Pelajaran penting hari ini adalah berdiskusi dan berargumen dengan nalar dan fakta-fakta ilmiah tidak selalu berguna. Siapa yang diajak berdiskusi dan latar belakang mereka perlu lebih dulu dikenali. Ada kalanya pihak-pihak yang berdiskusi dan berargumen dengan kita tidak mau atau mampu menerima nalar dan fakta-fakta ilmiah yang kita ajukan. Apalagi jika nalar dan fakta-fakta tersebut tampak berlawanan dengan pendapat dan kepercayaan yang mereka miliki. Betapa pun nyata dan lugas argumen yang kita sampaikan serta entah seberapa sahih fakta ilmiah yang kita rujuk, pasti akan mereka sanggah dan mentah-mentah mereka tolak.
Apa indikasi jika argumen tersebut tidak berguna?
1) Apabila mereka tidak membaca/mendengar utuh argumen tersebut. Biasanya mereka hanya akan memperhatikan pernyataan yang bertentangan dengan ide mereka lalu 'menyerang' pernyataan tersebut dengan memutarbalik kesimpulan menurut interpretasi mereka sendiri;
2) Argumen dan pernyataan balasan mereka biasanya tidak 'menyanggah' secara poin-per-poin melainkan 'menyerang' penggalan-penggalan argumen (tidak memperhatikan keseluruhan konteks) dengan kata-kata yang umumnya bersifat mencela atau mencibir;
3) Selalu berangkat dari dugaan yang didasarkan pada pengalaman pribadi semata tanpa sedikit pun mengakui bahwa ada pengalaman orang lain yang berbeda dan kondisi setiap pengalaman pasti berbeda. Dengan kata lain, mereka senang menarik kesimpulam secara cepat dan terbatas hanya pada pengalaman sendiri tersebut.
Bagi saya pribadi ini merupakan sebuah pengalaman dan pelajaran berharga yang harus saya camkan baik-baik. Saya harus bisa melihat siapa yang sedang berdiskusi dengan saya. Saya juga harus mulai bisa mengenali apakah saya perlu meladeni sebuah diskusi dengan serius atau cukup berkelakar saja. Dan terakhir, saya harus tahu bahwa tidak semua orang siap dan mau menerima bahwa ada hal-hal di luar sana yang belum kita ketahui serta mereka takut menerima serta mengakui bahwa hal-hal tersebut mungkin benar adanya.
Selain itu juga penting untuk mengakui bahwa saya tidak tahu segalanya. Tidak perlu malu atau takut mengakui bahwa saya masih bodoh dan saya banyak "tidak tahu". Kedua hal tersebut menjadi pengingat bahwa saya masih harus terus belajar.
Copyright © Dewa Wisana. All rights reserved
Embun hanyalah setetes pagi yang mencoba menyusun kata. Namun kata selalu mencari makna. Gerombolan pikiran yang berduyun mencari ruang. Tanpa aturan, tanpa batasan. Ada yang memicu, ada yang menginspirasi. Cetak peristiwa masa lalu, baru tadi atau cita-cita ke depan belum pasti. Dan... embun pun menetes jatuh lenyap terserap bumi tatkala fajar kian hangat. Bila kenan kan, nantilah hingga esok hari sebelum jadi pagi. Semoga masih kan ada susunan kata baru...
Showing posts with label lesson. Show all posts
Showing posts with label lesson. Show all posts
Wednesday, January 30, 2013
Monday, May 21, 2012
Balita Digital
Pertanyaan tersebut merupakan pertanyaan yang menarik dan perlu dijawab oleh para orang tua dewasa ini. Perkembangan teknologi belakangan ini semakin pesat dan penggunaanya pun kian intensif di berbagai aspek kehidupan. Berbagai jenis perangkat elektronik digital atau biasa disebut gadget bermunculan dan bertebaran di tangan kita.
Isu kritis yang cukup pelik terkait pemanfaatan gadget bagi keseharian adalah bilamana anak-anak dan balita boleh menggunakan gadget? Atau, umur berapakah balita atau anak-anak boleh berinteraksi dengan telpon genggam atau iPad atau komputer? Ada banyak studi yang mencoba menjawab pertanyaan tersebut. Kesimpulan dan pandangan yang muncul relatif terbagi dua kubu: pro dan kontra. Kedua kubu tersebut pada dasarnya mengklaim bahwa penggunaan gadget di usia dini bisa mempengaruhi perkembangan anak - pengaruhnya bisa negatif atau positif. Namun, media massa umumnya hanya membahas laporan dan diseminasi studi tersebut terutama yang memaparkan pengaruh negatif tanpa perimbangan dari studi tandingannya. Dengan kata lain, belum ada bukti yang komprehensif dan sinergis untuk menjawab peran gadget bagi balita dan anak-anak.
Meskipun survey tersebut dilakukan di negara maju dan konteks fenomenanya lebih relevan untuk negara tersebut, namun saya pikir temuan tersebut bisa memberi indikasi kecenderungan serupa di negara-negara berkembang, termasuk Indonesia. Generasi balita digital tersebut merupakan generasi pertama yang tumbuh dan berkembang secara digital, artinya interaksi mereka dengan teknologi digital akan sangat tinggi dan dimulai sejak usia dini. Mungkin tidak lama lagi, perkembangan di tahap awal dari anak-anak kita akan bisa diukur dengan apa yang disebut sebagai digital milestone, yang diukur misalnya dengan mengetahui umur berapa anak kita pertama kali mengirim SMS (Baca juga artikel menarik yang berjudul The Birth of Digital Toddler).
Satu hal yang niscaya adalah generasi digital akan dihadapkan pada masyarakat yang dikelilingi oleh screens (layar monitor) yang hampir sebagian besar memiliki fitur touch (sentuh). Keyboard sudah menjadi pena pertama mereka, jika menggunakan stylus masih terbatas hanya untuk kegiatan seni grafis dan gambar. Dan, kertas-kertas coretan belajar menulis pertama kali yang dulu biasa berserakan di meja, akan bertebaran di komputasi awan (cloud computing) dalam berbagai format penyimpanan, seperti PDF, JPEG, dan sebagainya. Baiklah, saya setuju bahwa yang terakhir agak berlebihan... Hehehe.
Tanpa bermaksud mengecilkan potensi masalah yang pasti ada, saya pikir lebih baik kita mulai melihat fenomena balita digital ini dalam perspektif yang lebih universal yaitu kegiatan pendidikan. Jika di sekitar kita layar monitor di mana-mana dan berfitur sentuh, saya pikir tidaklah tepat jika kita tidak mulai memperkenalkan anak-anak sejak dini dengan fungsi teknologi tersebut. Seperti halnya komputer yang sudah menjadi teknologi yang umum dimiliki oleh sebagian besar rumah tangga di mana pun berada dan digunakan tidak hanya sebagai sarana hiburan melainkan juga sebagai instrumen pendidikan; mengapa tidak menggunakan teknologi tersebut untuk sarana pendidikan bagi balita dan anak-anak? Di sinilah dimulai sebuah pemikiran bahwa sistem pendidikan juga perlu berubah, berevolusi dan tumbuh sambil menyesuaikan diri dengan refleksi keseharian perkembangan baru balita dan anak-anak kita yang semakin terpapar teknologi digital. Singkat kata, sistem pendidikan harus menerima dan menyiapkan instrumen pengajaran yang menjawab tuntutan peserta didik yang memanfaatkan teknologi sejak dini.
Beberapa waktu kemudian, saya amati bahwa Arvind bisa memilih aplikasi apa yang ingin ia mainkan. Dia juga sudah mulai bisa memilih video apa yang ingin dia tonton. Selain kemampuan menentukan sendiri pilihannya, dia juga mulai bisa meniru dan mengulang bahan pelajaran di aplikasi yang ia mainkan. Ia dengan cepat meniru lagu alfabet ABC, berhitung satu sampai sepuluh dalam bahasa Inggris (meskipun entah kenapa dia tidak pernah mau menyebut nine sebelum ten), membedakan big dan small, menyebut nama-nama binatang dan suaranya saat melihat gambar binatang tersebut, dan banyak hal lainnya. Satu hal yang paling diminati oleh Arvind adalah segala sesuatu yang berkaitan dengan musik. Di setiap film yang disaksikan, dia paling tertarik dengan theme song film tersebut. Atau, ketika bermain dengan apps pasti dia lebih responsif terhadap musik yang dimainkan oleh apps tersebut. Begitu juga dengan ebook, dia tampak menyimak buku yang menyajikan musik pengiring di dalamnya. Contoh buku interaktif yang menarik bagi Arvind adalah The Fantastic Flying Books of Mr. Morris Lessmore.
Meskipun Arvind sudah mulai bisa memilih menu dan fitur yang tersedia di iPod tersebut, bukan berarti dia dilepaskan sendirian bermain dengan gadget tersebut. Kami tetap mengamati dan membimbing apa saja yang perlu dilakukan terutama jika dia mendapati ada fitur atau menu baru yang muncul dan dia belum tahu konteksnya. Selain itu, kami juga memilih kapan waktu yang tepat agar dia boleh bermain dengan iPod tersebut. Misal, kami tidak membolehkan dia melihat layar monitor apapun saat menjelang waktu tidur. Artinya, kami tidak ingin keasyikan 'bermain' dengan gadget tersebut melebihi rutinitas penting yang harus dia jalani seperti tidur, makan, dan berolahraga. Kami juga masih tetap memperkenalkan Arvind dengan buku non ebook sebagai sarana belajar.
Lesson Learned Balita Digital
Dari pengalaman Arvind, saya belajar bahwa balita dan anak-anak bisa bermain sambil belajar dari gadget sejak dini. Untuk meminimalisir dampak negatif yang mungkin muncul, kita tetap harus memsupervisi si anak ketika bermain. Selain itu, kita juga perlu memperhatikan dan menyiapkan gadget tersebut secara seksama terutama apa saja yang bisa dimainkan di gadget tersebut. Saya juga belajar untuk tidak terlalu ambisius dan memasang target bahwa si anak perlu belajar ini dan itu. Melainkan, saya belajar mengenali apa minat si anak dan kemampuan apa yang dia bangun ketika bermain dengan gadget tersebut. Contohnya adalah bagaimana Arvind menunjukkan minatnya terhadap musik dan bebunyian yang memiliki nada.
Terlepas dari fungsi dan peran baik dan buruk dari gadget bagi perkembangan balita dan anak-anak, saya belajar bahwa orang tua dewasa ini dituntut untuk mampu mengenali dan mengantisipasi kemampuan dan kecepatan anak-anak untuk belajar dengan atau tanpa kehadiran gadget. Namun, kehadiran gadget dewasa ini membuat kemampuan tersebut kian penting. Hal ini berlaku dalam kaitannya dengan kemampuan anak-anak memanfaatkan teknologi karena mereka akan terpapar teknologi sejak dini, baik disengaja atau pun tidak. Mengarahkan dan memperkenalkan teknologi sejak dini untuk kepentingan pendidikan menjadi tidak terhindarkan. Memusatkan perhatian pada aspek-aspek negatif dari teknologi terhadap perkembangan anak saja tidak cukup membantu kita untuk mengenali apa sebenarnya potensi anak-anak yang pada jamannya nanti dikelilingi oleh teknologi. Tata cara pendidikan yang digunakan selama ini, mulai perlu disesuaikan agar bisa menyiapkan anak-anak yang semakin melek teknologi ini untuk mampu menggali manfaat dari pemanfaatan teknologi bagi kesejahteraan mereka di masa depan.
