Thursday, June 02, 2011

pertanyaan seputar Freshness dan gender


Saat dalam perjalanan pulang ke rumah dengan mobil, kami sempat membuntuti sebuah bus dengan iklan Belconnen Fresh Food Market (Belconnen adalah salah satu suburb di kota Canberra). Istrinda tiba-tiba mencetuskan pertanyaan yang menarik: "Yang mana sebenarnya yang fresh?" Perhatikan kata Freshness di iklan tersebut yang menampilkan sebuah buah strawberry dan orang yang sedang akan menggigit buah tersebut.

Saya menjawab dengan pertanyaan tersebut dengan pertanyaan lain: "Kenapa freshness harus ditunjukkan dengan perempuan yang menggigit buah segar? Kenapa tidak laki-laki?" Istrinda tak mau malah menanggapi dengan pertanyaan yang semakin mempersempit diskusi di perjalanan ini: "Kok kamu tahu kalau itu perempuan? Kan tidak ada kepastian tentang jenis kelamin si model di situ?" Wah, pertanyaan saya sebelumnya kini berhasil menyentuh sisi gender analysis dari Istrinda... Sebenarnya, perdebatan kami berlanjut lebih 'seru' lagi. Namun, di posting ini saya hanya ingin mengutarakan 'bias gender' dan 'kesegaran' (freshness) yang saya simpulkan dari foto iklan di atas.

Saya berargumen bahwa model tersebut menampilkan bibir yang berwarna merah, seolah menggunakan lipstik. Secara konstruksi sosial, perona bibir masih dianggap identik sebagai instrumen yang digunakan oleh kebanyakan perempuan. Terlebih, warna merah untuk perona bibir dianggap identik dengan perempuan dan sensualitas. Bilakah ini benar atau bisa diterima? Saya ingin mendengar apa pendapat Anda sekalian. Sekalian juga pendapatnya apa kesan Anda jika di iklan tersebut model-nya tidak mengenakan perona bibir melainkan berkumis dengan struktur rahang yang keras. Atau, saya terbuka dengan berbagai macam kombinasi penampilan dan gaya dari si model serta apa kesan yang akan muncul dari kita, para penikmat iklan tersebut.


Posted using BlogPress
Powered by 

Tuesday, May 17, 2011

duabelas purnama – duabelas wajah


Duabelas purnama lalu, seorang individu hadir diantara kami. Setelah sembilan purnama sebelumnya ia menjalani proses alam nan bergantung pada sosok seorang ibu. Ketika ia lahir di dunia ini, berbagai rasa muncul seketika. Jelas bahagia dan haru, namun takut dan khawatir begitu pun amarah sering tak terduga hadir. Dari semua hal itu, di setiap akhir purnama pasti ada satu hal yang pasti berkumandang di setiap sudut relung hati: rasa syukur dan sebait doa untuk purnama-purnama yang akan datang.

Duabelas purnama lalu, seorang individu hadir di antara kami dan menampakkan kepribadiannya. Satu hal yang kami saksikan setiap pagi, siang, sore dan malam adalah seraut wajah yang menunjukkan kemuliaan Hyang Agung. Di setiap purnama, kamu juga saksikan betapa wajah individu ini menampilkan sesuatu yang selalu baru. Berbagai cerita, ekspresi, rasa, dan harapan berselingan tampak dari setiap detil raut wajah tersebut. Semuanya kian menambah riuh kehidupan ini. Luar biasa!

Ada sebuah kutipan yang menarik untuk disimak:
The human face is the organic seat of beauty. It is the register of value in development, a record of Experience, whose legitimate office is to perfect the life, a legible language to those who will study it of the majestic mistress, the soul.
Eliza Farnham (American Author and Social Reformist)
Kami bersyukur ia yang lahir duabelas purnama lalu berhasil menunjukkan duabelas wajahnya hingga kini. Ia telah menjalani perkembangan dan pengalamannya di tahun pertama dengan baik. Doa tulus terpanjat demi harap agar ia mampu terus melalui tahun-tahun selanjutnya dan menyempurnakan hidupnya. Kami juga bersyukur telah diajarkan tentang sebuah jiwa tentang kehidupan dalam bahasa yang sangat sakral - bahasa cinta dan kasih. Kami tak akan pernah berhenti belajar tentang wajah-wajahnya. Duabelas wajah tersebut telah mengawali pembelajaran yang tak terkira berharganya sehingga kami tak akan pernah berhenti berterima kasih atas anugerah ini.

