Monday, December 10, 2018

1st Year Anniversary of Dad's Death


"He never looks for praises.
He's never one to boast.
He just goes on quietly working
for those he loves the most."
~ Karen K. Boyer
Siang ini sekitar pukul 2, tepat setahun lalu tanggal 8 Desember 2017, Bapak pergi meninggalkan kami semua. Bapak mungkin bukanlah seorang ayah kebanyakan yang memiliki posisi atau status tertentu terkait pekerjaannya. Bapak adalah seorang pekerja lepas yang bisa mengerjakan apa saja. Hampir segala hal yang rusak atau tak bekerja, bisa diperbaikinya. Bapak punya tangan yang terampil dan keahlian mekanik yang mumpuni, meskipun beliau bukan insinyur.
Bapak adalah orang yang murah senyum, mudah akrab, banyak cerita tapi beliau juga seorang penyabar dan mengajarkan anak2nya agar berpikir yang detil dan teliti sebelum mengambil keputusan. Dari Bapak juga kami belajar tentang tertib dan disiplin. Bapak juga seorang penyayang keluarga, bukan hanya keluarga inti tapi juga keluarga besarnya. Bapak akan melakukan apa pun semampunya demi membela seluruh keluarganya. Dari Bapak saya diajarkan bahwa apa pun yang terjadi, ikatan darah tak mungkin diputus dan perlu selalu dijaga kedamaian dan kesejahteraannya. Betapa pun perlakuan atau kata-kata yang diterimanya, tak pernah menggoyahkan semangatnya. 
Kami kangen cerita-ceritamu, Pak. 😌
#RIP #dad #missyousomuch

Copyright © Dewa Wisana. All rights reserved

Tuesday, December 04, 2018

Ibu dan Sulaman Karawo, Gorontalo

Menemukan berita tentang Ibu bagaimana sebuah harta karun yang berisi pengingat tentang perjalanan kehidupan beliau yang begitu membanggakan. Berita dari Gorontalo tentang Sulaman Karawo ini menunjukkan sedikit kiprah Ibu untuk ketrampilan atau pendidikan luar sekolah di Indonesia. Kami anak-anaknya yang tumbuh dan besar melihat bagaimana Ibu berjuang mempelajari dan menguasai seluk beluk dunia ketrampilan perempuan. Banyak orang yang tak sadar mungkin bahwa beliau sebenarnya jenius dalam menemukan teknik menjahit sederhana yang cocok untuk industri kecil dan mudah dipelajari.

Sungguh sebuah langkah senyap yang beliau ambil. I salute you, Mom!

#missmymom

Copyright © Dewa Wisana. All rights reserved

Monday, December 03, 2018

1st Year Anniversary of Mom's Death

"A mother's love for her child never ends; it grows and grows
and never stops, even after her death."
~Mary E. Martinez

Malam ini, tepat setahun yang lalu 3 Desember 2017, Ibu pergi meninggalkan kami semua. Kami masih terus berusaha merayakan kehidupan yang Ibu jalani. Betapa banyak kisah perjuangan dan kesan-kesan indah yang ditinggalkan yang masih terus kami dengar dari banyak orang. Seolah-olah belum pergi. Ibu masih di sini, berkisah dengan siapa saja yang kami temui. Luar biasa perjalananmu, Bu.
Rasanya sulit menjelaskan rasa rindu ini. Tapi kami percaya cinta kasihmu pada kami akan selalu ada, di sanalah kami selalu yakin Ibu masih bersama kami. Kami sayang Ibu. 


Copyright © Dewa Wisana. All rights reserved

Saturday, November 03, 2018

Botol dan Isinya

Jadi ingat kata2 mutiara yang bilang "ujilah isinya bukan botolnya" 🙏
Tetiba banyak yg ngaku ngerti "isi" padahal baru megang2 "botol" doang. 🧐
#data

Copyright © Dewa Wisana. All rights reserved

Monday, October 22, 2018

logika

Bagaimana kalau melihat/membaca argumen-argumen ad hominem, ad ignorantum dan burden of proof reversal terus digunakan oleh pihak-pihak yang dulu kerap merasa menjadi korban ketiga kesalahan logika tersebut? 
Perlu diingatkan? 
Perlu dikasih tahu? 
Atau saksikan saja? 


