baru balita dan anak-anak kita yang semakin terpapar teknologi digital. Singkat kata, sistem pendidikan harus menerima dan menyiapkan instrumen pengajaran yang menjawab tuntutan  peserta didik yang memanfaatkan teknologi sejak dini.

Sedikit Pengalaman Arvind dan iPod Touch-nya
Saat tulisan ini disusun, anak saya – Arvind – sudah berumur 2 tahun. Menjawab pertanyaan pertama di atas, iya saya mengijinkan Arvind untuk bermain dengan iPad saya. Sesekali Arvind diperbolehkan menggunakan iPad, tapi dia pasti tidak boleh melihat iPad menjelang waktu tidurnya tiba. Saya sudah memperkenalkan Arvind dengan iPod Touch sejak dia berumur 20 bulan. Mengapa saya perbolehkan Arvind bermain dengan iPad dan iPod sejak dini?


Alasan saya lebih didasarkan pada antisipasi atas kemampuan Arvind di masa depan. Saya lihat Arvind, seperti halnya balita lainnya, sangat cepat menyerap dan menginternalisasi informasi: rutinitas, kata-kata, dan konteks. Misalnya, ketika dia melihat saya mengaktifkan telpon genggam saya – membuka kunci (unlock) handphone, dia mampu melakukan hal yang sama setelah dua kali melihat. Tidak berhenti sampai di situ, dia juga mulai mengeksplorasi menu dan fitur yang ada di handphone saya. Sejak itulah saya berpikir bahwa cepat atau lambat ia pasti akan 'menuntut' untuk bermain dengan teknologi tersebut. Daripada menunggu tuntutan tersebut muncul tiba-tiba, lebih baik saya mulai dan arahkan secara khusus ke menu dan fitur yang sesuai dengan umur dan perkembangan pembelajarannya.


Awalnya saya tunjukkan aplikasi untuk mengenal suara musik dan gambar-gambar interaktif yang menarik jika disentuh. Saat itu, saya sendiri yang men-supervisi penggunaan iPad atau laptop yang memuat aplikasi tersebut. Ketika dia memasuki usia 22 bulan dan mulai bisa bicara, Arvind belajar ABC dari iPod Touch-nya (iPod tersebut resmi saya lungsurkan ke Arvind saat itu) dan dia mulai belajar mengoperasikannya sendiri tanpa supervisi saya. Di iPod tersebut sudah saya muat berbagai aplikasi pembelajaran (learning apps) dan toddler games. Lebih kurang, ada 12 toddler apps dan 5 buku digital (eBook) interaktif serta beberapa video serial anak-anak seperti Thomas and Friends, The Wiggles, dan Bob the Builder.


Beberapa waktu kemudian, saya amati bahwa Arvind bisa memilih aplikasi apa yang ingin ia mainkan. Dia juga sudah mulai bisa memilih video apa yang ingin dia tonton. Selain kemampuan menentukan sendiri pilihannya, dia juga mulai bisa meniru dan mengulang bahan pelajaran di aplikasi yang ia mainkan. Ia dengan cepat meniru lagu alfabet ABC, berhitung satu sampai sepuluh dalam bahasa Inggris (meskipun entah kenapa dia tidak pernah mau menyebut nine sebelum ten), membedakan big dan small, menyebut nama-nama binatang dan suaranya saat melihat gambar binatang tersebut, dan banyak hal lainnya. Satu hal yang paling diminati oleh Arvind adalah segala sesuatu yang berkaitan dengan musik. Di setiap film yang disaksikan, dia paling tertarik dengan theme song film tersebut. Atau, ketika bermain dengan apps pasti dia lebih responsif terhadap musik yang dimainkan oleh apps tersebut. Begitu juga dengan ebook, dia tampak menyimak buku yang menyajikan musik pengiring di dalamnya. Contoh buku interaktif yang menarik bagi Arvind adalah The Fantastic Flying Books of Mr. Morris Lessmore.


