Showing posts with label Kompas. Show all posts
Showing posts with label Kompas. Show all posts

Tuesday, January 03, 2012

Koreksi dan argumen atas Opini Kompas tentang Hindu dan bunuh diri

Tulisan ini ingin meminta perhatian dan tanggapan dari Editor Harian Kompas atas kesalahan yang dimuat dalam kolom opini pada tanggal 28 Desember 2011 berjudul “Membakar Diri” oleh Fidelis Regi Waton. Tulisan ini juga bisa jadi masukan dan catatan bagi penulis opini tersebut atas pernyataannya yang telah mengusik umat Hindu.

Penulis menyajikan opini dan argumen yang menarik terkait dengan aksi membakar diri yang dilakukan oleh Sondang Hutagalung di depan Istana Presiden beberapa waktu lalu. Di bagian awal tulisan, Penulis menyampaikan beberapa pengalaman aksi membakar diri sebagai cara perlawanan terhadap rezim politik tertentu di Vietnam, Ceko, Jerman Timur dan Tunisia. Penulis kemudian mengaitkan aksi membakar diri dengan bunuh diri dan memaparkan argumen-argumen bunuh diri dari sudut pandang agama. Di dalam paparan dari aspek-aspek keagamaan inilah terdapat kesalahan yang mendasar dan perlu dikoreksi.

Kesalahan serius yang dilakukan oleh penulis terdapat pada kalimat:
"Hinduisme dan Jainisme mempropagandakan bunuh diri mistis. Eksistensi individu tidak diakui dan hidup duniawi dianggap penderitaan. Kematian berarti pembebasan."
Kesalahan kalimat pertama di atas adalah karena tidak pernah ada satu kalimat pun dalam kitab suci Hindu yang secara langsung atau tidak langsung ‘mempropagandakan’ (membolehkan?) umat Hindu untuk bunuh diri. Kalimat kedua dan ketiga mengandung kesalahan yang lebih mendasar dan fatal karena mengaburkan dua konsep berbeda dalam filosofi ajaran Hindu yang tidak terkait sama sekali dengan pembolehan atau dukungan atas aksi bunuh diri.

Jika membaca atau merujuk dari pustaka-pustaka Hindu yang sahih khususnya tentang dalil hukum dalam agama Hindu, maka diuraikan bahwa eksistensi individu yang “fana” (bukan ‘tidak diakui’) sangat terkait dengan filosofi moksa. Sedangkan hidup duniawi dianggap penderitaan dan kematian berarti pembebasan terkait dengan ajaran ‘reinkarnasi’ dan ‘karma’. Ketiga filosofi dan ajaran tersebut tidak pernah digunakan sebagai dalil untuk mendukung aksi bunuh diri dan ketiganya tidak pernah digunakan sebagai ajaran yang ‘mempropagandakan’ bunuh diri – apapun jenis bunuh dirinya. Dengan kata lain, Hindu tidak pernah mendukung atau mengajarkan apalagi ‘mempropagandakan’ tindakan bunuh diri jenis apa pun dengan menggunakan argumen-argumen tersebut kepada umat Hindu khususnya pun umat manusia di jagad raya ini pada umumnya. Itulah sebabnya pernyataan yang ditulis oleh penulis di atas salah dan sangat menyesatkan!

Kalimat tersebut di atas tidak jelas bersumber atau dirujuk dari mana. Penulis hanya menyebutkan bahwa ia menggunakan sumber pustaka yang dikutip dari Èmile Durkheim. Diduga bahwa rujukan utama – dan satu-satunya – bagi penulis di opini ini berasal dari karya lawas Èmile Durkheim yang berjudul Suicide (Perancis: Le Suicide, 1897). Di buku tersebut, Durkheim mengobservasi angka bunuh diri dan perilaku di kalangan masyarakat Kristen Protestan dan Katolik di Eropa. Dia menyimpulkan bahwa angka kasus bunuh diri yang rendah di kalangan masyarakat Katolik disebabkan oleh kontrol sosial yang kuat. Meskipun karya Durkheim ini termasuk rujukan pertama dan utama tentang bunuh diri, tidak sedikit kritik yang disampaikan atas pendekatan dan penarikan kesimpulan yang dilakukannya.

