Friday, February 29, 2008

What Card Am I?



You are The Sun


Happiness, Content, Joy.

The meanings for the Sun are fairly simple and consistent.

Young, healthy, new, fresh. The brain is working, things that were muddled come clear, everything falls into place, and everything seems to go your way.

The Sun is ruled by the Sun, of course. This is the light that comes after the long dark night, Apollo to the Moon's Diana. A positive card, it promises you your day in the sun. Glory, gain, triumph, pleasure, truth, success. As the moon symbolized inspiration from the unconscious, from dreams, this card symbolizes discoveries made fully consciousness and wide awake. You have an understanding and enjoyment of science and math, beautifully constructed music, carefully reasoned philosophy. It is a card of intellect, clarity of mind, and feelings of youthful energy.

What Tarot Card are You?
Take the Test to Find Out.


Thursday, February 28, 2008

Motor Saja Yang di Jalur Busway

Siang tadi, Aku menikmati perjalanan dari Depok menuju Kawasan Sudirman tepatnya Gedung Bursa Efek Jakarta (BEJ) untuk memenuhi janji pekerjaan. 

Ketika melalui daerah Warung Buncit yang dilalui jalur Busway, aku sempat memperhatikan keadaan lalulintas dan terpikir sesuatu ide yang mungkin akan nyeleneh untuk para pengambil kebijakan. Ide ini berkaitan dengan upaya mengurangi kemacetan akibat berkurangnya jalur jalan yang diambil oleh Busway.

Ide-ku adalah jangan lagi mobil pribadi diijinkan memasuki jalur Busway (seperti pernah diijinkan oleh Gubernur Fauzi Bowo). Melainkan, biarkan semua motor yang diijinkan memasuki jalur Busway. Betul, di jalur Busway hanya ada dua jenis kendaraan yaitu Busway sendiri dan sepeda motor. Argumenku adalah membuatkan spesialisasi yang dapat meningkatkan efisiensi jalan jika digunakan oleh kendaraan sejenis. 

Jalur non-Busway sedianya harus fokus untuk memenuhi kebutuhan jalan bagi mobil pribadi dan angkutan umum non-Busway yang memiliki ruang gerak terbatas. Sehingga, jika sepeda motor yang selama ini cukup merepotkan dan kian membatasi ruang gerak mobil dipindah seluruhnya ke jalur Busway maka hal tersebut akan meningkatkan arus gerak mobil. Motor sendiri akan diuntungkan dengan spesialisasi di jalur Busway, karena relatif lebih cepat geraknya dan tidak terganggu oleh manuver mobil. Busway tidak akan mengganggu secara signifikan karena mereka berhenti hanya pada titik-titik terhenti dan kecepatan mereka sudah bisa diimbangi oleh kecepatan motor. 

Tidakkah itu ide yang menarik?

Wednesday, February 27, 2008

Parentonomics


What if being a parent just like being an economist? Then you have to read the following book - Parentonomics. If you wish to read further about parenting using economic tools then you may visit the author's blog - Game Theorist

Looking forward to have it!

PS: Similar posting at kaFE depok.

Monday, February 25, 2008

Kerja Bakti di Permata Depok Regency (Bagian 2)

Ini adalah posting tentang kerja bakti di Permata Depok Regency bagian ke-2. Bagian pertama bisa Anda simak di sini. Bagian pertama kemarin bercerita terutama tentang kegiatan membersihkan rumput liar di tanah yang ditelantarkan oleh PT Citrakarsa Hansaprima selaku pengembang Permata Depok Regency atau PDR. Selain itu di bagian pertama sudah juga ditunjukkan bagaimana terlantarnya kebersihan saluran air di kompleks PDR seperti dibuktikan dengan banyaknya sampah plastik yang ditemukan dalam saluran air di PDR blok D1, D12, dan D25.

Pada bagian ke-2, warga masih melanjutkan upaya membersihkan tanah kosong yang ada diantara blok D1, D12 dan D25. Setelah cuaca cerah dibarengi panas matahari yang cukup sehari sebelumnya dan minggu paginya, maka warga bisa sedikit demi sedikit membakar sisa-sisa rumput liar hasil pembersihan minggu lalu ditambah sampah plastik yang ditemukan dalam saluran air. Para warga juga mulai membahas tentang rencana membangun saung atau semacam gubuk bambu sebagai sarana kumpul-kumpul warga. Selain itu, kami juga mulai meratakan tanah dan merapikan puing-puing yang banyak bertebaran di lokasi. Sebagian besar waktu yang kami habiskan adalah untuk berbincang-bincang dan sekedar membahas kondisi perumahan kami tercinta sambil terus melanjutkan mengumpulkan dan membakar tumpukan sampah dan rumput yang telah kami bersihkan. Dapat dikatakan bahwa kegiatan ini membuat kami semakin dekat dan kompak. Untuk selanjutnya, kami akan dibantu oleh Pak Isa (lihat insert foto berikut) untuk meratakan tanah dan membuat permukaan tanah siap didirikan saung tempat berkumpul. 