Selamat berulang tahun yang pertama, anakku Arvind!

Canberra, 17 Mei 2011



Copyright © Dewa Wisana. All rights reserved

Tuesday, May 03, 2011

saat anakku mulai menari?

Anakku, Arvind, kini memasuki usianya yang ke-11 bulan (hampir 12 bulan!). Banyak hal yang terjadi selama kurun waktu tersebut yang mencampuradukkan berbagai rasa. Satu hal yang pasti, ia tumbuh dan berkembang dengan sehat serta kian menampilkan berbagai 'kemampuan' yang sedianya sesuai dengan perkiraan dan harapan akan tumbuh kembang yang dialami anak-anak pada umumnya (Terima kasih, Tuhan!).

Saat blog ini ditulis, Arvind dan Ibunya sedang ada di Jakarta, meninggalkanku sendiri di Canberra selama lebih dari 3 minggu. Selama kurun waktu tersebut, hal yang selalu kutunggu-tunggu saat mendengar kabar dari Jakarta adalah "Apa yang Arvind lakukan hari ini?". Begitu banyak yang Arvind telah tunjukkan, tapi ada satu hal yang menarik perhatianku. Menurut sang kakek, Arvind sekarang sering menggerak-gerakkan badan dan tangannya seolah-olah sedang menari jika mendengarkan alunan musik. Arvind menari? Benarkah?

Pertanyaanku tersebut secara kebetulan dijawab dalam pengantar sebuah artikel sebagai berikut:
"Anak-anak balita telah menunjukkan hal itu sejak dulu: mereka bergerak mengikuti satu irama musik, derap ketukan atau repetisi tepuk, tanpa mereka rancang. Mereka tak mengikuti desain apa pun, hingga "bentuk" jadi sebuah pengertian yang bermasalah. Tak ada arah yang pasti. Tak ada maksud mencapai hasil. Proses ini bukanlah proses serebral. Dalam tari anak-anak yang spontan, tubuh menemukan dirinya. Praktis mandiri."
(Caping: "Tari" oleh Goenawan Mohamad)

Berarti, Arvind yang menari, apapun "bentuk" tariannya telah menunjukkan dirinya yang kian utuh dan memulai kemandirian. Saat anakku mulai menari, ia mulai menunjukkan bahwa kami kedua orang tuanya harus bersiap mengasuh dan membimbingnya, bukan lagi sebagai seorang bayi melainkan sebagai seorang individu yang mandiri. Sebagai orang tua, kami harus bersiap belajar tentang seorang individu bernama Arvind dengan segenap karakter dan polahnya.

Begitu selesai membaca artikel Goenawan Mohamad tersebut dan mengingat semua tentang Arvind selama hampir 12 bulan ini, membuatku bersyukur...


Copyright © Dewa Wisana. All rights reserved
Enhanced by Zemanta

Wednesday, March 02, 2011

perdebatan hebat tata cara ber-Toilet Paper

Karena terinspirasi oleh perdebatan tentang laporan penelitian dan thesis ilmiah yang akan berakhir hanya sebagai Toilet Paper, saya menemukan etika atau tata cara memasang toilet paper yang 'seharusnya' seperti tampak pada gambar di atas. Jika ingin menyimak alasan-alasan yang mendukung atau menolak setiap cara pemasangan toilet paper, bacalah artikel ini.

Kalau Anda termasuk orang yang anti toilet paper, silahkan tinggalkan segera posting ini.

