Showing posts with label politics. Show all posts
Showing posts with label politics. Show all posts

Tuesday, May 29, 2012

Quote of the day: religion and politics

"Religion and politics should never mix. Because politics is worldly and religion becomes worldly once it takes part in politics or tries to influence or control. Religion should never be involved in powers of the world because it is not serving god but selfish glory of an image of tradition."
Anonymous

My own take from above quote is religious conservatives, monarchs and tyrants have shares in common. If you are human and make rules and want us to obey your claim by saying that you are messengers of the will of God (and hence no further justification needed); you just emphasize that you are no different at all than any ancient monarchs and tyrants.

This is a simple lesson from history that deserves serious attention nowadays. Religious conservatives claim that they are passing along God's ideas, and thus that we should obey them without critical challenge and questioning. Learning from what happened to monarchs and tyrants in the past, this idea has always had disastrous consequences in the past – why should we expect anything different this time?

Enhanced by Zemanta

Monday, April 02, 2012

Quotes of the day: Political Institutions

"Economic institutions shape economic incentives:... It is the political process that determines what economic institutions people live under; and it is the political institutions that determine how this process work"

fromWhy Nations Fail: The Origins of Power, Prosperity and Poverty  by Daron Acemoglu and James Robinson. The complete excerpt of this statement can be find here.

Monday, January 23, 2012

Ayo nge-gosip?

Apa manfaat nge-gosip? Istrinda menjawab berdasarkan sebuah buku yang dibacanya, "Gosip seringkali merupakan cara terbaik untuk mengerti proses politik di Indonesia".

Selain itu, penelitian yang dilakukan oleh sebuah tim peneliti dari UC Berkeley menjawab bahwa, "menyebarluaskan rumor [bergosip] dapat memberikan dampak positif dalam bentuk mengawasi perilaku buruk, mencegah eksploitasi dan menekan tingkat stres. ... [gosip] memainkan peranan penting dalam menjaga ketertiban sosial"

Jadi, ada gosip apa hari ini?

Thursday, July 28, 2011

dukung & pilih Bang Faisal untuk DKI 1


DKI 1 adalah istilah untuk jabatan Gubernur Propinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta. Dan tahun 2012 yang akan segera datang, pemilihan DKI 1 periode berikutnya akan dilangsungkan. Saat ini bursa calon pemimpin Ibukota ini sudah mulai bermunculan. Dan yang membuat pemilihan kali ini akan menjadi sangat menarik dan penting adalah mulai hadirnya calon-calon dari kubu independen alias tanpa dukungan partai politik. Apa menarik dan pentingnya calon independen ini?

Menurut saya, calon independen menjadi kian dibutuhkan sebagai sebuah upaya mendewasakan proses demokrasi di Indonesia yang saat ini masih sangat dimonopoli oleh partai-partai dengan berbagai kepentingannya. Tidak hanya soal kepentingan yang diusung oleh masing-masing partai, berbagai "transaksi politik" yang kerap dilakukan oleh para pengurus dan petinggi partai membuat demokrasi yang hanya mengandalkan pada institusi partai menjadi sarat unsul manipulasi, korupsi, dan tidak memberi hasil maksimal. Masyarakat awam sudah sadar dan kian mampu melihat betapa kinerja partai politik dan para jajaran pengurus serta elitnya cenderung sibuk mempertahankan diri dari gempuran kebobrokan yang mereka lakukan sendiri dan atau menyerang partai-partai lawannya sebagai upaya menduduki kursi kekuasaan. Singkat kata, calon pemimpin dari partai politik selalu dihadapkan pada situasi pertarungan politik sehingga tidak akan mampu secara maksimal bekerja sebagaimana seharusnya seorang pemimpin. Untuk itulah, mengedepankan dan mendukung serta memilih calon independen patut dicoba sebagai upaya mengembalikan demokrasi dan peran pemerintahan yang seharusnya.

Ada berbagai alasan lainnya yang membuat calon independen menjadi penting untuk kita perhatikan. Masyarakat pemilih juga pasti punya alasan-alasan lain yang tidak perlu senada. Menurut kabar, saat ini sudah ada tiga bakal calon independen yaitu: Faisal Basri, Adhyaksa Dault, dan Eep S. Fatah.

Dari ketiga bakal calon tersebut, saya tahu dengan baik sosok calon independen yang pertama: Faisal Basri. Beliau adalah dosen dan senior saya di FEUI. Semua orang di FEUI tahu betul bagaimana sepak terjang beliau, baik sebagai dosen, ketua jurusan hingga saat ini. Sepak terjang yang dimaksud di sini adalah bagaimana konsistennya beliau sebagai seorang individu antara perkataan dan perbuatannya. Beliau juga memiliki idealisme yang tinggi dan mampu mempertahankan idealisme tersebut.

Saya ingat betul, sosok Faisal Basri di FEUI sebagai dosen dan kepala jurusan (kajur) Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan (IESP) pada saat saya pertama kali kuliah di FEUI. Beliau sangat sederhana, selalu membawa tas punggung (backpack) dan - ini yang unik - beliau dulu selalu mengenakan sandal gunung, padahal dosen-dosen lain hampir selalu mengenakan sepatu kerja yang lebih formal. Dari yang saya dengar lewat teman-teman dan senior-senior lain yang sering berinteraksi langsung dengan beliau, Bang Faisal (demikian kita di FEUI memanggil beliau) juga individu yang mumpuni di bidangnya dan sangat kritis. Kita bisa melihat dari tulisan-tulisan beliau di berbagai media cetak di Indonesia.

Bang Faisal sudah memulai langkah pertama untuk maju sebagai calon DKI 1. Saat ini beliau membutuhkan dukungan awal dari kita semua agar bisa lolos untuk maju dalam bursa pemilihan. Dengan "kejam dan egois"-nya sistem kepartaian yang saat ini dianut dan didukung oleh semua partai politik, langkah awal ini akan tampak berat dan mustahil. Namun, dengan bantuan, dukungan dan partisipasi kita semua niscaya proses demokrasi yang lebih adil, fair dan berkualitas akan mampu diwujudkan. Bang Faisal juga sudah mulai menawarkan program kerja yang akan dijalankan jika beliau terpilih.

Untuk itu, "AYO DUKUNG DAN PILIH!" Faisal Basri untuk DKI 1!
Enhanced by Zemanta

Sunday, March 01, 2009

Bahasa politik...

Dari harian kompas hari ini (1 Maret 2009),
Kini aku mengetahui bagaimana sesungguhnya "bahasa politik" yang digunakan di Indonesia. Dan bagiku, itu bukanlah bahasa yang biasa. Jika definisi dan wujud bahasa politik memang seperti yang diperagakan oleh Effendi serta anggota-anggota DPR lainnya, maka politik di Indonesia sungguh merupakan panggung yang penuh dengan pembelajaran buruk. Panggung politik Indonesia tak ubahnya seperti panggung caci maki dan tidak ada hal yang patut ditiru di dalamnya. Terlebih jika Effendi dan kawan-kawan seprofesi-nya merasa bahwa bahasa yang mereka gunakan adalah bahasa yang biasa, maka tidaklah perlu lagi kita menengok kepada para wakil rakyat tersebut. Seperti dikatakan oleh Eep Saefullah Fatah berikut:
Jika sekali kita setuju dengan Effendi dan kawan-kawan seprofesinya, maka kita akan terus merutinkan kebiasaan dan peradaban tak kenal etika seperti yang terus secara konsisten ditunjukkan oleh para anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR-RI) saat ini... dan mungkin juga untuk seterusnya.

Maka itu, mengapa kita masih perlu memilih wakil rakyat? Aku sudah merasa tidak perlu untuk memilih wakil rakyat. Mereka semua menyedihkan dan tak layak hadir sebagai panutan pun disebut sebagai wakil lembaga tinggi dan tertinggi negara. Mereka sungguh patut dikasihani...


Tuesday, February 24, 2009

This is another reason...


Some quotation from recent news on Pertamina vs House of Representative...
The polemic started when commission-member Effendi Simbolon from the Indonesian Democratic Party of Struggle (PDI-P) said that if Karen intended to protect the interests of President Susilo Bambang Yudhoyono and Vice President Jusuf Kalla in Pertamina, then she was no different than a satpam (private security guard).

