Tuesday, October 09, 2007

spanduk: biasakan "tangan kanan" di Depok


Walikota Depok melalui spanduknya (lihat foto) menghimbau sebagai berikut:
Marhaban ya Ramadhan
Mari kita biasakan makan & minum dengan tangan kanan
sebagai cermin moral budaya bangsa
serta ajaran Rasulullah S A W
Apakah ada yang salah dengan himbauan tersebut? Kalau anda membacanya sekali, tentu tidak akan terlihat salah sama sekali. Secara tata bahasa pun tidak ada kesalahan. Tapi menurutku, yang salah - dan cukup fatal - adalah ide yang dimuat oleh himbauan tersebut.

Menurut pemahamanku, himbauan tersebut ingin mengajak warga Depok untuk "membiasakan" makan dan minum dengan tangan kanan. Pertanyaan kritis dari himbauan tersebut adalah apakah selama ini warga Depok "belum biasa" untuk makan dan minum dengan tangan kanan? Apakah mayoritas warga Depok banyak yang 'kidal'?

Andaikan sekarang boleh kita survei tentang kebiasaan fungsi tangan kanan versus tangan kiri bagi masyarakat Indonesia, termasuk Depok; maka aku yakin bahwa 99 persen lebih masyarakat Indonesia umumnya dan Depok khususnya sudah menggunakan tangan kanannya untuk makan dan minum. Secara budaya dan adat istiadat, masyarakat Indonesia sudah sejak kecil diajarkan dan didoktrinasi bahwa tangan kanan adalah "tangan baik" sedangkan tangan kiri adalah "tangan jelek". Sehingga, untuk makan dan minum atau segala hal yang baik (misal: bersalaman, menerima pemberian, dsb) maka secara alamiah orang Indonesia pasti menggunakan tangan kanannya. Sedangkan untuk membersihkan diri (setelah buang air besar maupun kecil) atau mengambil kotoran maka tangan kirilah yang didaulat melakukannya.
Jadi, kenapa sekarang masyarakat khususnya warga Depok masih perlu dihimbau (baca: diingatkan!) untuk makan dan minum dengan tangan kanan? Padahal selama ini dan mungkin hingga nanti - entah kapan - tangan kanan masih akan tetap menjadi tangan "primadona" untuk makan, minum, salaman, menerima pemberian, dan lain-lain hal yang baik-baik.

Aku mencoba menduga-duga apa akar ide dari spanduk tersebut. Beberapa dugaan yang terpikirkan olehku adalah sebagai berikut:
  1. Menurut penasehat Walikota Depok, yang kemudian diamini oleh sang Walikota sendiri (lihat foto-foto tim Depok tersebut di spanduk) bahwa kini telah terjadi pergeseran kebiasaan makan dan minum warga Depok dari sebelumnya biasa menggunakan tangan kanan menjadi tangan kiri. Oh ya?
  2. Walikota Depok ingin menunjukkan kepada warga Depok bahwa ia dan seluruh staf-nya (lihat lagi foto-foto staf pemerintahan Depok di spanduk) selama ini telah memiliki moral budaya bangsa Indonesia dan menjalankan ajaran Rasul dengan baik sehingga diharapkan warga Depok juga mengikuti jejak mereka. Oh ya? (Lagi!)
  3. Karena spanduk ini adalah dalam rangka untuk menyambut bulan suci Ramadhan, maka salah satu tema yang cukup berkaitan dengan bulan suci tersebut adalah makan dan minum. Oleh sebab itu, salah satu hal yang bisa dihimbau adalah tentang penggunaan "tangan kanan" untuk makan dan minum. Wah, apakah seremeh itu?
Jika memang dugaan no.3 yang paling mungkin mendekati ide dasar spanduk tersebut, tidakkah itu terlalu sia-sia dan tidak menunjukkan prioritas? Daripada memasang spanduk yang "retorik" seperti itu, tidakkah lebih baik memasang spanduk yang menghimbau tentang ibadah yang kusyuk, atau pesan untuk menjaga perdamaian, atau jauhkan diri dari narkoba? Tidakkah ada persoalan atau pesan yang jauh lebih "penting" dari sekedar mengingatkan "kebiasaan" yang sudah menjadi "kebiasaan" sejak dulu?

Cobalah anda bayangkan lagi, apakah dugaan maksud dan tujuan spanduk yang diluncurkan oleh Walikota Depok tersebut. Bolehlah berbagi denganku agar bisa terpuaskan sedikit banyak kebingungan akan manfaat dipasangnya spanduk tersebut.

4 comments:

alief.aulia said...

mas, IMHO... saya ada beberapa uneg2:
- efek pilkada langsung. karena yg dicoblos adalah foto, maka biar tambah dikenal, foto dipajang dimana mana. ini bukan kali pertama Walikota Depok nampang. Beberapa waktu yg lalu tentang pengelolaan sampah, beberapa yg waktu yg lalu tentang bencana alam, beberapa waktu yg lalu ttg pendidikan. Yang dominan bukan pesannya, tapi fotonya. Di jombang juga sama
- Budaya narsis: saya lihat di daerah pondok indah, ada iklan tentang DBD kalau ga salah. Lagi2 pesannya biasa aja, foto menteri kesehatan-nya gede luar biasa
- Air cucuran atap jatuhnya ke pelimbahan. Presiden SBY suka nulis pesan dengan foto gede disamping pesannya. Akhir2 ini, Nyonya Presiden juga suka bikin hal serupa

Patris said...

pernah dapet forward an imel yang isinya mengenai bagaimana tuhan menciptakan dunia? bahwa ada keadilan, balance antara yang baik dan yang gak enak diantara negara2? utara dikasih winter luar biasa tapi ada berkah ini itu. indonesia dikasih semua: alam indah, dll dll sampai tuhan meletakkan pemimpin yang bodoh dalam pemerintahannya. mungkin walikota depok mau mencoba membuat ilustrasi tentang imel tersebut...

hadi said...

cara yg baik untk nmengubah masyarakat adalah dg komunikasi. depok berusaha mematchkan dulu keinginan jajaran walikota dg warga.setelah merasa match "selaras" br walikota akan mberikn ajakan2 yg mgkin belum terbiasa bg depok.

matching-pasing-kontroling

embun said...

@hadi: jika memang untuk "matching" dulu, tidakkah malah tidak akan "match" sama sekali?

Jika sebagian besar (jika belum bisa dikatakan semua) masyarakat sudah menggunakan tangan kanan untuk makan dan hal-hal lain dalam hidup dan budaya Indonesia, bukankah sudah tidak ada lagi yang harus di "match"-kan? Jika tidak ada yang harus di "match"-kan, maka tidak ada yang bisa di-"pasing" dan tidak ada yang bisa di-"kontroling"...

Saya lebih setuju bahwa ini memang hanya untuk "mencari perhatian" atau lebih pas dikatakan "narsis"... :)