Terlepas dari masalah dan kritik dalam pendekatan yang digunakan oleh Durkheim dalam bukunya tersebut, pernyataan bahwa Hindu ‘mempropagandakan’ bunuh diri yang disimpulkan oleh penulis setelah membaca Suicide tidak memiliki kesahihan. Bukannya berhati-hati dalam mengutip dan memenggal argumen Durkheim yang fokus pada fenomena bunuh diri di tengah masyarakat Kristen Eropa, penulis malah memaksakan keterkaitan fenomena tersebut dengan situasi yang terjadi di tengah masyarakat penganut Hindu khususnya dengan menggunakan tradisi Sati di India sebagai argumen pendukung. Padahal, praktek Sati sudah lama ditentang dan kemudian dilarang oleh Pemerintah dan masyarakat di India.

Lakshmi Vijayakumar dalam artikel ilmiah untuk Archives of Suicides Research yang berjudul “Altruistic Suicide in India” tahun 2004 menjelaskan aspek-aspek bunuh diri altruistis dan praktek Sati dan Jauhar yang tidak sesuai dengan aturan hukum yang ada di India. Vijayakumar juga menggunakan karya  Durkheim sebagai referensi. Ini menunjukkan bahwa selain penggunaan karya besar Durkheim secara tidak tepat tentang Hindu dan aksi bunuh diri, penulis juga menggunakan bukti dan argumen yang sudah tidak sesuai dengan situasi terkini dan sudah disanggah oleh kajian-kajian ilmiah terbaru. Dengan kata lain, argumen yang disajikan dalam artikel tersebut salah dan harus dikoreksi.

Kesalahan serius yang dilakukan penulis ini bisa dihindari jika saja Editor Harian Kompas yang memuat artikel tersebut mampu membaca keseluruhan teks yang ditulis dengan lebih jeli. Namun, Editor seperti tidak mampu melihat sensitifitas dan kesahihan argumen yang digunakan oleh si penulis serta lebih fokus hanya pada sensasi tema yang ditawarkan penulis.  Hal ini sungguh patut disesalkan mengingat Harian Kompas selama ini dikenal luas oleh masyarakat baik di dalam maupun di mancanegara sebagai salah satu suratkabar berkualitas. Kiranya Harian Kompas masih tetap ingin dan perlu menjaga kualitas jurnalisme dan menjaga kualitas tulisan-tulisan yang dimuat agar sesuai dengan kaidah penulisan yang tepat, argumentatif dan jelas. 

Demikian kiranya agar Redaksi/Editor Harian Kompas dapat memperhatikan kesalahan ini. Terima kasih atas perhatian dan tanggapannya.


Canberra, 3 Januari 2012

Thursday, January 29, 2009

I love KOMPAS ePaper


Just experiencing reading Kompas Newspaper in ePaper edition. I guess this is one of the best breakthrough by Kompas. Hopefully it will continue to be free (a.k.a Gratis!) - by pre-registered user. Good job, Kompas!

Friday, June 20, 2008

jangan sampai ketahuan Front dan Laskar...