Berikut ini adalah foto-foto kegiatan kerja bakti di PDR bagian ke-2.






Friday, February 22, 2008

New family

It's really cute to see this new family. Well, I'm not a big fan of cats. But, I love to see animals and find out their new siblings just arrive in this world.




This new family settle at the front door of my office. I took their picture right before I enter my office building. Cute aren't they? Any of you wish to propose name for the newborn?

Thursday, February 21, 2008

Trial with Blogger widget for Mac

This widget has successfully logged in! Replace this text with your
first post.

You can use ⌘-B and ⌘-I to make text
bold and
italic.

Take a look! That's all that being written in the welcoming message in Blogger widget for Mac OS X. Hopefully, by this blogging could be more easier. I am officially said this is my first post!


Quote of the day: On Water

"Water is powerful. 
It can wash away earth, 
put out fire, and even destroy iron."



I believe, Indonesian should really took the above quote deep inside their mind. As Indonesia area covered with water more than 60 percent. In term of climate, Indonesia also will be fully wash with water during rainy seasons. Hundreds of kilometers long of rivers, couple of meters deep and view hundreds square meters of lakes, and many other water surface sources maybe potential as benefited resources. But, it also could dangerously affect people if managed with ignorant. 
    

Wednesday, February 20, 2008

Concern with plastic waste?

I am really concern with plastic waste rapid growth. That's why I post a question Why Plastic (bag) Should Be Expensive? at KaFE depok. Please, feel free to visit and write down some comment. 


Monday, February 18, 2008

Kerja Bakti di Permata Depok Regency

Hari Minggu kemarin, warga Perumahan Permata Depok Regency (PDR) di Blok D1, D12 , dan D25 melaksanakan kegiatan kerja bakti yang ‘spesial’. Sebagai salah seorang warga PDR di Blok D25, aku ikut serta kegiatan tersebut.

Kerja bakti kali ini dikatakan ‘spesial’, setidaknya untukku, karena berlokasi di tanah kosong yang ada di sebelah selatan posisi rumahku. Jadi, diantara Blok D1 dan D25 terdapat lahan kosong yang belum ada peminatnya. Ada beberapa hal yang membuat lokasi tanah ini spesial. Tanah ini topografinya lebih tinggi dibandingkan perumahan di Blok D1. Meskipun sama tingginya dengan Blok D25, namun posisi tanah ini tersudut di antara kedua blok (D1 dan D25). Selain itu, tanah ini dilewati saluran air yang melewati PDR di bagian barat. Saluran air ini sangat penting karena menjadi bagian penting dari sistem pengairan keseluruhan komplek PDR. Paling tidak, itu menurutku lho, sebab aku yakin fungsi saluran air ini menjaga agar daerah yang lebih rendah di PDR tidak mengalami genangan air (baca: banjir). Hal ini terlihat dari tingginya posisi saluran air ini.


Tanah tersebut kalau boleh kusebut sebagai tanah yang terabaikan oleh sang pemilik, yaitu pihak pengembang PDR - PT Citrakarsa Hansaprima. Aku mengatakan demikian karena sudah sekian bulan tanah tersebut tidak dirawat oleh pengembang. Padahal, rumput-rumput liar yang semrawut tumbuh subur di lokasi ini. Bahkan, saking suburnya, tumbuh juga tanaman lain termasuk sejenis kangkung atau enceng gondok di saluran air yang melewatinya. Pada gilirannya, hal tersebut menyebabkan beberapa hal mulai dari terlihat kumuhnya lokasi tersebut, penuh dengan makhluk-mahkluk kecil besar, hingga tersumbatnya saluran air yang juga menghambat sampah-sampah yang terbawa di saluran tersebut. Padahal, jika memang tanah tersebut masih ingin ditawarkan atau dijual, seharusnya pengembang memperhatikan keadaan tanah tersebut sedemikian sehingga menarik bagi calon pembeli.

Kami, para warga mulai gemas dengan ‘ketidakpedulian’ sang pengembang. Maka kami berinisiatif untuk memanfaatkan sejadi-jadinya. Dimulailah dengan membersihkan rumput-rumput liar yang tumbuh dan meratakan tanahnya. Selain itu, saluran air juga dibersihkan agar aliran air lebih lancar sehingga suara gemericik air yang mengalir dapat meneduhkan suasana yang sudah kadung tidak terurus tadi. Kemudian, para warga akan segera menggunakan tanah tersebut untuk berbagai kegiatan mulai dari sarana olahraga kecil seperti tenis meja dan sekedar lokasi untuk berdiskusi, ngobrol. Mungkin para warga akan mendirikan tempat berkumpul, semacam gubuk-gubukan dari bambu beratap jerami. Atau apa pun yang bisa membuat warga semakin guyub. Dan yang terpenting, tanah tersebut tidak disia-siakan oleh sang pengembang begitu saja.

Satu catatan penting yang patut menjadi perhatian kita semua dari kegiatan kerja bakti warga PDR ini adalah betapa pentingnya kita mencermati keadaan lingkungan, terutama sampah plastik. Salah satu temuan kami ketika membersihkan saluran air, betapa banyak sampah plastik yang menumpuk dan menghambat, bukan hanya aliran air, melainkan juga sampah-sampah organik lain yang seharusnya tidak terlalu mengkhawatirkan. Bayangkan saja, jika sampah plastik (seperti tampak di dalam foto di bawah ini) menutup saluran air, maka jangan salah hujan yang deras jika kemudian kita akan menghadapi genangan air di depan rumah kita atau malah banjir ringan hingga akut.

Sekarang aku mengerti mengapa plastik sudah tidak disukai di luar negeri sana. Ayo, kita bersihkan saluran air dan kurangi sampah plastik! Sebagai pengingat saja, sudahkah Anda membersihkan saluran air di lingkungan Anda?

PS: berikut ini beberapa foto kegiatan kerja bakti di PDR Blok D1, D12 dan D25.







Friday, February 15, 2008

I am a 'Mac User' now!


Today, I am proudly present a new companion for my computing activities. Please welcome, my cute white MacBook from Apple. Yes, as per Wednesday (13 February 2008) I am officially switch from Windows PC to Apple MacBook. After struggling almost two hours from Depok to iBook Puri Imperium to take this piece beautiful-look machine, and more than two hours return back to Depok, finally the MacBook arrived at my home. I do not know how to tell you the feeling. One thing for sure, it's been a great excitement to re-open the box (it was already open before to check and start up) and start touching this beautiful piece of machine. Can I claim myself as a ‘Mac User’ now?

If you really a person of style and loved fashioned stuff, then you will be fall in love right at the first time you see the 'shape' and color of this MacBook. At least, that was I heard from my wife who teased me with smile and said, “Why don't you use my Lenovo (with Windows Vista OS), and I used this MacBook”. Wow, what a tough offered after waiting and longing for so so long...


Well, I am not that style-first kind of person definitely. But, I cannot deny that MacBook looks so fancy and stylize with glossy surface on the lid and a bit rough on the keyboard. It's is certain that when you type using MacBook keyboard, you will hear no 'ck ck ck...' sound of the keys while being press. But, for me the sound is enough to make sure that 'yes, I am typing a keyboard now'. Not too silent but not to loud. The pressure also unnecessarily that hard, as the keys kicking back quite well. So, in general, touching MacBook is just like touching a technology that seems already at the high end features. Could not ask for more.

Those physical perfection are not my major consideration. I've learned for several month before I decided to switch to Mac and leave the common 'Windows' system. And, one important consideration for me is performance. When I touch my MacBook for the first time, I've already able to feel how fast and smooth the Apple operating system - Mac OS X known as Leopard. Initiating start up and shut down just as fast as I inhaling my breath twice. When I tried to put the MacBook on sleep mode, it was as the same pace as I open the screen to wake him up. All of those starting and stopping the machine activities only taking less than a couple of second.

Every time I execute new application or launch multimedia, such as iTunes, it is very rare for me to wait more than 2 second. In fact, it is very fast. I like the display as it is very clear and just like watching high quality LCD screen television. This advantage is clearly seen when I preview several pictures from my photo album. They looks so clear and sharp. The docks and menu style are very intuitive. Without reading the manual first, even my wife who just the first time to touch the Mac started to get used to the interface and system orientation. Comparing my experience using Windows Vista for the first time, using Mac is just like using a very-well-known device. In term of learning process, it's extremely easy. The icons and labels quite understandable. Therefore I believe, the important things that build by Apple to make cross-over from PC to Mac seems so easy.

Pre-installed applications in my new MacBook are NeoOffice and Parallels Desktop. NeoOffice is just like Microsoft Office for Mac. It is very nice and provide a bunch of text and spreadsheet file format option. So, there will be no problem at all if you work in Mac and sharing your work with your colleague that use PC or reading your colleagues' work. While Parallels will make my MacBook able to use Microsoft Windows operating system to run application that only Microsoft have. In short, I'm highly recommend MacBook if you wish to have good looking machine with better hardware performance. My words might be not convincing enough to tell you that my MacBook is great. At least, until now it getting better and better as I am becoming familiar with this machine. Welcome Apple!