#everybodythesame #bandwagoneffect #nocomment #nomention

Copyright © Dewa Wisana. All rights reserved

Sunday, October 21, 2018

Quotes on Democracy


"Democracy is based on Abraham Lincoln's principle that 'you can fool all the people some of the time, and some of the people all the time, but you cannot fool all the people all the time'. If a government is corrupt and fails to improve people's lives, enough citizens will eventually realise this and replace the government. But government control of the media undermines Lincoln's logic, because it prevents citizens from realising the truth." ~ 21 Lessons for the 21st Century, Yuval Noah Harari.
#reading #quotes

Copyright © Dewa Wisana. All rights reserved

Friday, October 19, 2018

Harari's Latest Book

"If mosquitoes buzzed in our ears and disturbed our sleep, we know how to kill the mosquitoes; but if a thought buzzed in our mind and kept us awake at night, most of us did not know how to kill the thought" 

"Perhaps in the twenty-first century populist revolts will be staged not against an economic elite that exploits people, but against an economic elite that does not need them anymore. It is much harder to struggle against irrelevance than against exploitation"
Those are several interesting quotes from Harari's latest book. Another exciting reading of the week!

Copyright © Dewa Wisana. All rights reserved

Monday, October 08, 2018

Pertemanan yang Membanggakan

Beberapa hal yang patut disyukuri dalam pertemanan adalah apabila ada di antara mereka yang memang terlibat langsung dalam aksi atau kegiatan sosial kemanusiaan serta meng-updatenya sehingga gw dan teman2 lain yang belum beruntung mampu ikut dalam aksi atau kegiatan tersebut menjadi tahu dan paham pentingnya hal tersebut. Gw juga jadi tahu bahwa memang ada hal-hal yang belum sempurna, tapi proses perbaikan dan pemulihan masih terus dilakukan. 
Hal lain yang juga patut disyukuri adalah teman-teman yang tulus dan giat bekerja tersebut memberikan fakta yang sederhana yang tak perlu dibumbui oleh jargon heroisme apalagi politik yang sedang latah saat ini. Mungkin orang lain belum seberuntung gw yang mengenal teman-teman tersebut dan mereka cenderung mengandalkan semua sumber informasi hanya dari 'katanya' grup chat, berita-berita yang parsial pun tendensius, pernyataan-pernyataan pemerintah dan politisi, atau bahkan sekedar meme atau skrinsyut-skrinsyut ndak nggenah. Beberapa diantaranya memang benar saat informasi tersebut diviralkan, namun banyak diantaranya sebenarnya hanya untuk 'hura-hura agitasi' saja. Gak apa sih jika memang mereka menikmati hal tersebut. Itu hak mereka kok. Tapi, gw lebih bersyukur mampu fokus ke informasi-informasi yang bersentuhan langsung dengan seluruh proses yang masih berlangsung. Situasi ini bukanlah ritual memasak mie instan, melainkan sebuah ikhtiar berbangsa dan bermasyarakat yang sedianya hanya didasarkan pada semangat kemanusiaan, bukan hal-hal yang egois. 
Terima kasih banyak teman-teman atas update laporan kalian. Semoga Tuhan selalu memberkati upaya kalian dan jagalah kesehatan karena gw masih ingin mengetahui update terbaru demi Indonesia yang lebih baik. Kami bangga dengan kalian! Terima kasih!

Copyright © Dewa Wisana. All rights reserved

Wednesday, September 05, 2018

LINE vs WhatsApp

Salah satu bukti nyata transisi demografi adalah keniscayaan untuk membentuk grup dengan mahasiswa di LINE bukan di WhatsApp. Ditambah lagi, mesti belajar mengekspresikan diri dengan stiker. 
#Millennials #dosenjadul

Copyright © Dewa Wisana. All rights reserved

Thursday, August 16, 2018

Stereotype pengguna jalan raya

Di jalan raya (atau di parkiran kendaraan), saya selalu punya stereotype bahwa pemilik kendaraan yang kebanyakan melakukan modifikasi yang tidak fungsional maka kelakuan orang tersebut di jalan raya akan cenderung ngawur dan tidak disiplin serta jumawa, egois gak peduli sama orang lain. Dan tabiat tersebut juga tercermin saat mereka tidak di jalan raya. 
Jadi, kalau motor atau mobil Anda knalpotnya dibikin berisik -ditambah sering digeber-geber gak jelas saat berkendara; atau, suspensi diceperin dan/atau ukuran ban dan velg dibesarin melebihi hitungan baku; atau, pakai body kit yang bikin mobil atau motor kelihatan seperti racing (padahal jadi kayak odong-odong); atau, nyalain lampu strobo dan sirine yang toat-toet gak jelas pas macet; atau, pengemudinya pakai atribut klub (khusus pemotor, biasanya pakai jaket yang ada tulisan+logo klubnya besar2)...
(PS: khusus yang anggota klub, kalau pas sendirian level jumawa Anda untungnya cuma 3 out of 5. Begitu kalian konvoi, level jumawanya naik jadi 10 out of 5. Okelah saya hiperbolik, tapi intinya saat kalian konvoi maka lengkap sudah tabiat minus kalian). 
Jangan marah yah kalau saya beranggapan Anda itu membahayakan para pengguna jalan raya lain. Kalau mau instrospeksi, maka Puji Tuhan 