Itulah sebabnya, menurut saya, pertanyaan yang tepat bukanlah "Apakah boleh bermain iPad?" atau "Umur berapa yang tepat untuk mulai bermain dengan gadget?". Melainkan, "Apa yang bisa dimainkan oleh balita di iPad?", "Bagaimana membimbing balita ketika bermain gadget?", "Apa yang bisa orang tua pelajari ketika si balita bermain iPad?"....
Copyright © Dewa Wisana. All rights reserved
Isu kritis yang cukup pelik terkait pemanfaatan gadget bagi keseharian adalah bilamana anak-anak dan balita boleh menggunakan gadget? Atau, umur berapakah balita atau anak-anak boleh berinteraksi dengan telpon genggam atau iPad atau komputer? Ada banyak studi yang mencoba menjawab pertanyaan tersebut. Kesimpulan dan pandangan yang muncul relatif terbagi dua kubu: pro dan kontra. Kedua kubu tersebut pada dasarnya mengklaim bahwa penggunaan gadget di usia dini bisa mempengaruhi perkembangan anak - pengaruhnya bisa negatif atau positif. Namun, media massa umumnya hanya membahas laporan dan diseminasi studi tersebut terutama yang memaparkan pengaruh negatif tanpa perimbangan dari studi tandingannya. Dengan kata lain, belum ada bukti yang komprehensif dan sinergis untuk menjawab peran gadget bagi balita dan anak-anak.
Sebuah survey di suatu kelompok Parenting menunjukkan bahwa hampir 20 persen balita mulai menggunakan smartphones sejak umur 2 tahun. Dan, hampir sepertiga balita akan mulai menggunakan laptop atau kamera digital saat mereka mulai duduk di bangku Taman Kanak-Kanak. Pola pemanfaatan gadget tersebut dikenalkan oleh orang tua mereka, baik secara langsung maupun tidak langsung.
Satu hal yang niscaya adalah generasi digital akan dihadapkan pada masyarakat yang dikelilingi oleh screens (layar monitor) yang hampir sebagian besar memiliki fitur touch (sentuh). Keyboard sudah menjadi pena pertama mereka, jika menggunakan stylus masih terbatas hanya untuk kegiatan seni grafis dan gambar. Dan, kertas-kertas coretan belajar menulis pertama kali yang dulu biasa berserakan di meja, akan bertebaran di komputasi awan (cloud computing) dalam berbagai format penyimpanan, seperti PDF, JPEG, dan sebagainya. Baiklah, saya setuju bahwa yang terakhir agak berlebihan... Hehehe.
Tanpa bermaksud mengecilkan potensi masalah yang pasti ada, saya pikir lebih baik kita mulai melihat fenomena balita digital ini dalam perspektif yang lebih universal yaitu kegiatan pendidikan. Jika di sekitar kita layar monitor di mana-mana dan berfitur sentuh, saya pikir tidaklah tepat jika kita tidak mulai memperkenalkan anak-anak sejak dini dengan fungsi teknologi tersebut. Seperti halnya komputer yang sudah menjadi teknologi yang umum dimiliki oleh sebagian besar rumah tangga di mana pun berada dan digunakan tidak hanya sebagai sarana hiburan melainkan juga sebagai instrumen pendidikan; mengapa tidak menggunakan teknologi tersebut untuk sarana pendidikan bagi balita dan anak-anak? Di sinilah dimulai sebuah pemikiran bahwa sistem pendidikan juga perlu berubah, berevolusi dan tumbuh sambil menyesuaikan diri dengan refleksi keseharian perkembangan baru balita dan anak-anak kita yang semakin terpapar teknologi digital. Singkat kata, sistem pendidikan harus menerima dan menyiapkan instrumen pengajaran yang menjawab tuntutan peserta didik yang memanfaatkan teknologi sejak dini.
Sedikit Pengalaman Arvind dan iPod Touch-nya
Saat tulisan ini disusun, anak saya – Arvind – sudah berumur 2 tahun. Menjawab pertanyaan pertama di atas, iya saya mengijinkan Arvind untuk bermain dengan iPad saya. Sesekali Arvind diperbolehkan menggunakan iPad, tapi dia pasti tidak boleh melihat iPad menjelang waktu tidurnya tiba. Saya sudah memperkenalkan Arvind dengan iPod Touch sejak dia berumur 20 bulan. Mengapa saya perbolehkan Arvind bermain dengan iPad dan iPod sejak dini?
Alasan saya lebih didasarkan pada antisipasi atas kemampuan Arvind di masa depan. Saya lihat Arvind, seperti halnya balita lainnya, sangat cepat menyerap dan menginternalisasi informasi: rutinitas, kata-kata, dan konteks. Misalnya, ketika dia melihat saya mengaktifkan telpon genggam saya – membuka kunci (unlock) handphone, dia mampu melakukan hal yang sama setelah dua kali melihat. Tidak berhenti sampai di situ, dia juga mulai mengeksplorasi menu dan fitur yang ada di handphone saya. Sejak itulah saya berpikir bahwa cepat atau lambat ia pasti akan 'menuntut' untuk bermain dengan teknologi tersebut. Daripada menunggu tuntutan tersebut muncul tiba-tiba, lebih baik saya mulai dan arahkan secara khusus ke menu dan fitur yang sesuai dengan umur dan perkembangan pembelajarannya.
Awalnya saya tunjukkan aplikasi untuk mengenal suara musik dan gambar-gambar interaktif yang menarik jika disentuh. Saat itu, saya sendiri yang men-supervisi penggunaan iPad atau laptop yang memuat aplikasi tersebut. Ketika dia memasuki usia 22 bulan dan mulai bisa bicara, Arvind belajar ABC dari iPod Touch-nya (iPod tersebut resmi saya lungsurkan ke Arvind saat itu) dan dia mulai belajar mengoperasikannya sendiri tanpa supervisi saya. Di iPod tersebut sudah saya muat berbagai aplikasi pembelajaran (learning apps) dan toddler games. Lebih kurang, ada 12 toddler apps dan 5 buku digital (eBook) interaktif serta beberapa video serial anak-anak seperti Thomas and Friends, The Wiggles, dan Bob the Builder.