I will share with you later my further review on my new MacBook. Now, let me read the manual book first...

Thursday, February 14, 2008

Hari ini tentang Cinta

Ketika hari-hari makin cepat berlalu
Ketika umur terus melaju
Musim pun tak surut berganti padu
Aku ditanya "Di mana puisi-puisi cintamu?"
"Apakah Ia telah berlalu seperti hari-hari?"
"Apakah Ia telah lenyap melaju kian cepat?"
"Apakah Ia telah jenuh?"

Maka kujawab,
"Tidak, sayang.
Cintaku tak pernah berlalu, pun melaju, palagi jenuh.
Ia masih tetap puisi-puisiku yang penuh kasih.
Puisi yang masih sedih jika jauh darimu.
Puisi yang tetap segar saat kau hadir.
Puisi yang semakin sempurna dalam kebersamaan kita.

Ia kian kecil karena damaimu.
Ia makin besar karena semangatmu.
Ia menyusun kata dan upaya karena kesanmu.
Ia terus menjadi puisi yang terus menjadi.

Kau tak akan melihatnya lagi seperti dulu.
Karena Ia telah menyatu dengan Cinta-Mu."

Karena hari ini adalah tentang Cinta...
Ia mencoba menyapamu untuk mengatakannya sekali lagi
dan untuk selamanya.

Aku mencintaimu... dengan sepenuh hati


Thursday, February 07, 2008

Sunday, February 03, 2008

When president and ministries trapped in floods...

As maybe you've read or heard yesterday (Friday, Feb. 1st 2008), Jakarta was 'attack' by heavy rain and follow by flood again. News and some people called last Friday as "Black Friday" for Jakarta. Today, The Jakarta Post serves us with an interesting news titled (President) SBY trapped in flood. I really love to laugh at loud that finally our leader may tasted the feeling of being trapped in such a routine disaster. Just like this,

As the entourage came to the front of the Sarinah Department Store, on a flooded Jl. MH Thamrin, Yudhoyono's RI 1 Mercedes-Benz sedan experienced engine trouble and he swapped vehicles to his guards' Mercedes jeep.

Although, as always, the president finally get a privillage to be able to escape from it via his expensive vehicle as easy as without yield for "Help!", I really hope that Mr. President could consider how despreate his people to face the flood and deal with all the consequences without any coping mechanisms being a real policy.

However, despite of Mr. President's experience being trapped on the flood, his ministries coping mechanisms really make me feel pitty. As telling by the news,

The rest of the cabinet's ministers arrived on time at the palace for the meeting in their SUVs (sports utility vehicles) that have higher ground clearance, instead of their official sedans.

Among them were Transportation Minister Jusman Syafii Djamal on a Land Rover, Coordinating Minister for Political, Legal and Security Affairs Adm. (ret) Widodo A.S. on a Lexus Cygnus, Coordinating Minister for People's Welfare Aburizal Bakrie on a Toyota Alphard, State Minister for the Environment Rachmat Witoelar on a BMW X5 and Forestry Minister M.S. Ka'ban on a Toyota Prado.


Do you feel what I feel? How easy the ministries escaped from the flood by their SUVs? Well, we are not yet coming into the real critics, for sure. Could you help me by telling me what is the price of all of the SUVs (in total to make it easier, maybe?) that helped them to escape from the flood? Moreover, could you help me by calculating how many gasoline their SUVs consumed? In fact, I am curious whether they bought those luxurious vehicles with our state budget or out of their own pocket. I hope someone could help me answering such querry.

Lastly, I do not understand why The Jakarta Post should posted that part of information. I do not see the important of knowing the (expensive) brands of the Ministry SUVs, especially when they used it to free themselves from the flood. The flood is one of their responsibility to be stopped, but... Hey, they keep dry for sure inside their SUVs!

Saturday, February 02, 2008

Manjir... Yang sabar yah

Ketika aku menulis posting ini, aku sedang bersyukur luar biasa setelah lolos dari 'kekacauan' yang selalu terjadi ketika hujan datang. Oh ya, mohon dicatat ini bukan sekedar hujan biasa melainkan hujan yang datang sejak tadi pagi dengan intensitas yang - mungkin belum bisa dikatakan paling tinggi - tapi cukup sedemikian hingga boleh membuat banyak genangan air keruh berwarna coklat setinggi mata kaki atau bahkan pinggang orang dewasa di mana-mana di sekitar Jakarta. Betul sekali, aku bicara tentang banjir yang - seperti sudah kebanyakan kita tahu - terjadi setiap hujan deras datang.

Jadi, siang tadi aku harus ke Depdagri untuk rapat dengan beberapa orang petinggi di sana dan juga seorang anggota dari salah satu lembaga donor yang turut mendukung petinggi-petinggi tersebut. Aku tak akan menceritakan apa isi pertemuan kami, tapi seorang anggota lembaga donor tersebut menyebutkan sebuah istilah yang sederhana tapi bagiku cukup mengena. Istilah tersebut yaitu MANJIR.