Meskipun Arvind sudah mulai bisa memilih menu dan fitur yang tersedia di iPod tersebut, bukan berarti dia dilepaskan sendirian bermain dengan gadget tersebut. Kami tetap mengamati dan membimbing apa saja yang perlu dilakukan terutama jika dia mendapati ada fitur atau menu baru yang muncul dan dia belum tahu konteksnya. Selain itu, kami juga memilih kapan waktu yang tepat agar dia boleh bermain dengan iPod tersebut. Misal, kami tidak membolehkan dia melihat layar monitor apapun saat menjelang waktu tidur.  Artinya, kami tidak ingin keasyikan 'bermain' dengan gadget tersebut melebihi rutinitas penting yang harus dia jalani seperti tidur, makan, dan berolahraga. Kami juga masih tetap memperkenalkan Arvind dengan buku non ebook sebagai sarana belajar.


Lesson Learned Balita Digital
Dari pengalaman Arvind, saya belajar bahwa balita dan anak-anak bisa bermain sambil belajar dari gadget sejak dini. Untuk meminimalisir dampak negatif yang mungkin muncul, kita tetap harus memsupervisi si anak ketika bermain. Selain itu, kita juga perlu memperhatikan dan menyiapkan gadget tersebut secara seksama terutama apa saja yang bisa dimainkan di gadget tersebut. Saya juga belajar untuk tidak terlalu ambisius dan memasang target bahwa si anak perlu belajar ini dan itu. Melainkan, saya belajar mengenali apa minat si anak dan kemampuan apa yang dia bangun ketika bermain dengan gadget tersebut. Contohnya adalah bagaimana Arvind menunjukkan minatnya terhadap musik dan bebunyian yang memiliki nada.


Terlepas dari fungsi dan peran baik dan buruk dari gadget bagi perkembangan balita dan anak-anak, saya belajar bahwa orang tua dewasa ini dituntut untuk mampu mengenali dan mengantisipasi kemampuan dan kecepatan anak-anak untuk belajar dengan atau tanpa kehadiran gadget. Namun, kehadiran gadget dewasa ini membuat kemampuan tersebut kian penting. Hal ini berlaku dalam kaitannya dengan kemampuan anak-anak memanfaatkan teknologi karena mereka akan terpapar teknologi sejak dini, baik disengaja atau pun tidak. Mengarahkan dan memperkenalkan teknologi sejak dini untuk kepentingan pendidikan menjadi tidak terhindarkan. Memusatkan perhatian pada aspek-aspek negatif dari teknologi terhadap perkembangan anak saja tidak cukup membantu kita untuk mengenali apa sebenarnya potensi anak-anak yang pada jamannya nanti dikelilingi oleh teknologi. Tata cara pendidikan yang digunakan selama ini, mulai perlu disesuaikan agar bisa menyiapkan anak-anak yang semakin melek teknologi ini untuk mampu menggali manfaat dari pemanfaatan teknologi bagi kesejahteraan mereka di masa depan.

Itulah sebabnya, menurut saya, pertanyaan yang tepat bukanlah "Apakah boleh bermain iPad?" atau "Umur berapa yang tepat untuk mulai bermain dengan gadget?". Melainkan, "Apa yang bisa dimainkan oleh balita di iPad?", "Bagaimana membimbing balita ketika bermain gadget?", "Apa yang bisa orang tua pelajari ketika si balita bermain iPad?"....



Copyright © Dewa Wisana. All rights reserved

Wednesday, December 10, 2008

judulnya OK's banget!

Judul rubrik Indonesiana di Majalah Tempo yang aku maksud berbunyi sebagai berikut:
"Baliho Anti-Orang Kidal"
Bagiku judul tersebut OK's banget dan sangat mewakili "kesan" yang sesungguhnya. Latar belakang rubrik tersebut, pernah aku posting di sini, dan sini. Aku cukup lega hati karena ternyata aku tidak sendirian yang resah dan sebal dengan baliho di Depok tersebut.