Saat tulisan ini disusun, anak saya – Arvind – sudah berumur 2 tahun. Menjawab pertanyaan pertama di atas, iya saya mengijinkan Arvind untuk bermain dengan iPad saya. Sesekali Arvind diperbolehkan menggunakan iPad, tapi dia pasti tidak boleh melihat iPad menjelang waktu tidurnya tiba. Saya sudah memperkenalkan Arvind dengan iPod Touch sejak dia berumur 20 bulan. Mengapa saya perbolehkan Arvind bermain dengan iPad dan iPod sejak dini?
Alasan saya lebih didasarkan pada antisipasi atas kemampuan Arvind di masa depan. Saya lihat Arvind, seperti halnya balita lainnya, sangat cepat menyerap dan menginternalisasi informasi: rutinitas, kata-kata, dan konteks. Misalnya, ketika dia melihat saya mengaktifkan telpon genggam saya – membuka kunci (unlock) handphone, dia mampu melakukan hal yang sama setelah dua kali melihat. Tidak berhenti sampai di situ, dia juga mulai mengeksplorasi menu dan fitur yang ada di handphone saya. Sejak itulah saya berpikir bahwa cepat atau lambat ia pasti akan 'menuntut' untuk bermain dengan teknologi tersebut. Daripada menunggu tuntutan tersebut muncul tiba-tiba, lebih baik saya mulai dan arahkan secara khusus ke menu dan fitur yang sesuai dengan umur dan perkembangan pembelajarannya.
Awalnya saya tunjukkan aplikasi untuk mengenal suara musik dan gambar-gambar interaktif yang menarik jika disentuh. Saat itu, saya sendiri yang men-supervisi penggunaan iPad atau laptop yang memuat aplikasi tersebut. Ketika dia memasuki usia 22 bulan dan mulai bisa bicara, Arvind belajar ABC dari iPod Touch-nya (iPod tersebut resmi saya lungsurkan ke Arvind saat itu) dan dia mulai belajar mengoperasikannya sendiri tanpa supervisi saya. Di iPod tersebut sudah saya muat berbagai aplikasi pembelajaran (learning apps) dan toddler games. Lebih kurang, ada 12 toddler apps dan 5 buku digital (eBook) interaktif serta beberapa video serial anak-anak seperti Thomas and Friends, The Wiggles, dan Bob the Builder.
Beberapa waktu kemudian, saya amati bahwa Arvind bisa memilih aplikasi apa yang ingin ia mainkan. Dia juga sudah mulai bisa memilih video apa yang ingin dia tonton. Selain kemampuan menentukan sendiri pilihannya, dia juga mulai bisa meniru dan mengulang bahan pelajaran di aplikasi yang ia mainkan. Ia dengan cepat meniru lagu alfabet ABC, berhitung satu sampai sepuluh dalam bahasa Inggris (meskipun entah kenapa dia tidak pernah mau menyebut nine sebelum ten), membedakan big dan small, menyebut nama-nama binatang dan suaranya saat melihat gambar binatang tersebut, dan banyak hal lainnya. Satu hal yang paling diminati oleh Arvind adalah segala sesuatu yang berkaitan dengan musik. Di setiap film yang disaksikan, dia paling tertarik dengan theme song film tersebut. Atau, ketika bermain dengan apps pasti dia lebih responsif terhadap musik yang dimainkan oleh apps tersebut. Begitu juga dengan ebook, dia tampak menyimak buku yang menyajikan musik pengiring di dalamnya. Contoh buku interaktif yang menarik bagi Arvind adalah The Fantastic Flying Books of Mr. Morris Lessmore.
Meskipun Arvind sudah mulai bisa memilih menu dan fitur yang tersedia di iPod tersebut, bukan berarti dia dilepaskan sendirian bermain dengan gadget tersebut. Kami tetap mengamati dan membimbing apa saja yang perlu dilakukan terutama jika dia mendapati ada fitur atau menu baru yang muncul dan dia belum tahu konteksnya. Selain itu, kami juga memilih kapan waktu yang tepat agar dia boleh bermain dengan iPod tersebut. Misal, kami tidak membolehkan dia melihat layar monitor apapun saat menjelang waktu tidur. Artinya, kami tidak ingin keasyikan 'bermain' dengan gadget tersebut melebihi rutinitas penting yang harus dia jalani seperti tidur, makan, dan berolahraga. Kami juga masih tetap memperkenalkan Arvind dengan buku non ebook sebagai sarana belajar.
Lesson Learned Balita Digital
Dari pengalaman Arvind, saya belajar bahwa balita dan anak-anak bisa bermain sambil belajar dari gadget sejak dini. Untuk meminimalisir dampak negatif yang mungkin muncul, kita tetap harus memsupervisi si anak ketika bermain. Selain itu, kita juga perlu memperhatikan dan menyiapkan gadget tersebut secara seksama terutama apa saja yang bisa dimainkan di gadget tersebut. Saya juga belajar untuk tidak terlalu ambisius dan memasang target bahwa si anak perlu belajar ini dan itu. Melainkan, saya belajar mengenali apa minat si anak dan kemampuan apa yang dia bangun ketika bermain dengan gadget tersebut. Contohnya adalah bagaimana Arvind menunjukkan minatnya terhadap musik dan bebunyian yang memiliki nada.
