Showing posts with label Bahasa Indonesia. Show all posts
Showing posts with label Bahasa Indonesia. Show all posts

Friday, May 10, 2013

Kompetensi Kurikulum 2013

Saya pernah membahas tentang perkembangan kurikulum pendidikan di Indonesia. Setelah itu, saya juga membahas sedikit tentang aspek penambahan jam pelajaran dari kurikulum terbaru tahun 2013. Kita bisa mengikuti perdebatan tentang kurikulum baru 2013 di berbagai media, silahkan di-google lebih lanjut jika tertarik mengikuti perdebatan tersebut.

Kali ini, saya hanya ingin berbagi beberapa kompetensi dasar yang dituliskan dalam draft dokumen Kompetensi Dasar Kurikulum 2013. Menurut info yang saya peroleh, konten yang disebutkan di sini masih draft, artinya masih mungkin mengalami perubahan. Namun, saya pribadi ragu bahwa dokumen ini akan mengalami perubahan yang berarti. Jadi, mari kita simak sedikit saja bagian dari kompetensi dasar ini, khususnya dibagian yang paling 'mencolok' idenya - bagi saya.

Bagian pertama yang paling mencolok bagi saya adalah Kompetensi Inti di setiap mata pelajaran dan kelas yang terkena dampak Kurikulum 2013, khususnya Kompetensi Inti nomor 1. Saya ingin memberi label kompetensi inti pertama ini sebagai "Kompetensi Inti Kerohanian". Kompetensi Inti tersebut berbunyi,
  • "Menerima dan menjalankan ajaran agama yang dianutnya" (Untuk Tingkat SD)
  • "Menghargai dan menghayati ajaran agama yang dianutnya" (Untuk Tingkat SMP)
  • "Menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya" (Untuk Tingkat SMA)
Dengan kata lain, para siswa/i diharapkan memiliki kemampuan inti sebagai individu yang beragama. Kompetensi Inti ini selalu mengawali setiap pembahasan Kompetensi Dasar yang akan dijabarkan. Sangat ideal!

Berikutnya adalah Kompetensi Inti Nomor 2 yang terkait aspek perilaku dan saya beri label sebagai "Kompetensi Inti Perilaku". Kompetensi Inti tersebut berbunyi,
  • "Menunjukkan perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, santun, peduli, dan percaya diri dalam berinteraksi dengan keluarga, teman, dan guru." (Untuk Tingkat SD)
  • "Menghargai dan menghayati perilaku jujur, disiplin, tanggungjawab, peduli (toleransi, gotong royong), santun, percaya diri, dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam dalam jangkauan pergaulan dan keberadaannya." (Untuk Tingkat SMP)
  • "Mengembangkan perilaku (jujur, disiplin, tanggung jawab, peduli, santun, ramah lingkungan, gotong royong, kerjasama, cinta damai, responsif dan proaktif) dan menunjukkan sikap sebagai bagian dari solusi atas berbagai permasalahan bangsa dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam serta dalam menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia." (Untuk Tingkat SMA)
Hebat?! Tentu! Saya tidak ingin membahas dan menjelaskan apa yang sebenarnya akan dibentuk terhadap para siswa/i dari Kurikulum 2013 tersebut. Jika Anda punya pendapat lain, saya persilahkan menyampaikan pendapatnya. Tapi bagi saya sendiri, sudah terlalu banyak pendapat dan ide-ide yang terlalu besar disampaikan di dalam Kompetensi Inti tersebut. Saya tidak ingin menambah rumit.

Bagian kedua yang paling mencolok bagi saya adalah Kompetensi Dasar yang mengikuti Kompetensi Inti. Ada beberapa mata pelajaran yang tidak menyebutkan Kompetensi Dasar terkait dengan Kompetensi Inti Kerohanian, antara lain Mata Pelajaran Bahasa Asing (Inggris, Mandarin, Perancis, dsb) untuk Tingkat SMA. Namun, ada beberapa mata pelajaran yang penting yang menyebutkan lebih dari satu Kompetensi Dasar yang terkait Kompetensi Inti Kerohanian tersebut. Berikut ini beberapa Kompetensi Dasar tersebut dan sedikit pendapat kenapa kita harus "Like" Kompetensi Dasar ini:

