"Hinduisme dan Jainisme mempropagandakan bunuh diri mistis. Eksistensi individu tidak diakui dan hidup duniawi dianggap penderitaan. Kematian berarti pembebasan."
Embun hanyalah setetes pagi yang mencoba menyusun kata. Namun kata selalu mencari makna. Gerombolan pikiran yang berduyun mencari ruang. Tanpa aturan, tanpa batasan. Ada yang memicu, ada yang menginspirasi. Cetak peristiwa masa lalu, baru tadi atau cita-cita ke depan belum pasti. Dan... embun pun menetes jatuh lenyap terserap bumi tatkala fajar kian hangat. Bila kenan kan, nantilah hingga esok hari sebelum jadi pagi. Semoga masih kan ada susunan kata baru...
Tuesday, January 03, 2012
Koreksi dan argumen atas Opini Kompas tentang Hindu dan bunuh diri
Tuesday, February 08, 2011
déjà vu tentang kebiadaban
Ide "pembubaran" satu ajaran/agama, slalu mgingatkan saya dgn "pelarangan PKI" yg berujung pd diskriminasi hingga genocide. Resiko yg mahal!
Monday, March 02, 2009
Quote of the day: Kalimat suci...
Satu kalimat suci terkadang bisa membuat orang jadi lembut, tapi satu kalimat lain dari sumber yang sama bisa menghalalkan pembunuhan.Mungkin pada mulainya bukanlah agama. Agama, seperti banyak hal lain, terbangun dalam ambiguitas. Dengan perut dan tangan, ambiguits itu diselesaikan. Tafsir pun lahir, dan kitab-kitab suci berubah peran, ketika manusia mengubah kehidupannya. Yang suci diputuskan dari bumi. Pada mulanya bukanlah Sabda, melainkan Laku.
Thursday, December 11, 2008
artikel yang menarik tapi...
Sebenarnya artikel yang menarik, tapi aku tidak berani memuat kutipan dan apalagi judulnya. Takut di-"serbu" oleh kaum moralis dan agamis. Mudah-mudahan ketakutanku ini berlebihan dan silahkan baca dulu baru berikan komentar atau hiburan untukku yang 'takut' ini. Terima kasih.
*senyum kecut
these are the basic questions...
Indonesia is not only characterized by a diversity of cultures, every culture is characterized by diversity. There is simply no one, pure form of practicing a religion. Even if a pure religion did exist, we could have no way of knowing it. Even when an Indonesian morality does exist we have to ask the question: Who has the right to declare what is morally right and wrong? President Susilo Bambang Yudhoyono? The police? Judges? Religious organizations? My students themselves? Or their parents and teachers?
Thanks Berly for forwarding this interesting article.
Wednesday, November 12, 2008
Inilah sebabnya "Ekskusi Mati" jadi tidak tepat...
Dari Opini Kompas berjudul "Terorisme Pasca Eksekusi" oleh Khamami Zada, beberapa hal berikut sangat tepat dan secara sederhana patut diperhitungkan:
"Sebenarnya, eksekusi mati Amrozi dan kawan-kawan tidak menyurutkan gerakan terorisme di Indonesia. Mereka tidak gentar dan takut menerima eksekusi mati. Dalam ideologi teroris, tidak ada kata menyerah. Ada doktrin agama yang selalu menjadi spirit gerakan mereka, yakni mati syahid. Mereka meyakini, apa yang dilakukan adalah demi menegakkan agama Allah sehingga ketika mereka mati maka yang diperoleh adalah mati syahid dengan jaminan surga."
Jadi, meskipun MUI dan beberapa ormas Islam mengatakan sebaliknya, namun persepsi tersebut sudah mulai melekat di pikiran banyak simpatisan. Ok, sederhana saja, apakah setiap umat mengikuti setiap hal yang dikatakan MUI? Tidak kan! Buktinya FPI dan organisasi sejenis masih tumbuh subur dan aktif menjalankan aksinya.