Terinspirasi 99 oleh Toto

Ketika membaca angka 99, ingatan saya mengarah pada salah satu judul lagu yang dipopulerkan oleh grup band Toto pada tahun 1979 dari album kedua mereka yang bertajuk Hydra. Lagu ini termasuk salah satu lagu andalan Toto yang menarik selain karena judulnya, juga karena kemasan video klipnya yang unik.

Menurut Toto dalam situs resminya, 99 adalah sebuah lagu yang terinspirasi oleh film berjudul THX-1138 (1971) yang dibuat oleh George Lucas tentang sebuah komunitas masyarakat dimana orang-orang yang tinggal di dalamnya dikenal bukan dengan nama melainkan berdasarkan nomor. Toto kemudian membuat video klip yang mengacu pada latar belakang film tersebut dimana tokoh utama (THX-1138) dijebloskan ke dalam penjara yang seluruhnya tampak putih, dan semua orang mengenakan kostum yang serba putih juga.

Mungkin kita akan memiliki interpretasi lain, baik terhadap lagu ini maupun film yang menginspirasinya jika kita simak lirik lagu 99 ini. Untuk mengakhiri posting tidak penting ini, mari kita simak lirik lagu 99 (dan mungkin mendendangkannya dalam hati) dan silahkan temukan arti lain dari lagu ini. Selamat ber-99!

99
I've been waiting so long
Oh 99
Where did we go wrong
Oh 99
I love you

99
I keep breaking your heart
Oh 99
How can we be apart
Oh 99
I love you

I never thought it would happen
I feel quite the same
I don't want to hurt you anymore
I never knew it would work out
No one to blame
You know I love you 99

99
You keep holding my hand
Oh 99
They don't know who I am
Oh 99
I love you

I never thought it would happen
I feel quite the same
I don't want to hurt you anymore
I never know it would work out
No one to blame
You know I love you 99

99
I can't take it no more
Oh 99
Oh we were so sure
Oh 99
I love you

I never thought it would happen
I feel quite the same
I don't want to hurt you anymore
I never knew it would work out
No one to blame
You know I love you 99

Monday, February 28, 2011

Ahimsa... betapa tak gampang

Dari Catatan Pinggir (Caping) oleh Goenawan Mohamad yang berjudul Ahimsa:

"Sebab tak semua perlawanan nonkekerasan berakhir bahagia. Apalagi jika yang disebut "berhasil" bukanlah hanya makzulnya seorang penguasa, tapi hadirnya sebuah kekuasaan lain berdasarkan ahimsa. Prinsip ini memang berakar dari kata "tak melakukan tindakan yang mencederai". Tapi ia juga bagian dari sikap yang menampik untuk membenci apa pun, berdusta, dan mengutarakan kata-kata bengis.


Betapa tak gampang... "

Memang tak gampang ketika kita ingin memilih jalan yang 'ideal'. Setidaknya sebagai sebuah cara pandang dan atau cara hidup, ahimsa telah membuktikan bahwa kekerasan bisa dihindari (bukan dihapuskan) jika memang manusia menginginkannya.


Sayangnya, manusia sering kali lebih mampu untuk mendustai dirinya sendiri. Ia mengklaim dirinya pembawa kedamaian tapi membuktikan klaim tersebut dengan melakukan pembunuhan terhadap sesamanya. Yang lebih ironis, dusta dan klaim tersebut digunakan dengan dalih membela Tuhan. Dan inilah sebabnya ahimsa tak akan pernah menjadi cara yang gampang untuk dilakukan dan tak akan pernah menjadi cara yang gampang untuk berhasil. Karena manusia banyak tidak menginginkannya...

Monday, February 21, 2011

a basket of Apples


If I may recall history of the most long lasting and the best gadget or computer devices that I ever have, I would like to call them ‘a basket of Apples’. Yes, all of those non-hassle, tough, beautiful but powerful gadget or computer laptop I have so far are Apple brand.