Copyright © Dewa Wisana. All rights reserved

Friday, July 20, 2018

Data Analysis

We tend to exaggerate the relevance of our own experience. We 'weight' our data, and give far too much weight to one particular data point: ourselves. 
Thus, we are often wrong about how the world works when we rely just on what we hear or personally experience. 
#data #analysis

Copyright © Dewa Wisana. All rights reserved

Tuesday, July 17, 2018

Melawan Arus

Jadi ingat obrolan di warkop saat nunggu KRL.
X: "Penyebab macet di lokasi [simpul kemacetan rutin] sebenarnya motor2 dan angkot yg lawan arus."
Saya: "Betul, Pak. Dan gak bisa sembuh tuh."
X: "Saya juga kadang2 lawan arus sih pas perlu." 😜
Kadang2 itu sinonim dari sering... 😔

Copyright © Dewa Wisana. All rights reserved

Perilaku Macet

Gw gak komplain soal macet ya, saudara2 dan kawan2 semua. Buat gw, kalau loe tinggal di perkotaan, macet itu keniscayaan. Jadi, kalau ada pemimpin yang bilang mengurai kemacetan itu mudah, gw gak percaya. Kalau ada yang berargumen, "tambah angkutan umum" akan mengurangi kemacetan, gw gak percaya. Kalau ada yang berargumen, "tambah jalan" akan mengurangi kemacetan, gw gak percaya. Kalau ada yang berargumen, "pajak kendaraan dinaikin pasti macet berkurang," gw ngakak aja deh...kayak dia rela aja pajak kendaraannya naik setiap tahun. Gw menerima bahwa sumber kemacetan adalah gw sendiri sebagai pengguna jalan (I'm traffic!).
Yang gw komplain itu 'perilaku' kita di jalan raya. Kota2 besar lain juga macet, tapi mereka tetap 'sadar' dan berupaya agar kemacetan tidak diperburuk dengan kelakuan yang barbar serta tak berperikemanusiaan (buat gw, nyerobot antrian dan tak memberi kesempatan penyeberang itu adalah kelakuan tak berperikemanusiaan). 
Jadi, kalau ada yang komplain "macet tambah parah nih!" coba deh introspeksi diri loe sendiri dulu.
1. Antri kendaraan loe lurus gak? Atau, masih suka gonta-ganti jalur dan motong kiri-kanan?
2. Happy kalau melawan arus? Atau, antri di sisi kanan terluar sehingga bikin macet arah sebaliknya?
3. Suka melanggar larangan putar-balik (U-Turn)? Kalau pernah, hipokrit tuh namanya. Apalagi kalau loe pakai alasan, "Abis jauh sih!"
4. Merasa maklum jika parkir sembarang sambil nyalain lampu hazard di wilayah larangan parkir? Itu namanya egois akut
5. Biasanya bersuka cita kalau mendahului dari bahu jalan (khusus untuk di jalan tol)? Ini orang yang berasa tuhan sekaligus pembalap, menyedihkan.
6. Sering nyalahin polisi yang menilang sambil sembunyi2 di wilayah yang loe tahu ada rambu larangan tapi masih dilanggar juga? Kayak keledai yang jatuh ke lubang yang sama dua kali, tapi loe lebih parah karena yang disalahin lubangnya. 
Dan masih banyak lagi lho ya... coba deh ngaca dan inget2 tadi gaya nyupir atau nunggang motor loe kayak gimana. Gampang lho nyalahin orang lain dan anggap orang lain gak ngerti aturan lalulintas, tapi susah banget melihat apalagi mengakui kalau kelakuan kita yang senang menang sendiri dan berasa surga punya kita sendiri lah yang bikin semua masalah ini jadi menahun dan jadi praktek umum semua umat. Sempurna!

Copyright © Dewa Wisana. All rights reserved

Tuesday, February 06, 2018

Desa Batuaji


A TIME CAPSULE by Lang Leav

This is where, I began to carewhere I was befriendedThis is where, my soul was baredwhere all my rules were bendedThis is where, a moment we sharedwas stolen and expendedNow this is where,this where,this is where we've ended –
---------------------------------------
Desa Batuaji, Tabanan - Bali. 

