Sunday, September 19, 2004

Pecah Serpihan

Bagai gelas kaca di utara
yang telah lama dingin
membeku diterpa angin hujan salju
dari selatan sepanjang malam yang lalu
aku pecah berkeping-keping
tersebar menjadi tak berarti
dihujam terik mentari hari nan panas

Kata-kata cinta terselubung kabut ragu
yang beriring cepat mengikuti
deras aliran sungai
gigil hati yang membeku
dan menunggu dihempaskan lagi
setelah sekian kali dikasihani
beberapa musim panas lalu

Gelas kaca ini berusaha bertahan
deraan dingin ragu yang kian hebat
jauh lebih kuat
dari segala upaya yang boleh dikatakan
tujuan tersesat di ujung kutub
dan kompas tak mampu menunjukkan
arah mana yang harus diambil

Dan kini
gelas kaca ini pecah berkeping...
bila dingin beku
angin hujan salju
kembali menerpanya
dan terik mentari hari nan panas
kian menghujamnya
maka pecahannya akan menjadi serpihan
lebih tak berarti...
lebih tak berarti lagi...

Lalu untuk apa
dan kenapa
ia di sini...?


DrĂžbakveien, 18sep2004
"... hujan angin dingin -rasanya sudah seperti salju,
meski aku sama sekali belum melihatnya- sepanjang hari dan aku mencari puisi harapan
di sepanjang jalan basah sepi, tapi hanya pecahan serpihan kaca berserakan
yang kutemukan didepan pintu inferno-ku"

No comments: