Ini adalah catatan kecil atas menjelangnya Pemilu 2009 seperti ditandai pengumuman tentang parpol peserta pemilu. Tak terbayangkan bagaimana nanti situasinya setelah mengetahu bahwa 34 Parpol ikut Pemilu 2009. Yang terbayang hanyalah hal-hal seperti berikut ini:
Penghamburan Uang
34 partai masing-masing akan menghamburkan uang sekian milyar rupiah untuk kegiatan-kegiatan yang tidak ada hubungannya dengan kesejahteraan masyarakat. Berbagai kegiatan seperti kampanye dan pembuatan atribut serta lain-lainnya jika kita total keseluruhannya pasti akan bisa digunakan untuk pembangunan dan perbaikan infrastruktur. Atau, dengan kata lain selama setahun ke depan Indonesia tidak akan ada perbaikan dan penyempurnaan sarana dan prasarana publik karena habis untuk kegiatan "hura-hura" politik yang terlalu besar ini.
Masa "Kritis" dan "Kronis"
Dengan 34 partai yang bertarung dalam pemilu 2009, berarti kita akan menghadapi hari-hari yang dipenuhi kampanye dan berbagai kegiatan turunannya. Kegiatan kampanye dari partai-partai yang banyak tersebut akan menimbulkan masa-masa "kritis" berupa kemacetan di jalan raya yang tak terhindarkan. Belum lagi hilangnya waktu karena harus menghindari kemacetan akibat penumpukkan massa akibat kampanye tersebut. Dari sudut pandang dunia usaha, kemacetan dan hilangnya waktu berarti juga turunnya produktifitas nasional karena jam kerja dan kenyamanan kerja menjadi terganggu. Belum lagi jika terjadi kerusuhan atau pertikaian antar pendukung parpol, ini akan menimbulkan masa "kronis" karena banyak hal yang menjadi tidak pasti dan sulit dipecahkan.
Kegiatan Perekonomian Akan "Beku"
Terkait dengan masa "kritis" sebelumnya, dengan riuh rendahnya pertarungan politik sepanjang tahun 2009 nanti sudah jelas kegiatan perekonomian akan "beku" alias stagnan karena berbagai perilaku para pelaku bisnis yang cenderung "wait and see". Mereka akan menunda kegiatan investasi, bahkan mungkin saja akan mengalihkan rencana ekonomi mereka ke wilayah/negara lain. Selain itu, dunia usaha juga akan menunda rencana ekspansi sedemikian sehingga kegiatan ekonomi cenderung tidak lebih baik dibanding periode sebelumnya. Selain itu, buruh dan pekerja mendapat tekanan karena masa-masa sulit akibat kenaikan harga serta kesempatan kerja yang terbatas membuat kegiatan usaha rentan dengan "kehangatan" dunia politik dalam pemilu nanti. Dengan kata lain, lagi-lagi bicara produktifitas ekonomi yang relatif menurun.
Dan masih banyak lagi pemikiran dan kekhawatiran yang sempat timbul dalam benakku saat ini. Dengan peserta pemilu sebanyak itu, waktu pelaksanaan yang setahun penuh - jangan lupa kita juga akan melakukan pemilihan presiden langsung - maka tak terhindarkan bahwa tahun depan kita akan menghadapi apa yang kusebut sebagai "inefisiensi dan misalokasi sumber daya atas nama penegakan demokrasi".
Itu tadi istilah kerennya lah. Kalau Anda berkenan mendengar istilah yang kurang 'elok', aku ingin menyebut Pemilu 2009 nanti sebagai "masturbasi politik". Parpol peserta pemilu beserta seluruh jajarannya sedang menikmati 'kenikmatan' yang tiada tara, namun kenikmatan tersebut sesungguhnya dinikmati oleh mereka sendiri tanpa mungkin berbagi. Mengapa demikian? Jelas! Semasa kampanye, mereka semua mengumbar janji-janji dan mengecap kenikmatan sebagai fokus perhatian sepanjang tahun. Dimanja oleh sistem politik, menghabiskan semua sumber daya yang ada. Semua untuk apa? Hanya demi duduk ditampuk pemerintahan atau parlemen dan ujung-ujungnya mereka mereguk kenikmatan tambahan berupa upah dan gaji yang tiada tara tingginya serta tak perlu peduli lagi tentang bagaimana mewujudkan janji-janji yang pernah mereka ucapkan dulu. Nikmat sekali ritual semacam itu, bukan?