Foto ini adalah gambaran terkini rumah tempat Bapak pernah dibesarkan. Mungkin Bapak menghabiskan hampir tiga perempat masa kecilnya di desa ini, jauh dari desa tempat orang tua beliau di Desa Bongancina, Singaraja - Bali. Ini adalah kondisi rumah yang terkini, artinya sudah cukup modern dibandingkan saat masa kecil beliau. Sayang sekali, Bapak tidak punya foto kenangan saat beliau di desa ini. Tapi, Bapak bercerita banyak hal tentang masa kecilnya di desa ini. 
Setiap kali saya memasuki jalan desa, kenangan akan cerita yang sering Bapak kisahkan setiap kali kami dulu berkunjung ke desa ini datang seperti kumpulan film dokumenter. Di sana sini sudah ada banyak perubahan dan modernisasi, tapi jejak-jejak masa lalunya masih terasa sekali auranya. Dulu saya sulit memahami kisah-kisah tersebut. Selain karena kerap diulang-ulang, juga karena saya sulit membayangkan diri saya sebagai Bapak saat beliau kecil dulu di lingkungan yang hanya sekali atau dua saya kunjungi setiap tahunnya. Saya selalu kehilangan konteks dan ruang dengan cerita tersebut. Namun, saat Bapak sudah tidak ada, entah kenapa saat terakhir ke desa ini ingatan itu menguat. Saya sulit menjelaskannya, tapi ingatan ini seperti gerak frame-frame foto yang tidak berhenti, terus bergeser memberikan informasi-informasi yang mengingatkan berbagai kenangan Bapak yang pernah diceritakannya tentang masa kecilnya. 
Oleh karena itu, Desa Batuaji ini sekarang bagaikan sebuah time capsule bagi saya yang diwariskan Bapak. Setiap kali ingat dan melihat time capsule ini yang kerap muncul seperti menyaksikan film dengan VR, pasti membuat mata saya menjadi hangat namun ada senyum yang selalu terlihat di setiap sudut frame yang muncul.

Copyright © Dewa Wisana. All rights reserved

Thursday, December 21, 2017

quote of the day

If we didn't see it with our own eyes or hear it with our own ears, don't invent it with our small mind and share it with our big mouth.

Copyright © Dewa Wisana. All rights reserved

Tuesday, December 12, 2017

Quote of the day

"No matter how far we come, our parents are always in us." 
~Brad Meltzer

Copyright © Dewa Wisana. All rights reserved

parents

Never forget your parents...They are the reason why you are who you are. #mom #dad #love #parents

Copyright © Dewa Wisana. All rights reserved

Friday, December 08, 2017

My Father

"My father didn't tell me how to live. He lived and let me watched him do it." 
~C.B. Kelland 

I love you, Dad ❤️
RIP

Copyright © Dewa Wisana. All rights reserved

true love

"True love doesn't have a happy ending... Because true love doesn't end."
*In memoriam of true love who gave me precious life 💑
I love you both, Mom and Dad
RIP

Copyright © Dewa Wisana. All rights reserved

Sunday, December 03, 2017

My Mother

"Men are what their mothers made them." 
~Ralph Waldo Emerson

I love you, Mom ❤️
RIP

Copyright © Dewa Wisana. All rights reserved

Friday, March 24, 2017

Happy postgrad for Reksa!

Menjadi pengajar/dosen memberikan kebahagiaan sederhana dengan siklus tanpa henti. Kebahagiaan pertama adalah saat kuliah, mahasiswa menikmati dan membicarakan materi kuliah dengan gembira. Kebahagiaan berikutnya adalah saat mereka akhirnya lulus mata kuliah tersebut. 
Kemudian, di kesempatan berikutnya kita bertemu lagi membahas materi yang sama namun lebih aplikatif lalu melanjutkannya menjadi topik skripsi. Di sini kebahagiaan terbesar adalah saat kita belajar bersama. Kebahagiaan ini bertambah ketika mereka lolos dalam konferensi internasional dan mempresentasikan materi skripsi tersebut. Puncak kebahagiaan dalam siklus perkuliahan adalah ketika si mahasiswa akhirnya berhasil mempertahankan skripsinya dan meraih gelar sarjana.
Setelah si mahasiswa mengisi pasar kerja, kebahagiaan saya belum berakhir ketika akhirnya kita bisa bekerja sama sebagai kolega. Posisi kita sekarang setara dan lebih dinamis. Banyak pengetahuan baru yang bisa dikejar bersama. Kebahagiaan ini masih berlanjut saat mendengar si mahasiswa akhirnya berhasil mendapatkan beasiswa yang diinginkannya untuk melanjutkan kuliah ke kampus yang bonafide. 
Proficiat untuk Rachmat Reksa! Selamat datang di dunia 'postgrad'. Pergilah mencari mahaguru lain yang lebih mumpuni. Temukan dunia yang lebih luas. Saya bangga pernah kuliah, belajar dan bekerja bersamamu. Tetaplah semangat belajar dan menikmati Hawai'i. Be humble and reach the stars, mate! Aloha Hawai'i 

Copyright © Dewa Wisana. All rights reserved

Wednesday, January 18, 2017

Catatan belanja harian Ibu

Catatan belanja harian Ibu pada tahun 1977. #momlife #love

Yang memprihatinkan ketika kita menjadi dewasa adalah kita kerap melupakan kenangan masa kecil kita. Itulah sebabnya, selain foto-foto dan video, catatan-catatan harian seperti diary bisa menjadi media memanggil memori kita. 