"Berbagai adegan yang telah diperlihatkan Amrozi dan kawan-kawan, sejak melakukan aksi terorisme hingga dieksekusi mati, menunjukkan drama perjuangan. Ini pula yang terlihat dari pemberitaan di media (khususnya televisi) yang memperlihatkan betapa Amrozi dan kawan-kawan layak dijadikan ”pahlawan, hero, pejuang, dan pengobar semangat” dalam gerakan Islam."
Nah, ini dia maksudku sebelumnya bahwa diselesaikannya akhir perjuangan mereka dengan ditambah liputan media yang sangat lengkap, maka gelar sebagai "pahlawan, hero, pejuang dan pengobar semangat!" tak terelakkan. Dengan begitu, tidak tertutup kemungkinan bahwa akan ada yang terinspirasi untuk mengikuti jejak mereka.
Tak mengherankan jika kelompok Islam garis keras banyak mengambil kesempatan untuk mendatangi Amrozi di Nusakambangan (Cilacap) dan mengunjungi keluarganya di Tenggulun (Lamongan). Mereka seolah memberi dukungan atas apa yang Amrozi dan kawan-kawan lakukan.
"Pemberitaan media yang begitu menegangkan bisa jadi telah memberi persepsi kepada masyarakat bahwa apa yang telah dilakukan Amrozi dan kawan-kawan adalah benar dan mereka sedang dizalimi oleh pemerintah dengan keputusan vonis mati. Apalagi, gambar-gambar yang ditampilkan televisi lebih banyak dalam suasana heroik yang mengobarkan semangat.
Akumulasi persepsi yang terus terbentuk oleh pemberitaan media ini bisa membalikkan persepsi publik bahwa Amrozi dan kawan-kawan hanya sebagai tumbal kepentingan politik internasional. Kondisi seperti ini bisa mempersubur aksi terorisme karena mereka dianggap sebagai pejuang agama yang dijamin mati syahid."
Tidak bisa lebih setuju lagi dengan kedua paragraf di atas. Kalau ingin membuat singkat pernyataan tersebut, maka versiku adalah: 1) hukuman mati merupakan solusi yang malah memicu aksi terorisme baru, 2) media massa terutama media cetak dan televisi ikut berkontribusi atas timbulnya aksi terorisme baru tersebut. That's why I feel that the death sentence is stupid and press is damned!
Monday, November 10, 2008
...dan akhirnya cita-cita mereka pun tercapai

Ketiganya akhirnya dieksekusi dan telah sampai diperaduan mereka yang terakhir. Satu hal yang tampak hanyalah hukuman atas perbuatan mereka. Namun, hal lain yang tampak akan semakin mencuat di masa depan adalah bahwa perbuatan mereka didasari atas cita-cita untuk menjadi martir. Dengan dieksekusinya ketiga orang tersebut, maka cita-cita mereka dan umat pengikut mereka pun tercapai sudah.
Masyarakat pun bersuka ria atas terpenuhinya cita-cita ketiganya. Mereka kini menjadi panutan dan idola baru, terbukti seperti rencana pesta untuk merayakan kematian yang sangat didambakan oleh banyak umat demi ajaran yang mulia. Bahkan seorang agamawan mengatakan bahwa hal yang ketiganya lakukan haruslah ditiru karena seperti apa yang diajarkan oleh para nabi sebelum mereka.
Selamat untuk Amrozi, Mukhlas dan Imam Samudera sekalian atas tercapainya cita-cita kalian menjadi martir umat. Selamat atas keteguhan dan 'senyum' yang tiada putus hingga akhir atas keyakinan perbuatan kalian. Selamat atas kekukuhan niat tanpa penyesalan yang telah dihasilkan dari aksi kalian. Salam untuk para malaikat di surga...
Monday, November 03, 2008
civil disobedience from Bali!
"With the passing of the porn bill on Thursday, we hereby declare that we cannot carry it out because it is not in line with Balinese philosophical and sociological values," (Made Mangku Pastika, Governor of Bali)That is what I called Civil Disobedience, and it is really a great move from Bali. It could shows the power of "non-violence" movement. This is what we learned from the Great Mahatma Gandhi on how to keep our beloved country in unity and fight for it in a peaceful-non-violence way. And this is the best way as religious people.
