Thursday, July 03, 2008

surel dan selebrasi

Seorang teman berpendapatan bahwa penggunaan bahasa yang dilakukan oleh seorang individu bisa menunjukkan kemampuan pikirnya. Aku kemudian berpikir bagaimanakah sebenarnya kemampuan berpikir kita di Indonesia yang menggunakan bahasa persatuan, Bahasa Indonesia? Pertanyaan tersebut timbul dan semakin menguat setelah akhir-akhir ini aku semakin sering menemukan kata-kata yang asing dan aneh serta memancing kebingungan dalam tataran penggunaannya. Kata-kata tersebut sering muncul baik di pelbagai surat kabar terkemuka di Ibukota maupun di televisi terutama ketika memberikan terjemahan atas film-film berbahasa asing.

Salah satu kata yang belakangan kerap kubaca adalah "surel". Ketika pertama kali membaca kata tersebut, aku cukup bingung dan bertanya-tanya, kata apakah ini? Setelah beberapa lama kemudian aku mengetahui bahwa "surel" adalah bahasa Indonesia untuk "email", dan surel merupakan bentuk penyingkatan (akronim) dari "surat elektronik".

Untuk kata yang didasarkan pada bentuk penyingkatan, mungkin kita hanya perlu membiasakan diri saja untuk menggunakannya. Namun, setelah sekian lama kita mengadopsi atau menyerap kata "email" ke dalam perbendaharaan kosakata kita sehari-hari, rasanya akan cukup sulit bagi kebanyakan kita untuk mulai menggunakan "surel" dibandingkan "email". Belum lagi jika kita kerap sudah sering mendengar orang melafal "email" dengan "imel". Dalam hal ini, kosakata "surel" tersebut mungkin harus lebih sering dikumandangkan dan dilatih dalam kelas-kelas pelajaran bahasa Indonesia. Jika kita memang sepakat untuk menggunakan kata tersebut di masa datang.

Satu contoh kata dengan akronim yang sekarang sukses digunakan adalah "ponsel" atau "telpon seluler", untuk menggantikan "handphone" yang dulu sudah mempopulerkan "telpon genggam". Karena mungkin "telpon genggam" sulit untuk disingkat maka "telpon seluler". Coba, siapa yang setuju jika telpon genggam kita singkat menjadi "pon-gam"? Hati-hati jangan sampai tanda pisahnya dicabut karena cara bacanya jadi akan membuat dahi berkerut.

Ada kata-kata lain yang lebih bersifat serapan tapi belakangan ini jadi sedikit mengganggu dan menggelikan - setidaknya menurut pemikiranku - karena cara penyajiannya. Kata-kata tersebut biasanya diserap dari bahasa Inggris dan hanya diganti satu dua hurufnya saja agar disesuaikan dengan lafal huruf di dalam bahasa Indonesia. Satu contoh kata tersebut adalah "selebrasi", yang berarti "perayaan".

Terdapat dua gangguan dan kegelian yang kurasakan atas kata tersebut. Pertama, kata tersebut sesungguhnya sudah memiliki kata dalam bahasa Indonesia sendiri yang aku yakin sudah sering digunakan dalam berbahasa Indonesia sehari-hari. Misal, sejak dulu kita sudah sering menggunakan istliah "Perayaan Hari Kemerdekaan" atau "Perayaan Hari-Hari Besar Keagamaan" dan masih banyak lagi. Jika kemudian kita harus menggunakan kata "selebrasi", maka misalnya akan terdengar menjadi "Selebrasi Hari Kemerdekaan" atau "Selebrasi Idul Fitri" atau "Selebrasi Ulang Tahun" dan sebagainya. Ah, itu terdengar dan terbaca aneh. Siapa yang bersedia mengganti kata-kata tersebut seperti demikian?

Kedua, kata "selebrasi" bagiku terdengar menjadi kata yang "jorok". "Jorok" disini dalam pengertianku adalah karena diserap tanpa pemikiran estetis dan terkesan asal-asalan. Mengapa demikian? Coba saja tengok kata dasar dari "selebrasi" yang berasal dari bahasa Inggris, yaitu "celebration". Jika kita tahu kata dasar "celebration" adalah "celebrate", maka kata serapan untuk perayaan tersebut seharusnya bukan "selebrasi" melainkan "selebret". Inilah sekedar permainan makna kata dasar yang menunjukkan bahwa kata "selebrasi" terkesan "jorok" karena terkesan asal-asalan ketika digunakan tanpa memperhatikan akar katanya. Ditambah lagi tidak ada pemikiran estetis di situ karena hanya mengganti huruf "c" dengan "s" dan "tion" dengan "si". Sesuatu yang jelas menunjukkan kedangkalan berpikir si pengusul kata tersebut karena ia enggan memikirkan keelokan penggunaan kata tersebut kelak jika sudah digabungkan dengan kata-kata lain untuk membentuk kalimat.

Nah, jika Anda kelak membaca juga kata-kata lain yang aneh dan membuat Anda miris sekaligus berpikir bolehlah berbagi dan saling mengingatkan agar jangan terjebak pada pola pikir yang dangkal.