Wednesday, September 01, 2004

Kehilangan Puisi

Kehilangan sebuah puisi... kehilangan sebuah puisi tentang sepi. Deretan lagu terus diperdengarkan, namun hanya dengung angin dingin yang keras menghembus terdengar di seantero hijau padang hingga tulang belulang sukmaku... Jari jemari kaki semangatku seperti mati tak bernurani sama sekali, dan aku tak kuat melangkah. Tapi ia nun jauh di sana berteriak tak sabar memanggil. Di mana harus kulangkahkan tekad mencari puisi yang hilang tentang sepi??

Kuningan gandum itu pucat, tak lagi kulihat cerah. Hujan sepanjang hari, datang dan pergi, hanya memberi nafas sesaat... Tapi di mana sang puisi?? Aku mungkin telah melenyapkan seluruh aksara dan makna-nya tanpa aba. Aku terlena dalam larutan alam yang ada di hadapan. Tapi aku tidak lupa pada hatiku, sama sekali tidak. Bila memang gelap menganggapnya demikian, apa boleh dikata. Maka laknatlah aku!

Aku tertidur karena lelah dan belum mampu sehebat sang bulan yang sanggup tersenyum sepanjang malam bagi bumi. Kini, di tengah malam tanpa bulan ini, aku mencari sebuah puisi tentang sepi? Padahal, pagi ini aku sudah gagal menyelesaikan pertarungan dan menjadi pecundang. Kalian pasti bisa menjadi yang utama hanya dalam semalam, sedang aku harus terus mengulangi malam-malam menjadi gagal. Demi itulah, sekarang aku sangat butuh puisi yang hilang tentang sepi...

Hanya sepi yang bisa menjawab kegagalanku. Hanya sepi yang mengerti bahwa aku tak pernah ingin menyerah. Hanya sepi yang boleh kuminta menunggu apa yang masih bisa kupikirkan untuk mencoba lagi. Hanya sepi yang akhirnya pun menerimaku. Dan ketika aku menunggunya, puisi yang kubuat telah menjadi kehilanganku... Aku kehilangan puisi tentang sepi.

[├ůs-Norges, 31082k*4]
" ... walking alone in almost the middle of the night across the oat field, looking for my poet"


No comments: