Wednesday, September 01, 2004

Hanya Dingin

Ah, kata mereka ini hanya dingin biasa. Hujan sejak semalam dan angin yang keras menerpa dalam cuaca basah, itu biasa. Hanya dingin yang dibawakan hujan dan angin keras itu. Tapi mengapa aku menggigil di dalam kamarku yang hangat?

Kata mereka, dingin ini cuma sesaat. Nanti ada yang lebih dingin lagi. Lebih dingin lagi? Iya, lebih dingin. Hingga membekukan hampir semua hal, termasuk manusia. Tapi mengapa air mataku beku di dalam hati yang sedang lara ini?

Ah, semua ini biasa. Dingin, hidup di negeri orang, hidup di suasana yang baru, kegembiraan yang sesaat, dan segalanya itu biasa. Banyak orang yang telah mengalaminya, jadi… Tapi mengapa aku merasakan semua “biasa” itu jadi dingin? Katamu, tak semestinya aku menggigil di dalam kamar yang hangat. Tak semestinya aku mengeluh karena air mataku ini beku. Tak semestinya aku menangguk hati yang lara.

Wahai, kamu yang ternyata paling tahu… Katakanlah terus tentang yang semestinya aku lakukan. Akan kuamini dan kujalankan kemestian itu.

*Aku bertanya pada Tuhan, mengapa aku diciptakan jika aku harus menjadi sempurna dalam satu malam?? Atau, ternyata aku ada karena aku harus menanggung cacad ini sendiri??*
[├ůs-Norges, 31082k*4 just in Inferno]

No comments: