Showing posts with label bencana. Show all posts
Showing posts with label bencana. Show all posts

Thursday, October 08, 2009

sungguh-sungguh tidak belajar...

Yang aku ingat, posting beberapa waktu lalu masih berkaitan dengan gempa yang terjadi di Tasikmalaya. Jika Anda membaca artikel yang dirujuk di situ, artikel yang ditulis oleh Putu Setia, sudah dengan gamblang sekali dinyatakan bahwa mencegah dampak yang lebih buruk jauh lebih dibutuhkan daripada sekedar legitimasi bencana dari ayat-ayat suci (di kolom komentar artikel tersebut, masih saja terdapat para komentator yang tak pernah bosan mencungkil ayat-ayat suci). Mencegah dampak yang lebih buruk bisa dilakukan dengan mengkaji kembali bagaimana membangun tempat tinggal yang "ramah" bencana.

Kemudian, datang lagi bencana gempa yang terjadi kali ini di Padang, Sumatera Barat. Sudah jelas, kita semua berduka. Namun, masih saja manusia-manusia "penguasa ayat-ayat suci" tersebut sibuk mencari-cari legitimasi bencana dari ayat-ayat suci yang mereka geluti. Mereka benar-benar bebal dan tak berperikemanusiaan. Entah bagaimana mengajarkan orang-orang yang penuh dengan kebebalan demikian.

Padahal, apa yang ditulis oleh Putu Setia masih tetap relevan dan menjadi keharusan untuk dikaji lebih jauh. Khususnya, terkait dengan bagaimana kita di Indonesia membangun tempat tinggal dan bangunan yang ramah bencana tadi. Bukan rahasia lagi bahwa prosedur dan perencanaan pembangunan hunian dan gedung-gedung di Indonesia penuh dengan praktek manipulasi yang mengabaikan baku mutu dan kelaikan bangunan yang semestinya ada. Hal tersebut sekarang terbukti di Padang. Dan dengan kesadaran tersebut, fokus kita seharusnya tidak hanya gempa, namun juga bencana alam lain yang menjadi rutinitas di Indonesia seperti: banjir, gunung berapi, kekeringan, dan sebagainya; juga tidak hanya terkait dengan tempat tinggal dan prosedur membangun namun juga tata cara kita memanfaatkan sumber daya dan lingkungan kita. Kita harus mulai memikirkan bagaimana strategi hidup di tengah-tengah lingkaran bencana. Bukan hanya berdoa, tapi juga berusaha dan berbuat...

Monday, September 07, 2009

mencegah vs merujuk

Dari kolom Cari Angin oleh Putu Setia yang berjudul Misteri Gempa,
Kita sudah diingatkan berdiam di daerah rawan gempa, tapi kita menganggap remeh hal itu dengan mengabaikan persyaratan hidup di daerah rawan gempa. Kita selalu berpikir bahwa bencana adalah nasib sial, takdir buruk yang tak bisa dicegah. Bahkan sebagian dari kita sering menganggap bencana sebagai cobaan dari Tuhan, atau malah kutukan dari Tuhan. Ah, bukankah Tuhan mahapengasih, kenapa harus main kutuk segala?
Meskipun dengan kata-kata yang relatif lugas seperti ini, masih saja ada yang menulis di kolom komentar dengan menghantarkan kata-kata Tuhan. Apakah sedemikian sulitnya untuk paham bahwa "mencegah" dengan perbuatan nyata jauh lebih baik dibandingkan sekedar 'merujuk' pada kata-kata suci?


Monday, March 30, 2009

keuntungan dibalik penderitaan

Sumber foto: kompas.com

Silahkan kritis dan mengolah pehamaman Anda semua dengan segenap hati nurani dan pikiran jernih, di negeri manakah ada kesenangan dan keuntungan yang diambil saat bencana baru saja terjadi? Hanya di negeri Indonesia...
Entah mengapa orang Indonesia sangat senang menengok "penderitaan". Yang lebih ironis, orang Indonesia sangat senang menengok "penderitaan" orang lain. Betul! Indonesia memandang setiap peristiwa 'tragis' tak lebih daripada 'hiburan'. Dan karena itu, banyak pihak yang bisa mengambil keuntungan atas penderitaan yang timbul dari peristiwa tragis tersebut. Mengapa harus menyempatkan diri untuk datang bersama seluruh keluarga besar ke lokasi bencana, hanya untuk melihat-lihat, membuat komentar, ngobrol ini itu, dan bahkan berfoto di lokasi? Tapi mengapa sulit untuk Indonesia disiplin membuang sampah? Mengapa sulit untuk tidak membuang sampah ke saluran air, apalagi danau dan sungai? Mengapa sulit Indonesia mengakui bahwa penyebab semua bencana yang datang belakangan ini adalah karena perilaku masa bodoh yang dipupuk dengan suburnya.

Aku tak percaya bahwa bencana yang belakangan rutin menyambangi Indonesia adalah karena kehendak Tuhan. Aku tidak percaya semuanya datang karena alam yang murka. Aku tidak percaya bahwa itu semua karena nasib. Tapi aku percaya semuanya datang karena Indonesia masing-masing egois. Dan kebiasaan ini benar-benar menyebalkan... Sangat menyebalkan!

Silahkan katakan aku sinis, tapi aku merasa persamaan matematis berikut ini sangat mewakili mental dan semangat Indonesia tentang bencana:


Saturday, March 28, 2009

sekali lagi alam bersabda...

Turut berduka dan sangat terpukul membaca berita bencana Situ Gintung. Doa sudah pasti teriring bagi para korban agar dilapangkan jalannya dan bagi yang selamat agar segera pulih dan tabah menghadapi bencana ini.

Namun demikian, doa dan kepedulian saja tidak cukup. Tidak cukup untuk mencegah bencana serupa tidak terjadi lagi. Pesan yang jelas hadir setiap hari di negeri Indonesia ini adalah alam telah bersabda dengan menunjukkan betapa tidak pedulinya kita - umat manusia Indonesia - akan potensi yang dimiliki negerinya sendiri. Kita terlalu sering tidak peduli (ignorance) bahwa kita terlalu asyik dengan penguasaan dan kenyamanan. Kita lupa bahwa alam kita manfaatkan hingga batas-batasnya terlampaui. Dan alam, bukan melawan balik, melainkan menunjukkan ketidakmampuannya untuk terus menyenangkan umat manusia Indonesia terus menerus.

Kita bisa sebut curah hujan yang tinggi sebagai penyebab jebolnya tanggul di Danau Situ Gintung. Tapi, apakah menyalahkan curah hujan yang tinggi akan mencegah kejadian serupa tidak terulang? Tidak. Karena bukan itu penyebab utamanya. Pendangkalan yang terjadi di danau tersebut tidak kurang sebabnya karena ketidakpedulian masyarakat dan pemerintah akan kinerja situ tersebut. Situ Gintung bukan tempat yang kekuatannya tak terbatas, dan kita sudah melampui batas tersebut.

Apakah kita masih diam dan tidak peduli? Bukan hanya pada kasus situ, danau, bendungan, atau sistem irigasi lainnya. Melainkan pada daya dukung lingkungan terhadap pesatnya "pemuasan" yang ingin didapat oleh manusia. Cobalah sedikit merenung dan melihat di sekitar kita, sudahkah kita memperhatikan kerusakan lingkungan yang timbul akibat perbuatan kita sehari-hari selama bertahun-tahun?