Effendi said that Karen’s limited experience at Pertamina was unlikely to do the company any good.

Things turned uglier when Pertamina Corporate Secretary Toharso wrote to lawmakers on Feb. 13 saying that Pertamina was very disappointed with the way the lawmakers had questioned the capacity of its current president director. He considered their questions extra to the initial agenda, thus breaking the House’s internal rules.
And after reading this statement from one of the House member...
A seemingly triumphant Effendi then closed his statement with a message for Karen, unaware perhaps of the irony of his words: “Bu Karen, please be mature.”
It gives me another reason not to vote this year. I am bored and tired to know that House of Representative being paid a lot only to be arrogant and childish representative of people. Their attitude and track records leave me nothing but respect that being left somewhere in the garbage. So Mr. Effendi and their fellow commission members, why don't you yourself start to be mature?

Saturday, November 08, 2008

Quote of the day: "Rok Mini" dan Kemiskinan

"Lama sebelum terpilih menjadi presiden Paraguay tahun 2008 ini, Fernando Lugo pernah menggugat, mengapa kaum agamawan begitu cemas dengan ”rok mini”, tetapi tidak sensitif terhadap kemelaratan dan kemiskinan yang sangat menyiksa lahir batin rakyat?"

Dan di Indonesia, yang cemas dengan "rok mini" bukan hanya agamawan tetapi juga politisi. Tapi tidak ada satu pun diantara mereka yang peduli dengan kemiskinan. Bahkan, si miskin mati bergelimpangan ketika agamawan ingin menghapus noda dari hartanya dengan amal dan politisi ingin menambah keimanannya dengan menjeritkan nama tuhannya.

Wednesday, October 29, 2008

kalau nanti turun, siapkah untuk naik lagi?

Kata Presiden SBY harga BBM akan turun. Berita baik kan?

Tapi, jika nanti harga BBM sudah turun, sudah siapkah kita jika harga BBM harus naik lagi karena fluktuasi harga?

Sekarang pilih mana, harga BBM mengikuti fluktuasi harga yang ada - dengan konsekuensi kita harus berstrategi dalam hal konsumsi BBM dalam mengantisipasi tingkat harga; atau, tetap menikmati subsidi BBM dan ketar-ketir jika harga BBM akan naik - dengan konsekuensi kita akan "menikmati" ketidakpastian dan kenaikan harga barang-barang lainnya jauh sebelum akhirnya harga BBM disesuaikan, seperti sudah selama ini kita alami?

Kalau aku disuruh memilih, biarlah harga berfluktuasi. Setidaknya, aku tidak musti ikut menanggung ketidakpastian situasi ekonomi akibat tarik ulur politik presiden-DPR soal harga minyak. Sudah cukup perekonomian Indonesia dibuat "linglung" oleh politik, dan biarlah ia bergerak secara alamiah tanpa praduga dan spekulasi...

Sunday, September 21, 2008

Stigma tentang DPR...


Membaca berita dan pernyataan anggota DPR seperti berikut:
"Lebih lanjut, Mahfudz [Ketua FPKS] menambahkan, disahkannya RUU [Pornografi] ini merupakan hadiah terindah bagi PKS di Bulan Ramadan ini. Ia pun meminta agar publik tidak lagi disibukkan dengan perdebatan norma, namun fakta sosial yang harus diperhatikan"
Semakin memperkuat stigma yang sudah melekat di diri setiap anggota DPR. Dalam bayangku dan kesanku saat ini, stigma yang paling kuat saat ini melekat tentang DPR adalah: "pemborong undang-undang", "makelar undang-undang", "tukang jual-beli kepentingan politik", "pembual ulung", "manusia-manusia yang paling tidak setia di jagad bumi Indonesia", dan masih banyak lagi.

Stigma-stigma tersebut terbukti dari hari ke hari dengan ditandai misalnya seperti kutipan berita di atas. Betapa DPR tidak mampu menetapkan prioritas dalam pekerjaannya, kecuali uang itu sendiri. Jika ada uang, pasti mereka menyelesaikan tugas-tugasnya dengan segera dan tanpa banyak cing-cong. Sementara, tugas menyusun undang-undang yang penting, seperti undang-undang pemilu yang sebentar lagi akan dilangsungkan malah tak kunjung selesai. Eh, malah ngurusin pornografi. Apakah sudah terlalu terangsangnya mereka hingga perlu mengatur semua 'rangsangan' tersebut?