Terlepas dari fungsi dan peran baik dan buruk dari gadget bagi perkembangan balita dan anak-anak, saya belajar bahwa orang tua dewasa ini dituntut untuk mampu mengenali dan mengantisipasi kemampuan dan kecepatan anak-anak untuk belajar dengan atau tanpa kehadiran gadget. Namun, kehadiran gadget dewasa ini membuat kemampuan tersebut kian penting. Hal ini berlaku dalam kaitannya dengan kemampuan anak-anak memanfaatkan teknologi karena mereka akan terpapar teknologi sejak dini, baik disengaja atau pun tidak. Mengarahkan dan memperkenalkan teknologi sejak dini untuk kepentingan pendidikan menjadi tidak terhindarkan. Memusatkan perhatian pada aspek-aspek negatif dari teknologi terhadap perkembangan anak saja tidak cukup membantu kita untuk mengenali apa sebenarnya potensi anak-anak yang pada jamannya nanti dikelilingi oleh teknologi. Tata cara pendidikan yang digunakan selama ini, mulai perlu disesuaikan agar bisa menyiapkan anak-anak yang semakin melek teknologi ini untuk mampu menggali manfaat dari pemanfaatan teknologi bagi kesejahteraan mereka di masa depan.
Itulah sebabnya, menurut saya, pertanyaan yang tepat bukanlah "Apakah boleh bermain iPad?" atau "Umur berapa yang tepat untuk mulai bermain dengan gadget?". Melainkan, "Apa yang bisa dimainkan oleh balita di iPad?", "Bagaimana membimbing balita ketika bermain gadget?", "Apa yang bisa orang tua pelajari ketika si balita bermain iPad?"....
Copyright © Dewa Wisana. All rights reserved
Thursday, May 17, 2012
dua tahun
Hari ini, Arvind berhasil menggenapi usianya yang kedua. Ia sudah mulai menunjukkan karakternya dan belajar banyak hal dari sekitarnya. Kami sebagai orang tua juga banyak belajar dari perkembangannya. Apa yang kini mampu ia lakukan dan tunjukkan serta potensi yang masih terus muncul selalu memberi gambaran baru bagi kami sebagai orang tua.
Singkat kata, kami sangat bersyukur dan berterima kasih atas segenap karunia yang dilimpahkan-Nya atas semua perkembangan yang dialami Arvind. Kami juga bersyukur dan berterima kasih atas semua yang boleh kami rasakan dan pelajari selama menjadi orang tua. Semoga semua yang Arvind dan kami peroleh bisa menjadi manfaat bagi kami dan semua orang di sekitarnya, kini dan nanti.
Selamat ulang tahun, anakku!
Copyright © Dewa Wisana. All rights reserved
Sunday, March 11, 2012
Property Right's of a Toddler
If I like it,I get the above poem from Arvind's day care and it is not clearly mentioned who wrote it. But, if you google it, you'll find it easily and always said "Author - Unknown". Despite of that, I am quite intrigue with the above poem and start to think that toddler sort of having a 'nice' idea about property rights.
... it's mine.
If it's in my hand,
... it's mine.
If I can take it from you
... it's mine.
If I had it a little while ago
... it's mine.
If it's mine, it must never appear to be yours in any way.
If I am playing with, or building something
all the pieces are mine.
If it looks like mine
... it is mine.
If I saw it first
... it is mine
If you are playing with something and you put it down
it automatically becomes mine
If it is broken
it is yours
Many people think that economic teaching on property right could lead any individual into a greedy spirit. While human naturally greedy, the lesson learned from toddler and their property right is that greed is NOT the same thing as property right. I believe I need to read and learn again about property rights to be able to teach the toddler about how to say "it's mine" in a proper but meaningful way.
Sunday, October 30, 2011
on marketing (a lesson learned from Apple)
The following excerpt from recent book of Steve Jobs by Walter Isaacson may offer us a good lesson on marketing.
[Mike] Markkula wrote his principles in a one-page paper titled "The Apple Marketing Philosophy" that stressed three points. The first was emphathy, an intimate connection with the feelings of the customer: "We will truly understand their needs better than any other company." The second was focus: "In order to do a good job of those things that we decide to do, we must eliminate all of the unimportant opportunities." The third and equally important principle, awkwardly named, was impute. It emphasized that people form an opinion about a company or product based on the signals that it conveys. "People DO judge a book by its cover," he wrote. "We may have the best product, the highest quality, the most useful software etc.; if we present them in a slipshod manner, they will be perceived as slipshod; if we present them in a creative, professional manner, we will impute the desired qualities." (page 78)If you learn or follow how Apple sell their product, then the above marketing philosophy adequately explain everything. One thing for sure, Steve Jobs was not the one who 'invent' or 'create' that marketing approach. It's Mike Markkula. He is a first big Apple investor and chairman. And in Isaacson's book, he's describe as a father figure to Steve Jobs.
Perhaps the philosophy will be beneficial for marketing student or expert to learn further. For me, it is just a feeling of me being a victim of a good marketing strategy. But, I do not regret it!
Wednesday, November 25, 2009
Lesson from parking fine
The picture above is a simple prove for the cost of testing whether a system works or not. Yes, it is a parking fine ticket. I was violating the law by parking on the spot that was not suitable with my parking permission that I have.
The motivation at the moment I did the violation was there should be a window of opportunity to buy some time before the parking check take place. The plan was just park the car for one or two hours then move to find another place to park. Unfortunately, I totally forgot about the strategy I've been set up and I expect that there will be no inspection by parking check officer that day (wrong expectation, I know). So, the inspection happened for sure. Then, I paid the fine.
Personally, this is an expensive way of learning that the system works in this country. Unlike in many developing country (such as my country), where you still have possibility to "bargain" with the system; the law system in most of developed country is quite strict and working well enough. I am not saying that the system working perfectly, but the degree might be significantly high. I other words, it is a reliable system if you wish for good public order.
I am just imagine how could this strict system could be apply in Indonesia? What are the ingredients to have such 'ideal' enforcement to work? Hopefully, this is not only a dream.
