Showing posts with label human capital. Show all posts
Showing posts with label human capital. Show all posts

Friday, October 30, 2015

Parenting dan Website Sampah

Kami baru saja belajar hal yang cukup penting dan pelajaran yang kami terima juga cukup 'menyakitkan'. Pelajaran yang bisa kami ambil adalah jangan pernah memuat (publish) foto anak-anak Anda di website seperti blog atau yang sejenisnya. Jika pun Anda masih tetap ingin berbagai foto-foto lucu anak Anda, berikan penanda hak cipta (copyright signature) dan cap (watermark) di foto tersebut. Mengapa? Karena banyak sekali pencuri-pencuri foto anak dan juga pencuri materi-materi tulisan di internet. Tidak sedikit website-website dan page Facebook yang memuat artikel beserta foto-foto yang tidak jelas sumbernya dari mana. Tapi, sekarang kami mulai paham dan mengetahui bahwa artikel-artikel tersebut diambil tanpa izin atau pun pemberitahuan sama sekali dari sumber-sumber yang sebenarnya baik.

Pelajaran lain yang penting buat kami juga adalah betapa menjadi orang tua (parenting) sekarang begitu menantang. Bukan hanya karena anak-anak kita sebenarnya makin cerdas dan hebat, tetapi juga karena menjadi orang tua sekarang sangat sulit. Di satu sisi, kita perlu terus belajar dan mengetahui bagaimana trik atau tips parenting yang baik. Tapi di sisi lain, kita juga disuguhkan oleh berbagai informasi yang simpang siur dan sulit diverifikasi.

Di luar sana, sekarang banyak orang yang mengaku ahli dan pakar parenting. Mulai banyak bermunculan pakar psikologi anak, pakar komunikasi anak, ahli ini dan itu yang bicara tentang bagaimana mengasuh anak dan/atau membuat anak Anda menjadi anak pintar, sehat, jagoan dan sebagainya. Para pakar tersebut juga muncul di berbagai website, page, atau media sosial internet lain seperti Twitter, dan sebagainya. Beberapa di antara mereka memang orang-orang yang sungguh ahli di bidangnya, tapi banyak diantaranya yang sebenarnya tidak jago-jago amat selain mereka tahu mencari materi-materi kepakaran tersebut dari berbagai media internet. Apalagi kemudian diimbuhi dengan sedikit aspek-aspek keagamaan maka semakin hebat dan 'suci'-lah metode pengasuhan yang disampaikan oleh sang ahli atau pakar. Singkat kata, sekarang banyak para ahli dan pakar yang sebenarnya being expert by Google.

Akibat dari mendengarkan dan mempercayai expert by Google ini, kita juga mencari dan menemukan berbagai artikel yang ditulis dari kutipan berbagai hasil penelitian atau buku. Tapi, sayangnya artikel – yang biasanya ditulis oleh ghost writer mereka – tidak ditulis dengan kaidah penulisan yang baik dan benar. Artikel tersebut jarang (kalau tidak mau dibilang tidak pernah) mengutip (quote) sumber aslinya. Dan mereka juga mengambil foto atau gambar dari sumber-sumber yang mereka tidak minta izin sebelumnya atau tidak menyebutkan sumbernya dari mana. Hal ini kemudian diperburuk oleh para orang tua, pembaca dan para peminat parenting yang malas membaca dengan seksama serta kritis terhadap sumber-sumber yang digunakan oleh artikel tersebut. Selama artikel tersebut mendukung opini yang mereka sudah percayai sebelumnya, serta merta artikel tersebut disebar (share). Dan gelombang berbagi berikutnya pun terjadi yang berarti gelombang ketidakpedulian dan kecerobohan (kalau tidak mau dibilang kebodohan) kembali berulang dikalangan para orang tua, pembaca dan peminat parenting tersebut. Ini sungguh menyesakkan. Sungguh memprihatinkan bahwa banyak orang yang ingin belajar sebagai orang tua yang baik, tapi kita mendapatkan informasi dan pengetahuan dengan cara yang tidak baik. Banyak yang belajar menjadi orang tua yang baik tapi tidak mau bersusah payah belajar untuk kritis dan peduli pada hal-hal sederhana seperti hak cipta dan originalitas.

