Embun hanyalah setetes pagi yang mencoba menyusun kata. Namun kata selalu mencari makna. Gerombolan pikiran yang berduyun mencari ruang. Tanpa aturan, tanpa batasan. Ada yang memicu, ada yang menginspirasi. Cetak peristiwa masa lalu, baru tadi atau cita-cita ke depan belum pasti. Dan... embun pun menetes jatuh lenyap terserap bumi tatkala fajar kian hangat. Bila kenan kan, nantilah hingga esok hari sebelum jadi pagi. Semoga masih kan ada susunan kata baru...
Monday, June 22, 2009
My support to my beloved Indonesia
Saturday, May 16, 2009
Untitled
Jangan biarkan aku menemukan kesalahan orang-orang selain aku, namun
biarkanlah aku terus menemukan hanya kesalahan yang menjadi milikku seorang.
Jangan biarkan aku mengkerdilkan kehidupan, namun
biarkanlah aku terus mengembangkan kehidupan bagi segenap makhluk berikut semestanya.
Jangan biarkan aku tak sedikit menyadari kehadiranmu dan seluruh umat tanpa kecuali, namun
biarkanlah aku menemukan dan menikmati setiap cuil hadirmu bersama mereka sekalian umat manusia.
Abadikanlah sebuah doa sederhana untuk semua selain diri sendiri...
bersama angin malam
Angin malam tak pernah boleh berhenti, ia harus terus berhembus. Itu yang dijeritkan dan dituntut oleh dia dan mereka. Ia tak pernah diberi pilihan, hanya hukum alam yang coba ia jalani. Mengisi ruang yang belum terisi atau keluar dari ruang yang sudah penuh terisi. Ia yang menjaga keseimbangan, tapi tak ada satu pun yang pernah menghiburnya. Aku tak bisa mengucapkan apapun padanya, tidak pujian pun kasihan. Aku pun secara tak sadar sering merasa demikian. Mungkin karena itulah, seiring malam kian dalam dan perjalanan sepi belum pula berhenti mendatang, kian dekatlah kami berdua.
Selebihnya, aku sedang tak ingin berbagi dengan kalian tentangku bersama angin malam. Kami berdua begitu saling mengerti. Jangan kalian tanya kenapa, aku tak yakin bilamana kalian bisa mengerti sedikit pun.
Tuesday, May 12, 2009
Jual Cepat: LCD Monitor 17"
Jual Cepat: 2 External Harddisk
Jual Cepat: Uninterruptible Power Supply
Jika ada yang membutuhkan sebuah Uninterruptible Power Supply (UPS), merk ProLink kode produknya: UPS ProLink Pro-650P. Kondisi masih baru, karena belum sempat digunakan, manual dan kabel masih lengkap. Cuma tidak ada kardusnya saja. Harga penawaran: Rp. 500ribu.
Sunday, May 03, 2009
Obituari: Saung04
Pada awalnya kami adalah sekumpulan penghuni suatu blok di sebuah perumahan bernama Permata Depok Regency (PDR). Kami mendapati sebidang tanah yang tidak diurus oleh sang developer – PT Citrakarsa Hansaprima. Tanah tersebut tampak kumuh serta dihuni ilalang yang tinggi dan lebat serta berbagai hewan melata. Saluran airnya penuh sampah yang terjebak arus air yang tak mengalir. Letak tanahnya tinggi sehingga mewujud tebung yang kerap longsor ketika hujan deras berkunjung. Saluran airnya yang lebar selalu meluap dan menimbulkan banjir jika hujan deras datang. Kami melihat kesia-siaan yang abadi di tanah tersebut. Kami merasakan ketidakpedulian sejati dari Sang Developer. Dan kami pun merasa harus berbuat sesuatu. Maka muncul kemudian ide mendirikan Saung.
Wednesday, April 08, 2009
'golput'
The Starbucks free coffee promotion is one classic example on how incentives works. During non-working day due to general election, they try to attract customers attention by inviting them to Starbucks. The same situation also apply with the general election (April 9, 2009), where most of the candidates also tried to attract voters' attention and wish to get vote as much as possible. The main problem with the candidates is that they not clearly offered the incentives to the voters to vote them. In my opinion, I am not getting any idea on why I have to vote them. You may take a look the reasons why I am not preferred any of the candidates at all here and here.Regarding the picture above, it should be very clear for many of you that not using my vote is my right. In fact, by not using my vote I am creating a constructive incentives for political actors to be better. Why? Because if I consciously using my preferences then I should expect the best candidates will appears and not only the "free-riders" type of candidates. Thus, this year I will let the "nonsense" candidates playing in the political arena but I will not vote for them. Rather, I might be going to the Starbucks to enjoy the free coffee as it is more beneficial for me definitely. I will enjoy my coffee while I am waiting for potential candidates and better election systems in Indonesia to be working well together. Finger cross!
