Showing posts with label environment. Show all posts
Showing posts with label environment. Show all posts

Thursday, July 14, 2011

revisi "kutukan sumber daya"

Catatan kecil ini diawali dari artikel yang berjudul "The Myth of the Resource Curse" oleh Gavin Wright dan Jesse Czelusta yang dimuat di Challenge Maret/April 2004 silam. Ada kutipan menarik yang sudah dikutip sebelumnya di blog Cafe Hayek sebagai berikut:
There is good reason to reject the notion that American industrialization should be somehow discounted because it emerged from a setting of unique resource abundance: On close examination, the abundance of American resources should not be seen as merely a fortunate natural endowment. It is more appropriately understood as a form of collective learning, a return on large-scale investments in exploration, transportation, geological knowledge, and the technologies of mineral extraction, refining, and utilization.
Wright dan Czelusta jelas mendukung klaim yang pernah diajukan oleh Julian Simon dalam makalahnya yang berjudul The Ultimate Resource (1981 & 1996). Keduanya mengamini argumen Simon yang didukung data dari berbagai catatan empiris. Keduanya berpendapat bahwa ukuran dan besarnya suatu modal sumber daya (endowments) selalu berubah-ubah dan lebih ditentukan oleh kemampuan manusianya dalam menemukan, mengelola, dan memanfaatkannya. Dalam bahasa ekonomi, besaran modal sumber daya alam dan mineral merupakan fungsi dari kualitas sumber daya manusia. Ini berarti bahwa manusia adalah sumber daya yang 'utama', bukan berbagai mineral dan kandungan alam yang terkubur di dalam tanah. Mineral dan kandungan tersebut baru menjadi sumber daya hanya setelah melalui proses kreativitas, pilihan-pilihan dan kegiatan-kegiatan yang dilakukan manusia. Lalu apa kaitannya dengan Indonesia?

Pendapat umum dan keyakinan sebagian besar masyarakat Indonesia (yang ditanamkan lewat doktrin, pendidikan, dan sebagainya sedari kecil hingga dewasa) menyatakan bahwa Indonesia adalah bangsa yang kaya raya karena kandungan alam dan tambang serta mineral di dalamnya. Hal tersebut benar namun tidak lengkap dan belum tuntas untuk menjawab persoalan bangsa. Menurut saya, Indonesia harus mulai mengubah pendapat dan keyakinan tersebut karena sebenarnya Indonesia memiliki sumber daya yang jauh lebih 'utama' yaitu manusia. Dengan jumlah penduduk terbesar keempat di dunia dan karakteristik yang sangat beragam, sudah saatnya kita menggali konsep yang diajukan oleh Julian Simon.

Indonesia perlu mengembangkan potensi manusianya yang begitu besar. Upaya mengembangkan potensi manusia tersebut bisa dilakukan dengan banyak cara yang tidak tergantung pada teknologi saja dan atau peran dan bantuan bangsa-bangsa lain. Wright dan Czelusta menjelaskan pengalaman berbagai negara di dunia saat menanggapi temuan atas sumber daya mineral khususnya minyak. Semua pengalaman tersebut bermuara pada berbagai upaya untuk membuat manusia-manusia di negara-negara tersebut mampu dan terus mengembangkan diri mereka ketika mereka menemukan sumber daya alam minyak. Hal ini berarti negara tersebut tidak hanya ingin mengambil (sekedar 'menerima') manfaat dan nilai tambah dari sumber daya alam tersebut namun juga (ikut 'berpartisipasi') menciptakan manfaat dan nilai tambah baru lewat kualitas sumber daya manusianya.

Contoh yang diuraikan dalam artikel tersebut misalnya bagaimana Norwegia ketika pertama kali menemukan minyak pada tahun 1969. Setelah mendirikan perusahaan minyak negara dengan nama Statoil pada tahun 1973, Norwegia juga berkonsentrasi dan berinvestasi dibidang ilmu pengetahuan untuk mengembangkan teknik perminyakan (petroleum engineering) lewat institusi pendidikan misalnya di Norwegian Technical University dan Rogalan Regional College. Hasilnya, mereka secara perlahan tapi pasti mengubah paradigma dari "berkompetensi menerima" menjadi "berkompetensi partisipasi". Seperti dikutip di halaman 22:
As a result of [focusing on advance exploration techniques] approach, forecasts of impending depletion have been repeatedly overturned and reserve estimates adjusted. In effect, these advances in technology and in the infrastructure of knowledge have extended the quantity of Norway's petroleum reserves, and they have allowed Norwegians to participate in the process as well-paid professionals, not just as passive recipients of windfall economic rents.
Beberapa negara serupa yang berhasil dan kini menjadi negara maju selalu menunjukkan respon yang senada yaitu meningkatkan peran manusia ketika "durian runtuh" dari sumber daya alam terjadi. Inilah sebabnya Indonesia harus mulai berhenti mengagungkan betapa kaya akan sumber daya alam, dan mulai beralih untuk membuktikan bahwa Indonesia jauh lebih kaya akan sumber daya manusia. Jangan sampai malahan Indonesia membuktikan bahwa sesungguhnya juga mengalami "kutukan sumber daya" selain pada sumber daya alam melainkan juga sumber daya manusia.