Wednesday, August 05, 2009
Another good lesson from Scandinavian
My admiration to Scandinavian has not yet over. In fact, it keep coming on due recent economic crisis where we see how the world, including most of developed as well as superpower countries, facing the global economic downturn. The article titled "Why Scandinavia can teach us a thing or two about surviving a recession" definitely could hinted us few things on how they respond to the crisis. The way Scandinavia respond to economic situation is not only due to the crisis, but also during their "happy" moment.
The bottom line of this strategy is to keep the economic transformation go on in sustainable pace and put the point of view in longer term by doing saving today for future better endowments. With a lot of natural resources that Indonesia have, this kind of strategy worth to be consider and to apply as it will definitely prevent the worse of another possible shocks as well as serve our future generations with sufficient wealth.
Let's change our perspective first and save for the better future...
One good lesson regarding natural resources richness management - as I assumed that Indonesia to some extent also having this kind of advantage - could be cited from Norway
Norway shines especially brightly: unlike Britain, it is saving its North Sea oil and gas revenue into a sovereign wealth fund, not worth 2.384 trillion kroner (£228bn), or 1.4 times its GDP. Only 4% of the fund goes into the national budget, the rest is saved for future generations. So when Norway needed to find money to stimulate the economy, it was able to find it without having to cut public budgets or increase taxes, as Britain is set to do.
The bottom line of this strategy is to keep the economic transformation go on in sustainable pace and put the point of view in longer term by doing saving today for future better endowments. With a lot of natural resources that Indonesia have, this kind of strategy worth to be consider and to apply as it will definitely prevent the worse of another possible shocks as well as serve our future generations with sufficient wealth.
Let's change our perspective first and save for the better future...
Wednesday, February 04, 2009
Menelpon tapi tidak tahu siapa yang ditelpon
Pagi ini aku menerima telpon dari nomor berikut ini: +6281383401140. Berikut ini adalah percakapan singkat yang terjadi
Aku (A): Halo
Si Penelpon (SP): Salam [salam agamis]. Selamat pagi.
A : Selamat pagi, saya bicara dengan siapa ya?
SP : Maaf kalau boleh mengganggu sebentar. Apakah betul nomor telpon ini adalah 0813856... (sekian-sekian) [dieja dan memang nomor telpon genggamku]
A : Betul
SP : Sebelumnya, boleh tahu nama bapak siapa?
A : Lho, Anda menelpon nomor saya tapi tidak tahu nama saya. Aneh! Anda dari mana ya?
SP : Yaaaa... Saya telpon nomor ini dan ternyata betul maka sementara ini saya panggil kamu dengan panggilan Andi ya?
A : Tidak, tidak! Saya ingin tahu Anda dari mana? Kok bisa Anda punya nomor hp saya tapi tidak tahu nama saya. Saya tidak mau bilang siapa nama saya!
SP : Kalau begitu saya panggil kamu dengan nama Andi ya.
Aku merasa tidak perlu melanjutkan dan langsung saya tutup. Si penelpon tidak berusaha menelpon lagi. Berarti ada yang aneh dengan panggilan dan penelpon tersebut.
Jujur saja, aku cukup emosi dengan telpon demikian. Aku tidak peduli bahwa percakapan tersebut diawali oleh salam pembuka yang religius dan bersahabat. Namun, karena tujuan menelpon tidak diungkapkan sejak awal. Ditambah lagi keanehan dimana si penelpon tahu nomor telponku tapi tidak tahu namaku, malah bertanya dengan nada menuntut (karena memaksa memanggil dengan nama yang dia sukai sendiri).
Selain itu, aku sebenarnya curiga. Biasanya, jika aku menerima telpon promosi produk dari bank misalnya, maka mereka akan dengan jelas menyebutkan diri dan memperkenalkan nama mereka. Setidaknya, aku masih berkenan mendengar apa yang ingin mereka sampaikan. Meskipun, pada akhirnya tentu aku tidak tertarik dengan penawaran mereka. Tapi, mereka masih bertutur dan bernada sesuai dengan etika berkomunikasi. Sedangkan orang yang menelpon dengan nomor tersebut, jelas-jelas tidak memiliki etika dan tata cara yang layak berkomunikasi.
Mohon maaf jika ada yang tidak berkenan, tapi bagiku nomor hp tersebut cukup mencurigakan jadi hati-hatilah jika Anda menerima telpon dari nomor tersebut atau juga nomor lainnya yang tidak Anda kenal sebelumnya.
Aku (A): Halo
Si Penelpon (SP): Salam [salam agamis]. Selamat pagi.
A : Selamat pagi, saya bicara dengan siapa ya?
SP : Maaf kalau boleh mengganggu sebentar. Apakah betul nomor telpon ini adalah 0813856... (sekian-sekian) [dieja dan memang nomor telpon genggamku]
A : Betul
SP : Sebelumnya, boleh tahu nama bapak siapa?
A : Lho, Anda menelpon nomor saya tapi tidak tahu nama saya. Aneh! Anda dari mana ya?
SP : Yaaaa... Saya telpon nomor ini dan ternyata betul maka sementara ini saya panggil kamu dengan panggilan Andi ya?
A : Tidak, tidak! Saya ingin tahu Anda dari mana? Kok bisa Anda punya nomor hp saya tapi tidak tahu nama saya. Saya tidak mau bilang siapa nama saya!
SP : Kalau begitu saya panggil kamu dengan nama Andi ya.
Aku merasa tidak perlu melanjutkan dan langsung saya tutup. Si penelpon tidak berusaha menelpon lagi. Berarti ada yang aneh dengan panggilan dan penelpon tersebut.
Jujur saja, aku cukup emosi dengan telpon demikian. Aku tidak peduli bahwa percakapan tersebut diawali oleh salam pembuka yang religius dan bersahabat. Namun, karena tujuan menelpon tidak diungkapkan sejak awal. Ditambah lagi keanehan dimana si penelpon tahu nomor telponku tapi tidak tahu namaku, malah bertanya dengan nada menuntut (karena memaksa memanggil dengan nama yang dia sukai sendiri).