Happy vote my fellow Indonesian!
Monday, March 30, 2009
keuntungan dibalik penderitaan

Silahkan kritis dan mengolah pehamaman Anda semua dengan segenap hati nurani dan pikiran jernih, di negeri manakah ada kesenangan dan keuntungan yang diambil saat bencana baru saja terjadi? Hanya di negeri Indonesia...
Akan tetapi, di tengah bencana, banyak juga warga yang datang ke lokasi sekedar untuk melihat atau berfoto. Kondisi ini dimanfaatkan oleh sebagian orang dengan cara mengutip biaya.

Saturday, March 28, 2009
sekali lagi alam bersabda...
Namun demikian, doa dan kepedulian saja tidak cukup. Tidak cukup untuk mencegah bencana serupa tidak terjadi lagi. Pesan yang jelas hadir setiap hari di negeri Indonesia ini adalah alam telah bersabda dengan menunjukkan betapa tidak pedulinya kita - umat manusia Indonesia - akan potensi yang dimiliki negerinya sendiri. Kita terlalu sering tidak peduli (ignorance) bahwa kita terlalu asyik dengan penguasaan dan kenyamanan. Kita lupa bahwa alam kita manfaatkan hingga batas-batasnya terlampaui. Dan alam, bukan melawan balik, melainkan menunjukkan ketidakmampuannya untuk terus menyenangkan umat manusia Indonesia terus menerus.
Kita bisa sebut curah hujan yang tinggi sebagai penyebab jebolnya tanggul di Danau Situ Gintung. Tapi, apakah menyalahkan curah hujan yang tinggi akan mencegah kejadian serupa tidak terulang? Tidak. Karena bukan itu penyebab utamanya. Pendangkalan yang terjadi di danau tersebut tidak kurang sebabnya karena ketidakpedulian masyarakat dan pemerintah akan kinerja situ tersebut. Situ Gintung bukan tempat yang kekuatannya tak terbatas, dan kita sudah melampui batas tersebut.
Apakah kita masih diam dan tidak peduli? Bukan hanya pada kasus situ, danau, bendungan, atau sistem irigasi lainnya. Melainkan pada daya dukung lingkungan terhadap pesatnya "pemuasan" yang ingin didapat oleh manusia. Cobalah sedikit merenung dan melihat di sekitar kita, sudahkah kita memperhatikan kerusakan lingkungan yang timbul akibat perbuatan kita sehari-hari selama bertahun-tahun?
Wednesday, March 25, 2009
Renungan Hati dalam Sunyi: "Selamat Tahun Baru Caka 1931"
Kutipan sederhana oleh Gede Prama dalam artikelnya yang berjudul Bunga Tidak Pernah Bersuara,
"Hidup serupa bawang merah. Di luar kotor kecoklatan. Tatkala dibuka jadi putih. Semakin dibuka semakin putih. Tambah dibuka tambah putih. Dan, tatkala tidak ada lagi yang bisa dibuka, yang tersisa hanya air mata yang meleleh."
Wednesday, March 18, 2009
Status 7: Pekerja tak dibayar
Setelah diberlakukannya integrasi sistem peng-upah-an di Universitas terkemuka di negara Republik selama 3 bulan, secara kebetulan kantor statistik di negara Republik baru-baru ini juga melakukan survey angkatan kerja untuk mengetahui dampak krisis ekonomi global terhadap ketenagakerjaan di negara tersebut. Salah satu pertanyaan yang diajukan dan diidentifikasi adalah status/kedudukan pekerjaan utama selama seminggu sebelum survey dilaksanakan.Ketika beberapa staf pengajar di Universitas terkemuka terpilih dalam sampel survey, analisis statistik menemukan banyaknya Status No.7 (lihat gambar) yang dilingkari atas dasar jawaban para staf pengajar tersebut. Hal tersebut mengejutkan para pemerhati statistik dan membingungkan. Mengapa hal tersebut terjadi?

Untung saja, salah seorang pemerhati data tersebut saat ini juga sedang melanjutkan studi di Universitas terkemuka dan mengetahui bagaimana nasib para pengajar di sana. Si pemerhati plus mahasiswa menjelaskan bahwa fenomena tersebut timbul karena waktu pelaksanaan survey yang bertepatan dengan telah diberlakukannya integrasi sistem peng-upah-an di Universitas terkemuka yang memunculkan fenomena banyak pengajar di sana yang belum menerima upah mereka hingga 2 bulan lamanya atau tidak menerima upah yang sesuai dengan pekerjaan mereka. Padahal, pertanyaan dalam survey hanya mencakup satu minggu sebelum survey. Itulah sebabnya banyak ditemukan status 7 di Universitas terkemuka negara Republik karena saat ini para pengajar tersebut menjadi "pekerja yang tak (belum) dibayar" hingga lewat dari seminggu sebelum survey.Kesimpulan lain yang disajikan oleh si pemerhati plus mahasiswa tersebut adalah bahwa ternyata krisis ekonomi menyebabkan teralokasinya dana yang seharusnya untuk membayar upah para pengajar ke proyek-proyek mercusuar di Universitas terkemuka. Selain itu, pimpinan Universitas terkemuka menganggap profesi sebagai pengajar di perguruan tinggi tidaklah ada bedanya (indifference) dengan guru di tingkat sekolah menengah. Ditengarai, jika keadaan ini berlanjut dapat disimpulkan bahwa menjadi guru sekolah akan jauh lebih sejahtera dibandingkan menjadi pengajar universitas. Namun untuk menyimpulkan bahwa akan terjadi migrasi profesi dari pengajar universitas ke guru sekolah masih dianggap terlalu prematur dan sulit disahihkan mengingat data yang belum memadai dan terlalu terbatasnya cakupan data. Penelusuran dan perhitungan yang lebih teliti dibutuhkan untuk menarik kesimpulan yang mungkin berdampak pada struktur ketenagakerjaan di negara Republik. Selain itu survey ulang juga diduga bisa mempengaruhi hasil tersebut.
Galungan & Kuningan
Tuesday, March 17, 2009
I choose to use my conscious brain
Monday, March 16, 2009
jadi pemilih yang tidak cerdas deh...
Integrasi sistem peng-upah-an

Alkisah, di suatu era dimana terdapat pemimpin baru di sebuah Universitas terkemuka di negeri Republik. Sang Rektor dengan gagah berani mencanangkan sebuah kebijakan yang disebut Integrasi Sistem Remunerasi (baca: Peng-Upah-an) yang konon dilakukan untuk meningkatkan transparansi dan efisiensi di Universitas terkemuka tersebut. Tanpa perlawanan dan diskusi yang berlarut-larut, semua warga dan anggota Universitas tersebut mengikuti sistem baru nan hebat itu.Dahulu, sebelum sistem 'hebat' tersebut dijalankan, jalannya sistem peng-upah-an secara kasat mata dirasakan cukup lancar dan tidak ada masalah yang sistemik pada tingkat fakultas. Entah bagaimana sistem non-integrasi tersebut dijalankan, namun secara pasti berbagai bentuk balas jasa seperti honor, upah dan sebagainya di Fakultas dibayarkan dengan mekanisme yang cukup lancar. Tidak ada keterlambatan dan semua pihak menerima jumlah yang sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan. Tidak ada keluhan atau pun hal-hal yang dirasakan mengganggu. Yang pasti, warga fakultas menerima apa yang menjadi hak mereka atas kewajiban yang telah dilaksanakan tepat pada waktunya.Kini, sudah 3 bulan sejak Sang Rektor memaksa terlaksananya sistem integrasi tersebut. Tanpa persiapan yang memadai dan kesigapan dari sumber daya manusia di tingkat pusat (baca: Rektorat), sistem tersebut dijalankan dan mulai menuai berbagai intrik, masalah, dan ketidakadilan. Yang paling dirasakan saat ini adalah terlambatnya remunerasi dibayarkan (baca: ditransfer) kepada yang berhak. Selain ketidaktepatan waktu, masalah lain yang timbul adalah jumlah yang diterima juga tidak jelas, jika tidak bisa dibilang tidak sesuai dengan yang dijanjikan. Padahal, pada saat Sang Rektor berkampanye dan menjual idealisme-nya, beliau berjanji akan meningkatkan kesejahteraan dalam bentuk menaikkan upah para pengajar.Namun, apa lacur. Belum lama menguasai tampuk pimpinan beliau malah mengurangi "balas jasa" para pengajar bahkan membayarnya secara terlambat. Sebagai contoh, "balas jasa" beberapa dosen yang secara rajin mengajar di bulan Februari lalu sama sekali belum dibayarkan sepeser pun hingga lewat pertengahan bulan Maret ini. Tanpa penjelasan atau pemberitahuan perihal sebab musabab hal