Tuesday, January 12, 2010

the Oil Age is not over yet



The above picture quoted from the following article. I recall in one of my class I asked how many people believe that oil stock will be depleted and how fast. Due to global warming and environmental issue (only some given answer through staggering oil price), a lot of class member somehow believe that oil stock will be depleted very soon. In other words, many people believe that oil will be gone very soon. My answer was the stock of oil will be not depleted very soon, in fact there are more of them for sure but it requires new technology and/or new approach to reach their sources beneath the earth.

The article above indicates such possibilities. I am not sure how delicate your opinion will be influence by such ideas, regarding efficient energy consumption vis-a-vis global warming and/or environmental issue. But, I believe we need to firm our effort to reduce our indulgent for oil and looking for other alternatives.

Friday, November 28, 2008

mahasiswa tidak mengerti lingkungan

Maksud judul posting dan foto kali ini didasari oleh beberapa hal berikut ini:
  1. Tempat sampah tersebut secara jelas sudah dibedakan antara yang organik dan non-organik
  2. Tempat sampah tersebut ada di dalam lingkungan salah satu kampus elit di bilangan Depok
  3. Tempat sampah tersebut berada cukup dekat dengan lokasi di mana mahasiswa/i sering berkumpul saat di luar jam kuliah

Atas dasar hal tersebut, fakta yang ditunjukkan oleh foto tersebut adalah:
  1. Ada botol dan gelas plastik bekas minuman yang diletakkan di tempat sampah yang tertulis "Organik"
  2. Tempat sampah tersebut hanya salah satu dari sekian banyak tempat sampah yang tertulis "Organik" tetapi tetap menampung (dimasuki?) botol atau gelas plastik
Jika aku menganggap bahwa si tempat sampah tidak bisa memilih mana sampah yang BERSEDIA dia tampung sesuai dengan peruntukannya, maka siapakah pihak yang tidak mengerti tentang mengapa si tempat sampah harus dibuat demikian?

Si mahasiswa/i kan? Dan mahasiswa kan MUSTINYA bisa memilih sampah apa yang seharusnya dimasukkan ke tempat sampah yang mana?

Foto: pribadi

Monday, August 11, 2008

Sebulan tanpa plastik?

Pertanyaan yang penting dari kegiatan ini adalah "Sanggupkah kita?"

Chris Jeavans dari Inggris mencoba suatu hal yang pastinya sangat sulit dilakukan di Indonesia yaitu hidup selama satu bulan tanpa plastik. Latar belakang kegiatan ini bisa Anda baca di artikel A Month Without Plastic. Atau, jika Anda enggan membaca artikel panjang pun berbahasa Inggris tersebut, cobalah lihat video berikut.

Tanpa perlu paham dengan bahasa, Anda bisa melihat dan membayangkan - tentu jika Anda pernah sekali saja memperhatikan - betapa banyak plastik yang kita gunakan selama satu bulan. Dan jika kita ingin menjawab pertanyaan awal di atas, aku pasti akan menjawab "Kita belum sanggup!"

Tapi, aku sudah mulai mencoba melakukan kegiatan yang hampir mirip dengan Chris Jeavans. Berikut ini adalah cara-cara sederhana yang mulai aku lakukan:
  1. Jika membeli makanan, khususnya kudapan (snack), sebisa mungkin aku tidak mau memakai kantong plastik. Misal, aku membeli satu minuman kotak dan 2 potong roti maka aku pasti akan membawanya sendiri dengan tanganku. Yang penting di sini adalah kemauan menolak untuk menggunakan kantong plastik.
  2. Di tas kerjaku ada sebuah kantong plastik yang aku selalu bawa, jika terpaksa mampir ke toko untuk berbelanja kebutuhan rumah tangga yang tidak terlalu banyak. Dengan begini, aku mengurangi jumlah kantong plastik yang tidak terpakai di rumah jika setiap kali belanja kita diberikan kantong plastik.
  3. Sehari hanya boleh membeli maksimal satu minuman ringan yang dikemas dalam botol plastik. Jika ingin minum minuman ringan tambahan di hari yang sama, sedapat mungkin memilih yang menggunakan botol kaca. Jadi, aku harus minum di tempat membeli karena botol kaca tidak boleh dibawa pergi. Sisi positif dalam hal ini adalah kita tidak direpotkan dengan botol minuman yang dibawa ke mana-mana.
Itulah dia, ketiga kegiatan yang bisa aku lakukan untuk mulai menghemat penggunaan plastik. Tentu itu belum seberapa dibandingkan apa yang dilakukan oleh Chris Jeavans. Namun, aku percaya bahwa kita bisa mulai dengan sesuatu yang kecil dan sederhana asalkan dilakukan secara konsisten. Mudah-mudahan kelak, aku bisa meniru apa yang dilakukan oleh Chris Jeavans. Bravo Chris!

Thursday, July 17, 2008

permaculture


When I was browsing about Simon-Ehrlich wager and Cornucopian, I found and start to stuck with Permaculture (find it here and here). That is why I post the above picture, as I amaze with the idea but at the same time thinking so hard on how to understand the basic principle.

Well, at least all I can say for now is... Let's start!