Sunday, December 07, 2008

seakan resonansi...

Artikel menarik dari The Jakarta Post berjudul "Idul Adha: Personal Piety Instead of the Common Good" sangat menggugah. Sedikit kutipannya sebagai berikut:

In Depok, some old ads, perhaps remaining from Ramadan, can still be found, calling for Muslims to recite more Koranic verses, to read basmallah (reading-initiation by mentioning God) before doing all activities and to use the right hand -- instead of the left -- in every supposed virtuous deed. Interestingly, a few of these ads include pictures of Depok's mayor -- one has him smiling and surrounded by people wearing songkok -- an Indonesian hat which usually symbolizes piety -- and women wearing scarves (jilbab).

In view of this, most of Indonesia's Muslims still emphasize that individual piety is to be shown in public. This, however, offers a paradox -- if not an absurdity -- with regard to the real life. Just go to Depok. You don't have to be a civil engineer or an urban planner to feel the poor quality of Depok's roads and streets. Most of them are becoming bumpier and more and more holes are filling with muddy water. Riding in a car is like dancing, because of the instability of our body. Enjoy it.

Why do these ads not talk about those damaged public facilities -- but instead call on Depok's citizens to read more Scripture, to recite magic formulas and to spread prejudice against left-handed people?

Meminjam istilah yang pernah diutarakan oleh seorang kawan, kutipan tersebut (dan keseluruhan artikel) di atas, seakan memuat resonansi kecil dari apa yang pernah kuposting sebelumnya.

Selamat Hari Raya Idul Adha, semoga segala pengorbanan yang tulus dan tanpa pamrih (meski demi surga sekalipun) datang dari segala penjuru demi kedamaian dan kesejahteraan sekalian umat manusia.

Tuesday, December 02, 2008

sejak kapan jati diri bangsa hilang?


Sejak kapan jati diri sebagai Bangsa Indonesia kita hilang? Atau pertanyaan yang lebih tepat adalah, sejak kapan Bangsa Indonesia diajarkan makan dan minum memakai tangan kiri?

Jati diri Bangsa Indonesia itu benar-benar hilang ketika di Depok semakin banyak jalan yang rusak tapi tidak pernah diperbaiki; ketika di Depok kemacetan semakin merajalela karena angkutan umum tidak ditertibkan; ketika di Depok pengelolaan sampahnya kacau dan mengorbankan kesehatan warga sekitarnya; ketika di Depok mulai sering terjadi banjir; dan...

Ketika Walikota Depok terlalu sibuk dengan jadwal photo session dan menjadi model berbagai spanduk, baliho, atau berbagai media promosi lainnya.

Sudahlah, Pak! Kami makan dengan tangan atau kaki, biarlah itu urusan dosa dan kebiasaan kami. Jati diri kami belum pernah tergadai ketika tangan kiri kami gunakan untuk mengambil sepotong tempe. Ibu kami, sejak kami kecil, sudah mengajarkan kami mana tangan yang "manis" dan mencuci tangan sebelum makan atau setelah buang hajat. Oleh karenaitu, mohon dengan segala hormat dan kerendahan hati, Bapak uruslah tugas dan kewajiban Bapak sebagai kepala daerah.

Monday, December 01, 2008

Tolak UPS di Permata Depok Regency!

Posting ini merupakan lanjutan posting "Permata Depok Regency Akan Jadi Gudang Sampah?!" beberapa waktu lalu. Beberapa peristiwa telah terjadi yang terangkum sebagai berikut:

Sosialisasi
Seperti sempat disinggung pada posting sebelumnya tentang rencana kegiatan Sosialisasi Unit Pengolahan Sampah (UPS) oleh Kelurahan Ratu Jaya, maka secara mendadak rencana Sosialisasi UPS yang sedianya dijadwalkan tanggal 16 November, dimajukan menjadi tanggal 15 November 2008. Entah apa maksud perubahan tanggal yang tiba-tiba tersebut.