Embun hanyalah setetes pagi yang mencoba menyusun kata. Namun kata selalu mencari makna. Gerombolan pikiran yang berduyun mencari ruang. Tanpa aturan, tanpa batasan. Ada yang memicu, ada yang menginspirasi. Cetak peristiwa masa lalu, baru tadi atau cita-cita ke depan belum pasti. Dan... embun pun menetes jatuh lenyap terserap bumi tatkala fajar kian hangat. Bila kenan kan, nantilah hingga esok hari sebelum jadi pagi. Semoga masih kan ada susunan kata baru...
Showing posts with label democracy. Show all posts
Showing posts with label democracy. Show all posts
Thursday, July 10, 2008
Thursday, June 26, 2008
Quote of the day: Tuhan, Indonesia dan Demokrasi
Merawat sebuah keanekaragaman yang tak tepermanai sama halnya dengan meniscayakan sebuah sistem yang selalu terbuka bagi tiap usaha yang berbeda untuk memperbaiki keadaan. Indonesia yang rumit ini tak mungkin berilusi ada sebuah sistem yang sempurna. Sistem yang merasa diri sempurna—dengan mengklaim diri sebagai buatan Tuhan—akan tertutup bagi koreksi, sementara kita tahu, di Indonesia kita tak hidup di surga yang tak perlu dikoreksi."Indonesia", Catatan Pinggir Goenawan Mohammad – Majalah Tempo Edisi. 17/XXXVII/16 - 22 Juni 2008.
Itulah yang menyebabkan demokrasi penting dan Pancasila dirumuskan.
Demokrasi mengakui kedaifan manusia tapi juga hak-hak asasinya—dan itulah yang membuat Saudara tak dipancung karena mengecam Kepala Negara.
Monday, June 02, 2008
quote of the day: faith and majority
The following two quotes are from Mahatma Gandhi:
If the majority of the people are selfish and untrust-worthy, how can democracy work?and
A living faith cannot be manufactured by the rule of majority
Indonesian mobocracy
Mahatma Gandhi once said,
mob·oc·ra·cy (mb-kr-s)
n. pl. mob·oc·ra·cies
You can find so many mobocrats from various political parties, religious group, even students, and undoubtedly the marginalized groups. We understand for the later group, they don't have channel to share their aspirations or problems since the government never hear or listen to them. But how about leaders from political parties, religions, and even the - supposed to be smart - scholars of students?? They should have ability to find better way then mobocracy...
And what is the outcome of this Indonesian mobocracy practices? Well, we can easily seen that in the form of street fights, violence, police arrests, and hundreds of casualties. Who cares?!
"Democracy is an impossible thing until the power is shared by all, but let not democracy degenerate into mobocracy"According to The Free Dictionary, the meaning of mobocracy is
mob·oc·ra·cy (mb-kr-s)
n. pl. mob·oc·ra·cies
1. Political control by a mob.With so much street demonstrations in Indonesia, could we call the current political system in Indonesia as mobocracy?
2. The mass of common people as the source of political control.
You can find so many mobocrats from various political parties, religious group, even students, and undoubtedly the marginalized groups. We understand for the later group, they don't have channel to share their aspirations or problems since the government never hear or listen to them. But how about leaders from political parties, religions, and even the - supposed to be smart - scholars of students?? They should have ability to find better way then mobocracy...
And what is the outcome of this Indonesian mobocracy practices? Well, we can easily seen that in the form of street fights, violence, police arrests, and hundreds of casualties. Who cares?!
Subscribe to:
Comments (Atom)