Showing posts with label poem. Show all posts
Showing posts with label poem. Show all posts

Tuesday, September 04, 2012

What Is A Dad?

A dad is someone who
wants to catch you before you fall

but instead picks you up,
brushes you off,
and lets you try again.

A dad is someone who
wants to keep you from making mistakes
but instead lets you find your own way,
even though his heart breaks in silence
when you get hurt.

A dad is someone who
holds you when you cry,
scolds you when you break the rules,
shines with pride when you succeed,
and has faith in you when you fail...

Source: unknown


• Happy Father's Day 2012

Wednesday, March 28, 2012

Doa Sederhana untuk Istrinda

Apa yang bisa kuberikan sebagai persembahan atas perayaan hari kelahiranmu?
Bintang gemintang dan bulan, seperti juga sang surya dan bunga indah dari mawar hingga tulip
adalah milik dan persembahan Sang Jagad Kuasa atas cinta kelahiranmu.

Lalu apa yang bisa kupersembahkan, sekedar hadiah sederhana? Atau lagu dan puisi?
Lagu dan puisi hanya milik para penyair dan pujangga. Bagaimana aku bisa merayakan hari kelahiranmu?

Aku bisa memulainya dengan: sepenggal doa sederhana yang terus terhaturkan ke seluruh semesta,
"Semoga cinta selalu bersamamu dan kasih bahagia memeluk hangat hatimu sepanjang masa."

Selamat ulang tahun, Istrindaku - Diahhadi Setyonaluri yang ke-33!



Copyright © Dewa Wisana. All rights reserved

Monday, July 27, 2009

No title

Membeku niat ketika setiap pertanyaan menjadi kelam. Waktu mentari tenggelam lebih cepat, terlalu cepat hangat menguap dibawa surya yang terburu-buru pergi berlalu. Dingin kembali menyergap dan tak ada celah untuk melepaskan diri. Terperangkap dalam kebekuan dan sepi kini bagai sejarah abadi. Ia hanya diingat oleh segelintir pikiran yang tak lama juga tinggal sejarah.

Terasa sekali pola pikir liar kebingungan. Antara pasti dan bimbang, di mana batasnya? Tak seorang pun bisa menjawab atau beri tuntunan. Hujaman keraguan tak putus dan sedikit pun tak surut memanggil. Keriangan waktu kemarin tak perlu waktu hingga sehari untuk menunggu mengambil langkah seribu.

A-27/07/09

Saturday, May 16, 2009

Untitled

Oh, Hyang Agung... berikanlah kami kedamaian...

Jangan biarkan aku menemukan kesalahan orang-orang selain aku, namun
biarkanlah aku terus menemukan hanya kesalahan yang menjadi milikku seorang.

Jangan biarkan aku mengkerdilkan kehidupan, namun
biarkanlah aku terus mengembangkan kehidupan bagi segenap makhluk berikut semestanya.

Jangan biarkan aku tak sedikit menyadari kehadiranmu dan seluruh umat tanpa kecuali, namun
biarkanlah aku menemukan dan menikmati setiap cuil hadirmu bersama mereka sekalian umat manusia.

Abadikanlah sebuah doa sederhana untuk semua selain diri sendiri...

bersama angin malam

Tadi malam, dalam perjalanan sepiku, angin malam menyapa sendu. Ia mencari di mana seharusnya boleh berada. Ia mengiringiku di sisi jendela, menerpa halus dengan desir bisikannya di telinga. Mengajakku berbincang... Dan lepas tengah malam dalam perjalanan sepiku, hanya angin malam lah ternyata ingin mengajakku berbincang.

Angin malam tak pernah boleh berhenti, ia harus terus berhembus. Itu yang dijeritkan dan dituntut oleh dia dan mereka. Ia tak pernah diberi pilihan, hanya hukum alam yang coba ia jalani. Mengisi ruang yang belum terisi atau keluar dari ruang yang sudah penuh terisi. Ia yang menjaga keseimbangan, tapi tak ada satu pun yang pernah menghiburnya. Aku tak bisa mengucapkan apapun padanya, tidak pujian pun kasihan. Aku pun secara tak sadar sering merasa demikian. Mungkin karena itulah, seiring malam kian dalam dan perjalanan sepi belum pula berhenti mendatang, kian dekatlah kami berdua.

Selebihnya, aku sedang tak ingin berbagi dengan kalian tentangku bersama angin malam. Kami berdua begitu saling mengerti. Jangan kalian tanya kenapa, aku tak yakin bilamana kalian bisa mengerti sedikit pun.

Tuesday, January 20, 2009

Hari ini...

Hari ini aku mencuri nafas kecil sang surya. Ketika ia belum lengkap terjaga, aku mencuri nafasnya agar tidak terlambat menjemput harapan. Harapan untuk mengais cita-cita di negeri seberang samudera. Juga harapan untuk mengecup cintaku yang telah menunggu di tepi pantai di pulau nun di kaki bumi.

Hari ini aku mencuri nafas sang surya dengan diiringi doa, agar segala apa yang baik berkenan datang dan memelukku erat hari ini dan seterusnya...

Monday, December 22, 2008

No title

Jika bumi menanggung langit nan luas, pernahkah ia meminta awan mendatangkan hujan detik ini juga? Ada doa istimewa yang membuat langit tidak ragu mengajak awan mengirim sejuk hujan ke muka bumi. Doa tersebut memuat bait-bait cinta yang tulus saling menjaga. Tanpa langit, bumi akan terbuka tak terjaga. Dan tanpa bumi, langit akan bernyanyi sendiri sunyi tanpa arti.

Cintalah yang menjaga mereka berdua saling mengisi dan saling menjaga. Tidak hanya karena keduanya sama-sama diciptakan oleh Hyang Kuasa, namun karena berdua mereka memiliki perbedaan yang mulia bekerja satu terhadap yang lainnya.

Seperti halnya juga samudera yang maha dalam, pernakah ia meminta sungai dari puncak hingga kaki gunung mengirimkan airnya untuk dimuarakan ke laut? Juga ada doa yang abadi yang membuat hutan-hutan dan segala sumber mata air di sepanjang tubuh sang gunung untuk mengalirkan murni air yang mereka tampung ke bibir laut bagi sang samudera. Doa abadi tersebut memuat janji-janji cinta yang tak pernah teringkari. Tanpa gegunung nan tegar, samudera akan ditelan daratan tanpa perlawanan. Dan tanpa samudera, gunung-gunung akan luruh ketika sungai mengalir kering.

Cintalah yang mengolah kasih mereka berdua untuk saling melengkapi dan saling melindungi. Tidak hanya karena keduanya sama-sama diciptakan oleh Hyang Mulia, namun karena berdua mereka memiliki perbedaan yang kokoh mengikat satu terhadap yang lainnya.

Cinta adalah satu-satunya hal yang Tuhan ciptakan bukan karena “untuk”, namun karena “agar”. Sedangkan segala yang lainnya pasti masih memuat hutang budi dan balas jasa yang membuatnya tetap mengandung kondisi. Sedangkan cinta tak akan pernah demikian.

Kuskus Tbn, G&A