Jadwal sosialisasi yang disebutkan dalam undangan pukul 9 pagi, ternyata molor hingga hampir 10.30 karena keterlambatan para punggawa pemkot Depok. Insiden ini seakan menandakan bahwa pihak Pemkot (yang diwakili oleh staf dari Kantor Dinas Lingkungan Hidup/KDLH) tidak serius dalam melakukan sosialisasi UPS di lingkungan Permata Depok Regency (PDR). Sosialisasi berlangsung panas dan penuh dengan sorakan dan kecaman dari warga PDR yang intinya MENOLAK pembangunan UPS. Kecaman yang jelas ditujukan ke pihak developer PT CITRAKARSA HANSAPRIMA dan pihak Pemkot Depok.

Pihak developer bersalah karena tidak menginformasikan tentang rencana lokasi UPS tersebut kepada warga PDR, bahkan terkesan menutup-nutupi informasi tersebut. Hal tersebut tercermin dari tidak transparan dan tegasnya jawaban dari pihak developer. Kesalahan ini semakin terus menambah daftar dosa yang telah dilakukan dan masih mungkin terus dilakukan oleh developer. [Lihat juga daftar dosa mereka di sini, sini, dan sini].

Sedangkan pihak Pemkot Depok bersalah karena tidak melakukan sosialisasi sebelum melakukan kegiatan pembangunan UPS. Selain itu, kesalahan Pemkot Depok yang paling fatal adalah sama sekali tidak memperhatikan dampak lingkungan yang pasti timbul jika membangun UPS di tengah pemukiman seperti PDR. Bagaimana mungkin mereka membangun UPS yang langsung bersebelahan dengan rumah warga? Ini bukti paling konkret bagaimana pemkot Depok tidak peduli dengan nasib warganya.

Setelah kecaman dan tudingan tiada henti dari warga dan ketetapan sikap warga yang menolak UPS, sosialisasi diakhiri tanpa titik temu. Hal ini sebenarnya sudah dapat diduga mengingat pihak pemkot Depok sama sekali tidak mengantisipasi sikap warga karena mereka memang tidak peduli. Gambaran kegiatan sosialisasi UPS di PDR bisa dilihat di album foto kegiatan sosialisasi tersebut.

Survey dan Pertemuan Lanjutan
Sebenarnya, warga PDR percaya bahwa UPS merupakan konsep yang baik bagi manajemen pengelolaan sampah. Artinya, masih terbesit kesediaan dari warga PDR jika ada UPS di lingkungan mereka. Hal tersebut terbukti dari tercetusnya ide untuk mempelajari bagaimana sistem UPS tersebut berjalan. Sebenarnya sangat disayangkan apabila warga PDR sendiri yang mengambil inisiatif mempelajari UPS, karena seharusnya pihak Pemkot Depoklah yang mengambil tugas ini. Namun apa daya, seperti layaknya pemerintahan di Indonesia, Pemkot Depok selalu lalai menjalankan perannya sebagai aparat negara.

Dengan didasari pemikiran tersebut, warga PDR telah melakukan survey dan studi banding ke beberapa UPS yang telah berdiri di Depok. Ada 2 UPS dan 1 TPS (Tempat Penampungan Sampah) yang disurvey oleh tim dari warga PDR. Hasil survey tersebut menemukan dan semakin mempertegas bahwa rencana dan lokasi pembangunan UPS saat ini tidak sesuai dan memiliki dampak lingkungan yang serius bagi warga PDR dan sekitarnya. Terlebih jika benar UPS tersebut akan menampung sampah untuk 1 kelurahan Ratu Jaya. Dengan luas UPS yang hanya 500 meter per segi, apakah hal tersebut memadai? Tentu tidak! Untuk itu, warga PDR kemudian menyusun sikap dan usulan terkait dengan rencana pembangunan UPS tersebut [Bisa dilihat di sini].