Karena tak pandai berbahasa Indonesia, istilah si anggota lembaga donor tersebut mungkin terdengar 'maksa' dan singkatannya jadi ganjil. Manjir adalah singkatan dari Macet dan Banjir. Dia mengucapkan istilah tersebut karena aku (dan anggota tim) terjebak macet dalam perjalanan dari Depok menuju kantor Depdagri di kawasan Gambir. Perlu lebih kurang 3 jam untuk mencapai lokasi, padahal waktu normal (dengan kemacetan yang cukup rutin jika minus hujan deras) untuk menempuh lokasi tersebut tidaklah lebih dari satu setengah jam.

Ketika pulang kembali ke Depok aku juga harus berhadapan dengan kekacauan karena banjir yang belum surut, sehingga harus memutar balik dan bersitegang dengan berbagai pengendara yang... yah, pasti Anda semua tahu bagaimana kelakuan penduduk Jakarta jika ada kekacauan... Membuat kekacauan lebih hebat lagi dengan saling serobot, mengambil keuntungan sesaat, tidak mau antri, dan sebagainya.

Mau bilang apa lagi? Inilah Jakarta, Bung! Di jalan raya, jika Anda tidak berteriak lebih keras dan kencang dibandingkan orang lain, maka Anda akan dilibas, ditelan bulat-bulat, bahkan dimaki-maki oleh orang seantero jagat. Yang ironis adalah semua orang selalu punya mantra yang sama dalam menanggapi (baca: mengomentari) fenomena ini... "Yang sabar yah...". Aku sih tidak mau munafik. Aku mengaku, jika di jalan raya Aku sulit untuk sabar, karena yah itu tadi. Aku pasti dilibas, ditelan bulat-bulat, bahkan dimaki-maki oleh orang lain hanya karena kita ikut antrian dengan apa adanya. Memangnya jika sudah Manjir seperti ini, kita bisa secepat apa untuk bisa sampai di tempat tujuan kita?

Tolonglah, kita semua kan sabar hanya ketika kita meminta (baca: berdoa) kepada Tuhan. Selebihnya, naluri alamiah manusia biasa yang akan menguasai... Egois, tamak, dan selalu merasa benar.

Itulah pelajaran yang aku dapat hari ini. Selain "Manjir" yah itu tadi... Mantra utama pengemudi di Jakarta... "Yang sabar yah..." Yang masih hingga detik ini terngiang di kepalaku adalah Aku diklakson dari belakang sementara ada motor yang memotong dari kiri dan hampir terserempet kepala mobilku. Sedangkan dari kanan, ada mobil minibus besar yang sudah memalangkan kepalanya yang bongsor menghadang di depan mobilku untuk masuk ke antrianku. Hal terbaik yang bisa Aku lakukan hanyalah menekan klakson mobilku sebisanya. Tapi siapa yang mendengar? Siapa yang peduli? Ini Jakarta, Bung!

Monday, January 28, 2008

Rest in Peace: Pak Harto


The former Indonesian President, the father of development, and one of the Asian dictator, Suharto (or Soeharto?) just died. It was a strange feeling to see at television all of his picture and activities being flash back again. It was also a funny feeling when I saw morning newspapers showing black frame with his "smiling" picture. Even I feel more bitter that I have not yet know how I should put my self on his controversy.

I cannot deny that I am part of 'Orde Baru' cohort. That's mean that somehow I benefited from Suharto's economic success from his first day ruling the country. I saw and able to use the improvement in infrastructures. I could get better health services. I enjoy great economic stability. I could study well with improvement in most of education facilities (thanks God, I could reach quite enough high education attainment!). And many more. On the other hand, I also noticed that he was quite repressive. Simply, I learn about term 'dictatorship' based on many writings commenting about his way of leadership. Furthermore, after I more and more understanding my beloved country's politics I learned that he was not an ideal leader to my country. He is good as one person, but he is also bad as another one. I am not so good to analyze all of those kind of things.

But one thing for sure, Pak Harto is my second president. He is one of Indonesian leader who lead this country into several achievements that makes this country great (was and will). Meanwhile, he makes mistakes just like "not holy" human. Probably, a lot of mistakes. Let's do simple justice in mind and heart. Put his good and bad as a huge reference for our better country development. Take all of his good deeds and use them as improvement lessons, and understand all of his bad ones as warning that such things should not be happen again in the future.

After all, I would like to pray rest in peace for Pak Harto. Now, it's only between him and God.