ini, banyak para dosen yang harus menerima kenyataan bahwa mereka bekerja tanpa dibayar hingga hampir 2 bulan lamanya. Ada lagi beberapa pengajar yang menerima transfer balas jasa mereka, tapi jumlah yang diterima tidak sampai sepertiga dari perhitungan jumlah kelas yang dia ajarkan. Artinya, mereka dibayar tidak sesuai dengan kewajiban yang sudah mereka laksanakan. Kembali, tidak ada penjelasan atau pemberitahuan mengapa jumlahnya tidak sesuai.Pihak-pihak berkepentingan dan terkait sudah ditanya, namun jawaban mereka selalu berputar di hal-hal teknis: kesalahan transfer di bank, antri dan menunggu giliran, rekapitulasi dari fakultas belum lengkap, dan sebagainya. Bahkan ada yang menjawab tidak tahu. Tidakkah ini berarti bahwa sistem integrasi ternyata belum siap dijalankan secara penuh? Pertanyaan tersebut boleh digunakan untuk mengganti pernyataan bahwa mungkin sistem tersebut gagal total. Yah, hanya Sang Rektor nan hebatlah yang bisa menjawab dengan pasti mengapa sistem 'hebat' yang beliau tawarkan tidak mengganggu transfer upah beliau sendiri melainkan menghambat pun memotong upah dari para stafnya yang langsung berhadapan dengan para mahasiswa.
Wednesday, March 11, 2009
Just my two cents for Berly's article
"Don't get me wrong, I am serious about my civic responsibility and never miss voting in elections, even when I was studying abroad. I have every interest in exercising my rights and ensuring the next government is competent and responsive to people's needs"Thus, in this matter I assumed he will vote and he know for sure who is that candidate. Right, my friend?
Monday, March 09, 2009
Kenapa aku 'ogah' milih?
contreng=rumit + tidak ekonomis + sulit
Saturday, March 07, 2009
tajuk rencana Kompas yang bagus...
Sebaliknya kita kembangkan kebiasaan permisif terhadap perilaku tercela, menyebut misalnya apa yang menimpa mereka yang tertangkap tangan korup, yang diadili karena korupsi, sebagai orang sedang ”apes”.Sedemikian besar narsisisme menjadi bagian dari kehidupan kita, sedemikian parah dan sulitnya menegakkan hukum. Padahal, hukum tidak punya arti tanpa moralitas.
Sekali lagi, kita sudah terlalu lama menganggap berbagai perilaku "tercela" - sebut saja korupsi, tidak disiplin, dsb - sebagai suatu hal yang biasa. Berbagai sebutan dan anggapan disodorkan, mulai dari "apes", "sial", "tidak paham", dsb. Namun, selama kita terus berkelit dan menghindar dari fakta bahwa kita belum meneguhkan hati dan sikap untuk perilaku yang lebih baik, maka kebiasaan permisif selama ini akan jadi sesuatu yang kelak kita terima secara lumrah dan mungkin akan masuk sebagai salah satu adat istiadat Republik.
Friday, March 06, 2009
angka abadi...
Monday, March 02, 2009
Apple merambah sepak bola?
Quote of the day: Kalimat suci...
Satu kalimat suci terkadang bisa membuat orang jadi lembut, tapi satu kalimat lain dari sumber yang sama bisa menghalalkan pembunuhan.Mungkin pada mulainya bukanlah agama. Agama, seperti banyak hal lain, terbangun dalam ambiguitas. Dengan perut dan tangan, ambiguits itu diselesaikan. Tafsir pun lahir, dan kitab-kitab suci berubah peran, ketika manusia mengubah kehidupannya. Yang suci diputuskan dari bumi. Pada mulanya bukanlah Sabda, melainkan Laku.
Sunday, March 01, 2009
Safari 4 Beta: First Impression...
Second, cover flow feature in History view. If you visited several web pages during the day, you may wish to take a look at them again sometimes later. In my case, sometimes I forget the address or the detail so it may take hours to search and try to find them. In Safari 4, you can display my history using Cover Flow, and I can flip through my search result as easily as I am flipping my iTunes album art. It saves a lot of time and it as nice to see the cover page detail to make sure that I re-visited the correct web pages one more time.
Third, the speed of Safari 4 is awesome! I can not show any prove visually about this speed. But as I am still using Firefox at the same time when I tested the Safari 4, I found out that if I browse my Google Reader together both using Firefox and Safari 4, the webpage is pop up and show off completely faster in Safari 4. Some other reviews in fact claimed that Safari 4 is four times faster than Firefox. Try yourself for sure, definitely!