Selain itu, aku sebenarnya curiga. Biasanya, jika aku menerima telpon promosi produk dari bank misalnya, maka mereka akan dengan jelas menyebutkan diri dan memperkenalkan nama mereka. Setidaknya, aku masih berkenan mendengar apa yang ingin mereka sampaikan. Meskipun, pada akhirnya tentu aku tidak tertarik dengan penawaran mereka. Tapi, mereka masih bertutur dan bernada sesuai dengan etika berkomunikasi. Sedangkan orang yang menelpon dengan nomor tersebut, jelas-jelas tidak memiliki etika dan tata cara yang layak berkomunikasi.
Mohon maaf jika ada yang tidak berkenan, tapi bagiku nomor hp tersebut cukup mencurigakan jadi hati-hatilah jika Anda menerima telpon dari nomor tersebut atau juga nomor lainnya yang tidak Anda kenal sebelumnya.
Monday, December 15, 2008
Ibu Indonesia Tahun 2008...
Dari Catatan Pinggir Goenawan Mohamad berjudul "Pelacur".
Selain gaya penulisan GM yang selalu 'luar biasa', kali ini aku lebih tersentuh lagi setelah membaca dan mencoba meresapi bagaimana perasaan dan pemikiran yang ada dibalik kisah yang disampaikan dalam Catatan tersebut.
Kisah tersebut seperti mesahihkan pendapatku tentang keberagamaan di Indonesia. Kaum yang nista dan dihinakan oleh kaum agamawan semakin terpinggir, padahal mereka mungkin adalah satu-satunya kaum yang masih jujur menjalani dan menjadi saksi hidup. Ketika semakin banyak orang-orang yang mengaku suci dan atau membela kepentingan umat [bukan 'umat manusia'], aku semakin jauh lebih salut dengan orang-orang yang tampak bekerja hina dan nista tapi mereka tidaklah pernah munafik dengan hidup yang mereka jalani. Oleh karena itu aku sangat setuju dengan GM bahwa Nur Hidayah adalah Ibu Indonesia Tahun 2008.
Untuk mengenal siapa Nur Hidayah, silahkan Anda membaca Catatan tersebut dan silahkan tinggalkan komentar dan pendapat Anda juga sudah menonton film dokumenternya.
Selain gaya penulisan GM yang selalu 'luar biasa', kali ini aku lebih tersentuh lagi setelah membaca dan mencoba meresapi bagaimana perasaan dan pemikiran yang ada dibalik kisah yang disampaikan dalam Catatan tersebut.
Kisah tersebut seperti mesahihkan pendapatku tentang keberagamaan di Indonesia. Kaum yang nista dan dihinakan oleh kaum agamawan semakin terpinggir, padahal mereka mungkin adalah satu-satunya kaum yang masih jujur menjalani dan menjadi saksi hidup. Ketika semakin banyak orang-orang yang mengaku suci dan atau membela kepentingan umat [bukan 'umat manusia'], aku semakin jauh lebih salut dengan orang-orang yang tampak bekerja hina dan nista tapi mereka tidaklah pernah munafik dengan hidup yang mereka jalani. Oleh karena itu aku sangat setuju dengan GM bahwa Nur Hidayah adalah Ibu Indonesia Tahun 2008.
Untuk mengenal siapa Nur Hidayah, silahkan Anda membaca Catatan tersebut dan silahkan tinggalkan komentar dan pendapat Anda juga sudah menonton film dokumenternya.
Thursday, December 11, 2008
artikel yang menarik tapi...
Artikel dari Koran Tempo.
Sebenarnya artikel yang menarik, tapi aku tidak berani memuat kutipan dan apalagi judulnya. Takut di-"serbu" oleh kaum moralis dan agamis. Mudah-mudahan ketakutanku ini berlebihan dan silahkan baca dulu baru berikan komentar atau hiburan untukku yang 'takut' ini. Terima kasih.
*senyum kecut
Sebenarnya artikel yang menarik, tapi aku tidak berani memuat kutipan dan apalagi judulnya. Takut di-"serbu" oleh kaum moralis dan agamis. Mudah-mudahan ketakutanku ini berlebihan dan silahkan baca dulu baru berikan komentar atau hiburan untukku yang 'takut' ini. Terima kasih.
*senyum kecut
Tuesday, December 09, 2008
tentang Maryamah Karpov

Setelah beberapa lama menunggu, akhirnya buku terakhir dari Tetralogi Laskar Pelangi yang berjudul “Maryamah Karpov: Mimpi-Mimpi Lintang” karya Andrea Hirata akhirnya terbit. Berikut ini adalah ulasan sederhana atas Maryamah Karpov. Patut dicatat bahwa tiga buku terdahulu dari Tetralogi Laskar Pelangi memberikan kesan tersendiri yang cukup kuat bagi para pembacanya, termasuk aku. Oleh karena itu, kesan pertamaku terhadap Maryamah Karpov pasti akan sangat bias oleh keberhasilan tiga buku sebelumnya.
Meskipun sempat terkejut dengan ketebalan bukunya, aku memilih untuk tidak pikir panjang dan mulai membaca Mozaik pertama yang berjudul Dibungkus Tilam, di Atas Nampan Pualam dengan harapan bahwa kualitas buku tersebut akan membuktikan dirinya sendiri terlepas dari tebalnya isi buku seperti halnya episode pertama Laskar Pelangi yang juga cukup tebal. Melewati mozaik-mozaik berikutnya aku cukup terpuaskan dan mulai kagum dengan masih konsistennya gaya penulisan Andrea Hirata dalam buku tersebut: mengandalkan latar belakang budaya dan bahasa Melayu Belitong dan sekitarnya serta humor yang sangat berkesan baik dari penggunaan kata dan kalimat atau penokohannya. Meskipun latah kosakata teknis akademis dengan bahasa-bahasa latin masih bertebaran di sana sini. Maryamah Karpov memuat lebih banyak lagi detil tokoh-tokoh yang menarik dan lucu. Sampai di tahap ini, Maryamah Karpov belum mengecewakanku.