Tuesday, January 22, 2008

On international-trade posting

Please kindly visit my KaFE and help me with international-trade economics query.

telur mata sapi ala cinta


Aku hanya ingin membuktikan bahwa foto-foto iklan mie instant atau makanan cepat saji lain yang memuat telur yang bentuknya bagusssssss sekali itu bukan sekedar rekayasa untuk mempercantik. Dengan bantuan cetakan dan penyesuaian besarnya api di kompor, maka terciptalah telur mata sapi (sunny side up) yang lumayan tebal dengan bentuk hati ini. Oh ya, tidak perlu minyak goreng banyak sewaktu menggorengnya lho... Yang jelas, penggorengannya harus cukup rata permukaanya.

Telur ini aku persembahkan untuk sarapan istrinda tercinta...

Thursday, January 17, 2008

Anda tertarik melihat sedikit saja dari sekian banyak pelanggaran lalu lintas yang dilakukan para pengguna jalan raya di Indonesia?

Silahkan kunjungi Malu Dong. Di situ tersedia berbagai foto sebagai bukti-bukti pelanggaran lalu lintas yang kerap dilakukan oleh para pengguna jalan raya, termasuk aparat dan pejabat pemerintahan. Selain itu, ada juga beberapa tips berlalu lintas yang baik.

Penyebab Backward Travelling Wave: Contoh Kasus Kota Depok

Di harian Media Indonesia pagi ini (Kamis, 17 Januari 2008, hal.4), ada satu artikel di rublik Layanan Publik tentang fenomena kemacetan di Depok. Berita lengkapnya berjudul 'Zebra Cross' pun tidak Bertambah di Depok (Maaf, link beritanya membutuhkan subscription). Aku tertarik dengan artikel tersebut karena memberikan bukti empiris atas penyebab Backward Travelling Wave seperti yang aku tulis sebelumnya.

Di artikel tersebut Subandi, seorang warga Perum Depok Mulya III mengeluh tentang dampak banyaknya penyeberang jalan sebagai berikut,
"Dua orang melintas, lalu di depan menyebrang lagi lima orang, tidak jauh dari sana, ada lagi rombongan orang menyebrang. Engak heran kalau di dua kawasan itu (Pintu selamat datang Kota Depok dan depan Kampus Universitas Guna Darma, red.) selalu macet"
Tidakkah keluhan Subandi tersebut sama persis seperti penyebab No.1 dari Backward Travelling Wave? Keluhan Subandi tersebut masih bisa ditambah lagi jika kita melanjutkan perjalanan melewati Margo City - Depok Town Square kemudian melalui persimpangan Jl. Margonda Raya - Jl. Juanda yang tidak hanya dipadati oleh penyeberang jalan tetapi juga tempat pemutaran balik atau U-turn dan lampu lalulintas (di persimpangan Margonda - Juanda). Belum lagi banyaknya angkot yang mangkal atau berhenti secara tiba-tiba di sisi kiri jalan.

Di artikel tersebut juga diusulkan agar jumlah jalan penyeberangan orang (JPO) atau zebra cross ditambah. Bahkan Kepala Satuan Lalu Lintas Polres Metro Depok Komisaris Harry Sulistiadi mengatakan,
"Di kawasan pusat perbelanjaan, tidak cukup hanya membuat zebra cross, tapi membangun jembatan penyeberangan orang"
Anda semua pasti secara aklamasi setuju jika ada jembatan penyeberangan di jalan Margonda Raya, khususnya di depan Margo City - Depok Town Square. Namun, jembatan penyeberangan bisa jadi tidak memecahkan masalah secara efektif. Ada satu alasan yang diantara para pengguna jalan sangat jarang dikemukakan, yaitu: sangatlah 'sulit' (baca: MALAS!) untuk mendaki tangga jembatan penyeberangan. Dengan kata lain, jembatan penyeberangan sangatlah tidak nyaman untuk banyak penyeberang. Argumen lain mengapa jembatan penyeberangan tidak efektif adalah waktu untuk menyeberang jalan menjadi relatif lama. Selain itu juga, jembatan sangat mahal untuk dibangun serta memerlukan perawatan dan pemeliharaan yang lebih rumit.

Sesungguhnya, menambah jumlah zebra cross relatif lebih efektif dibanding jembatan penyeberangan. Selain menambah jumlah, ukuran zebra cross tersebut juga perlu diperbesar agar bisa menampung jumlah penyeberang yang lebih banyak. Dan yang terakhir, yang bisa menambah efektifitas dan waktu penyeberangan, di beberapa zebra cross harus menggunakan lampu lalu lintas otomatis untuk para penyeberang. Contoh yang patut ditiru adalah sepanjang jalan H.R. Rasuna Said - Kuningan yang menerapkan sistem zebra cross dengan lampu lalu lintas.