Pertemuan lanjutan kemudian dilangsungkan pada tanggal 29 November 2008. Rencananya akan dihadiri oleh pihak Developer, Pemkot Depok, perwakilan DPRD Depok, dan perwakilan warga. Namun, senasib dengan pertemuan sosialisasi UPS sebelumnya, pertemuan kali ini tidak bisa memberikan kepastian bagi warga PDR. Selain karena proses pembangunan fisik UPS masih terus berlangsung, pihak-pihak terkait tidak ada satu pun yang bisa memberikan keputusan dan jaminan bahwa UPS tersebut tidak memiliki dampak negatif bagi warga PDR.

Sikap Tegas Warga PDR: TOLAK UPS!
Melihat perkembangan demikian, warga PDR masih berpendapat bahwa pembangunan UPS di lingkungan PDR belum bisa diterima karena masih mengabaikan prinsip-prinsip kelaikan lingkungan dan ketidakjelasan peruntukan operasionalnya. Pembangunan UPS baru dapat diterima dan didukung jika peruntukkannya sesuai dengan kapasitas kerjanya yaitu untuk 2 RW saja, bukan untuk 1 Kelurahan Ratu Jaya; SERTA UPS tersebut dibangun dengan memperhatikan dampak lingkungan yang paling minim bagi warga sekitarnya. Hal tersebut, UPS harus dibangun cukup jauh dari pemukiman warga yang ada disekitarnya agar dampak buruknya bisa diminimalisir.


Update: Lihat juga resonansi topik serupa di Balance Life

Friday, November 28, 2008

mahasiswa tidak mengerti lingkungan

Maksud judul posting dan foto kali ini didasari oleh beberapa hal berikut ini:
  1. Tempat sampah tersebut secara jelas sudah dibedakan antara yang organik dan non-organik
  2. Tempat sampah tersebut ada di dalam lingkungan salah satu kampus elit di bilangan Depok
  3. Tempat sampah tersebut berada cukup dekat dengan lokasi di mana mahasiswa/i sering berkumpul saat di luar jam kuliah

Atas dasar hal tersebut, fakta yang ditunjukkan oleh foto tersebut adalah:
  1. Ada botol dan gelas plastik bekas minuman yang diletakkan di tempat sampah yang tertulis "Organik"
  2. Tempat sampah tersebut hanya salah satu dari sekian banyak tempat sampah yang tertulis "Organik" tetapi tetap menampung (dimasuki?) botol atau gelas plastik
Jika aku menganggap bahwa si tempat sampah tidak bisa memilih mana sampah yang BERSEDIA dia tampung sesuai dengan peruntukannya, maka siapakah pihak yang tidak mengerti tentang mengapa si tempat sampah harus dibuat demikian?

Si mahasiswa/i kan? Dan mahasiswa kan MUSTINYA bisa memilih sampah apa yang seharusnya dimasukkan ke tempat sampah yang mana?

Foto: pribadi

Wednesday, November 12, 2008

Permata Depok Regency akan jadi Gudang Sampah?!

Setelah sempat hanya menjadi rumor selama beberapa bulan, akhirnya judul posting ini akan menjadi kenyataan. Di lingkungan Permata Depok Regency (PDR) akan dibangun Unit Pengolahan Sampah (UPS) yang akan digunakan untuk menampung seluruh sampah yang dihasilkan oleh Kelurahan Ratu Jaya. Setidaknya, hal tersebut sudah dikonfirmasi melalui dua hal: (1) Sudah dimulainya kegiatan pembangunan di tempat yang rencananya akan menjadi lokasi UPS tersebut, (2) Sudah beredarnya edaran dari RT/RW setempat mengenai berita tersebut dan tanggapan warga.

PDR merupakan perumahan yang dibangun oleh PT Citrakarsa Hansaprima, sebuah pengembang perumahan di wilayah Depok. Sebelumnya, aku pernah memuat posting tentang kinerja (buruk?) dari developer ini dan kali ini tampaknya mereka melakukannya lagi. Dan, mereka kali ini melakukannya dengan jauh lebih fatal dari yang sudah-sudah.