My first introduction with Apple was the black 32GB iPod Nano (see left below). It was my third portable music player after an AIWA Walkman and [brand here] MP3 player. From this iPod, I learnt about iTunes and some interesting knowledge about Apple product especially computer. My Apple bites continue with first generation of 120GB White MacBook (see left above). After almost 3 months of intensive quest for making sure on compatibility issues, I decided to switch totally to Mac OS X Leopard and leave the idea of Microsoft product. I learnt iWork and iLife, and I used Parallel Desktop to operate several application in Microsoft Windows XP operating system which Mac OS X did not support at that moment. Now, I rarely used them since Mac OS X already supply all application I need. Since then, my white MacBook never failed me; it was a stable, fast and reliable partner in my computing work.


It is obvious that Apple devices are undeniably expensive. That is why I have to wait several years before I am able to add up the next Apple in my basket. It was used 32GB iPod Touch (see second from left below). With this new iPod Touch, I can pass the iPod Nano to my wife so she can start being indulged by Apple. After I successfully won a used 16GB iPhone 3GS from eBay, she upgrade her Apple into iPod Touch. After some hassle with her laptop, she decided that she is ready for bigger Apple stuff. So, I won another used 80GB MacBook Air from eBay and my wife start her experience with Mac OS X Snow Leopard. And my final Apple that I won it via eBay was 16GB iPhone 4 which makes my wife now used the iPhone 3GS. Overall, I can roughly claim that we are an Apple Family now. Finally, I also completed my Apple computing experience with some accessories including Magic Mouse, Mighty Mouse and Apple Wireless Keyboard (not seen in picture).


Here they are, my basket of Apples. One thing that I really proud with all of my Apple is all of them extremely reliable whether they are brand new or second hand condition. It’s something that I could not get from any other devices. They are exemplary of cutting-edge technology!

Monday, February 14, 2011

Quote of the day: Relativity

From Dan Ariely "Predictably Irrational: The Hidden Force that Shape Our Decisions"
"We not only tend to compare things with one another but also tend to focus on comparing--and avoid comparing things that cannot be compared easily."

Tuesday, February 08, 2011

déjà vu tentang kebiadaban

Kejadian pembunuhan terhadap warga Ahmadiyah yang saja terjadi, membuat saya ingin membaca sebuah 'kicauan' (tweet) di akun Twitter saya per tanggal 31 Agustus 2010 lalu. Isinya sebagai berikut:
Ide "pembubaran" satu ajaran/agama, slalu mgingatkan saya dgn "pelarangan PKI" yg berujung pd diskriminasi hingga genocide. Resiko yg mahal!
Ketika saya berkicau seperti itu, saya hanya ingin merespon pernyataan Menteri Agama yang percaya bahwa "pembubaran" Ahmadiyah hanya akan memberikan resiko yang kecil. Menurut pendapat saya, tidak akan ada resiko yang kecil atas suatu tindakan pelarangan terhadap organisasi apalagi sebuah ajaran 'agama'.

Seharusnya masih segar diingatan kita bagaimana dampak yang timbul ketika Partai Komunis Indonesia (PKI) dinyatakan terlarang di bumi Indonesia. Baiklah, mungkin PKI tidak bisa disamakan dengan Ahmadiyah atau ajaran 'agama'. Tapi, jika saya ingin menyamakan semangat pelarangan PKI dengan pembubaran Ahmadiyah, maka salah satu alasan pelarangan PKI adalah karena menyebarkan ajaran atau paham komunisme. Tidak ada perbedaan mendasar dengan pembubaran Ahmadiyah yang diyakini menyebarkan ajaran sesat. Itulah sebabnya, kita tetap bisa menggunakan pelarangan PKI sebagai referensi sejarah atas resiko pembubaran Ahmadiyah.