Pak Walikota perlu melakukan kajian yang mendetil tentang kebutuhan akan jumlah dan ukuran zebra cross beserta kelengkapan rambu-rambu dan lampu lalu lintasnya. Dan, yang paling sulit, adalah mendidik dan men-sosialisasikan kepada masyarakat bahwa menyeberang jalan 'harus' di zebra cross.

Wednesday, January 16, 2008

on the ultimate resource

Please kindly find "The Ultimate Resource II: People, Materials, and Environment" by Julian Simon. One of the best writings evidently proved that human is the main factor affecting the process of development as well as environment.

Cafe Hayek briefly posted a support on Simon's Ultimate Resource by quoting Mary Anastasia O'Grady findings and mention,
A land rich in petroleum, arable land, and iron ore and other minerals is useless to a society of humans incapable of rational thought and intolerant of change. Nor would such a land of potential plenty realize its potential if its inhabitants are restrained by tyranny or by widely shared misconceptions that individual enterprise, innovation, profit, and the pursuit of worldly pleasures are degrading or sinful.
So, after reading all of the above materials suddenly I remember Indonesia... A big country, with abundant natural resources and population.

Wednesday, January 09, 2008

My emissions tests assessment at kaFE Depok

I post a simple assessment on new emissions tests policy. If you have a bit of time, please kindly take a short visit and any comments or suggestions are welcome indeed.

Saturday, January 05, 2008

A Beautiful Mind on Prisoner's Dilemma

I kind of amazed on how the American movie maker is trying to figure out the initial discovery of Prisoner's Dilemma. As shown by following clip of the movie A Beautiful Mind, I love the quote below:
If we all go for the blonde and block each other, not a single one of us is going to get her. So then we go for her friends, but they will all give us the cold shoulder because no one likes to be second choice. But what if none of us goes for the blonde? We won't get in each other's way and we won't insult the other girls. It's the only way to win. It's the only way we all get laid.
Enjoy!

Friday, January 04, 2008

Tidak heran...

Perhatikan kutipan data yang disajikan kompas ini berikut:
Berdasarkan catatan Kompas, perkembangan jumlah kendaraan bermotor rata-rata meningkat 9,8 persen per tahun. Jumlah kendaraan bermotor tercatat 4,9 juta. Setiap hari sedikitnya 299 STNK mobil baru diajukan ke Polda Metro Jaya.

Rasio jumlah kendaraan pribadi dibandingkan dengan kendaraan umum adalah 98 persen berbanding 2 persen. Persoalannya, panjang jalan hanya bertambah kurang dari 1 persen, sedangkan pertambahan kendaraan rata-rata 9,8 persen.
Dari informasi tersebut, ada dua fakta utama yang seharusnya kita sadari:
  1. Pertambahan panjang jalan TIDAK AKAN PERNAH lebih cepat daripada pertambahan kendaraan. Mengapa? Karena luas permukaan tanah untuk dibangun jalan TIDAK PERNAH BERTAMBAH!
  2. Meningkatnya kepemilikan kendaraan bermotor, baik mobil maupun motor, adalah keniscayaan. Artinya? Akan sangat sulit mengurangi jumlah kendaraan bermotor yang beredar di jalan selama penduduk masih bertambah terus.
Jadi, seharusnya kita tidak perlu heran bagaimana kemacetan di DKI Jakarta semakin parah di hari-hari ke depan. Dengan mengamini kedua fakta tersebut maka menjadi jelas bahwa:
  1. Meningkatkan panjang jalan sama sekali bukan solusi mengatasi kemacetan di DKI Jakarta
  2. Membatasi kepemilikan kendaraan bermotor juga bukan solusi untuk mengatasi kemacetan
Solusi yang paling mungkin haruslah secara sistematis dan sinergis mengkaitkan antara sisi ketersediaan (supply side) dan sisi kebutuhan (demand side). Dalam hal ini, sisi ketersediaan diwakili oleh sistem transportasi massal yang efektif dan handal sedangkan sisi kebutuhan diwakili oleh perilaku pemanfaatan dan penggunaan jalan raya oleh para pengguna.

Dari sisi ketersediaan, sistem transportasi massal seperti Busway atau KRL Blue Line merupakan suatu solusi yang perlu (necessary) tapi belum cukup (sufficient). Kecukupan solusi tersebut baru dapat dicapai jika juga ada solusi dari sisi kebutuhan dengan cara membatasi penggunaan jalan raya. Misalnya, mengurangi jumlah kendaraan yang digunakan di jalan raya. Mohon dicatat, pengurangan ini tidak berarti membatasi masyarakat untuk memiliki kendaraan pribadi. Melainkan, pengurangan ini berarti masyarakat mengurangi penggunaan kendaraan pribadi di jalan raya. Berkurangnya jumlah kendaraan pribadi dapat berarti meningkatnya kebutuhan akan sarana transportasi umum yang cukup dan handal.