Kompetensi Dasar untuk Mata Pelajaran Bahasa Indonesia Tingkat SD Kelas VI:
1.1 Meresapi makna anugerah Tuhan Yang Maha Esa berupa bahasa Indonesia yang diakui sebagai sarana yang lebih unggul daripada bahasa lain untuk memperoleh ilmu pengetahuan.
1.2 Meresapi makna anugerah Tuhan Yang Maha Esa atas keberadaan ciri khusus makhluk hidup, hantaran panas, energi listrik dan perubahannya, serta tata surya.
Komentar: Baru tahu bahwa Bahasa Indonesia juga sebenarnya ilmu biologi dan fisika sekaligus astronomi.

Kompetensi Dasar untuk Mata Pelajaran Matematika Tingkat SMAKelas XII Bidang Kalkulus:
2.6 Memiliki motivasi internal mempelajari integral tentu dengan merasakan kebermanfaatan konsep dan aturan integral tentu dalam memecahkan masalah nyata terkait luas daerah, volume benda putas dan panjang kurva."
2.7 Menunjukkan rasa percaya diri dan memiliki sifat konsisten dalam menerapkan konsep dan sifat-sifat integral parsial dalam menyelesaikan masalah
Komentar: Andaikan saya diajarkan kalkulus agar memiliki percaya diri dan konsisten? Mungkin yang saya perlukan motivasi untuk belajar matematika terlebih dahulu...

Kompetensi Dasar untuk Mata Pelajaran Matematika Tingkat SMA Kelas X Bidang Aljabar:
2.1. Menunjukkan sikap senang dan percaya diri dalam menerapkan konsep dan sifat-sifat fungsi eksponensial dan logaritma dalam menyelesaikan permasalahan nyata
2.3 Memiliki sikap toleran terhadap proses pemecahan masalah yang berbeda dan kreatif sebagai terapan berbagai konsep dan aturan dalam sistem pertidaksamaan kuadrat dua variabel untuk memecahkan masalah nyata
Bidang Trigonometri:
2.6 Menunjukkan sikap kritis, jujur dan bekerja sama dalam menganalisis dan memecahkan masalah terkait persamaan trigonometri sederhana.
Komentar: Mudah-mudahan anak-anak Indonesia jadi tidak takut lagi belajar matematika aljabar seperti saya dulu...

Kompetensi Dasar untuk Mata Pelajaran Ekonomi/Akuntansi Tingkat SMA Kelas XII:
1.1 Mengamalkan ajaran agama dalam melakukan pencatatan dan perhitungan akuntansi
1.2 Menghargai ajaran agama dalam melakukan kerja sama dan perdagangan internasional
Komentar: Kelak Indonesia akan memiliki akuntan dan pakar perdagangan internasional yang religius...

Kompetensi Dasar untuk Mata Pelajaran Kimia Tingkat SMA Kelas X:
1.1 Menyadari keteraturan konfigurasi elektron dalam atom sebagai anugerah Tuhan
2.1 Berperilaku disiplin dengan meniru elektron yang selalu beredar menurut lintasannya
2.2 Berpilaku peduli kepada sesama dengan mengamalkan prinsip serah terima elektron membentuk senyawa ion yang stabil dalam kehidupan sehari-hari
Komentar: Demi ahli-ahli kmia yang religius dan berakhlak mulia di masa depan...

Sebenarnya masih banyak lagi Kompetensi Dasar yang mencolok seperti di atas untuk mata pelajaran lainnya. Tapi, seperti saya sebutkan di atas, saya tidak ingin menambah rumit mimpi-mimpi dari Kurikulum 2013 ini. Kalau saya sendiri pusing membaca Kompetensi Dasar ini, entah apa yang terjadi dengan anak-anak saya yang harus bersekolah dan menelan semua kemampuan tersebut...


Copyright © Dewa Wisana. All rights reserved

Wednesday, September 07, 2011

on "Indonesia Raya" and suicide rates

I love and really proud of my country's National Anthem – "Indonesia Raya". I have several of my own personal reason. And one good reason is that the anthem generate a feeling of happiness and high positive spirit. Recently, I found a research-based proof for such reason that makes me to love the anthem even more.