Warga PDR secara prinsip menolak keberadaan UPS tersebut. Bukan hanya karena tidak ada persetujuan sebelumnya dari warga, namun karena UPS tersebut dibangun ditengah-tengah kawasan pemukiman. Hal tersebut merupakan sesuatu yang sangat tidak tepat dan sangat merugikan. Mengapa harus membangun tempat penampungan dan pengolahan sampah di tengah-tengah pemukiman? Sebagai analogi saja, apakah Boss pemilik Developer bersedia di belakang rumahnya dibangun sebuah tempat penampungan sampah? Tentu tidak kan!

Dari pihak Pemerintah Kota (Pemkot) Depok pun setali tiga uang. Pemkot yang Walikota-nya bergaya bak selebriti (karena fotonya terpampang dengan berbagai pose di setiap sudut kota Depok!), sangat tidak menghargai aspirasi rakyatnya dan cenderung berusaha mencari solusi mudah yang asal jadi. Dan, rencana pembangunan UPS tersebut tanpa dikonsultasikan dan mendapatkan ijin dari warga terus dilaksanakan. Rencananya, akan ada sosialisasi pada tanggal 16 November 2008 nanti. Tapi, jika pembangunan UPS tersebut sudah dijalankan, itu namanya bukan SOSIALISASI dong, melainkan PEMBERITAHUAN! Alias PEMAKSAAN! Jadi, beginilah gaya manajemen pemerintahan Kota Depok yang Walikota-nya religius, sangat peduli dengan budaya bangsa. Memaksakan kehendaknya kepada rakyat.

Ok, nantikan posting selanjutnya tentang UPS di PDR ini berikut analisis mengenai gaya manajemen pemerintahan Kota Depok dibawah kepemimpinan Walikota-nya yang narsis tersebut.

Thursday, October 30, 2008

Depok: ganti saja motto-nya?


Beberapa waktu lalu pernah kuposting spanduk yang dimuat oleh Pak Walikota Depok tentang perlunya membudayakan "makan dan minum dengan tangan kanan". Ternyata, pada saat menjelang hari raya Idul Fitri kemarin, spanduk tersebut lagi-lagi muncul di Depok bahkan dalam ukuran yang lebih besar lagi. Istrindaku sempat mengulasnya di sini. Saya sedikit banyak mulai enggan untuk mengabadikan foto spanduk yang super besar itu sehingga tidak ada dalam posting ini. (Catatan: spanduk tersebut sudah turun dan diganti dengan spanduk lain).

Sebenarnya masih penasaran saja, mengapa Pak Walikota Depok memilih motto semacam itu dan memuatnya dalam spanduk yang super besar. Tapi, sebenarnya juga aku mulai malas membahas segala hal yang ditampilkan oleh Pak Walikota karena semakin hari semakin tidak masuk akal. Seperti kebijakan yang terakhir terlihat di sepanjang jalan raya Margonda adalah pelebaran jalan yang ditambah dengan pelebaran pemisah jalan (separator). Bagiku itu cukup aneh. Jika memang melakukan pelebaran jalan agar daya tampung jalan meningkat, tetapi kenapa diikuti pelebaran pemisah jalan juga? Meskipun terlihat sedikit, tidakkah itu malah mengambil sebagian "daya tampung" jalan yang sedianya meningkat?

Yah, terlepas dari rasa penasaran tersebut, Istrindaku ternyata jauh lebih progresif lagi mengikuti pemikiran Pak Walikota khususnya tentang isu "makan dan minum dengan tangan kanan". Dan Istrindaku mengusulkan agar Pak Walikota mengganti motto-nya saja. Silahkan simak tulisannya di sini.