Kembali ke 'kicauan' saya di atas, seketika saya mengalami déjà vu ketika menyaksikan tayangan di YouTube berikut ini yang seolah membuktikan betapa tidak kecilnya resiko jika ingin membubarkan atau melarang sebuah organisasi atau ajaran 'agama'. Setelah menyaksikan tayangan tersebut, kita seolah diberikan sebuah episode kecil dari kutipan sejarah kelam yang pernah terjadi ketika PKI dibubarkan dan dinyatakan "terlarang". Perihal Ahmadiyah, memang belum dilakukan pelarangan pun pembubaran secara nasional namun SKB 3 Menteri yang diterbitkan pemerintah seolah memberikan pengesahan untuk melakukan pembubaran dan pelarangan oleh masyarakat. Padahal, tanpa SKB 3 Menteri pun mereka sudah mengalami pengusiran, dirusak tempat tinggal dan tempat ibadahnya, serta didiskriminasi; yang belum terjadi hanya genosida saja. Tapi tayangan tersebut memberikan semacam 'pemanasan' untuk semangat genosida tersebut.

Saat ini saya merasa menyesal telah membuat 'kicauan' tersebut karena ternyata itu sudah dimulai saat ini. Saya tidak ingin menggugat soal keyakinan siapapun, namun saya percaya seharusnya ada solusi yang lebih bijak, damai dan tidak perlu mengulang sejarah kelam. Tidak perlu ada pembunuhan atau pembantaian. Tapi, sekarang keduanya sudah dimulai. Bilakah para pemimpin negara, agama dan masyarakat bisa mencegah ini untuk terjadi lagi?

Mudah-mudahan kita bisa belajar dari sejarah, meskipun sedikit...

Monday, May 31, 2010

What’s in a name?

In many societies, a child’s name commonly represents their parents’ wishes and pray. A name also could lead us to a thoughtful meaning or could indicate an event or location when the child was born. This post will try to answer what’s in the name of my first son. His name is “I Dewa Gede Arvind Adiyatama.” My wife and I call him: Arvind. Let’s go through into each name and meaning.

The first three names is a typical Balinese name. In Bali, “I” is a commoner title for male while “Dewa” is a title for Ksatriya, second wangsa or caste title among four wangsa which is common in Balinese society. Finally, “Gede” (means Big or the Eldest in Indonesian) is simply mean first-born. So, I believe the overall meaning of the first three names is quite obvious. These name are simply the recognition of Arvind’s association with and position in Balinese culture.

The next two names is a representation of wishes and pray upon him given any conditions when he was born.

Arvind means lotus in Sanskrit. Some believe that ‘Arvind’ means red lotus in particular, on which the Hindu goddess of wealth and prosperity – Lakshmi sits. According to myth, only the cleverest and most bright child gets the name 'Arvind'. Arvind is also believed to be the name for a minor god, ‘Aravinda’ – the god of wit, intelligence and shrewd scholarship. In conformity with those meaning, Arvind symbolize our precious wealth, eternal prosperity and representing blessing from God upon our family. Arvind also have a particular signification of scholarship or knowledge which both his parents strive for when he was born.

Adiyatama is two combine word “Adiya” and “Tama”. The name Adiya stems from the Indian word which means, “Gods Gift.” Adiya also a fluke combination of Arvind’s Grandpa and Grandma from Mom’s side: Hadi + Setya(ningsih). The name Tama is originally quoted from word Utama which is mean “Prime.” Ergo, Adiyatama signify as “the prime of gods gift.”

Finally, one may start to be curious what is the overall meaning of Arvind’s full-name. Me and wifey do not intend to put many thoughtful meaning on Arvind’s name. The one with possible brief meaning of Arvind’s full-name is: “First-born male Ksatriya which is the prime of gods gift that strive for knowledge.” For us, he is a precious gift from God. Our simple hope - a humble pray - upon him is that he will be a good individual who learn universal knowledge of life and share it to others.



Copyright © Dewa Wisana. All rights reserved

Thursday, May 20, 2010

Wednesday, January 27, 2010

policy wonks

We live in an age of "policy wonks" who judge programs [policies] by their effects on productivity, output, or work effort. Wonkian analysis uses the jargon of economics while ignoring its content.
I can't hardly disagree with the above quote...