Apakah kebijakan yang efektif untuk mengurangi penggunaan kendaraan pribadi? Sebenarnya ada beberapa, namun yang paling mungkin diterapkan saat ini salah satunya adalah menaikkan tarif parkir di hampir semua areal parkir sebesar lebih dari 50 persen. Pendapatan dari hasil pungutan parkir tersebut sedianya bisa dialokasikan untuk meningkatkan kualitas dan kehandalan sarana transportasi umum.

Jika kebijakan tersebut ingin dijalankan, maka akan ada beberapa pihak yang bermasalah:
  • Pengguna mobil pribadi pasti akan keberatan, terutama pengguna mobil pribadi untuk usaha. Solusinya, kita bisa membedakan tarif parkir untuk kendaraan-kendaraan niaga non-pribadi.
  • Pengelola parkir pasti akan berpotensi untuk mengeruk hasil yang besar dan melakukan praktek korupsi. Solusinya, harus ada sistem pengawasan dan laporan yang terbuka serta disajikan secara berkala melalui media massa. Harus ada mekanisme audit publik, seperti laporan keuangan yang disajikan oleh perseroan terbatas di surat kabar setiap tahunnya.
  • Pengelola sistem transportasi umum akan kesulitan memenuhi kebutuhan yang tinggi dari sekian juta penduduk DKI Jakarta. Solusinya, perusahaan pengangkutan harus beroperasi secara profesional dan efisien.
Tanpa memikirkan sisi ketersediaan dan kebutuhan tadi, maka tidak heran apa pun kebijakan yang dilakukan tidak akan pernah secara efektif memecahkan persoalan kemacetan di DKI Jakarta. Selain itu, disiplin dan pengelolaan arus lalu lintas (termasuk penduduknya) juga harus ditegakkan. Masih banyaknya pengguna jalan yang (pura-pura) buta dengan rambu dan lampu lalu lintas, dan jumlah mereka semakin banyak maka tidak heran pula bahwa upaya memecahkan persoalan kemacetan akan "sulit" untuk dilaksanakan.

Aku mendengar, ada yang bilang aku pesimis... Betul? Iya, aku pasti selalu pesimis kalau menyoal tentang ketertiban dan disiplin di DKI Jakarta. Untuk yang satu ini juga tidak perlu heran ya...

Tuesday, January 01, 2008

moving forward 2008

A new year is new full days of another great and inspiring journey...

I wish you all a good, happiness, and successful year in 2008.

Thursday, December 27, 2007

If you curious how traffic jam occur in Jakarta...


If you really curious how traffic jam occur in Jakarta, maybe you could take a look at what the mathematician conclude when they try to solve the traffic jam mystery. Using mathematical model, they solve the causes of traffic jam as follow:
Their model revealed that slowing down below a critical speed when reacting to such an event, a driver would force the car behind to slow down further and the next car back to reduce its speed further still. The result of this is that several miles back, cars would finally grind to a halt, with drivers oblivious to the reason for their delay. The model predicts that this is a very typical scenario on a busy highway (above 15 vehicles per km). The jam moves backwards through the traffic creating a so-called ‘backward traveling wave’, which drivers may encounter many miles upstream, several minutes after it was triggered.
As clearly seen recently in Jakarta, population of cars have increase dramatically while length of the road is not rise significantly. If you want to find out what causes any congestion occur while you drive your car or motorcycle, it is almost certain that they caused by backward traveling wave by following activities:
  1. Pedestrians crossing the road. If you notice, the more pedestrians crossing the road given the size of the zebra-cross, the the longer you will be stuck in the traffic jam. (See picture). In this case, it is not only the driver who suffer from the situation. The pedestrians also facing difficulties to cross the road for sure - and safe.
  2. Stop by public transport, especially angkot and bus. The number of bus or angkot, and the longer they stop by at a particular spot of the road, it will increase the wave of backward traveling. You may see the case at the mall or market.
  3. Distances among U-turns and numbers of junction. The closer a distance between two U-turns, it is most likely to increase the wave of backward traveling. Not only because queuing U-turns maneuver of cars but also because cars who is stuck in the queuing and wish to change the line. If the U-turns also quite close with a junction then it will adding up the wave.
Therefore, if you ask me what is the solution for heavy traffic jam in Jakarta? I believe, the only single solution is reduce numbers of cars on the road and re-arrange the traffic flow - including pedestrians flow. Mass rapid transport system, e.g Bus Way or Angkot Way, is one necessary policy but not a panacea for road congestion in Jakarta. While adding more road is only a pain killer.

The next problem - and this is the most difficult one - is how much are you willing to give up not driving your cars or riding motorcycles? How much are you willing to crossing the road at the appropriate location, i.e zebra-cross???