Foto ini adalah kenangan dari Ibu terutama di masa-masa awal Ibu menetap di Jakarta. Ini adalah catatan belanja harian yang Ibu lakukan pada saat saya baru berumur lebih kurang setahun. Catatan ini bisa memanggil sebagian kenangan tentang Ibu saat saya masih kecil.

Saya ingat bagaimana Ibu bertahan hidup di Jakarta dengan kondisi apa adanya. Ketika itu, Bapak sering tugas ke luar kota dan meninggalkan Ibu berhari-hari. Dengan anggaran terbatas, Ibu mampu mencukupi kebutuhan saya serta beberapa paman yang ikut tinggal dengan keluarga kami. Saya masih ingat Ibu kerap membuat kue mangkok dan dititip-jual di beberapa warung sekitarnya. Saya tahu betapa teliti Ibu dalam pekerjaannya, tapi catatan belanja ini membuktikan bahwa ketelitian tersebut bukan main upayanya. Setiap hari (per tanggal) Ibu mencatat detil belanja harian yang dilakukannya. Luar biasa!

Catatan sejenis ini masih bisa saya temukan menjelang akhir hidup Ibu. Meskipun isinya bukan lagi belanja untuk makanan harian melainkan belanja terkait kursus keterampilan yang dikelolanya. Melihat gaya seperti ini, tidak heran Ibu suka kesal apabila anak-anaknya kurang perhatian terhadap detil-detil hidup. Ibu juga jago matematika, terutama menghitung pecahan. Skill tersebut terbukti efektif ketika Ibu membuat pola baju dan menghitung ukuran pakaian yang akan Ibu jahit. Saya sudah sering kena kritik Ibu ketika lambat berhitung atau malah salah menghitung uang. Sungguh memalukan, apalagi kemudian anaknya ini kuliah di Fakultas Ekonomi. Dan kritik tersebut terbukti ketika saya harus mengulang Pengantar Akuntansi 2 sampai 4 kali; serta sekarang bertugas menjadi Wakil Kepala Bidang Administrasi dan Keuangan. Ibu sepertinya tidak rela jika saya mengurangi latihan berhitung dan kurang menjaga ketelitian dalam bekerja.