Saturday, January 16, 2010

Update 2010 Reading List: The Armchair Economist

Just want to update the 2010 Reading List after the last book arrived in my mailbox:


So, this is the final book in my 2009 wish list and in early 2010 all of them already complete.

Wednesday, January 13, 2010

Indonesia: Facebook leader?



Jeremy Wagstaff's post, Facebook in Asia: A Limit to Growth? shows an achievement (yeah, not so important probably) for Indonesia. He collected information on Facebook populations by country in Asia-Pacific. And, Indonesia is taking lead as the highest Facebook populations. With 24% growth and 6.68% proportion of population on Facebook, Indonesia shows stunning expansion of penetration.

Without valid data on number of internet access in Indonesia, I guess Facebook population that a top-notch in Indonesia mainly drifted strongly by the wide access on mobile phone through 3G network. Despite of lack of high speed internet network available in Indonesia, this is something that can be seen as good thing that Indonesian population highly appreciate internet as their new media for communication or expanding social network. It shown a combination of expanding information technology with people ability to utilize such technology.

We may continue to highlight some detrimental thing of high Facebook user. However, I believe it is more sensible if we are being affirmative with how can Indonesian people gain benefit from better access to information after they are able to expanding their social network and technology utilization. Such access hopefully could give some additional knowledge, skills or social movement for greater welfare achievement.

On sushi etiquette

I am not a big fan of sushi, but I do love sushi. Wifey really crazy with sushi and due to her pregnancy now, she really miss them a lot. Therefore, I would love to share her and all of you guys this following guideline on how to eat sushi in a perfect manner. Definitely, it is really beneficial if you stayed or visit Japan. Yet, I believe it is also good no matter where you eat sushi.

Happy sushi!

Tuesday, January 12, 2010

wifey just won her first eBay item!

She just won a New 'Easy Wrap Swaddler' from her first bid attempt on eBay.

I noticed that she made only a single bid and won, remarkable. Without denying a possibility of luck, I believe she carefully listen and learned whatever strategy I kept discussing with her during my own bid on eBay. And somehow, she work on it even better than me. In other words, I should be aware of her since she is a good 'player' in auction game...

Congratulation, honey!

the Oil Age is not over yet



The above picture quoted from the following article. I recall in one of my class I asked how many people believe that oil stock will be depleted and how fast. Due to global warming and environmental issue (only some given answer through staggering oil price), a lot of class member somehow believe that oil stock will be depleted very soon. In other words, many people believe that oil will be gone very soon. My answer was the stock of oil will be not depleted very soon, in fact there are more of them for sure but it requires new technology and/or new approach to reach their sources beneath the earth.

The article above indicates such possibilities. I am not sure how delicate your opinion will be influence by such ideas, regarding efficient energy consumption vis-a-vis global warming and/or environmental issue. But, I believe we need to firm our effort to reduce our indulgent for oil and looking for other alternatives.

On "Google" and "Tweet"

According to this report, "Google" is selected as word of the decade. And, "Tweet" is selected as word of the year.

I am just wondering now, what would be the possible translation of Google and Tweet into Indonesian language?
*Please note, I am looking for non absorption language to be able to make them really Indonesian language without any excuses.

Sunday, January 03, 2010

2010 Reading List

After a couple of months hunting for reliable (I mean cheap!) online book sellers, finally before year 2009 ended I was able to order some wish-list books and they arrived by the last week of 2009. Following are list my latest collection:

The last two books - Economics Gangsters and Parentonomics - are the first books I bought and already finished to read them.

I recommend Economic Gangsters for any of you who interested with corruptions and violence from economics perspectives. It is well written and worth to read during your spare times. My favorite chapter is the first one which discuss about Suharto Inc. While for Parentonomics, I feel a bit uneasy while reading it. Not necessary because it discuss a lot about parenting, but the writing style not so specific. It is quite understandable because it close to economist parenting diary rather than economist parenting theory/concepts compilation. However, it is still worth to read if you are interested with parenting and economics.

For the first five books, I am just in the middle of exciting reading the two hot books: Superfreakonomics and Dear Undercover Economist. Both of them really superb books, highly recommend! I hope I can blog them - and the rest of the book - very soon. Especially the Dear Undercover Economist, wifey really enjoyed reading it as well.

In case you have your own opinion or review regarding one or any of my reading list, please kindly share your thought.




Wednesday, November 25, 2009

Lesson from parking fine


The picture above is a simple prove for the cost of testing whether a system works or not. Yes, it is a parking fine ticket. I was violating the law by parking on the spot that was not suitable with my parking permission that I have.

The motivation at the moment I did the violation was there should be a window of opportunity to buy some time before the parking check take place. The plan was just park the car for one or two hours then move to find another place to park. Unfortunately, I totally forgot about the strategy I've been set up and I expect that there will be no inspection by parking check officer that day (wrong expectation, I know). So, the inspection happened for sure. Then, I paid the fine.

Personally, this is an expensive way of learning that the system works in this country. Unlike in many developing country (such as my country), where you still have possibility to "bargain" with the system; the law system in most of developed country is quite strict and working well enough. I am not saying that the system working perfectly, but the degree might be significantly high. I other words, it is a reliable system if you wish for good public order.

I am just imagine how could this strict system could be apply in Indonesia? What are the ingredients to have such 'ideal' enforcement to work? Hopefully, this is not only a dream.

Thursday, October 08, 2009

pengadilan atau cerita-cerita seru?

Peringatan: Jika Anda termasuk orang yang tidak tahan cerita-cerita sensual dilarang membaca posting ini termasuk materi-materi yang dikutip di dalamnya.

Judul posting ini dipicu oleh berita tentang kasus Antasari dari salah satu koran ternama di Indonesia. Sehubungan itu, hanya ada satu orang yang ingin aku kecam yaitu Jaksa Penuntut Umum (JPU). Selain itu, ada satu institusi yang juga ingin aku kecam yaitu Pengadilan. Mengapa keduanya patut dikecam?

Aku hanya punya satu hal yang membuatku merasa patut mengecam mereka, yaitu mengapa isi dakwaan yang dibuat HARUS seperti kisah yang ditulis dalam buku stensilan. Berita di koran seperti ditaut di atas menunjukkan betapa pengadilan yang diwakili oleh JPU tidak mampu langsung ke titik persoalan dan dakwaannya sedemikian sehingga keadilan seakan-akan jadi pertunjukkan dagelan (jika belum bisa dikatakan menjurus ke pornografi tulisan dan lisan). Untuk memahami maksudku ini, Anda harus membaca berita tersebut dan mencoba membayangkan: apakah pengadilan adalah tempat untuk membeberkan aib atau menegakkan keadilan?

Jika gambaran pengadilan seperti di berita tersebut, aku rasa pengadilan yang diwakili oleh JPU tidak lebih dari pornografi berkedok pembeberan aib. Atau, JPU sedang membacakan cerita-cerita seru saja...

sungguh-sungguh tidak belajar...

Yang aku ingat, posting beberapa waktu lalu masih berkaitan dengan gempa yang terjadi di Tasikmalaya. Jika Anda membaca artikel yang dirujuk di situ, artikel yang ditulis oleh Putu Setia, sudah dengan gamblang sekali dinyatakan bahwa mencegah dampak yang lebih buruk jauh lebih dibutuhkan daripada sekedar legitimasi bencana dari ayat-ayat suci (di kolom komentar artikel tersebut, masih saja terdapat para komentator yang tak pernah bosan mencungkil ayat-ayat suci). Mencegah dampak yang lebih buruk bisa dilakukan dengan mengkaji kembali bagaimana membangun tempat tinggal yang "ramah" bencana.