Beberapa bagian yang menarik menurutku antara lain kisah tentang Arai yang akhirnya diterima oleh Zakiah serta berhasil mempersuntingnya menjadi istri. Adegan yang menggambarkan bagaimana Arai akan bertemu pertama kali dengan Zakiah setelah sekian tahun tidak bertemu sangat menghibur. Adegan yang paling mengharukan bagiku adalah saat prosesi pernikahan Arai dan Zakiah yang diakhiri dengan Arai yang mengaji dengan sepenuh hatinya (Ingat ketika Arai pertama kali menjadi anggota keluarga Ikal!). Selain kisah Arai, kisah lain yang sangat mengharukan adalah kisah Ayah-nya Ikal yang hampir naik pangkat tapi batal karena surat yang salah kirim. Juga kisah kedatangan dokter gigi Budi Ardiaz Tanuwijaya yang lama tidak mendapatkan pasien serta upaya Ketua Karmun yang menghebohkan untuk bisa membawa pasien pertama untuk sang dokter. Belum lagi kisah tentang asal muasal pemberian nama panggilan warga yang sangat kocak.
Hingga separuh tebal buku yang kubaca, aku mulai merasakan kekurangan yang terakumulasi perlahan namun pasti, dan terbukti hingga akhir buku kemudian. Sejujurnya, aku berharap terlalu banyak dengan karakter Maryamah Karpov karena terkait dengan judul, dan terutama A Ling yang sangat terkait dengan kisah pada tiga buku sebelumnya. Karakter Maryamah Karpov tidak mendapat porsi yang “cukup”, sehingga tak banyak bisa kuutarakan di sini. Tapi, yang paling kurang berkesan adalah kisah tentang A Ling yang baru mulai dibahas menjelang akhir. Hampir separuh buku berkisah terlalu berat di bagian upaya Ikal membuat perahu selama 7 bulan dengan tangannya sendiri. Walaupun bagian tersebut berhasil dikurangi fokusnya dengan kisah pelayaran yang penuh marabahaya dan cuilan riset sejarah tentang perompak dalam Mozaik ke 61 Pirates of the Caribbean yang menarik. Sebenarnya, detil-detil kisah yang ditawarkan sangat menarik tapi aku merasa banyak sekali yang tidak terkait langsung dengan A Ling. Ini agak menyebalkan untukku.
Kesimpulan: harus tetap kuakui bahwa Maryamah Karpov masih bisa dikatakan berhasil menawarkan kisah yang menarik. Detil-detil kisah dan penggunaan bahasanya sangat baik dan menghibur. Satu hal yang tetap sama ketika membaca buku ini dari halaman pertama hingga akhir, unsur kelucuan tak pernah berhenti dan sangat menggelitik. Kelucuan favoritku adalah ketika Mahar menunjukkan televisi portable bekas merk Sanyo yang dijadikan mustika keramat dalam lomba benda-benda mistik dengan Tuk Bayan Tula. Terlepas dari keistimewaan tersebut, aku merasa Maryamah Karpov tidak berhasil menjaga momentum puncak yang sudah dihantarkan oleh ketiga buku sebelumnya. Kisah Ikal dan A Ling terasa mudah sekali selesai dan menjadi penutup kisah panjang empat buku tersebut. Agak melankoli tapi kering detil. Padahal, kisah ini merupakan kisah yang ditunggu-tunggu dan ending-nya sangat patut disayangkan jika hanya demikian.
Singkat kata, aku sempat berharap bahwa Maryamah Karpov akan menutup Tetralogi Laskar Pelangi dengan ‘wah!’ seperti membaca Tetralogi Pramoedya Ananta Toer atau kisah Harry Potter. Namun, sayangnya harapanku belum terpenuhi. Walaupun demikian, untuk Anda yang sudah membaca tiga buku sebelumnya, Maryamah Karpov tetap wajib Anda baca untuk mengetahui bagaimana nasib kisah cinta Ikal dan A Ling atau menikmati kisah-kisah jenaka tokoh-tokoh yang diperkenalkan oleh Andrea Hirata.
Ulasan Maryamah Karpov yang lebih baik dan lengkap bisa dibaca di sini.
Tuesday, November 25, 2008
catatan yang wajib dibaca...
"Prediksi yang dibuat, juga oleh para pakar ekonomi, terbentur dengan kenyataan bahwa dasarnya sebenarnya guyah. ”Kenyataan yang sangat menonjol,” tulis Keynes, ”adalah sangat guyah-lemahnya basis pengetahuan yang mendasari perkiraan yang harus dibuat tentang hasil yang prospektif.” Kita menyamarkan ketidakpastian dari diri kita sendiri, dengan berasumsi bahwa masa depan akan seperti masa lalu. Ilmu ekonomi, kata pengarang The General Theory of Employment, Interest, and Money yang terbit pada 1936 itu, hanyalah ”teknik yang cantik dan sopan” yang mencoba berurusan dengan masa kini, dengan menarik kesimpulan dari fakta bahwa kita sebetulnya tahu sedikit sekali tentang kelak."Catatan tersebut selain mengangkat pemikiran Keynes, juga mengetengahkan sejarah pemikiran ekonomi yang cukup penting untuk diketahui terkait dengan bagaimana sistem ekonomi bekerja sepanjang sejarah. Bagiku pribadi, catatan ini mengingatkanku betapa pentingnya mengetahui dan belajar mengenai Sejarah Pemikiran Ekonomi. Sayang, mata kuliah ini tidak populer di kalangan mahasiswa...
Lengkapnya, silahkan baca Di Zaman Yang Meleset oleh Goenawan Mohamad.
Subscribe to:
Comments (Atom)