Copyright © Dewa Wisana. All rights reserved

Si Alex








Working on cars teaches us patience... and every curse word imaginable #dadlife #love
Foto-foto ini saya ambil ketika Bapak akhirnya memutuskan untuk menjual mobil kesayangannya pada tahun 2016 yang lalu. Rencananya, foto-foto ini akan saya muat di OLX atau website penjualan mobil lainnya agar Bapak bisa mendapatkan pembeli yang bersaing. Tapi ternyata mobil tersebut akhirnya dijual ke salah satu tetangga yang sering sekali Bapak ajak ngobrol secara akrab. Beliau bilang, "[Dia] sudah lama nanya-nanya si Alex jadi gak apa-apa deh yang penting pembelinya pasti merawat dan sudah tahu mobil ini."
Alex adalah panggilan kami untuk mobil ini karena karoserinya bernama Alexander. Ini adalah Suzuki Carry Extra 1.0 keluaran tahun 1996. Alex adalah mobil pertama (dan terakhir) yang Bapak beli dari kondisi baru. Sebelumnya, Bapak punya mobil second hand bermerek Daihatsu Hijet 1000cc, warna merah, keluaran tahun 1986; mobil pertama yang saya gunakan untuk belajar mengemudi. Bapak membeli mobil Alex secara kredit dan beliau merawat mobil ini dengan sepenuh hatinya. 
Alex sangat sering menempuh perjalanan jauh, terutama Jakarta-Bali pulang pergi. Saking seringnya, Bapak sering guyon, "Jika si Alex ditepok pantatnya, pasti dia bisa jalan sendiri ke Ketapang sampai nyebrang Gilimanuk dan balik ke Jakarta tanpa tersesat saking seringnya." Alex dibeli dalam keadaan standar, tapi kemudian Bapak melengkapinya secara perlahan namun pasti. Alarm dan central lock dengan remote control, Velg semi racing, AC double blower (percaya atau tidak, AC-nya masih dingin sampai terakhir dilepas ke pemilik barunya), lampu kabut, klakson variasi, dan kondisi interior terawat. Hampir setiap hari, Bapak memeriksa dan memastikan Alex dalam kondisi laik jalan. Alex hanya 3 kali masuk bengkel resmi ketika masih ter-cover jasa pelayanan gratis. Setelah itu, tangan Bapak sendiri yang merawatnya dari ujung kolong knalpot belakang hingga sekujur cat di body-nya. 
Bapak memang memiliki keterampilan tangan yang luar biasa. Apa pun yang rusak, bisa beliau perbaiki. Bapak hanya lulusan STM, tapi kalau menganalisis dan memperbaiki kerusakan barang-barang elektronik atau mesin, bisa diadu dengan mereka yang mengaku insinyur atau mekanik resmi. Kadang beliau sedikit jumawa, "Kalau cuma mesin mobil atau motor, itu seperti kotak korek api bisa ditelan sekaligus." Kejumawaan tersebut karena pekerjaan Bapak sebelumnya adalah teknisi mesin disel berkapasitas besar, untuk pembangkit listrik atau mesin kapal laut serta mesin-mesin truk angkut. Dalam pekerjaannya, tidak boleh ada kata "tidak bisa!" karena mesin-mesin yang diservis atau diperbaiki mempengaruhi hajat hidup bisnis banyak orang. 
Sebenarnya Bapak ingin anak laki-laki satu-satunya ini bisa seperti beliau. Sejak kecil, Bapak sering mengajak saya nge-bengkel. Mulai dari memperbaiki elektrikfikasi hingga turun mesin atau ganti plat kopling. Saya tidak pernah betah dengan kegiatan tersebut, bukan karena tidak suka dengan mobil atau mesin-mesin tapi tidak tahan dengan kesabaran Bapak memecahkan persoalan mekanik yang dihadapi. Bapak bisa nge-bengkel hingga larut malam apabila perbaikan yang beliau inginkan belum tercapai dengan kualitas maksimal. Beliau perfeksionis jika urusan kerapihan dan ketepatan fungsi mesin atau elektronik. Pernah suatu ketika, Bapak membeli alarm mobil dan membiarkannya si penjual yang memasangnya. Begitu sampai di rumah, hasil pemasangan itu diperiksanya dan langsung dibongkar lagi keesokan harinya karena menurut Bapak, pemasangannya tidak bagus dan bisa membahayakan jaringan listrik di mobilnya. Ya ampun! Kali berikutnya adalah pemasangan karpet peredam dan kulit untuk jok mobil saya juga pernah beliau lakukan sendiri karena tidak percaya dengan kualitas pengerjaan penjualnya. Pengecatan body mobil ketika ada penyok atau kerusakan cat, Bapak lakukan sendiri. Di garasi mobil, peralatan bengkelnya hampir lengkap untuk buka bengkel resmi. 
Urusan disiplin berlalulintas Bapak juga tidak pernah santai. Bapak tidak pernah mengizinkan saya membawa motor atau mobil ke jalan raya saat saya belum punya SIM. Bapak hanya mengizinkan saya mengeluarkan mobil dari garasi atau memasukkannya. Untuk motor, saya pasti didampingi Bapak jika keluar rumah hanya sampai ke gang di ujung jalan. Waktu saya ingin mendapatkan SIM, Bapak juga melarang saya melalui jalur "nembak". Maka, terjadilah proses 3 hari mengajukan permohonan SIM. Ketika saya akhirnya boleh mengemudi mobil pun, beliau tidak berkurang rewelnya soal gaya saya mengemudi. Dan, ini yang penting, patuhilah rambu-rambu lalulintas. Betul, Bapak tidak pernah sekali pun 'santai' dengan aturan lalulintas. Si Alex, meskipun mobil tua, memiliki standar kelengkapan yang maksimal: segitiga pengaman, kotak P3K, bahkan alat pemadam api tersedi di dalamnya. Sekali lagi, Bapak tidak pernah santai kalau urusan keselamatan dan aturan. Alex adalah saksi nyata bagaimana Bapak menjalani 'tour Jakarta-Bali' sekitar 3-4 kali dalam setahun dimana setiap kilometer perjalanan Bapak selalu penuh perhitungan, perencanaan dan disiplin tinggi.