The research was indicate by David Lester, a professor at Richard Stockton College of New Jersey and the dean of suicide studies. From his current role and position you will obvious make a correct guess what will be his primary field of research. I found one of his work title “National Anthems and Suicide Rates” that tried to shows an association between a country's national anthem and its suicide rates. Here is the abstract of the study:
In the sample of 18 European nations, suicide rates were positively associated with the proportion of low notes in the national anthems and, albeit less strongly, with students' ratings of how gloomy and how sad the anthems sounded, supporting a hypothesis proposed by Rihmer. 
Definitely, there are quite a lot of caveats of this study. One obvious challenge is there are many factors correlate with and may affect national suicide rates in a particular country. For this posting purposes only, I would like to suggest you to believe that the result was true. So, if this finding is valid and could be link to Indonesia's national anthem, then I will excited to believe that Indonesia Raya is a national anthem that promote anti-suicide behaviour and brings a cheerful, upbeat and optimistic spirit to all Indonesian. Even without a support of any research finding, you should agree with such believe, I supposed.

Well, we may disregard any research based arguments and debating from another perspective on how national anthem may affect people behaviour in any countries. As for Indonesia case, we may also argued that Indonesia Raya had nothing to do with Indonesian livelihood, whatsoever. Yet, I still think that any nationalistic components of a country could generate an idea, a spirit, a mentality and behaviour of its people; and national anthem is one of them. Thus, we still need to learn and find out how to utilize them and bring any purposes of benefits by the people and to the people.

Finally, I will always love and proud of my country and its national anthem.  Long live great Indonesia!!
Enhanced by Zemanta

Tuesday, July 05, 2011

perlukah manual bahasa Indonesia?


Berita tentang penangkapan penjual iPad di Indonesia beberapa waktu lalu cukup mengherankan. Para penjual iPad tersebut ditangkap dengan dakwaan menjual produk tanpa buku manual bahasa Indonesia. Hal tersebut membuat pertanyaan salahkah menjual produk tanpa manual bahasa Indonesia menjadi wajar dan harus dijawab dengan jelas namun tetap kritis. Tapi yang harus kita jawab sebelum menjawab salah atau benar adalah seberapa perlukah manual berbahasa Indonesia untuk setiap produk?

Anda pasti akan menjawab PERLU! Mengapa? Pasti alasannya sangat sederhana: agar kita bisa menggunakan produk yang kita beli atau miliki sesuai dengan fitur dan kegunaannya. Selain itu, manual dengan bahasa yang dimengerti tentu akan membuat kita mampu menghindari kesalahan ketika menggunakan produk tersebut dan pada gilirannya menghindari kita dari gagal klaim atas jaminan purna jual (after sales product warranty) yang baku tersedia dari setiap penjualan.

Jika semua hal yang PERLU tersebut benar adanya, pertanyaannya menjadi lebih kritis lagi. Apakah Anda selalu membaca buku manual dari setiap produk-produk yang Anda beli? Untuk pertanyaan tersebut, saya yakin lebih dari setengah total konsumen dari suatu produk akan menjawab TIDAK. Mengapa? Karena biasanya produk-produk yang kita beli sudah memiliki fitur dan fungsi yang penggunaannya relatif kita kenal secara baik. Misalnya kita sudah tahu berbagai fitur dan fungsi dasar dari produk-produk elektronik seperti ponsel, komputer, televisi, pemutar video, dan sebagainya. Para konsumen biasanya baru perlu membaca buku manual jika ada fitur dan kegunaan yang berbeda dibandingkan produk-produk sejenisnya. Namun, kebanyakan konsumen pasti mampu mengenali dan mengetahui fitur-fitur yang berbeda tersebut setelah mencobanya terlebih dahulu bukan dengan membaca buku manual.