Kemudian, datang lagi bencana gempa yang terjadi kali ini di Padang, Sumatera Barat. Sudah jelas, kita semua berduka. Namun, masih saja manusia-manusia "penguasa ayat-ayat suci" tersebut sibuk mencari-cari legitimasi bencana dari ayat-ayat suci yang mereka geluti. Mereka benar-benar bebal dan tak berperikemanusiaan. Entah bagaimana mengajarkan orang-orang yang penuh dengan kebebalan demikian.

Padahal, apa yang ditulis oleh Putu Setia masih tetap relevan dan menjadi keharusan untuk dikaji lebih jauh. Khususnya, terkait dengan bagaimana kita di Indonesia membangun tempat tinggal dan bangunan yang ramah bencana tadi. Bukan rahasia lagi bahwa prosedur dan perencanaan pembangunan hunian dan gedung-gedung di Indonesia penuh dengan praktek manipulasi yang mengabaikan baku mutu dan kelaikan bangunan yang semestinya ada. Hal tersebut sekarang terbukti di Padang. Dan dengan kesadaran tersebut, fokus kita seharusnya tidak hanya gempa, namun juga bencana alam lain yang menjadi rutinitas di Indonesia seperti: banjir, gunung berapi, kekeringan, dan sebagainya; juga tidak hanya terkait dengan tempat tinggal dan prosedur membangun namun juga tata cara kita memanfaatkan sumber daya dan lingkungan kita. Kita harus mulai memikirkan bagaimana strategi hidup di tengah-tengah lingkaran bencana. Bukan hanya berdoa, tapi juga berusaha dan berbuat...

Wednesday, September 16, 2009

Quote of the day: Indonesia adalah...

Dari Catatan Pinggir Goenawan Mohamad,
Kata-kata Suwardi dan Dekker terbukti jadi kenyataan 100 tahun kemudian, pada hari ini. Indonesia bukan sekadar multi kultural, tapi juga inter kultural: tiap orang jadi Indonesia karena memasukkan kebudayaan yang lain ke dalam dirinya. Sebab Indonesia bukanlah ke bhineka an yang bersekat sekat seperti dalam rezim apartheid. Indonesia adalah sebuah proses yang eklektik, bercampur, berbaur dengan bebas.
Sungguh ini merupakan kesadaran yang harus terus ditumbuhkan dan dikembangkan. Menjadi bangsa yang tangguh sekaligus besar, bukan hanya dilakukan secara fisik namun juga secara pemikiran dengan terus menyadari arti proses yang dialaminya. Hidup Indonesia!

Monday, September 07, 2009

mencegah vs merujuk

Dari kolom Cari Angin oleh Putu Setia yang berjudul Misteri Gempa,
Kita sudah diingatkan berdiam di daerah rawan gempa, tapi kita menganggap remeh hal itu dengan mengabaikan persyaratan hidup di daerah rawan gempa. Kita selalu berpikir bahwa bencana adalah nasib sial, takdir buruk yang tak bisa dicegah. Bahkan sebagian dari kita sering menganggap bencana sebagai cobaan dari Tuhan, atau malah kutukan dari Tuhan. Ah, bukankah Tuhan mahapengasih, kenapa harus main kutuk segala?
Meskipun dengan kata-kata yang relatif lugas seperti ini, masih saja ada yang menulis di kolom komentar dengan menghantarkan kata-kata Tuhan. Apakah sedemikian sulitnya untuk paham bahwa "mencegah" dengan perbuatan nyata jauh lebih baik dibandingkan sekedar 'merujuk' pada kata-kata suci?


Tuesday, August 25, 2009

Update clarification

As I posted before, I made clarification on Pendet dance from Malaysian claim. According to recent news, it was a mistake made by the television broadcast. It seems quite an easy confirmation since Pendet dance indeed belongs to Balinese and Indonesia. In this matter, I can accept that Malaysia free from any misconduct.

Unfortunately, this clarification not instantly diminished the label attached to Malaysia regarding stolen culture demeanor on Indonesia. For instance Rasa Sayange song, the clarification still apply...