Copyright © Dewa Wisana. All rights reserved

Monday, January 09, 2017

Pentingnya Pendidikan


Foto ini merupakan sebuah 'remark' dari Ibu kepada kami anak-anak dan cucu-cucunya tentang betapa pentingnya pendidikan.
Ibu hanya lulus SKKA (sejenis SMEA atau SMK saat ini) sebelum menikah dan bermigrasi ke Jakarta. Seumur hidupnya, Ibu tidak pernah lelah atau bosan mendorong kami anak-anaknya untuk terus sekolah. Masih terngiang di kepala setiap kata-kata beliau, "Gak apa2, Ibu hanya sekolah sampai sini, tapi anak-anak Ibu harus sekolah setinggi mungkin." Di antara 12 saudara, Ibulah satu-satunya yang tidak sampai mengenyam perguruan tinggi. Di antara keluarga besar, selalu ada kesan Ibu dan Bapak agak dikecilkan karena pendidikannya. Tapi Ibu tidak pernah menyerah. 
Ibu mengambil kursus menjahit dan berbagai kursus ketrampilan tanpa henti! Semua tingkatan ijazah Ibu miliki bahkan sertifikat asesor pun diraihnya tanpa batas! Ibu juga membuka kursus sendiri dan membuat berbagai program kursus baik yang berbayar maupun dengan program beasiswa. Di sinilah jiwa sosial Ibu begitu menonjol. Setelah semua sertifikat diraihnya, pada umur yang sudah lewat 45 tahun, tiba-tiba Ibu bilang ingin kuliah. Ternyata Ibu terus menyimpan semangatnya untuk kuliah dan berusaha mewujudkannya. Entah bagaimana caranya, Ibu dapat beasiswa untuk meraih gelar S1 di bidang pendidikan keguruan. Tidak berhenti sampai di situ, Ibu juga langsung lanjut ke S2. Salute!
Untuk seseorang yang sudah cukup lama tidak masuk ke bangku sekolah, Ibu berjuang keras dengan pola standar belajar saat ini. Tapi Ibu tidak menyerah! Ibu berusaha belajar menggunakan laptop, membuat presentasi dengan powerpoint, dan menggunakan smartphone untuk mengirim email. Tentu Ibu banyak dibantu asisten-asisten dan murid-muridnya. Tapi, Ibu tidak pernah menyerah dan bilang "tidak bisa!". Ibu selalu bilang "Jika memang mau, pasti ada caranya."
Ibu menunjukkan pada anak-anaknya dan pada dunia bahwa tidak ada batasan umur untuk belajar dan meraih pendidikan. Mungkin dari Ibulah saya mendapatkan semangat untuk terus berguru dan menjadi guru. Terima kasih banyak, Bu atas bimbingan dan semangat belajarnya!

Copyright © Dewa Wisana. All rights reserved

Friday, October 30, 2015

Parenting dan Website Sampah

Kami baru saja belajar hal yang cukup penting dan pelajaran yang kami terima juga cukup 'menyakitkan'. Pelajaran yang bisa kami ambil adalah jangan pernah memuat (publish) foto anak-anak Anda di website seperti blog atau yang sejenisnya. Jika pun Anda masih tetap ingin berbagai foto-foto lucu anak Anda, berikan penanda hak cipta (copyright signature) dan cap (watermark) di foto tersebut. Mengapa? Karena banyak sekali pencuri-pencuri foto anak dan juga pencuri materi-materi tulisan di internet. Tidak sedikit website-website dan page Facebook yang memuat artikel beserta foto-foto yang tidak jelas sumbernya dari mana. Tapi, sekarang kami mulai paham dan mengetahui bahwa artikel-artikel tersebut diambil tanpa izin atau pun pemberitahuan sama sekali dari sumber-sumber yang sebenarnya baik.

Pelajaran lain yang penting buat kami juga adalah betapa menjadi orang tua (parenting) sekarang begitu menantang. Bukan hanya karena anak-anak kita sebenarnya makin cerdas dan hebat, tetapi juga karena menjadi orang tua sekarang sangat sulit. Di satu sisi, kita perlu terus belajar dan mengetahui bagaimana trik atau tips parenting yang baik. Tapi di sisi lain, kita juga disuguhkan oleh berbagai informasi yang simpang siur dan sulit diverifikasi.

Di luar sana, sekarang banyak orang yang mengaku ahli dan pakar parenting. Mulai banyak bermunculan pakar psikologi anak, pakar komunikasi anak, ahli ini dan itu yang bicara tentang bagaimana mengasuh anak dan/atau membuat anak Anda menjadi anak pintar, sehat, jagoan dan sebagainya. Para pakar tersebut juga muncul di berbagai website, page, atau media sosial internet lain seperti Twitter, dan sebagainya. Beberapa di antara mereka memang orang-orang yang sungguh ahli di bidangnya, tapi banyak diantaranya yang sebenarnya tidak jago-jago amat selain mereka tahu mencari materi-materi kepakaran tersebut dari berbagai media internet. Apalagi kemudian diimbuhi dengan sedikit aspek-aspek keagamaan maka semakin hebat dan 'suci'-lah metode pengasuhan yang disampaikan oleh sang ahli atau pakar. Singkat kata, sekarang banyak para ahli dan pakar yang sebenarnya being expert by Google.