Pemerintah, khususnya Kementerian Perdagangan, pasti punya alasan 'ajaib' lain untuk membuat kebijakan yang mewajibkan semua produk elektronik harus dilengkapi dengan bahasa Indonesia. Padahal, kita bisa menduga bahwa konsumen produk-produk elektronik yang tidak membaca buku manual dan atau mampu membaca buku manual berbahasa asing umumnya berasal dari kalangan yang relatif terdidik dan kelompok ekonomi menengah ke atas. Artinya, mereka pada dasarnya mampu mempelajari dan membaca buku manual bahasa asing, setidaknya bahasa Inggris.

Kecenderungan tersebut sebenarnya sudah terbaca oleh para produsen. Akhir-akhir ini kita semakin sering menjumpai produk-produk elektronik yang tidak menyediakan buku manual yang berlembar-lembar dan tebal wujudnya, melainkan hanya memberikan semacam 'panduan cepat' (Quick Start Guide) yang berwujud seperti leaflet atau selebaran yang mudah dibaca dan diikuti karena dilengkapi dengan gambar dan ilustrasi. Apakah perlu belajar bahasa Inggris dulu? Gambar dan ilustrasi di panduan cepat tersebut membuat bahasa menjadi tidak relevan lagi. Bahkan anak usia 5 tahun pun sudah mampu mengaktifkan ponsel orang tuanya, tanpa perlu membaca buku manual! Jika pun Anda masih memerlukan manual, kita bisa mendapatkannya dengan mudah di internet dan tersedia dengan berbagai bahasa.

Kita sedang menyaksikan semakin pesatnya perkembangan produk-produk elektronika, khususnya produk-produk komputer dan telematika yang bukan saja ditunjukkan dengan semakin beragamnya jenis dan merek yang ditawarkan tapi juga semakin mudahnya produk-produk tersebut digunakan. Berbagai produk telematika seperti ponsel, komputer dan perangkat tablet seperti iPad dewasa ini kian mudah digunakan tanpa perlu bergantung pada sebuah buku manual. Apple sendiri sebagai produsen iPad mengklaim bahwa para konsumen bisa menggunakan produk mereka "segera" setelah produk tersebut keluar dari kemasannya. (Apple bahkan menyediakan video panduan - Guided Tours - yang membuat konsumen semakin mudah untuk menggunakan iPad). Kondisi tersebut seolah menampik kebijakan perdagangan yang bernafaskan 'nasionalisme kerdil' - seperti kewajiban menyediakan manual bahasa Indonesia, karena tidak memiliki manfaat atau kebutuhan yang mendesak baik bagi konsumen Indonesia sendiri maupun perkembangan industri dan perdagangan dalam negeri.

Jika memang ada konsumen merasa dirugikan ketika membeli sebuah kalkulator yang tidak menyediakan manual bahasa Indonesia mengapa konsumen tersebut masih membeli kalkulator tersebut?
Enhanced by Zemanta

Tuesday, January 12, 2010

On "Google" and "Tweet"

According to this report, "Google" is selected as word of the decade. And, "Tweet" is selected as word of the year.

I am just wondering now, what would be the possible translation of Google and Tweet into Indonesian language?
*Please note, I am looking for non absorption language to be able to make them really Indonesian language without any excuses.

Tuesday, July 14, 2009

incumbent=petahana (?)

Ehm, aku harus mulai membiasakan (atau mengingat?) terjemahan bahasa Indonesia tersebut.


Monday, June 22, 2009

My support to my beloved Indonesia


You should see at the bottom of the my new shoes box to guess what I mean by "support" is.

I need a walking shoes and this shoes should have additional function for hiking as well. I do not want to have several shoes for different purposes. After few hours looking for different type of shoes and various price tags, I end up with this one.

I like its model and functionality. But, the most thing that makes me "proud" is that the best shoes that fit with my foot and my interest is made in Indonesia. Ok, you may say that I am a bit chauvinist or irrational. But, what can I say? This shoes really fit in and it rise me with another feeling - my patriotism (or anti-neoliberalism?? what the hell!).

There are other types of them (from the same brand), but they are made by Vietnam or China. My nationalism mixed up with my needs, and somehow both of them agreed on one point. I love good product, with affordable price and I hope Indonesian industries keep on trying to make their goods (export) to be as good as the one that I bought today.

Merdeka!