Enough seeing and referring to "hardliner" groups with "God's name" behind them, but they keep brutally showing tortures, killing, violence in the name of peace and religion.
Friday, September 12, 2008
... artinya seluruh masyarakat Bali divonis "bersalah"
"Deni Aryasa dituding meniru dan menyebarluaskan motif fleur atau bunga. Padahal motif ini adalah salah satu motif tradisional Bali yang kaya akan makna. Motif serupa dapat ditemui di hampir seluruh ornamen seni di Bali, seperti gapura rumah, ukiran-ukiran Bali, bahkan dapatditemui sebagaimotif pada sanggah atau tempat persembahyangan umat Hindu di Bali.Anda mungkin ikut menghujat Malaysia kita mereka mengklaim lagu "Rasa Sayange" atau melarang lagu-lagu Indonesia diputar radio-radio Malaysia. Tapi apakah Anda juga ikut menghujat ketika membaca berita tersebut? Dan pertanyaan yang penting adalah siapa yang akan Anda hujat?Ironisnya, motif tradisional Bali ini ternyata dipatenkan pihak asing di Direktorat Hak Cipta, Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual Republik Indonesia pada tahun 2006 dengan nomor 030376. Pada surat keputusan Ditjen Haki, tertulis pencipta motif fleur adalah Guy Rainier Gabriel Bedarida, warga Prancis yang bermukim di Bali. Sedangkan pemegang hak cipta adalah PT Karya Tangan Indah milik pengusaha asal Kanada, John Hardy."
Aku pribadi ingin menghujat Direktorat Hak Cipta. Mereka memang benar-benar institusi yang korup dan tidak mengenal perikemanusiaan dan perikebangsaan. Hanya silau dan tergiur oleh uang, mereka dengan mudah mengesahkan pendaftaran motif dari negeri sendiri. Tidak ada yang aneh dalam proses tersebut karena Direktorat tersebut sudah jelas hanya melaksanakan "kepuasaan" mereka sendiri atas dasar uang yang mereka terima dari si pemegang hak cipta.
Selain itu, aku juga ingin menghujat Pengadilan Negeri Denpasar khususnya dan sistem peradilan di Indonesia pada umumnya. Bagaimana mungkin mereka melanjutkan tuntutan dari suatu produk hukum - keputusan Dirjen HAKI tentang paten tersebut - yang cacat tidak hanya dari sudut pandang legal tapi juga kemanusiaan? Bagaimana mungkin pengadilan bisa menganggap bahwa si seniman bisa dijadikan tersangka atas suatu hal yang sudah menjadi darah daging mereka dan seluruh masyarakat Bali? Jika sampai Deni Aryasa dinyatakan bersalah, itu artinya sama saja dengan mengvonis seluruh masyarakat Bali yang rumahnya memiliki ornamen Bali. Sungguh suatu kekejaman yang tak terperi...
Ini membuktikan secara nyata bahwa korupsi adalah agama yang dianut oleh orang-orang di Dirjen HAKI dan sistem peradilan Republik Indonesia.
Silahkan baca juga berita terkait, juga ini.
Thursday, June 26, 2008
Quote of the day: Iman Indonesia
"Gua", Catatan Pinggir Goenawan Mohammad – Majalah Tempo Edisi. 18/XXXVII/23 - 29 Juni 2008Iman selamanya akan bernama ketabahan. Tapi iman juga bertaut dengan antagonisme. Kita tahu begitu dalam makna keyakinan kepada yang Maha Agung bagi banyak orang, hingga keyakinan itu seperti tambang yang tak henti-hentinya memberikan ilham dan daya tahan.Tapi kita juga akan selalu bertanya kenapa agama berkali-kali menumpahkan darah dalam sejarah, membangkitkan kekerasan, menghalalkan penindasan.