Showing posts with label SBY. Show all posts
Showing posts with label SBY. Show all posts

Thursday, January 29, 2009

Don't wanna be stupefy


I feel really dumb when I read SBY's advertising at Kompas printing version page 13 (see picture). And after I tried to read and understand each part of the promotion materials, I decided that I don't wanna be stupefy by SBY's claimed.

If he claimed that he contributed to several things that being decrease (price of staples, gasoline, debt, unemployment, etc) and things that being increase (national income, health and education expenditure, etc), we should be critical in understanding that most of those achievement actually not because of his policy. Instead, most of them because external factors. For instance, three times gasoline price decline was not because of his idea but due to declining world price. It's obvious, dude! You should reduce gasoline price because world price is lower now!

Therefore, I don't wanna be stupefy now and ever by SBY.

Tuesday, December 09, 2008

Undang-Undang No.44 Tahun 2008 tentang Anti-Pornografi

Di salah satu berita utama The Jakarta Post, Presiden SBY pun akhirnya menandatangani undang-undang "moral" tersebut. Yang menarik adalah alasan penandatanganannya sebagai berikut:
"The President signed it because it was already a national consensus,"
Betul sekali, undang-undang tersebut memang merupakan hasil "konsensus nasional" (karena pihak yang menolak atau menentang tidak pernah dianggap ada). Pernyataan "konsensus" tersebut sesungguhnya dapat berarti dua hal:

Pertama, Presiden hanya tahu bahwa undang-undang tersebut diterima oleh semua lapisan masyarakat. Jika yang pertama ini benar, berarti Presiden SBY tidak pernah mengikuti perkembangan yang terjadi di masyarakat yang ia pimpin. Sungguh kasihan sekali Presiden yang tidak tahu apa-apa seperti beliau.

Kedua, Presiden tidak pernah membaca undang-undang tersebut karena memang tugas presiden hanyalah membubuhi tandatangan saja. Jika yang kedua ini yang benar, aku cukup maklum. Sebagai presiden yang dipilih langsung oleh rakyat Indonesia, SBY sebenarnya tidak mampu melawan DPR/MPR yang penuh dengan bandit-bandit politik, selain juga kelemahan mental yang dimiliki beliau karena ragu-ragu dan tidak tegas sebagai pemimpin. Apalagi menjelang pemilu 2009, setiap "bandit" politik (pastilah termasuk SBY) sedang mengambil ancang-ancang untuk mengambil simpati calon pemilih.

Jika yang pertama dan kedua benar sekaligus, maka semakin kuat alasanku untuk tidak ingin memilih SBY dan partainya di pemilu nanti. Juga partai-partai dan calon-calon presiden lainnya. Semua sama saja... apalagi yang bawa-bawa nama dan simbol tuhan...

Jadi, aku bisa melanjutkan dukungan untuk Civil Disobedience.

Wednesday, October 29, 2008

kalau nanti turun, siapkah untuk naik lagi?

Kata Presiden SBY harga BBM akan turun. Berita baik kan?

Tapi, jika nanti harga BBM sudah turun, sudah siapkah kita jika harga BBM harus naik lagi karena fluktuasi harga?

Sekarang pilih mana, harga BBM mengikuti fluktuasi harga yang ada - dengan konsekuensi kita harus berstrategi dalam hal konsumsi BBM dalam mengantisipasi tingkat harga; atau, tetap menikmati subsidi BBM dan ketar-ketir jika harga BBM akan naik - dengan konsekuensi kita akan "menikmati" ketidakpastian dan kenaikan harga barang-barang lainnya jauh sebelum akhirnya harga BBM disesuaikan, seperti sudah selama ini kita alami?

Kalau aku disuruh memilih, biarlah harga berfluktuasi. Setidaknya, aku tidak musti ikut menanggung ketidakpastian situasi ekonomi akibat tarik ulur politik presiden-DPR soal harga minyak. Sudah cukup perekonomian Indonesia dibuat "linglung" oleh politik, dan biarlah ia bergerak secara alamiah tanpa praduga dan spekulasi...

Friday, October 17, 2008

Direktif presiden?

Jika Anda melihat harian The Jakarta Post Kamis, 16 Oktober 2008 maka Anda akan menemukan salah satu foto di bagian 'headline' sedang menampilkan Presiden SBY sedang melakukan presentasi di depan kepala-kepala daerah. Ada yang menggelitikku dalam slide yang sedang beliau sajikan. Di situ tertulis, "Direktif Presiden"

Adakah diantara Anda yang mengetahui, apakah kata "direktif" sudah menjadi kata serapan asing ke dalam bahasa Indonesia??

Istrindaku berkata, "Mungkin si pembuat presentasi Presiden SBY tersebut baru saja nonton film Wall-E?". Bagi Anda yang belum menonton film tersebut, dalam salah satu adegannya, ada dialog yang menggunakan kata "Directive" untuk menjelaskan tugas yang harus dilakukan oleh robot yang berperan dalam film tersebut.

Ah, susah untukku menjelaskannya. Bagiku, kata tersebut terlalu "aneh" (jika tidak bisa dibilang "asing") dalam kosakata bahasa Indonesia. Kenapa Presiden SBY tidak menggunakan kata "instruksi" atau "perintah" saja sekalian? Bukankah kedua kata tersebut ada dalam daftar kosakata bahasa Indonesia?