Monday, March 16, 2009

Integrasi sistem peng-upah-an


Alkisah, di suatu era dimana terdapat pemimpin baru di sebuah Universitas terkemuka di negeri Republik. Sang Rektor dengan gagah berani mencanangkan sebuah kebijakan yang disebut Integrasi Sistem Remunerasi (baca: Peng-Upah-an) yang konon dilakukan untuk meningkatkan transparansi dan efisiensi di Universitas terkemuka tersebut. Tanpa perlawanan dan diskusi yang berlarut-larut, semua warga dan anggota Universitas tersebut mengikuti sistem baru nan hebat itu.

Dahulu, sebelum sistem 'hebat' tersebut dijalankan, jalannya sistem peng-upah-an secara kasat mata dirasakan cukup lancar dan tidak ada masalah yang sistemik pada tingkat fakultas. Entah bagaimana sistem non-integrasi tersebut dijalankan, namun secara pasti berbagai bentuk balas jasa seperti honor, upah dan sebagainya di Fakultas dibayarkan dengan mekanisme yang cukup lancar. Tidak ada keterlambatan dan semua pihak menerima jumlah yang sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan. Tidak ada keluhan atau pun hal-hal yang dirasakan mengganggu. Yang pasti, warga fakultas menerima apa yang menjadi hak mereka atas kewajiban yang telah dilaksanakan tepat pada waktunya.

Kini, sudah 3 bulan sejak Sang Rektor memaksa terlaksananya sistem integrasi tersebut. Tanpa persiapan yang memadai dan kesigapan dari sumber daya manusia di tingkat pusat (baca: Rektorat), sistem tersebut dijalankan dan mulai menuai berbagai intrik, masalah, dan ketidakadilan. Yang paling dirasakan saat ini adalah terlambatnya remunerasi dibayarkan (baca: ditransfer) kepada yang berhak. Selain ketidaktepatan waktu, masalah lain yang timbul adalah jumlah yang diterima juga tidak jelas, jika tidak bisa dibilang tidak sesuai dengan yang dijanjikan. Padahal, pada saat Sang Rektor berkampanye dan menjual idealisme-nya, beliau berjanji akan meningkatkan kesejahteraan dalam bentuk menaikkan upah para pengajar.

Namun, apa lacur. Belum lama menguasai tampuk pimpinan beliau malah mengurangi "balas jasa" para pengajar bahkan membayarnya secara terlambat. Sebagai contoh, "balas jasa" beberapa dosen yang secara rajin mengajar di bulan Februari lalu sama sekali belum dibayarkan sepeser pun hingga lewat pertengahan bulan Maret ini. Tanpa penjelasan atau pemberitahuan perihal sebab musabab hal ini, banyak para dosen yang harus menerima kenyataan bahwa mereka bekerja tanpa dibayar hingga hampir 2 bulan lamanya. Ada lagi beberapa pengajar yang menerima transfer balas jasa mereka, tapi jumlah yang diterima tidak sampai sepertiga dari perhitungan jumlah kelas yang dia ajarkan. Artinya, mereka dibayar tidak sesuai dengan kewajiban yang sudah mereka laksanakan. Kembali, tidak ada penjelasan atau pemberitahuan mengapa jumlahnya tidak sesuai.

Pihak-pihak berkepentingan dan terkait sudah ditanya, namun jawaban mereka selalu berputar di hal-hal teknis: kesalahan transfer di bank, antri dan menunggu giliran, rekapitulasi dari fakultas belum lengkap, dan sebagainya. Bahkan ada yang menjawab tidak tahu. Tidakkah ini berarti bahwa sistem integrasi ternyata belum siap dijalankan secara penuh? Pertanyaan tersebut boleh digunakan untuk mengganti pernyataan bahwa mungkin sistem tersebut gagal total. Yah, hanya Sang Rektor nan hebatlah yang bisa menjawab dengan pasti mengapa sistem 'hebat' yang beliau tawarkan tidak mengganggu transfer upah beliau sendiri melainkan menghambat pun memotong upah dari para stafnya yang langsung berhadapan dengan para mahasiswa.
Anda pasti bertanya, apa mungkin ada universitas yang demikian di Indonesia? Jika Anda bertanya pada para pejabat di negara Indonesia, mereka pasti akan menjawab tidak ada. Dan mereka akan mengatakan bahwa universitas tersebut ada di negara tetangga Indonesia yang bernama negara Republik.