Dari Kompas.Com, artikel yang berjudul Makhluk Bulutangkis Paling Seksi,
... Tampil dengan baju hitam yang kontras dengan kulit yang putih, pasangan ini membiarkan bahu dan sebagian punggung mereka terbuka. Bagian punggung ditutup "hanya" oleh tali yang bersilang.
Karena itulah, meski memberi dukungan kepada Vita/Lilyana, penonton juga tidak mencemooh pasangan gado-gado tersebut. Apalagi keduanya mampu memberi perlawanan yang lumayan sengit kepada pasangan utama Indonesia tersebut.
Adalah pebultangksi Kanada, Charmeine Reid yang mempunyai ide untuk tampil seksi dan beda tersebut. Berusia 34 tahun, Reid adalah seorang yang kerap memberi pelatihan soal bulutangkis kepada murid-murid sekolah di Kanada dan Amerika Utara. "Para peminat bulutangkis di Kanada biasanya beralih setelah mereka lulus sekolah. Biasanya mereka memilih hoki es untuk yang putera atau tenis untuk yang puteri," katanya.
Ah, aku ingin mempertanyakan apakah definisi "seksi" itu? Apakah dengan melihat bahu dan punggung putih sudah bisa dibilang "seksi"? Tidakkah usaha yang ditunjukkan pebulutangkis Kanada tersebut bisa sekedar dianggap sebagai upaya yang logis untuk mengangkat citra olahraga bulutangkis. Seperti dikatakan,
Menurut Reid yang mengenal bulutangkis sejak usia dini, salah satu yang membuat anak-anak Kanada lebih tertarik dengan tenis adalah karena sifatnya yang lebih glamour. "Para petenis puteri dapat tampil lebih modis dengan lebih banyak pilihan gaya. Sementara bulutangkis tampil old fashioned dan klasik," katanya.
Dengan beralasan demikian, kita seharusnya sadar bahwa olahraga di masa sekarang ini selain untuk kesehatan juga merupakan ruang bisnis yang strategis sekaligus 'pencitraan' yang bisa kita terapkan baik untuk perusahaan maupun negara. Lihat saja ketika Italia pertama kali memperkenalkan kostum sepakbola dengan model ketat, yang kemudian menjadi mode baru dalam penentuan kostum sepakbola dunia. Lalu mengapa kita harus "fokus" pada aspek seksi-nya, dibandingkan memahami apa lagi yang bisa kita "manfaatkan" dari bulutangkis? Jika memang selalu kalah dalam pertandingan, setidaknya pebulutangkis Kanada bisa sukses dalam hal design kostum olahraga kebanggaan Indonesia ini. Jangan seperti pebulutangkis Indonesia yang selalu kalah dan kalah lagi... Oh, Taufik...

Yah, memang betul juga sih. Kalau selain di Indonesia, mungkin ini akan benar-benar menarik dan bisa membuat bulutangkis alias badminton semakin populer baik di Indonesia maupun di dunia internasional. Sebab kalau di Indonesia, jika banyak atlet Indonesia yang tampil sambil "memamerkan" aurat (baca: bahu dan punggung mulus) maka sudah pasti bakalan di demo oleh Front-Front, Laskar-Laskar, dan Komando-Komando itu... Bisa-bisa Istora Senayan dirusak dan dibakar nantinya...

Mudah-mudahan tidak ya...

Friday, June 13, 2008

kenapa harus kaget?

Berita yang menggelikan untukku tentang Kapolda Bali yang baru, Irjen Tengku Ashikin Husein, di kompas.com sebagai berikut

Kepala Kepolisian Daerah Bali Irjen Tengku Ashikin Husein terperanjat ketika berjalan-jalan ke Kuta. "Wah, banyak turis tak pakai baju. Udah gitu jalan-jalan lagi naik motor!" katanya.
Maklum ia baru dua minggu menjadi Kapolda di Bali setelah jadi Kapolda Sulawesi Tengah. Bahkan ia sempat bertanya kepada petugas lalu lintas apakah ada aturan yang bisa menilang seseorang yang berkendaraan tanpa baju. "Ini sudah kelewatan. Benar memang mereka memakai helm ketika berkendaraan, tetapi sudah tidak sopan lagi ketika mereka tidak berbaju atau minim sekali hanya pakai baju renang," ujarnya.
Karenanya ia mencoba memikirkan aturan agar berbaju sopan dalam berkendaraan di jalan raya. Alasannya menyangkut kesopanan. Hanya saja Kapolda asal Aceh ini pun masih bingung bagaimana sanksinya.

Hal tersebut menunjukkan beberapa hal berikut:
Pertama, Pak Kapolda Bali sungguh tidak memahami situasi dan lingkungan di Pulau Bali. Jika hanya soal telanjang saja, apalagi hanya memakai baju renang tidaklah mengherankan. Tidak ada orang yang "terangsang" dan "tergoda" dengan fenomena turis yang telanjang atau hanya mengenakan bikini. Apakah dengan berpendapat demikian, Bali akan dijadikan "Serambi Mekkah" kedua setelah Aceh?

Kedua, Pak Kapolda Bali jelas sekali berpandangan umum bahwa telanjang dan berpakaian renang di jalan raya adalah budaya yang umum dilakukan di Bali. Pertanyaan yang penting di sini adalah apakah di setiap ruas jalan di Bali para turis sering berkendaraan atau berjalan-jalan tanpa pakaian atau pakaian minim? Pasti tidak, Pak Kapolda. Yang Pak Kapolda lihat itu kan di kawasan Kuta, yang notabene kawasan pantai. Kok Pak Kapolda tidak mengerti sih?

Seharusnya, Pak Kapolda Bali berbincang-bincang dan mengenal para turis yang berkunjung di Bali. Mengapa mereka melakukan hal demikian? Jangan lupa, Pak Kapolda Bali, bahwa para turis tidaklah seharian penuh telanjang atau berpakaian minim. Umumnya, mereka berperilaku demikian setelah dari atau akan menuju pantai untuk berjemur. Bukankah karena pantai yang indah dan panas sinar matahari yang terik untuk menggelapkan warna kulit mereka, para turis mau berkunjung ke negeri yang damai seperti Bali? Apakah Pak Kapolda Bali tidak tahu fakta tersebut? Untuk itu warga Bali juga sudah maklum dan mengerti sekali. Tetapi kenapa Pak Kapolda Bali harus kaget? Tumben yah melihat perempuan telanjang tanpa harus sembunyi-sembunyi takut ketahuan istri dan anak buah...

Ada-ada saja... Wong menahan nafsu diri sendiri yang tidak bisa, kok alasan cara berpakaian sopan dijadikan program penting dalam lalu lintas. Cara pikirnya persis kayak Front-Front dan Laskar-Laskar itu saja sih...

Monday, June 02, 2008

Siapa yang sesat sesungguhnya?

Membaca berita hari ini semakin membuat stigma di kepalaku kian sulit untuk kuhapus. Bicara tentang "sesat", bicara tentang "kemurnian", bicara tentang "iman" dan bicara tentang "keyakinan" selalu berujung pada kekerasan dan tindak kekejaman terhadap sesama manusia. Apa yang sebenarnya dicari? Surga di akhirat sana? Berarti hukum ekonomi tentang trade-off sungguh bekerja di sini: jika ingin surga di akhirat maka kau harus ciptakan neraka dan kekejaman di muka bumi. Siapa pun yang menantang dan menghalangi harus dimusnahkan.

Di harian kompas hari ini, tertulis pernyataaan sebagai berikut:
”Mengapa mereka mengadakan aksi mendukung organisasi kriminal. Mereka menantang kami lebih dulu. Jika tidak siap perang, jangan menantang.”
Apakah selalu semua harus diselesaikan dengan "perang"? Aneh, di mana bukti bahwa Tuhan Maha Kuasa jika Tuhan sendiri ternyata tidak mengajarkan untuk berdamai?

Nah, jika kelompok-kelompok tersebut bicara tentang "aliran sesat" dan "ajaran sesat". Tidakkah merekalah sebenarnya yang merupakan "aliran sesat" dan menganut "ajaran sesat" karena lebih mengedepankan kekerasan, kekejaman, pengurasakan, dan perang di atas perdamaian dan dialog?

Yang lebih ironis, ke manakah para pemimpin dan pemuka agama? Mungkin mereka sedang mengumpulkan pundi-pundi surga mereka dengan terus mengucapkan doa tiada henti sambil menyelipkan sedikit agitasi ke celah-celah sempit otak dan hati para umatnya...


update: dengan daftar tindak kekerasan sepanjang ini, cukup mengherankan juga bahwa mereka dibiarkan berkembang di wilayah yang konon mengaku religius, toleran dan cinta damai. Belum lagi tindakan yang tidak tercatat dan tidak dilaporkan. Ah, memang hebat negeri ini...