Showing posts with label no title. Show all posts
Showing posts with label no title. Show all posts

Monday, July 27, 2009

No title

Membeku niat ketika setiap pertanyaan menjadi kelam. Waktu mentari tenggelam lebih cepat, terlalu cepat hangat menguap dibawa surya yang terburu-buru pergi berlalu. Dingin kembali menyergap dan tak ada celah untuk melepaskan diri. Terperangkap dalam kebekuan dan sepi kini bagai sejarah abadi. Ia hanya diingat oleh segelintir pikiran yang tak lama juga tinggal sejarah.

Terasa sekali pola pikir liar kebingungan. Antara pasti dan bimbang, di mana batasnya? Tak seorang pun bisa menjawab atau beri tuntunan. Hujaman keraguan tak putus dan sedikit pun tak surut memanggil. Keriangan waktu kemarin tak perlu waktu hingga sehari untuk menunggu mengambil langkah seribu.

A-27/07/09

Saturday, May 16, 2009

Untitled

Oh, Hyang Agung... berikanlah kami kedamaian...

Jangan biarkan aku menemukan kesalahan orang-orang selain aku, namun
biarkanlah aku terus menemukan hanya kesalahan yang menjadi milikku seorang.

Jangan biarkan aku mengkerdilkan kehidupan, namun
biarkanlah aku terus mengembangkan kehidupan bagi segenap makhluk berikut semestanya.

Jangan biarkan aku tak sedikit menyadari kehadiranmu dan seluruh umat tanpa kecuali, namun
biarkanlah aku menemukan dan menikmati setiap cuil hadirmu bersama mereka sekalian umat manusia.

Abadikanlah sebuah doa sederhana untuk semua selain diri sendiri...

Monday, December 22, 2008

No title

Jika bumi menanggung langit nan luas, pernahkah ia meminta awan mendatangkan hujan detik ini juga? Ada doa istimewa yang membuat langit tidak ragu mengajak awan mengirim sejuk hujan ke muka bumi. Doa tersebut memuat bait-bait cinta yang tulus saling menjaga. Tanpa langit, bumi akan terbuka tak terjaga. Dan tanpa bumi, langit akan bernyanyi sendiri sunyi tanpa arti.

Cintalah yang menjaga mereka berdua saling mengisi dan saling menjaga. Tidak hanya karena keduanya sama-sama diciptakan oleh Hyang Kuasa, namun karena berdua mereka memiliki perbedaan yang mulia bekerja satu terhadap yang lainnya.

Seperti halnya juga samudera yang maha dalam, pernakah ia meminta sungai dari puncak hingga kaki gunung mengirimkan airnya untuk dimuarakan ke laut? Juga ada doa yang abadi yang membuat hutan-hutan dan segala sumber mata air di sepanjang tubuh sang gunung untuk mengalirkan murni air yang mereka tampung ke bibir laut bagi sang samudera. Doa abadi tersebut memuat janji-janji cinta yang tak pernah teringkari. Tanpa gegunung nan tegar, samudera akan ditelan daratan tanpa perlawanan. Dan tanpa samudera, gunung-gunung akan luruh ketika sungai mengalir kering.

Cintalah yang mengolah kasih mereka berdua untuk saling melengkapi dan saling melindungi. Tidak hanya karena keduanya sama-sama diciptakan oleh Hyang Mulia, namun karena berdua mereka memiliki perbedaan yang kokoh mengikat satu terhadap yang lainnya.

Cinta adalah satu-satunya hal yang Tuhan ciptakan bukan karena “untuk”, namun karena “agar”. Sedangkan segala yang lainnya pasti masih memuat hutang budi dan balas jasa yang membuatnya tetap mengandung kondisi. Sedangkan cinta tak akan pernah demikian.

Kuskus Tbn, G&A