Iya, negara Republik sebagai negara tetangga Indonesia mempelajari apa yang dialami oleh Indonesia dan bagaimana Indonesia selama ini menjalankan pemerintahannya. Mungkin, negara Republik mempelajari bahwa sistem desentralisasi atau otonomi daerah yang dijalankan oleh Indonesia tidak berhasil mengangkat kesejahteraannya, maka negara Republik mencoba melakukan eksperimen dengan Universitas terkemuka mereka dan menerapkan sistem sentralisasi (atau "Integrasi") agar tidak mengalami seperti apa yang dialami oleh negara Indonesia. Sang Rektor Universitas terkemuka di negara Republik tersebut dengan bangga menjalankan berbagai program sentralisasi nan hebat tersebut, dan mengklaim bahwa kebijakan tersebut akan membawa perbaikan dan kemajuan bagi Universitas. Namun, menurut berita dari harian-harian terkemuka di negara Republik, yang terjadi justru sebaliknya.

Sebuah kisah yang menarik, bukan? Aku akan tetap memberi kabar terbaru dalam posting selanjutnya.


Friday, October 17, 2008

Direktif presiden?

Jika Anda melihat harian The Jakarta Post Kamis, 16 Oktober 2008 maka Anda akan menemukan salah satu foto di bagian 'headline' sedang menampilkan Presiden SBY sedang melakukan presentasi di depan kepala-kepala daerah. Ada yang menggelitikku dalam slide yang sedang beliau sajikan. Di situ tertulis, "Direktif Presiden"

Adakah diantara Anda yang mengetahui, apakah kata "direktif" sudah menjadi kata serapan asing ke dalam bahasa Indonesia??

Istrindaku berkata, "Mungkin si pembuat presentasi Presiden SBY tersebut baru saja nonton film Wall-E?". Bagi Anda yang belum menonton film tersebut, dalam salah satu adegannya, ada dialog yang menggunakan kata "Directive" untuk menjelaskan tugas yang harus dilakukan oleh robot yang berperan dalam film tersebut.

Ah, susah untukku menjelaskannya. Bagiku, kata tersebut terlalu "aneh" (jika tidak bisa dibilang "asing") dalam kosakata bahasa Indonesia. Kenapa Presiden SBY tidak menggunakan kata "instruksi" atau "perintah" saja sekalian? Bukankah kedua kata tersebut ada dalam daftar kosakata bahasa Indonesia?

Monday, July 14, 2008

destinasi? Duh!

Istriku menceritakan bahwa ia saksikan dan dengar ketika menonton pemilihan Putri Pariwisata Indonesia 2008. Dan ia menanyakan hal berikut:
"Apakah kata 'destinasi' itu sudah baku? Bukankah bahasa Indonesia untuk 'destination' itu seharusnya 'tujuan'? Seperti kita biasa menterjemahkan 'destination area' menjadi 'daerah tujuan'??"
Aku hanya bisa menjawab, "Ah, lagi-lagi penggunaan bahasa Indonesia yang jorok."

Thursday, July 03, 2008

surel dan selebrasi

Seorang teman berpendapatan bahwa penggunaan bahasa yang dilakukan oleh seorang individu bisa menunjukkan kemampuan pikirnya. Aku kemudian berpikir bagaimanakah sebenarnya kemampuan berpikir kita di Indonesia yang menggunakan bahasa persatuan, Bahasa Indonesia? Pertanyaan tersebut timbul dan semakin menguat setelah akhir-akhir ini aku semakin sering menemukan kata-kata yang asing dan aneh serta memancing kebingungan dalam tataran penggunaannya. Kata-kata tersebut sering muncul baik di pelbagai surat kabar terkemuka di Ibukota maupun di televisi terutama ketika memberikan terjemahan atas film-film berbahasa asing.

Salah satu kata yang belakangan kerap kubaca adalah "surel". Ketika pertama kali membaca kata tersebut, aku cukup bingung dan bertanya-tanya, kata apakah ini? Setelah beberapa lama kemudian aku mengetahui bahwa "surel" adalah bahasa Indonesia untuk "email", dan surel merupakan bentuk penyingkatan (akronim) dari "surat elektronik".