Kami belajar bahwa menjadi orang tua (parenting) yang baik, bukanlah soal label atau apa yang ideal berdasarkan pikiran orang lain. Betapa pun banyaknya hasil penelitian yang membuktikan suatu cara parenting adalah baik, pada akhirnya yang terpenting adalah bagaimana interaksi Anda sebagai orang tua dengan anak Anda sendiri. Yang terpenting adalah Anda belajar terus tanpa henti mengenal dan memahami anak Anda, karena itu pun yang terus dilakukan oleh anak Anda terhadap orang tuanya. Anak belajar banyak dari orang tua, mereka melihat orang tua mereka sebagai panutan (role model) oleh karena itu jadilah panutan yang baik, bukan menjadi pengikut para "expert" yang membuta. Para "expert" tersebut bisa saja bicara banyak hal yang seolah-olah menunjukkan cara parenting kita masih belum atau sudah ideal/benar, tapi mereka bukan orang tua dari Anak kita.

Jadi, ada beberapa hal yang bisa dilakukan dan perlu diperhatikan:

  1. Seksamalah ketika membaca berita-berita dan artikel-artikel tentang parenting. Apa yang setuju dengan ide Anda belum tentu didasarkan atas pemikiran yang teruji karena kebanyakan itu hanyalah opini atau kesimpulan sepihak dari penulis yang tentu apriori terhadap suatu permasalahan atau solusi.
  2. Di luar sana, banyak artikel yang memuat informasi sampah yang sulit diverifikasi serta hanya memuat informasi sepotong-sepotong. Jangan mudah percaya pada artikel parenting yang memulai atau menunggakan kata-kata "inilah parenting yang baik" atau "inilah parenting yang salah". Artikel tersebut tidak berniat berbagi informasi melainkan ingin menghakimi Anda sebagai orang tua. 
  3. Salah satu ciri-ciri artikel parenting sampah adalah tidak menyebutkan sumber kajian atau studi yang dikutip. Padahal, saat ini banyak studi dan kajian parenting yang dilakukan dengan metode ilmiah yang teruji sudah dipublikasi di media-media ilmiah online. Artinya, jika artikel parenting yang baik ditulis dengan niat yang baik maka pasti menyajikan sumber rujukan bacaan, kajian atau studi yang digunakannya sebagai dasar argumen.
  4. Ciri-ciri lain yang penting dari artikel parenting sampah adalah menggunakan foto-foto anak-anak. Yang lebih parah dari ciri-ciri ini adalah mereka menggunakan foto anak-anak tanpa menyebutkan sumber foto tersebut. Website atau artikel parenting yang begini hanya ingin menjual sensasi foto anak-anak yang lucu dan menggemaskan. 
  5. Ciri-ciri artikel parenting yang baik adalah yang memuat siapa penulisnya dan afiliasinya. Website atau page group tempat artikel tersebut dimuat memiliki administrator yang jelas dan merespon jika dihubungi. Jika kedua kriteria tersebut tidak ada, maka sudah pasti itu artikel parenting sampah dan berbahaya bagi masyarakat. 
  6. Terakhir, jangan latah berbagi berbagai artikel atau berita atau website tentang parenting. Jika pun Anda ingin berbagi artikel atau berita atau website yang menurut Anda baik, bagikanlah langsung kepada orang-orang yang menurut Anda relevan dan tertarik. 



Copyright © Dewa Wisana. All rights reserved

Thursday, July 14, 2011

revisi "kutukan sumber daya"