Dan aku, enggan hati untuk menganalisis dan memberi saran. Cukup mengamati saja apa lagi keanehan dan kegagalan yang sudah diciptakan oleh Pak Walikota:
  1. Margo City berhadapan dengan Depok Town Square - aneh dan sumber kemacetan
  2. Jembatan penyebrangan di depan Margo City dan Depok Town Square - belum selesai dan terlalu mungil sehingga hanya akan mengurangi kemacetan sedikit saja
  3. Angkot Way - gagal total!
  4. Pelebaran jalan dan pelebaran separator - aneh dan merusak lingkungan dengan penumbangan pohon-pohon di jalur hijau bahkan ditambah banjir di beberapa titik di sepanjang jalan raya Margonda
  5. Jalan raya Margonda - tetap macet dan akan semakin macet serta semakin tidak tertib
  6. Baliho dan Spanduk Pak Walikota - semakin banyak dan semakin tidak jelas apa maksud dan tujuannya. Yang jelas, wajah Pak Walikota jadi semakin dikenal bukan kebijakannya yang berhasil
  7. dan masih banyak lagi...

Sudah ah...

* Sumber foto

Monday, July 14, 2008

Permata Depok Regency di Kompas

Jangan senang hati dulu ya, wahai Developer (PT Citrakarsa Hansaprima).

Seperti pernah beberapa kali blog ini muat (lihat di sini, sini dan sini), betapa sering sang developer mengabaikan keluhan dan kerisauan konsumen perumahan Permata Depok Regency. Jika pihak developer benar-benar peduli dengan kesuksesan proyek perumahan mereka sendiri, sudah semestinya setiap keluhan dan kerisauan konsumen dijadikan prioritas dalam setiap pelayanan yang diberikan.

Sederhana saja hukumnya, jika konsumen puas maka tidak akan segan-segan mereka mempromosikan dan bahkan merekomendasikan Permata Depok Regency. Namun, jika konsumen tidak puas pun bahkan dikecewakan maka tidak segan pula mereka akan memuat surat pembaca seperti berikut ini:

Rumah Permata Depok Regency

Hati-hati membeli rumah di Perumahan Permata Depok Regency (PT Citrakarsa Hansaprima). Saya pembeli berdasarkan surat pesanan rumah (Nomor: Rin/001602 tanggal 10 Maret 2008) di Permata Depok Regency (Cluster Jade E5/10).

Saya melakukan pengikatan perjanjian jual beli dengan pengembang PT Citrakarsa Hansaprima (5 April 2008) dan mendapatkan KPR dari Bank Mandiri dengan (Nomor: CNB.CLN/Jod. SPPK. KPR. 56734/031008 tanggal 31 Maret 2008) dengan harapan agar pembangunan rumah segera dilaksanakan.

Tetapi, sebelum pembangunan, saya diberi informasi dari teknisi bangunan bahwa peruntukan atau bentuk tanah saya di lapangan ternyata miring dari bagian belakang ke bagian depan rumah. Peruntukan atau bentuk tanah tersebut tidak sesuai dengan peruntukan atau bentuk tanah pada saat perjanjian jual beli, yaitu berbentuk persegi empat.

Saya telah melakukan konfirmasi kepada pihak PT Citrakarsa Hansaprima, baik dengan bagian marketing maupun bagian teknisi. Dari pihak marketing diberikan informasi bahwa gambar asli peruntukan atau bentuk tanah memang disembunyikan dengan alasan teknik penjualan rumah. Sedangkan bagian teknisi menyatakan bahwa hal tersebut bukan tanggung jawabnya, padahal yang lebih mengetahui gambar lokasi proyek adalah bagian teknisi.

Telah dua bulan saya meminta konfirmasi dan klarifikasi mengenai hal tersebut, tetapi hingga saat ini jawaban dari pihak marketing yang menawarkan diri sebagai wakil dari PT Citrakarsa Hansaprima selalu bertele-tele dan tidak memberikan solusi.

Bangun Jalan Serayu 4 Nomor 276, Cilincing, Jakarta