Showing posts with label FPI. Show all posts
Showing posts with label FPI. Show all posts

Wednesday, November 12, 2008

Inilah sebabnya "Ekskusi Mati" jadi tidak tepat...

Dari Opini Kompas berjudul "Terorisme Pasca Eksekusi" oleh Khamami Zada, beberapa hal berikut sangat tepat dan secara sederhana patut diperhitungkan:

"Sebenarnya, eksekusi mati Amrozi dan kawan-kawan tidak menyurutkan gerakan terorisme di Indonesia. Mereka tidak gentar dan takut menerima eksekusi mati. Dalam ideologi teroris, tidak ada kata menyerah. Ada doktrin agama yang selalu menjadi spirit gerakan mereka, yakni mati syahid. Mereka meyakini, apa yang dilakukan adalah demi menegakkan agama Allah sehingga ketika mereka mati maka yang diperoleh adalah mati syahid dengan jaminan surga."

Jadi, meskipun MUI dan beberapa ormas Islam mengatakan sebaliknya, namun persepsi tersebut sudah mulai melekat di pikiran banyak simpatisan. Ok, sederhana saja, apakah setiap umat mengikuti setiap hal yang dikatakan MUI? Tidak kan! Buktinya FPI dan organisasi sejenis masih tumbuh subur dan aktif menjalankan aksinya.

"Berbagai adegan yang telah diperlihatkan Amrozi dan kawan-kawan, sejak melakukan aksi terorisme hingga dieksekusi mati, menunjukkan drama perjuangan. Ini pula yang terlihat dari pemberitaan di media (khususnya televisi) yang memperlihatkan betapa Amrozi dan kawan-kawan layak dijadikan ”pahlawan, hero, pejuang, dan pengobar semangat” dalam gerakan Islam."

Nah, ini dia maksudku sebelumnya bahwa diselesaikannya akhir perjuangan mereka dengan ditambah liputan media yang sangat lengkap, maka gelar sebagai "pahlawan, hero, pejuang dan pengobar semangat!" tak terelakkan. Dengan begitu, tidak tertutup kemungkinan bahwa akan ada yang terinspirasi untuk mengikuti jejak mereka.

Tak mengherankan jika kelompok Islam garis keras banyak mengambil kesempatan untuk mendatangi Amrozi di Nusakambangan (Cilacap) dan mengunjungi keluarganya di Tenggulun (Lamongan). Mereka seolah memberi dukungan atas apa yang Amrozi dan kawan-kawan lakukan.

"Pemberitaan media yang begitu menegangkan bisa jadi telah memberi persepsi kepada masyarakat bahwa apa yang telah dilakukan Amrozi dan kawan-kawan adalah benar dan mereka sedang dizalimi oleh pemerintah dengan keputusan vonis mati. Apalagi, gambar-gambar yang ditampilkan televisi lebih banyak dalam suasana heroik yang mengobarkan semangat.

Akumulasi persepsi yang terus terbentuk oleh pemberitaan media ini bisa membalikkan persepsi publik bahwa Amrozi dan kawan-kawan hanya sebagai tumbal kepentingan politik internasional. Kondisi seperti ini bisa mempersubur aksi terorisme karena mereka dianggap sebagai pejuang agama yang dijamin mati syahid."

Tidak bisa lebih setuju lagi dengan kedua paragraf di atas. Kalau ingin membuat singkat pernyataan tersebut, maka versiku adalah: 1) hukuman mati merupakan solusi yang malah memicu aksi terorisme baru, 2) media massa terutama media cetak dan televisi ikut berkontribusi atas timbulnya aksi terorisme baru tersebut. That's why I feel that the death sentence is stupid and press is damned!


Thursday, November 06, 2008

apa sih definisi "pariwisata murni"?

Kepala Suku Dinas Pariwisata Jakarta Pusat Sahat Sitorus, Rabu (5/11), mengatakan, UU Anti Pornografi dan Porno Aksi harus didukung. Jika ada yang melanggar, akan dikenai sanksi berupa peringatan, penyegelan, dan pencabutan izin usaha.

Namun, masyarakat tidak perlu takut karena industri pariwisata murni tidak pernah menjual pornografi atau porno aksi. Hiburan malam dan perhotelan yang menjadi basis industri ini pun bukan berarti harus dibumbui hal-hal berbau seks. (Kompas, 6 November 2008)

Sungguh! Aku bingung bagaimana mendefinisikan "industri pariwisata murni" itu. Menurut Pak Kepala Suku Dinas Pariwisata Jakarta tersebut, industri tersebut haruslah tidak pernah menjual pornografi atau porno aksi. Jika ada sebuah cafe yang memutar musik dan ada pengunjungnya ber-disko atau ber-dansa dan mereka biasanya mengenakan pakaian jenis tank-top atau kaus tanpa lengan (khususnya perempuan), apakah kemudian bebas dari definisi pornografi atau porno aksi?

Aku sangat yakin, menurut definisi FPI dan MMI, cafe tersebut telah jelas-jelas melakukan aksi pornografi dan porno aksi. Dan, menurut definisi Pak Kepala Suku Dinas maka cafe tersebut tidak termasuk "industri pariwisata murni".

Mungkin Indonesia atau Jakarta seharusnya membangun Piramida seperti di Mesir, atau padang pasir seperti di Afganistan yang bisa dijadikan obyek "industri pariwisata murni". Barulah tidak akan ada warga Indonesia yang bisa menjadi pelaku pelanggaran Undang-Undang Pornografi dan Pornoaksi. Dan, dijamin, penerimaan pariwisata akan meningkat karena kunjungan wisatawan akan meningkat dengan pesat.

Hebat!


Sunday, June 08, 2008

Quote of the day: Talking to God!

Of course, talking to God is important, but if they think praying five times a day or going to Church every Sunday, or even everyday, is enough to allow them climb the stairway to heaven, maybe they should think again.
From The Jakarta Post article titled By The Way: FPI too busy talking to God. The article might be very "provocative" but for me it is really intuitive. And I am personally not subjective for particular religion, but it can be apply to anyone who think that they are very religious.

Thus, I recommend you to read the article and be ready to be angry and querying at the same time.