Catatan kecil ini diawali dari artikel yang berjudul "The Myth of the Resource Curse" oleh Gavin Wright dan Jesse Czelusta yang dimuat di Challenge Maret/April 2004 silam. Ada kutipan menarik yang sudah dikutip sebelumnya di blog Cafe Hayek sebagai berikut:
There is good reason to reject the notion that American industrialization should be somehow discounted because it emerged from a setting of unique resource abundance: On close examination, the abundance of American resources should not be seen as merely a fortunate natural endowment. It is more appropriately understood as a form of collective learning, a return on large-scale investments in exploration, transportation, geological knowledge, and the technologies of mineral extraction, refining, and utilization.
Wright dan Czelusta jelas mendukung klaim yang pernah diajukan oleh Julian Simon dalam makalahnya yang berjudul The Ultimate Resource (1981 & 1996). Keduanya mengamini argumen Simon yang didukung data dari berbagai catatan empiris. Keduanya berpendapat bahwa ukuran dan besarnya suatu modal sumber daya (endowments) selalu berubah-ubah dan lebih ditentukan oleh kemampuan manusianya dalam menemukan, mengelola, dan memanfaatkannya. Dalam bahasa ekonomi, besaran modal sumber daya alam dan mineral merupakan fungsi dari kualitas sumber daya manusia. Ini berarti bahwa manusia adalah sumber daya yang 'utama', bukan berbagai mineral dan kandungan alam yang terkubur di dalam tanah. Mineral dan kandungan tersebut baru menjadi sumber daya hanya setelah melalui proses kreativitas, pilihan-pilihan dan kegiatan-kegiatan yang dilakukan manusia. Lalu apa kaitannya dengan Indonesia?

Pendapat umum dan keyakinan sebagian besar masyarakat Indonesia (yang ditanamkan lewat doktrin, pendidikan, dan sebagainya sedari kecil hingga dewasa) menyatakan bahwa Indonesia adalah bangsa yang kaya raya karena kandungan alam dan tambang serta mineral di dalamnya. Hal tersebut benar namun tidak lengkap dan belum tuntas untuk menjawab persoalan bangsa. Menurut saya, Indonesia harus mulai mengubah pendapat dan keyakinan tersebut karena sebenarnya Indonesia memiliki sumber daya yang jauh lebih 'utama' yaitu manusia. Dengan jumlah penduduk terbesar keempat di dunia dan karakteristik yang sangat beragam, sudah saatnya kita menggali konsep yang diajukan oleh Julian Simon.

Indonesia perlu mengembangkan potensi manusianya yang begitu besar. Upaya mengembangkan potensi manusia tersebut bisa dilakukan dengan banyak cara yang tidak tergantung pada teknologi saja dan atau peran dan bantuan bangsa-bangsa lain. Wright dan Czelusta menjelaskan pengalaman berbagai negara di dunia saat menanggapi temuan atas sumber daya mineral khususnya minyak. Semua pengalaman tersebut bermuara pada berbagai upaya untuk membuat manusia-manusia di negara-negara tersebut mampu dan terus mengembangkan diri mereka ketika mereka menemukan sumber daya alam minyak. Hal ini berarti negara tersebut tidak hanya ingin mengambil (sekedar 'menerima') manfaat dan nilai tambah dari sumber daya alam tersebut namun juga (ikut 'berpartisipasi') menciptakan manfaat dan nilai tambah baru lewat kualitas sumber daya manusianya.

Contoh yang diuraikan dalam artikel tersebut misalnya bagaimana Norwegia ketika pertama kali menemukan minyak pada tahun 1969. Setelah mendirikan perusahaan minyak negara dengan nama Statoil pada tahun 1973, Norwegia juga berkonsentrasi dan berinvestasi dibidang ilmu pengetahuan untuk mengembangkan teknik perminyakan (petroleum engineering) lewat institusi pendidikan misalnya di Norwegian Technical University dan Rogalan Regional College. Hasilnya, mereka secara perlahan tapi pasti mengubah paradigma dari "berkompetensi menerima" menjadi "berkompetensi partisipasi". Seperti dikutip di halaman 22:
As a result of [focusing on advance exploration techniques] approach, forecasts of impending depletion have been repeatedly overturned and reserve estimates adjusted. In effect, these advances in technology and in the infrastructure of knowledge have extended the quantity of Norway's petroleum reserves, and they have allowed Norwegians to participate in the process as well-paid professionals, not just as passive recipients of windfall economic rents.
Beberapa negara serupa yang berhasil dan kini menjadi negara maju selalu menunjukkan respon yang senada yaitu meningkatkan peran manusia ketika "durian runtuh" dari sumber daya alam terjadi. Inilah sebabnya Indonesia harus mulai berhenti mengagungkan betapa kaya akan sumber daya alam, dan mulai beralih untuk membuktikan bahwa Indonesia jauh lebih kaya akan sumber daya manusia. Jangan sampai malahan Indonesia membuktikan bahwa sesungguhnya juga mengalami "kutukan sumber daya" selain pada sumber daya alam melainkan juga sumber daya manusia.