Akibat dari mendengarkan dan mempercayai expert by Google ini, kita juga mencari dan menemukan berbagai artikel yang ditulis dari kutipan berbagai hasil penelitian atau buku. Tapi, sayangnya artikel – yang biasanya ditulis oleh ghost writer mereka – tidak ditulis dengan kaidah penulisan yang baik dan benar. Artikel tersebut jarang (kalau tidak mau dibilang tidak pernah) mengutip (quote) sumber aslinya. Dan mereka juga mengambil foto atau gambar dari sumber-sumber yang mereka tidak minta izin sebelumnya atau tidak menyebutkan sumbernya dari mana. Hal ini kemudian diperburuk oleh para orang tua, pembaca dan para peminat parenting yang malas membaca dengan seksama serta kritis terhadap sumber-sumber yang digunakan oleh artikel tersebut. Selama artikel tersebut mendukung opini yang mereka sudah percayai sebelumnya, serta merta artikel tersebut disebar (share). Dan gelombang berbagi berikutnya pun terjadi yang berarti gelombang ketidakpedulian dan kecerobohan (kalau tidak mau dibilang kebodohan) kembali berulang dikalangan para orang tua, pembaca dan peminat parenting tersebut. Ini sungguh menyesakkan. Sungguh memprihatinkan bahwa banyak orang yang ingin belajar sebagai orang tua yang baik, tapi kita mendapatkan informasi dan pengetahuan dengan cara yang tidak baik. Banyak yang belajar menjadi orang tua yang baik tapi tidak mau bersusah payah belajar untuk kritis dan peduli pada hal-hal sederhana seperti hak cipta dan originalitas.

Kami belajar bahwa menjadi orang tua (parenting) yang baik, bukanlah soal label atau apa yang ideal berdasarkan pikiran orang lain. Betapa pun banyaknya hasil penelitian yang membuktikan suatu cara parenting adalah baik, pada akhirnya yang terpenting adalah bagaimana interaksi Anda sebagai orang tua dengan anak Anda sendiri. Yang terpenting adalah Anda belajar terus tanpa henti mengenal dan memahami anak Anda, karena itu pun yang terus dilakukan oleh anak Anda terhadap orang tuanya. Anak belajar banyak dari orang tua, mereka melihat orang tua mereka sebagai panutan (role model) oleh karena itu jadilah panutan yang baik, bukan menjadi pengikut para "expert" yang membuta. Para "expert" tersebut bisa saja bicara banyak hal yang seolah-olah menunjukkan cara parenting kita masih belum atau sudah ideal/benar, tapi mereka bukan orang tua dari Anak kita.

Jadi, ada beberapa hal yang bisa dilakukan dan perlu diperhatikan:

  1. Seksamalah ketika membaca berita-berita dan artikel-artikel tentang parenting. Apa yang setuju dengan ide Anda belum tentu didasarkan atas pemikiran yang teruji karena kebanyakan itu hanyalah opini atau kesimpulan sepihak dari penulis yang tentu apriori terhadap suatu permasalahan atau solusi.
  2. Di luar sana, banyak artikel yang memuat informasi sampah yang sulit diverifikasi serta hanya memuat informasi sepotong-sepotong. Jangan mudah percaya pada artikel parenting yang memulai atau menunggakan kata-kata "inilah parenting yang baik" atau "inilah parenting yang salah". Artikel tersebut tidak berniat berbagi informasi melainkan ingin menghakimi Anda sebagai orang tua. 
  3. Salah satu ciri-ciri artikel parenting sampah adalah tidak menyebutkan sumber kajian atau studi yang dikutip. Padahal, saat ini banyak studi dan kajian parenting yang dilakukan dengan metode ilmiah yang teruji sudah dipublikasi di media-media ilmiah online. Artinya, jika artikel parenting yang baik ditulis dengan niat yang baik maka pasti menyajikan sumber rujukan bacaan, kajian atau studi yang digunakannya sebagai dasar argumen.
  4. Ciri-ciri lain yang penting dari artikel parenting sampah adalah menggunakan foto-foto anak-anak. Yang lebih parah dari ciri-ciri ini adalah mereka menggunakan foto anak-anak tanpa menyebutkan sumber foto tersebut. Website atau artikel parenting yang begini hanya ingin menjual sensasi foto anak-anak yang lucu dan menggemaskan. 
  5. Ciri-ciri artikel parenting yang baik adalah yang memuat siapa penulisnya dan afiliasinya. Website atau page group tempat artikel tersebut dimuat memiliki administrator yang jelas dan merespon jika dihubungi. Jika kedua kriteria tersebut tidak ada, maka sudah pasti itu artikel parenting sampah dan berbahaya bagi masyarakat. 
  6. Terakhir, jangan latah berbagi berbagai artikel atau berita atau website tentang parenting. Jika pun Anda ingin berbagi artikel atau berita atau website yang menurut Anda baik, bagikanlah langsung kepada orang-orang yang menurut Anda relevan dan tertarik. 



Copyright © Dewa Wisana. All rights reserved