Apalagi, di masa-masa seperti sekarang ini. Mereka semua sudah terlalu sibuk memperkenalkan diri untuk pemilu 2009. Mohon maaf, Bapak-Bapak dan Ibu-Ibu sekalian. Jika melihat gelagat dan pembelajaran yang kalian tunjukkan selama ini, rasanya aku ingin golput saja. Aku merasa DPR tidak berguna sama sekali. Lebih baik biarkan Presiden saja yang melakukan semua pekerjaan. Lebih mudah menyalahkan 1 orang presiden daripada segerombolan orang yang mengaku "wakil rakyat", tapi tidak pernah mengenali siapa yang mereka "wakili". Well, kalian jelas mewakili satu hal, bukan? UANG!

Wednesday, August 27, 2008

Quote of the day: politik sinetron Indonesia

Ketika politik jadi versi lain dari sinetron, ia menjangkau orang ramai—tapi bukan karena sesuatu imbauan yang menggugah secara universal. Kalaupun ia berseru mengutuk ketidakadilan, itu pun hanya berlangsung untuk satu episode. Sejarah manusia yang dulu terdiri atas kemarahan dan pembebasan diganti dengan sesuatu yang jinak. Kini cerita manusia tetap masih gaduh, tapi itu kegaduhan suara merdu, tangis + ketawa galak yang palsu, dan bentrokan yang akan selesai ketika sutradara (atas titah produser, tentu saja), berseru, ”Cut!”

Nihilisme itu memang bisa asyik. Ia memperdaya.


Catatan Pinggir - Majalah Tempo Edisi. 25/XXXVIII/25 - 31 Agustus 2008

Monday, July 14, 2008

Nine months with a bowl of empty promises


When I see Rose is Rose cartoon above, I remember a question from The Jakarta Post Editorial,
"...whether this nation really needs such a long campaign period."
I believe that despite of 34 parties participate in the election, this nine months campaign period just will adding up more 'burden' and uncertainty into such political extravaganza. At the in end, it only turn something to be nothing. But my big concern above all possible cost and burden that occur from the 'must-to-held' event like election is finally what will be the benefit for the people? Base on previous experiences, campaign just like advertising. It is only selling words and promises. And I believe, the 2009 election will be no different at all.

The biggest disappointment will be is that – just like the cartoon mention – "the bowl of empty promises" must be one of the new flavors! And most of Indonesian people, as with their innocent believe with political parties, they will look and support those "bowl of empty promises". Alas, those politician keep smiling then...

Thursday, July 10, 2008

inefisiensi dan misalokasi sumber daya atas nama penegakan demokrasi

Ini adalah catatan kecil atas menjelangnya Pemilu 2009 seperti ditandai pengumuman tentang parpol peserta pemilu. Tak terbayangkan bagaimana nanti situasinya setelah mengetahu bahwa 34 Parpol ikut Pemilu 2009. Yang terbayang hanyalah hal-hal seperti berikut ini:

Penghamburan Uang
34 partai masing-masing akan menghamburkan uang sekian milyar rupiah untuk kegiatan-kegiatan yang tidak ada hubungannya dengan kesejahteraan masyarakat. Berbagai kegiatan seperti kampanye dan pembuatan atribut serta lain-lainnya jika kita total keseluruhannya pasti akan bisa digunakan untuk pembangunan dan perbaikan infrastruktur. Atau, dengan kata lain selama setahun ke depan Indonesia tidak akan ada perbaikan dan penyempurnaan sarana dan prasarana publik karena habis untuk kegiatan "hura-hura" politik yang terlalu besar ini.