Tuesday, October 28, 2008

Quo vadis "soempah pemoeda"

Sengaja kutulis dengan ejaan lama karena menurutku peristiwa bersejarah tersebut perlu kita definisikan ulang serta diejawantahkan dengan pendekatan baru. Peristiwa "Soempah Pemoeda" perlu mendapatkan nafas baru terutama dari aspek pendefinisian "pemuda" serta apa yang seharusnya diamalkan oleh kohor generasi muda Indonesia pasca kolonialisasi. Ada dua aspek yang patut kita lihat dari kohor generasi muda Indonesia saat ini:

Karakteristik Demografis Pemuda Indonesia
Yang pertama harus kita lihat dari kohor pemuda Indonesia saat ini adalah dari segi kuantitas. Jumlah penduduk muda Indonesia saat ini dibanding kelompok penduduk lain (menurut umur) adalah terbesar. Situasi ini membuat pemikiran serta penghayatan hidup pemuda Indonesia saat ini jauh berbeda dengan pemuda di era kemerdekaan. Pemuda Indonesia saat ini akan lebih sibuk bersaing mempertahankan hidupnya, ditengah persaingan pasar tenaga kerja. Pemuda Indonesia sekarang mungkin akan lebih sibuk "nongkrong" alias berleha-leha karena hidup yang semakin terfasilitasi dengan berbagai kemudahan.

Mutu Modal Manusia Pemuda Indonesia
Yang kedua bisa kita lihat dari kohor pemuda Indonesia saat ini adalah dari segi kualitas. Dengan jumlah penduduk muda yang lebih besar dan ditambah dengan tingkat pendidikan yang dimiliki oleh penduduk muda yang semakin tinggi maka dapat dikatakan sesungguhnya kualitas pemuda Indonesia di era saat ini telah semakin meningkat. Jika dulu pada saat "soempah pemoeda" dicetuskan, pemuda dari kalangan terpelajar termasuk golongan elit karena belum banyak jumlahnya. Namun, saat ini golongan elit ini mulai menjadi golongan menengah yang cenderung mengarah menjadi kelompok masyarakat "biasa".

Kedua aspek tersebut menunjukkan situasi yang sepertinya sangat berbeda dengan situasi ketika "soempah pemoeda" dicetuskan. Banyak pendapat mengatakan bahwa diperlukan "sumpah" baru dari kohor pemuda era ini. Bisa jadi betul. Namun, bisa jadi tidak diperlukan karena "sumpah" baru tidak relevan dengan kebutuhan dan aksi yang mampu dilakukan oleh pemuda Indonesia saat ini. Artinya, harus ada terobosan baru dan ruang baru bagi pemuda dalam mengejawantahkan peran sosial dan nasionalnya. Oleh sebab itu, fakta yang tak bisa dipungkiri adalah pemuda Indonesia harus diberi peran lebih dalam berbagai sektor kehidupan dan kenegaraan. Kalau tidak, kohor tersebut tidak akan mampu menemukan terobosan dan ruang baru tersebut karena mereka sibuk "bersaing" antar sesama mereka dan dengan generasi sebelumnya yang masih asyik masyuk dengan "sejarah" kebangsaan mereka dahulu.

Kesimpulannya, "soempah pemoeda" masih layak dikutip sebagai bukti peran pemuda Indonesia pada masanya. Namun, pemuda Indonesia berikutnya harus mencari "sumpah" atau "tekad"-nya sendiri yang tak mungkin sama dengan pemuda Indonesia dahulu. Dan jangan paksa mereka menjadi seperti pendahulu tersebut, karena pemuda Indonesia kini telah hidup dan harus bertahan dalam tantangan yang sudah jauh berbeda dengan era terdahulu.

Selamat hari "soempah pemoeda" Indonesia...