Untuk kata yang didasarkan pada bentuk penyingkatan, mungkin kita hanya perlu membiasakan diri saja untuk menggunakannya. Namun, setelah sekian lama kita mengadopsi atau menyerap kata "email" ke dalam perbendaharaan kosakata kita sehari-hari, rasanya akan cukup sulit bagi kebanyakan kita untuk mulai menggunakan "surel" dibandingkan "email". Belum lagi jika kita kerap sudah sering mendengar orang melafal "email" dengan "imel". Dalam hal ini, kosakata "surel" tersebut mungkin harus lebih sering dikumandangkan dan dilatih dalam kelas-kelas pelajaran bahasa Indonesia. Jika kita memang sepakat untuk menggunakan kata tersebut di masa datang.

Satu contoh kata dengan akronim yang sekarang sukses digunakan adalah "ponsel" atau "telpon seluler", untuk menggantikan "handphone" yang dulu sudah mempopulerkan "telpon genggam". Karena mungkin "telpon genggam" sulit untuk disingkat maka "telpon seluler". Coba, siapa yang setuju jika telpon genggam kita singkat menjadi "pon-gam"? Hati-hati jangan sampai tanda pisahnya dicabut karena cara bacanya jadi akan membuat dahi berkerut.

Ada kata-kata lain yang lebih bersifat serapan tapi belakangan ini jadi sedikit mengganggu dan menggelikan - setidaknya menurut pemikiranku - karena cara penyajiannya. Kata-kata tersebut biasanya diserap dari bahasa Inggris dan hanya diganti satu dua hurufnya saja agar disesuaikan dengan lafal huruf di dalam bahasa Indonesia. Satu contoh kata tersebut adalah "selebrasi", yang berarti "perayaan".

Terdapat dua gangguan dan kegelian yang kurasakan atas kata tersebut. Pertama, kata tersebut sesungguhnya sudah memiliki kata dalam bahasa Indonesia sendiri yang aku yakin sudah sering digunakan dalam berbahasa Indonesia sehari-hari. Misal, sejak dulu kita sudah sering menggunakan istliah "Perayaan Hari Kemerdekaan" atau "Perayaan Hari-Hari Besar Keagamaan" dan masih banyak lagi. Jika kemudian kita harus menggunakan kata "selebrasi", maka misalnya akan terdengar menjadi "Selebrasi Hari Kemerdekaan" atau "Selebrasi Idul Fitri" atau "Selebrasi Ulang Tahun" dan sebagainya. Ah, itu terdengar dan terbaca aneh. Siapa yang bersedia mengganti kata-kata tersebut seperti demikian?

Kedua, kata "selebrasi" bagiku terdengar menjadi kata yang "jorok". "Jorok" disini dalam pengertianku adalah karena diserap tanpa pemikiran estetis dan terkesan asal-asalan. Mengapa demikian? Coba saja tengok kata dasar dari "selebrasi" yang berasal dari bahasa Inggris, yaitu "celebration". Jika kita tahu kata dasar "celebration" adalah "celebrate", maka kata serapan untuk perayaan tersebut seharusnya bukan "selebrasi" melainkan "selebret". Inilah sekedar permainan makna kata dasar yang menunjukkan bahwa kata "selebrasi" terkesan "jorok" karena terkesan asal-asalan ketika digunakan tanpa memperhatikan akar katanya. Ditambah lagi tidak ada pemikiran estetis di situ karena hanya mengganti huruf "c" dengan "s" dan "tion" dengan "si". Sesuatu yang jelas menunjukkan kedangkalan berpikir si pengusul kata tersebut karena ia enggan memikirkan keelokan penggunaan kata tersebut kelak jika sudah digabungkan dengan kata-kata lain untuk membentuk kalimat.

Nah, jika Anda kelak membaca juga kata-kata lain yang aneh dan membuat Anda miris sekaligus berpikir bolehlah berbagi dan saling mengingatkan agar jangan terjebak pada pola pikir yang dangkal.