Masa "Kritis" dan "Kronis"
Dengan 34 partai yang bertarung dalam pemilu 2009, berarti kita akan menghadapi hari-hari yang dipenuhi kampanye dan berbagai kegiatan turunannya. Kegiatan kampanye dari partai-partai yang banyak tersebut akan menimbulkan masa-masa "kritis" berupa kemacetan di jalan raya yang tak terhindarkan. Belum lagi hilangnya waktu karena harus menghindari kemacetan akibat penumpukkan massa akibat kampanye tersebut. Dari sudut pandang dunia usaha, kemacetan dan hilangnya waktu berarti juga turunnya produktifitas nasional karena jam kerja dan kenyamanan kerja menjadi terganggu. Belum lagi jika terjadi kerusuhan atau pertikaian antar pendukung parpol, ini akan menimbulkan masa "kronis" karena banyak hal yang menjadi tidak pasti dan sulit dipecahkan.

Kegiatan Perekonomian Akan "Beku"
Terkait dengan masa "kritis" sebelumnya, dengan riuh rendahnya pertarungan politik sepanjang tahun 2009 nanti sudah jelas kegiatan perekonomian akan "beku" alias stagnan karena berbagai perilaku para pelaku bisnis yang cenderung "wait and see". Mereka akan menunda kegiatan investasi, bahkan mungkin saja akan mengalihkan rencana ekonomi mereka ke wilayah/negara lain. Selain itu, dunia usaha juga akan menunda rencana ekspansi sedemikian sehingga kegiatan ekonomi cenderung tidak lebih baik dibanding periode sebelumnya. Selain itu, buruh dan pekerja mendapat tekanan karena masa-masa sulit akibat kenaikan harga serta kesempatan kerja yang terbatas membuat kegiatan usaha rentan dengan "kehangatan" dunia politik dalam pemilu nanti. Dengan kata lain, lagi-lagi bicara produktifitas ekonomi yang relatif menurun.

Dan masih banyak lagi pemikiran dan kekhawatiran yang sempat timbul dalam benakku saat ini. Dengan peserta pemilu sebanyak itu, waktu pelaksanaan yang setahun penuh - jangan lupa kita juga akan melakukan pemilihan presiden langsung - maka tak terhindarkan bahwa tahun depan kita akan menghadapi apa yang kusebut sebagai "inefisiensi dan misalokasi sumber daya atas nama penegakan demokrasi".

Itu tadi istilah kerennya lah. Kalau Anda berkenan mendengar istilah yang kurang 'elok', aku ingin menyebut Pemilu 2009 nanti sebagai "masturbasi politik". Parpol peserta pemilu beserta seluruh jajarannya sedang menikmati 'kenikmatan' yang tiada tara, namun kenikmatan tersebut sesungguhnya dinikmati oleh mereka sendiri tanpa mungkin berbagi. Mengapa demikian? Jelas! Semasa kampanye, mereka semua mengumbar janji-janji dan mengecap kenikmatan sebagai fokus perhatian sepanjang tahun. Dimanja oleh sistem politik, menghabiskan semua sumber daya yang ada. Semua untuk apa? Hanya demi duduk ditampuk pemerintahan atau parlemen dan ujung-ujungnya mereka mereguk kenikmatan tambahan berupa upah dan gaji yang tiada tara tingginya serta tak perlu peduli lagi tentang bagaimana mewujudkan janji-janji yang pernah mereka ucapkan dulu. Nikmat sekali ritual semacam itu, bukan?

Monday, June 02, 2008

Indonesian mobocracy

Mahatma Gandhi once said,
"Democracy is an impossible thing until the power is shared by all, but let not democracy degenerate into mobocracy"
According to The Free Dictionary, the meaning of mobocracy is

mob·oc·ra·cy (mb-kr-s)
n. pl. mob·oc·ra·cies
1. Political control by a mob.
2. The mass of common people as the source of political control.
With so much street demonstrations in Indonesia, could we call the current political system in Indonesia as mobocracy?

You can find so many mobocrats from various political parties, religious group, even students, and undoubtedly the marginalized groups. We understand for the later group, they don't have channel to share their aspirations or problems since the government never hear or listen to them. But how about leaders from political parties, religions, and even the - supposed to be smart - scholars of students?? They should have ability to find better way then mobocracy...

And what is the outcome of this Indonesian mobocracy practices? Well, we can easily seen that in the form of street fights, violence, police arrests, and hundreds of casualties. Who cares?!